GOOD GOVERNANCE
2.4.2. PENCAPAIAN PRIORITAS GOOD GOVERNANCE
SASARAN
SATUAN
TARGET KINERJA REALISASI PREDIKSI
URAIAN INDIKATOR KINERJA 2010 2011 2012 2013 2014 2010 2011 2012
SDH TERCA PAI AKAN TERCA PAI PERLU USAHA KERAS Terwujudnya penguatan desa
a. Persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa
% 70 75 80 85 90 N/A N/A N/A b. Jumlah produk hukum tentang
desa
Jenis 3 3 3 3 3 3 2 2
c. Jumlah Perdes yang diberita daerahkan
8 1 2
Sasaran “terwujudnya penguatan desa” terdiri dari 3 indikator yang pendataannya berada pada Bagian Pemerintahan dan Bagian Hukum Setda. Indikator pertama yaitu prosentase desa berstatus swasembada terhadap total desa sudah tidak valid lagi untuk digunakan sebagai indikator kinerja, karena klasifikasi desa swasembada sudah tidak ada lagi. Dengan demikian, indikator
kinerja bersangkutan sebaiknya diganti dengan indikator lain yang dapat mengukur kinerja desa dalam hal ketahanan pangan. Indikator jumlah produk hukum tentang desa pada dasarnya rancu karena bisa ada 2 pengertian yaitu (a) perdes (yang diberitadaerahkan), dan (2) Perda/Perbup tentang desa. Data yang digunakan dalam pengukuran ini menggunakan produk
51
hukum berupa Perda/Perbup tentang desa, dan belum dapat memenuhi target yang ditetapkan. Untuk memperjelas kriteria, maka ditambahkan indikator jumpah Perdes yang diberitadaerahkan. Jumlah Perdes ini sangat sedikit dibandingkan keseluruhan jumlah Perdes yang ada (sebagai contoh, APBDes merupakan satu Perdes). Berdasarkan
Permendagri, jika Perdes tidak diberitadaerahkan maka Perdes tersebut cacat hukum. Untung saja, hingga saat ini tidak pernah ada masalah berkaitan dengan hal tersebut. Meskipun demikian, selayaknya hal ini menjadi perhatian agar tidak timbul masalah di kemudian hari.
SASARAN
SATUAN
TARGET KINERJA REALISASI PREDIKSI URAIAN INDIKATOR KINERJA 2010 2011 2012 2013 2014 2010 2011 2012
SDH TERCA PAI AKAN TERCA PAI PERLU USAHA KERAS Meningkatnya kapasitas penyelenggara pemerintah daerah
a. Kesertaan pegawai dalam berbagai jenis Diklat
% 7.499
Diklat Kepemimpinan % 58,00 63,00 68,00 73,00 78,00 35,00 3,00 74,00
Diklat Prajabatan % 100 100 100 100 100 100 100 100 b. Tingkat pendidikan tinggi PNS orang
Dikdas 1.239 1.229 1.219 1.209 1.199 1.086 1.119 1.054 Dikmen 2.853 2.803 2.753 2.703 2.653 3.302 762 2.678 Dikti 1.614 1.574 1.534 1.494 1.454 7.726 9.177 9.185 c. Terpetakannya Kompetensi PNS Struktural orang 54 78 102 126 150 6 11 6 d. Bertambahnya pejabat fungsional orang 500 500 500 500 500 128 0 8 e. Jumlah PNS yang dikenai hukuman
disiplin
orang 27 25 23 21 19 16 26 20 f. Terevaluasinya produk
perundang-undangan yg tdk relevan
52
SASARAN
SATUAN
TARGET KINERJA REALISASI PREDIKSI
URAIAN INDIKATOR KINERJA 2010 2011 2012 2013 2014 2010 2011 2012
SDH TERCA PAI AKAN TERCA PAI PERLU USAHA KERAS
g. Tindaklanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi
Jumlah 5 5 5 5 5 54 74 83 h. Sosialisasi peratuaran
perundang-undangan
Jumlah 4 4 4 4 4 4 6 7 i. Penanganan perkara/sengketa % 100 100 100 100 100 2 13 6
Sasaran “meningkatnya kapasitas penyelenggara pemerintah daerah” terdiri dari 9 indikator kinerja yang terkait dengan PNS dan aturan resmi di Kabupaten Tegal. Data pencapaian kinerja ini bersumber dari BKD yang merupakan badan yang mengurus kepegawaian dan Bagian Hukum Setda. Penjelasan mengenai capaian kinerja sasaran ini bersumber dari FGD yang dilakukan dan diperkaya dengan tulisan Trianto Budiatmoko pada majalah IdeA edisi 11 tahun 2012 yang mengupas tentang evaluasi capaian kinerja di bidang kepegawaian.
Indikator pertama, kesertaan pegawai dalam berbagai jenis diklat, dibagi dalam dua katagori yaitu diklat prajabatan dan diklatpim. Kinerja terkait diklat prajabatan sudah memenuhi target (Pemerintah Kabupaten Tegal menyelenggarakan diklat prajabatan secara mandiri untuk PNS Golongan I dan Golongan II, serta sekdes); sedangkan kinerja terkait diklatpim masih jauh
dari target. Hal yang masih menjadi perhatian adalah masih banyaknya pejabat struktural yang belum mengikuti Diklatpim. Pejabat eselon III dan IV yang belum mengikuti Diklatpim berjumlah 295 orang, dengan perincian pejabat eselon III berjumlah 44 orang dan pejabat eselon IV berjumlah 251 orang, terdiri dari eselon IVa 137 orang, dan eselon IVb 114 orang. Permasalahan semestinya bisa dipecahkan melalui dua cara. Yang pertama adalah pengerahan anggaran secara masif untuk memberangkatkan semua pejabat struktural yang belum mengikuti Diklatpim, dan yang kedua adalah melakukan evaluasi pasca diklat terhadap peserta Diklatpim sehingga peningkatan kapasitas peserta maupun kualitas pembelajaran dalam Diklatpim dapat diketahui secara pasti. Selama ini Diklatpim belum pernah dievaluasi dari sisi dampak: apakah ia memang meningkatkan kapasitas para pejabat sehingga bisa menjadi modal bagi pembangunan, atau hanya memboroskan anggaran
53
daerah tanpa hasil yang jelas? Lagipula, kepemimpinan adalah yang diperoleh dari pengalaman, bakat, dan intuisi yang dibangun dalam jangka yang panjang, bukan diklat yang hanya beberapa minggu.
Indikator kedua yaitu tingkat pendidikan tinggi PNS dirasa kurang tepat untuk dijadikan indikator. Tingkat pendidikan PNS berhubungan langsung dengan sekolah (tugas belajar dan ijin belajar), sedangkan PNS tidak dapat dipaksa untuk melaksanakan studi lanjut tersebut. Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Tegal setiap tahun hanya mengirimkan sekitar 2 individu untuk melanjutkan sekolah ke jenjang S2; angka yang tidak signifikan. Jika indikator ini tetap dijadikan indikator, maka ada konsekuensi bagi Pemerintah Kabupaten Tegal untuk menyediakan anggaran tambahan untuk menyekolahkan PNS di lingkungannya agar target dapat dicapai.
Indikator ketiga yaitu terpetakannya kompetensi PNS struktural sangat berhubungan dengan PCAP. Penilaian atau asesmen kompetensi sebenarnya sudah dilakukan oleh Pemkab Tegal sejak tahun 2009 melalui Position Competencies Assessment
Program (PCAP), hanya belum konsekuen dan menyeluruh. Dari
tahun 2009-2011 Pemkab Tegal telah memberangkatkan 41 orang pejabat eselon II dan III untuk mengikuti PCAP, terdiri dari 5 pejabat eselon II dan 36 pejabat eselon III. Untuk tahun 2011 Pemkab Tegal mengirimkan 5 orang pejabat eselon II untuk mengikuti PCAP calon Sekda Kabupaten Tegal, dan 6 orang pejabat eselon III untuk mengikuti PCAP calon pejabat eselon II.
Berharap dari PCAP tentu saja tidak cukup, baik dari sisi substansi maupun cakupannya. Secara substansi PCAP belum dapat mewujud sebagai sarana eksekusi pemilihan pejabat struktural, karena PCAP terdegradasi menjadi sebuah rekomendasi. PCAP juga belum bisa diberdayakan ke potensinya sebagai sarana pemeta kompetensi maupun sarana umpan balik peserta karena keterbatasan implementasi. Dari sisi cakupan, PCAP menjadi instrumen yang sangat terbatas karena PCAP memang didesain hanya untuk (calon) pejabat eselon II. Dengan demikian asesmen kompetensi untuk pejabat struktural yang lain, apalagi staf, belum dapat dilaksanakan. Asesmen kompetensi, untuk seluruh PNS, sudah seharusnya dipahami dan disepakati sebagai sebuah hal yang sangat vital dan mendasar. Sudah saatnya kepegawaian Pemerintah Kabupaten Tegal menata dengan serius penempatan PNS dalam jabatan dengan mempertimbangkan kesesuaian antara kompetensi individu dengan kompetensi jabatan. Keberhasilan menempatkan pegawai yang tepat dalam posisi yang tepat akan sangat berperan terhadap keberhasilan sebuah organisasi dalam meraih visinya.
Indikator selanjutnya yaitu bertambahnya pejabat fungsional masih sangat jauh dari target yang ditetapkan. Seyogyanya, birokrasi lebih bertumpu pada tenaga fungsional daripada struktural. Dalam praktiknya, hal yang terjadi adalah sebaliknya. Mulai tahun 2005, perekrutan PNS baru melalui jalur umum (kecuali pada saat diadakan moratorium penerrimaan PNS baru dari jalur umum) pada dasarnya adalah perekrutan tenaga
54
fungsional. Hanya saja, ketika PNS yang bersangkutan sudah bekerja pada instansi yang ditunjuk, sistem kerja yang berlaku adalah sistem kerja struktural. Hal ini berakibat pada tidak optimalnya pemanfaatan tenaga PNS sesuai kompetensinya. Untuk itu, diperlukan sistem yang dapat mengembalikan tenaga fungsional yang “salah asuh” tersebut agar dapat kembali sesuai “khittah”-nya. Di sisi lain, penetapan target sebanyak 500 PNS fungsional setiap tahun dipandang tidak realistis dan akan sangat sulit untuk dicapai.
Indikator kelima yaitu jumlah PNS yang dikenai hukuman disiplin relatif memenuhi target. Jumlah ini bisa saja dikatakan kecil atau rendah jika dibandingkan dengan jumlah pegawai Pemerintah Kabupaten Tegal yang berjumlah lebih dari 13.000 orang; tetapi bisa jadi ini adalah sebuah fenomena gunung es. Tampak kecil di permukaan, tetapi masif di bawah permukaan. Ini karena tidak semua kasus diungkap ke permukaan. Kasus pelanggaran jam kerja yang umum terjadi, eksistensi dana nonbujeter, atau penolakan beberapa PNS untuk menandatangani pakta integritas adalah contoh kecil dari fenomena gunung es tersebut. Di permukaan, mereka tampak hanya sebagai masalah kecil atau bahkan tidak dianggap sebagai sebuah masalah, tetapi sebenarnya mereka adalah gambaran dari pelanggaran disiplin, integritas dan kode etik PNS yang sangat besar. Pembinaan disiplin sejatinya mempunyai tugas yang besar. Tidak sekedar sebagai tindak penyelesaian kasus, pembinaan disiplin juga harus dinyatakan sebagai upaya serius penegakkan peraturan kepegawaian dan pemberian keteladanan. Di sini,
kepemimpinan jelas menjadi faktor kunci. Lebih lanjut lagi, indikator jumlah PNS yang dikenai hukuman disiplin dirasa kurang tepat digunakan, dan akan lebih baik jika indikator yang digunakan adalah jumlah penyelesaian kasus.
Indikator keenam yaitu terevaluasinya produk perundang-undangan yang tidak relevan bisa dikatakan tidak jauh dari target jika dihitung secara kumulatif. Terkait jumlah Perda yang dievaluasi, terdapat 14 Perda selama tahun 2010-2012; dari jumlah itu, 6 Perda dicabut dan 4 Perda diubah karena tidak relevan dengan kondisi riil. Proses evaluasi dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat.
Indikator selanjutnya yaitu tindaklanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi memunculkan kerancuan karena tidak ada keterangan penjelas. Pada dasarnya, semua peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Tegal merupakan tindaklanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Data di Bagian Hukum menunjukkan bahwa target yang ditetapkan dapat dicapai, dengan memperhitungkan bahwa tindaklanjut yang dimaksud terdiri dari Perda, Perbup, dan SK Bupati. Pada tahun 2010 terdapat 8 Perda, 46 Perbup, dan 389 SK Bupati; pada tahun 2011 terdapat 10 Perda, 64 Perbup, dan 714 SK Bupati; serta pada tahun 2012 terdapat 19 Perda, 64 Perbup, dan 1079 SK Bupati.
Mengenai sosialisasi peraturan perundang-undangan, belum ada keterpusatan dalam melakukannya. Tiap SKPD melakukan sosialisasi sesuai dengan tupoksinya masing-masing, dan Bagian
55
Hukum menjadi anggota tim dalam kegiatan dimaksud. Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah proses pembuatan Perda. Proses untuk mengundangkan pada dasarnya tidak rumit; hal yang seringkali menjadikan proses relatif lama adalah pada legal
drafting. Seharusnya, proses drafting dilakukan oleh
masing-masing SKPD dan Bagian Hukum hanya tinggal melakukan koreksi pada redaksional (karena yang mengetahui teknis substansi adalah SKPD). Tetapi dalam kenyataannya, banyak SKPD yang menyerahkan semua proses dari awal ke Bagian Hukum yang pada akhirnya menjadi beban tambahan pada
personil di Bagian Hukum. Tentu saja permintaan ini tidak resmi karena dilakukan hanya lewat lisan saja.
Indikator terakhir yaitu penanganan perkara/sengketa akan sulit diukur jika penetapan indikator masih menggunakan prosentase. Hal ini terjadi karena penyelesaian kasus terkadang tidak dapat diselesaikan dalam satu tahun anggaran, tetapi bisa lebih lama dari satu tahun. Untuk itu, data pada indikator ini merupakan jumlah perkara yang ditangani. Pada tahun 2012 terdapat 6 perkara yang ditangani, tetapi hanya 4 perkara yang dapat diselesaikan, sedangkan 2 perkara akan diusahakan selesai pada tahun 2013.
SASARAN
SATUAN
TARGET KINERJA REALISASI PREDIKSI
URAIAN INDIKATOR KINERJA 2010 2011 2012 2013 2014 2010 2011 2012
SDH TERCA PAI AKAN TERCA PAI PERLU USAHA KERAS Terlaksananya inisiasi e-Gov (hukum)
a. Jumlah SIM yang diterapkan Jenis 3 4 5 6 7 5 6 9 b. Jumlah pengumuman
penyedia barang/jasa pemerintah melalui internet
% 10 20 30 40 50 0 (satuan: jumlah)
3 6 c. Banyaknya pegawai yang
memiliki email
% 5 10 15 20 25 N/A N/A N/A d. Jumlah SKPD yang
berkorepondensi melalui internet
% 5 10 15 20 25 N/A N/A N/A e. Persentase website SKPD yang
aktif
56
Sasaran “terlaksananya inisiasi e-gov” terdiri dari 5 indikator kinerja yang berkaitan dengan internet. Hampir semua target telah berhasil dicapai dari segi kuantitas, sedangkan pengukuran kualitas sangat sulit untuk dilakukan. Terkait dengan internet, Pemerintah Kabupaten Tegal telah memiliki website resmi di
www.tegalkab.go.id sejak tahun 2011 yang pengelolaannya
berada pada Dinas Hubkominfo dan di-update secara resmi. Indikator pertama yaitu jumlah SIM yang diterapkan sudah memenuhi target yang ditetapkan. Pada tahun 2012 ada 9 SIM, diantaranya pada Dinas Kesehatan, Inspektorat, Dinas Dukcapil, DPPKAD, dan BKD. Semua SIM tersebut di-update tiap tahun. Sayangnya, tidak ada keterpaduan antar SIM yang ada. Tiap SIM berdiri secara terpisah dan tidak memiliki basis data yang bisa dipertukarkan. Jika ada basis data yang dapat dipertukarkan (misalnya SIAK dengan SIMPEG dan SIM Kesehatan), maka proses pendataan dan pemanfaatan SIM akan berjalan lebih efektif dan efisien.
Indikator kedua yaitu jumlah pengumuman penyedia barang/jasa pemerintah melalui internet relatif tidak memenuhi target jika dilihat dari kacamata sempit. Data yang dicantumkan dalam capaian kinerja ini adalah data lelang yang diumumkan secara elektronik di website resmi Pemerintah Kabupaten Tegal. Mekanisme yang harus ditempuh adalah SKPD yang akan melakukan lelang menghubungi Dinas Hubkominfo agar pengumuman lelang diinformasikan pada website Kabupaten Tegal, dan kemudian pengumuman akan ditautkan pada laman
website. Data pada capaian kinerja ini tidak memasukkan data
dari LPSE dan ULP Kabupaten Tegal. Secara luas, jika yang target kinerja yang akan diukur adalah jumlah pengumuman penyedia barang/jasa pemerintah melalui internet, maka hal tersebut relatif sudah tercapai karena semua kegiatan pengadaan dengan nilai > 100 juta rupiah harus dilelangkan melalui LPSE dan ULP Kabupaten Tegal.
Indikator banyaknya pegawai yang memiliki e-mail sangat sukar untuk diukur. Mengingat banyaknya pegawai di Kabupaten Tegal yang memiliki akun jaringan sosial, maka dipastikan bahwa jumlah pegawai yang memiliki e-mail relatif banyak. Hal yang menjadi pertanyaan lanjutan adalah apakah para pegawai tersebut aktif menggunakan e-mail untuk berkorespondensi, ataukah pembuatan e-mail itu hanya sebagai prasyarat untuk membuat akun pada jaringan sosial saja. Penilaian indikator secara kuantitatif tidak cukup untuk mengukur indikator ini, dan diperlukan penilaian secara kualitatif. Hanya saya, hal ini kemungkinan sulit untuk dilakukan, karena e-mail merupakan privasi seseorang dan bisa dikatakan mustahil untuk mengukur keaktifan penggunaan e-mail.
Senada dengan indikator kedua, indikator jumlah SKPD yang berkorepondensi melalui internet juga sangat sulit untuk diukur kinerjanya. Jika yang dimaksud dengan indikator ini adalah jumlah SKPD yang memiliki alamat e-mail, maka seluruh SKPD bahkan hingga seluruh Desa memiliki alamat e-mail yang menginduk pada website Kabupaten Tegal
57
([email protected]). Hanya saja, tidak diketahui apakah SKPD tersebut aktif mempergunakan e-mail yang dimiliki. Indikator terakhir yaitu prosentase website SKPD yang aktif sudah dapat memenuhi target yang telah ditetapkan. Hingga tahun 2012, terdapat 13 SKPD yang memiliki website aktif. Meskipun demikian, tingkat keaktifan website bervariasi antar SKPD; ada yang aktif di-update harian, dan ada juga yang hingga 6 bulan tidak melakukan update. Aktifnya website ini sebenarnya sangat penting untuk membuka akses masyarakat yang berada di luar Kabupaten Tegal untuk dapat mengikuti berita mengenai
Kabupaten Tegal, berinteraksi dengan pemangku kepentingan, memberi masukan, dan memperoleh data. Dalam era digital sekarang, adanya website akan dapat menghilangkan sekat ruang-waktu, dan seyogyanya website yang dimiliki SKPD (selain tegalkab.go.id) selalu aktif melakukan update setidaknya seminggu sekali dan aktif berinteraksi dengan pengunjung. Selain melalui website, SKPD juga dapat mempergunakan akun media sosial lain untuk berinteraksi dan menyampaikan informasi, seperti facebook, twitter, Google+, dan mailing list.
SASARAN
SATUAN
TARGET KINERJA REALISASI PREDIKSI
URAIAN INDIKATOR KINERJA 2010 2011 2012 2013 2014 2010 2011 2012
SDH TERCA PAI AKAN TERCA PAI PERLU USAHA KERAS Meningkatnya kesadaran berwarganegara a. Angka kriminalitas ‰ Jumlah linmas per jumlah
10.000 penduduk
- 1 1 2 2 2 8 8 8 b. Rasio Pos Siskamling per
jumlah desa/kelurahan
- 4 4 5 5 6 4 4 4 c. Jumlah LSM Lembaga 49 52 54 56 58 65 66 72 d. Jumlah organisasi pemuda Lembaga 15 16 17 18 19 17 17 17 e. Jumlah kegiatan kepemudaan Kegiatan 15 16 17 18 19 17 17 17 f. Tingkat partisipasi masyarakat
dalam :
a. Pemilu legislatif dan Presiden
58
SASARAN
SATUAN
TARGET KINERJA REALISASI PREDIKSI
URAIAN INDIKATOR KINERJA 2010 2011 2012 2013 2014 2010 2011 2012
SDH TERCA PAI AKAN TERCA PAI PERLU USAHA KERAS b. Piklada Gubernur % - - - 63 - - - - c. Pilkada Bupati % - - - 65 - - - - d. Pilkades % 80 80 80 80 80 80 80 80
Sasaran “meningkatnya kesadaran berwarganegara” terdiri dari 6 indikator kinerja yang datanya bersumber dari Kantor Kesbangpolinmas. Secara umum, kondisi di Kabupaten Tegal aman terkendali dan tidak ada gejolak yang dapat menimbulkan konflik besar, baik vertikal maupun horizontal. Hal yang perlu mendapat perhatian adalah indikator kinerja untuk sasaran ini dirasa kurang tepat untuk dijadikan indikator kinerja Kabupaten Tegal. Indikator kinerja tersebut tidak mencerminkan kinerja dari Pemerintah Kabupaten, karena hanya berupa database saja dan bukan merupakan kualitas kerja. Untuk itu, perlu dirumuskan alternatif indikator kinerja lain yang lebih mengakomodir kualitas kerja.
2.4.3. PERMASALAHAN
Beberapa permasalahan yang ada terkait prioritas Good Governance adalah:
1. Kinerja di bidang peraturan perundangan yang tidak jelas karena tidak ada target pembahasan Perda.
2. Indikator Kinerja kepegawaian banyak yang kurang pas untuk dijadikan indikator penilaian. Banyak yang jika dipakai maka akan menimbulkan konsekuensi pembiayaan untuk Pemkab dan kurang dapat memotret kondisi eksisting dan potensi pegawai yang ada di Kabupaten Tegal.
3. Tiap SIM berdiri sendiri; tidak ada basis data yang dapat dipertukarkan.
4. Banyak website SKPD yang tidak aktif.
5. Indikator kinerja untuk sasaran “meningkatnya kesadaran berwarganegara” dirasa kurang tepat untuk dijadikan indikator kinerja Kabupaten Tegal. Indikator kinerja tersebut tidak mencerminkan kinerja dari Pemerintah Kabupaten, karena hanya berupa database saja dan bukan merupakan kualitas kerja
59 2.4.4. RENCANA TINDAK LANJUT
Terkait kondisi eksisting dan permasalahan yang ada, perlu dilakukan beberapa langkah sebagai berikut:
a. Perlu penetapan Prolegda agar target kinerja Eksekutif dan Legislatif dapat diukur dengan jelas.
b. Bagian Hukum perlu menggelar bintek legal drafting untuk mengurangi beban kerjanya, agar dapat terbagi pada SKPD lain.
c. Perlu komitmen kuat tanpa syarat dan tanpa konflik kepentingan untuk membangun sistem penempatan PNS (staf maupun pejabat struktural) di Kabupaten Tegal. d. Perlu adanya evaluasi hasil kegiatan peningkatan kapasitas
pegawai yang terdiri dari diklatpim, diklat teknis, dan diklat fungsional. Semua diklat tersebut harus dievaluasi; apakah dapat meningkatkan kinerja ataukah hanya pemborosan anggaran.
e. Perlu komitmen dan kesanggupan Pemerintah Kabupaten Tegal dalam pendayagunaan jabatan fungsional, termasuk merancang formula yang bisa memberikan daya tarik bagi pegawai untuk menekuni jabatan fungsional.
f. Basis data SIM agar sama sehingga dapat dipertukarkan satu sama lain (misalnya basis data pada SIAK yang diintegrasikan dengan basis data SIMPEG dan SIM Kesehatan).
g. Website SKPD harus update data minimal seminggu sekali dan jika memiliki akun di media sosial (misalnya facebook, twitter, Google+, dan mailing list) harus mengintegrasikannya pada website SKPD yang bersangkutan.
h. Perlu dirumuskan alternatif indikator kinerja lain yang lebih mengakomodir kualitas kerja untuk pencapaian sasaran “meningkatnya kesadaran berwarganegara”.
60