• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.6. Penatalaksanaan Kanker Paru

Penanganannya bervariasi tergantung pada jenis kanker dan derajat kanker itu sendiri.

2.6.1. Pembedahan

Pembedahan tetap menjadi pilihan penanganan dan harapan terbaik terhadap penyembuhan pada NSCLC. Berbagai pilihan pembedahan tersedia meliputi fototerapi laser untuk kanker kecil superfisial (permukaan) melalui bronkoskopi. Untuk tumor-tumor besar, lobektomi (pengangkatan satu lobus paru), reseksi desakan (pengangkatan desakan paru atau bagian yang membesar saja), segmentektomi (pengangkatan segmen dari paru), atau pneumotektomi (pengangkatan seluruh jaringan paru) mungkin dilakukan jika penyakit terlokalisasi.

Pembedahan merupakan pilihan yang jarang dilakukan untuk SCLC karena biasanya bermetastase saat didiagnosa. Akan tetapi, jika saat didiagnosa tumor tersebut dapat dilakukan reseksi dan tidak ada tanda-tanda atau bukti penyakit pada

beberapa daerah lain, pembedahan mungkin dapat dilakukan, ini biasanya dikuti dengan tindakan kemoterapi lanjutan.

2.6.2. Kemoterapi

Kemoterapi mungkin digunakan untuk meningkatkan frekuensi respons pada penyakit fase akhir, tetapi tampaknya tidak untuk meningkatkan atau memperbaiki ketahanan hidup. Regimen kemoterapi kombinasi biasanya menggunakan dasar platinum. Agen kemoterapi tambahan yang digunakan dalam NSCLC meliputi siklosfosfamid (cytoxan), karboplatindoxorubisin (Adriamycin), Etoposide (VP-16), mitomisin, vinkristin, atau vinblastin.

Kemoterapi adalah pilihan yang lebih umum pada SCLC dan sepertinya dapat untuk memperbaiki atau meningkatkan angka hidup atau menurunkan angka kesakitan dan kematian. Kombinasi yang paling umum digunakan meliputi CAV, siklofosfamid (cytoxan), doxorubin (Adriamycin), vinkristin dan ICE, ifosfamid, sisplatin, dan etoposid.

2.6.3. Radiasi

Terapi radiasi (penyinaran eksternal) dapat dilakukan sendiri dengan tujuan penyembuhan pada NSCLC fase awal, jika fungsi paru terganggu atau jika pembedahan merupakan kontra indikasi untuk alasan-alasan lainnya. Hal tersebut mungkin juga dilakukan secara ajuvan, secara perioperatif dan secara pasca operasi. Terapi radiasi paliatif untuk mengontrol tanda dan gejala mungkin diindikasikan untuk pasien tersebut dengan penyakit yang penyebarannya lebih luas.

Radiasi kranial secara profilaksis untuk mencegah atau memperlambat peristiwa metastase otak dalam SCLC, masih kontroversial. Pada penyakit fase akhir, radiasi dan kemoterapi mungkin digunakan untuk paliatif gejala yang ada.

2.7. Pencegahan

2.7.1. Pencegahan Primordial

Indonesia merupakan satu negara peserta Framework Convention On Tobacco

Control (FCTC) dan telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2003

yang melarang merokok di tempat ibadah, sarana kesehatan dan pendidikan, tempat anak-anak beraktifitas dan kendaraan umum. Namun, belum sepenuhnya dapat dilaksanakan dan penegakan hukum dalam pengendalian rokok masih lemah.30

Pendidikan kesehatan di sekolah menjadi sangat penting karena perokok biasanya mulai merokok sejak di bangku sekolah. Pembicaraan pada murid jangan terlalu menggantungkan pada bahaya-bahaya merokok dari sudut kesehatan, yang sering kurang diperhatikan para murid. Sebaiknya, ada larangan yang tegas untuk merokok di lingkungan sekolah, dan tidak hanya berlaku pada murid tetapi juga pada guru.26

2.7.2. Pencegahan Primer

Gerakan anti merokok sangat sulit bila hanya ditegakkan dengan promosi anti merokok, tetapi harus didasari tekad perokok sendiri dibantu dukungan dari lingkungan.26

Perubahan perilaku masyarakat tidak dapat diharapkan mudah terjadi hanya dengan membuat peraturan. Untuk itu, perlu diberikan pendidikan kesehatan pada

masyarakat luas yang sesuai dengan budaya masyarakat setempat dengan menggunakan berbagai media yang ada misalnya bila di pedesaan dibuat suatu leaflet dengan gambar-gambar yang menarik.26

Cara yang digunakan menyampaikan pesan hendaknya tidak menggurui, tetapi dipilih cara lain yang bervariasi, seperti memakai kelompok musik atau artis terkenal dengan memasukkan pesan-pesan tentang bahaya merokok di tengah-tengah konser mereka. Pada umumnya penggemar musik atau artis tersebut terutama pada para kaum muda akan meniru tingkah laku idolanya.26

Kegiatan pendidikan kesehatan hendaknya dilakukan terus menerus sepanjang tahun, dan dapat juga memanfaatkan momen-momen khusus. WHO telah menetapkan setiap tanggal 31 Mei sebagai “Hari Tanpa Tembakau” (World No

Tobacco Day) sejak tahun 1988. Pada tanggal tersebut diharapkan agar para perokok

berhenti merokok secara sukarela selama sehari sebagai langkah awal untuk menghentikan kebiasaannya.26

Bank Dunia menyarankan pada negara yang berkembang untuk mengatasi wabah perokok dengan meningkatkan pajak rokok, menerbitkan dan menyebarluaskan informasi tentang dampak merokok terhadap kesehatan, membuat label peringatan merokok, larangan iklan dan promosi rokok, membatasi orang merokok di tempat kerja/ tempat umum, dan memperluas akses pada terapi pengganti nikotin dan terapi pengganti merokok lainnya.26

Selain itu, risiko kanker paru dapat berkurang bila tinggal di permukiman yang tidak ada atau kurang pencemarannya. Bagi pekerja dianjurkan menggunakan alat pelindung secara benar menurut peraturan perlindungan kesehatan.22

2.7.3. Pencegahan Sekunder27

Pencegahan sekunder kanker paru dapat dilakukan dengan penemuan dini penderita melalui screening atau penapisan. Penapisan individu dengan risiko tinggi (laki-laki berusia > 45 tahun, merokok 40 batang atau lebih setiap hari) untuk kanker paru dengan sitologi sputum dan rontgen paru.

Setelah tanda, gejala atau hasil pemeriksaan penapisan menunjukkan penyakit kanker paru, juga harus menentukan diagnosis jaringan keganasan, tipe sel secara histologi dan menentukan derajat penyakitnya agar pasien mendapat terapi/penatalaksanaan yang tepat.Penatalaksanaan kanker paru, yaitu : pembedahan, kemoterapi, dan radiasi dapat memperbaiki prognosis dan memperpanjang harapan hidup.

2.7.4. Pencegahan Tertier23

Terapi suportif pada kanker paru sangat penting, terutama pada kanker paru derajat lanjut. Adapun modalitas terapi yang dilakukan pada pasien kanker paru membutuhkan status performans yang baik untuk mencapai respon yang baik. Pengobatan radiasi dan sitostatika juga sering memberikan efek samping yang sangat mengganggu. Selain itu, walaupun beberapa studi melaporkan bahwa beberapa protokol pengobatan telah memberikan respon yang berbeda makna, tetapi angka ketahanan hidup pasien kanker paru terutama derajat lanjut masih rendah karena itu terapi untuk mencapai kualitas hidup yang baik sangat penting.

Terapi suportif pada kanker paru dapat dibagi menjadi suportif umum dan suportif khusus. Terapi suportif umum meliputi perbaikan keadaan umum, nutrisi, pengobatan nyeri, pencegahan, dan pengobatan infeksi. Terapi suportif khusus

diberikan pada pasien yang menunjukkan gejala-gejala yang diakibatkan desakan tumor atau penyebaran tumor.

Nyeri merupakan masalah yang sering dialami oleh pasien kanker paru derajat terminal. Meskipun nyeri kanker tidak selalu dapat dihilangkan dengan tuntas, pengobatan yang baik akan mengurangi rasa nyeri pada sebagian besar pasien.

Penanganan nyeri kanker memerlukan kerjasama tim yaitu, antara dokter, tenaga kesehatan, pasien, keluarga atau orang yang merawat pasien di rumah dan penyedia layanan kesehatan. Untuk menangani nyeri kanker diperlukan sebuah tim dokter yang terdiri dari berbagai bidang spesialisasi. Agar kerjasama berlangsung dengan baik maka semua pihak harus mendapatkan informasi dan pemahaman yang cukup mengenai nyeri kanker.

Prinsip pengobatan terhadap nyeri kanker, pengobatan terhadap penyebab utama dari rasa nyeri menaikkan ambang rasa nyeri atau memutuskan jalur rasa nyeri dengan obat analgesik.

Selain pengobatan secara farmakologis, penatalaksanaan nyeri kanker perlu dilaksanakan bersamaan dengan terapi fisik dan psikologis. Hasil yang diharapkan pasien merasa lebih nyaman, rasa percaya bahwa ia mampu mengatasi rasa nyerinya meningkat, sehingga pasien lebih kuat menghadapi nyeri yang dideritanya maupun efek samping yang mungkin timbul akibat pengobatan yang dilakukan.

Dokumen terkait