BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA
D. Diabetes Melitus Komplikasi Hipertensi
2. Penatalaksanaan terapi
Tujuan utama terapi DM komplikasi hipertensi adalah mengurangi risiko terjadinya komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular, memperbaiki gejala yang muncul, mengurangi angka kematian dan meningkatkan kualitas hidup pasien (Triplitt et al., 2005).
Sasaran terapi DM komplikasi hipertensi adalah memperlambat berkembangnya risiko kardiovaskular dengan mencapai target nilai tekanan darah 130/80 mmHg, HbA1C <7%, kadar glukosa darah sewaktu 90-130 mg/dL, dan kadar glukosa darah setelah makan <180 mg/dL (Saseen dan Carter, 2005).
Strategi terapi dilakukan dengan 2 cara, yaitu non farmakologi dan farmakologi.
a. Terapi non farmakologi
Terapi secara non farmakologi dengan melakukan modifikasi gaya hidup antara lain : pengurangan berat badan, mengurangi asupan natrium, melakukan olah raga secara teratur, dan tidak mengkonsumsi alcohol (Saseen dan Carter, 2005).
b. Terapi farmakologi
Terapi secara farmakologi dilakukan dengan memberikan terapi untuk hipertensi dan terapi untuk diabetes.
1) Terapi untuk hipertensi
Semua pasien diabetes melitus dengan hipertensi dapat diterapi dengan regimen antihipertensi meliputi ACEI atau ARB, selain itu data menunjukkan bahwa ACEI dapat menurunkan risiko kardiovaskular pada pasien dengan penyakit jantung. Penelitian menunjukkan pengurangan risiko kardiovaskular (banyak pada ACEI) dan risiko dari disfungsi ginjal (banyak pada ARB) pada pasien dengan diabetes.
a) Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI)
Angiotensin II adalah vasokonstriktor kuat yang ada dalam sirkulasi dan penghambatan sintesisnya pada pasien hipertensi dapat menyebabkan penurunan resistensi perifer dan tekanan darah. Angiotensin converting enzyme tidak mengganggu refleks kardiovaskular dan tidak mempunyai banyak efek samping seperti diuretik dan β bloker, efek yang tidak diinginkan yang sering
17
terjadi adalah batuk kering yang disebabkan oleh peningkatan bradikinin karena ACE juga memetabolisme bradikinin (Neal, 2005).
Penggunaan ACEI bersama dengan potassium dapat mengakibatkan terjadinya hiperkalemia dan penggunaan Non Steroid Anti Inflamatory Drug (NSAID) dapat menurunkan efek dari ACEI (Rudnick, 2001).
b) Angiotensin Reseptor Blockers (ARBs)
Angiotensin dihasilkan oleh 2 jalur enzimatis yaitu melalui sistem angiotensin-aldosteron atau yang kita tahu dengan Renin Angiotensin Aldosteron
System (RAAS) yang dihambat dengan ACE inhibitor dan oleh suatu enzim yaitu
angiotensin I convertase (human chymase). Angiotensin reseptor blockers berperan dalam menghambat jalur yang kedua.
Angiotensin reseptor blockers (misalnya Losartan) menurunkan
tekanan darah dengan memblok reseptor angiotensin (AT1) yang terletak di otak, ginjal, myocardium, dan kelenjar adrenal. Obat ini mempunyai sifat yang sama dengan ACEI tetapi tidak menyebabkan batuk karena obat ini tidak mencegah degradasi bradikinin (Neal, 2005).
c) Diuretik
Mekanisme kerja diuretik dalam menurunkan tekanan darah adalah dengan mengekskresi cairan dan elektrolit melalui ginjal sehingga menyebabkan penurunan volume darah yang berefek pada penurunan cardiac output. Penurunan
cardiac output akan menyebabkan penurunan tekanan darah. Penggunaan
d) β bloker
Beta bloker dapat menurunkan tekanan darah melalui penurunan
cardiac output. Beta bloker cenderung meningkatkan trigliserid serum dan
menurunkan kadar kolesterol HDL. Penggunaan bersamaan dengan digoksin dapat menyebabkan bertambahnya efek heart rate. Pengunaan bersama sulfonilurea menyebabkan penurunan efek dari sulfonilurea.
e) Calcium Channel Blocker (CCB)
Calcium channel blocker menghambat masuknya ion Ca2+ ke dalam sel sehingga menyebabkan relaksasi otot polos arteriol. Hal ini menyebabkan turunnya resistensi perifer dan menyebabkan turunnya tekanan darah. Efek dari CCB akan menurun jika diberikan bersamaan dengan suplemen kalsium.
19
2) Terapi untuk diabetes melitus
Diabetes melitus dapat diterapi dengan insulin dan antidiabetika oral. a) Insulin
Umumnya diberikan pada pasien DM tipe 1 yang tergantung dengan insulin dan diberikan secara non parenteral yaitu dengan injeksi. Jika insulin diberikan secara oral maka insulin akan rusak saat melewati saluran gastrointestinal, oleh karena itu insulin memberikan efek yang lebih cepat jika dibandingkan dengan obat yang diberikan secara oral. Insulin dapat pula digunakan pada pasien diabetes melitus tipe 2 saat terjadi kegagalan dalam penggunaan antidiabetika oral, adanya kontraindikasi karena masa kehamilan atau hipersensitif serta saat kadar glukosa darah naik akibat stress ataupun infeksi serta akibat pembedahan.
Mekanisme kerja insulin adalah mengubah glukosa menjadi glikogen, meningkatkan sintesis protein dan lemak, memperlambat pemecahan glikogen, protein dan lemak, serta menyeimbangkan cairan dan elektrolit dalam tubuh (Rudnick, 2001).
Ada 4 tipe insulin, yaitu (1) rapid-acting, contohnya Aspart, Lispro, Glulisine; (2) short-acting, contohnya Reguler; (3) intermediet-acting, contohnya NPH, Lente; dan (4) long-acting, contohnya Ultralente, Glargine.
b) Obat antidiabetika oral
Obat antidiabetika oral adalah obat yang digunakan untuk mengatasi keadaan kadar glukosa darah yang tinggi akibat ada ketidakberesan dalam sistem kerja insulin, mempunyai sistem kerja ganda di dalam dan di luar pankreas. Efek
di dalam pankreas adalah menstimulasi pankreas untuk mengeluarkan insulin dengan meminimalkan kerja pankreas, sedangkan efek di luar pankreas adalah mampu menstabilkan kadar glukosa darah (Rudnick, 2001).
Gambar 4. Tempat Aksi Obat Antidiabetika Oral (Daniel, 2006)
Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat antidiabetika oral dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu :
1. Obat-obat yang meningkatkan sekresi insulin
Obat-obat ini menstimulasi pelepasan insulin dari pulau-pulau Langerhans di pankreas sehingga pasien harus mempunyai sel β yang berfungsi parsial agar obat ini dapat berguna. Obat yang termasuk dalam golongan ini adalah golongan sulfonilurea. Glibenkamid mempunyai durasi kerja yang lebih panjang dan dapat diberikan sehari sekali, tetapi juga memungkinkan risiko terjadinya hipoglikemia sehingga sebaiknya hindari penggunaan pada pasien
21
dengan risiko hipoglikemia dan gunakan tolbutamid yang durasi kerjanya paling singkat.
2. Sensitiser insulin
Adalah obat-obat yang dapat meningkatkan sensitifitas sel terhadap insulin, meliputi obat-obat hipoglikemik golongan biguanid dan tiazolidindion, yang dapat membantu tubuh untuk memanfaatkan insulin secara lebih efektif. Metformin yang merupakan obat golongan biguanid jarang menyebabkan hipoglikemia karena obat ini tidak meningkatkan pelepasan insulin.
3. Penghambat katabolisme karbohidrat
Yang termasuk dalam golongan ini adalah akarbose, penghambat α -glukosidase yang bekerja memperlambat pencernaan tepung dan sukrosa. Akarbose dikonsumsi bersama dengan makanan dan menurunkan peningkatan glukosa darah postprandial (Anonim, 2005).