BAB III PENCATATAN PERKAWINAN DALAM
2. Pencatatan Perkawinan pada Masa Penjajahan
Sebelum Indonesia merdeka, sudah ada aturan tertulis tentag perkawinan bagi golongan tertentu. Problemtikanya saat itu ialah warga bumi putera yang beragama Islam, bagi mereka tidak ada aturan sendiri yang mengatur perkawinan dan tidak ada hukum tersendiri yang bisa dijadikan patokan.7 Namun banyak hal yang dilakukan VOC memberikan kemudahan dan fasilitas agar hukum Islam dapat terus berkembang sebagaimana mestinya. Bentuk kemudahan VOC ialah dengan menerbitkan buku-buku hukum Islam sebagai pedoman bagi hakim pengadilan Agama dalam
5 Syeikh Muhammad Arsyad dari kerajaan Banjar mengusulkan pembentukan Mahkamah Syariah. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memaksimalkan pelaksanaan hukum Islam. Sultan menyetujuai pendirian Mahkamah Syariah kemudian Mufti ditunjuk sebagai ketua Mahkamah Syariah didampingi Qadhi yang sebagai pelaksana hukum dan pengatur jalannya pengadilan. Penerapan hukum Islam semakin tumbuh dan berkembang dengan adanya Mufti dan Qadhi yang berwenang menangani perkara di bidang perkawinan, perceraian, kewarisan, dan urusan lain dalam ranah hukum keluarga. Kerajaan Banjar juga menerapkan hukum Islam dalam perkara pidana misalnya hukum bunuh bagi orang murtad, potong tangan bagi pencuri, dan jera bagi pezina. Lihat dalam Jefick Zulfikar Hafidz.
Sejarah Hukum Islam di Indonesia: Dari Masa Kerajaan Islam Sampai Indonesia Modern, h. 175.
6 Jefick Zulfikar Hafidz. Sejarah Hukum Islam di Indonesia: Dari Masa Kerajaan Islam Sampai Indonesia Modern. Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, Volume (9),Issue (1), July 2021, h. 169.
7 Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, cet ke-4 (Jakarta: Kencana, 2014), h. 3.
memutus sebuah perkara. Seperti al-Muharrar di Semarang, shirat al-Mustaqim ditulis oleh Nuruddin al-Raniry di Aceh dan lain sebagainya.8
Terakhir VOC menghimpun hukum Islam yang disebut dengan Compendium Freijer,9 mengikuti nama penghimpunnya.10 Kemudian membuat kumpulan hukum perkawinan dan kewarisan Islam untuk daerah Cirebon, Semarang, dan Makasar (Bone dan Gowa).11
Pada mulanya VOC masuk ke Indonesia dengan membawa hukum negaranya untuk menyelesaikan masalah diantara mereka sendiri. Untuk lebih memperkuat posisinya, mereka juga berusaha menundukkan masyarakat jajahannya pada hukum dan badan peradilan yang mereka bentuk. Namun pada kenyataannya badan peradilan yang dibentuk oleh Belanda tidak berjalan baik.
Sehingga membiarkan lembaga-lembaga asli yang ada di masyarakat tetap berjalan, sehingga selama hampir dua abad pada masa VOC hukum perkawinan dan hukum waris Islam berjalan sebagaimana mestinya.12
Menurut Cristian Snouck Hurgronje13 hukum yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Indonesia bukan
8 Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, cet ke-4, h. xii.
9 yaitu kitab hukum yang berisi aturan-aturan hukum Perkawinan dan hukum waris menurut Islam. Kitab ini ditetapkan pada tanggal 25 Mei 1760 untuk dipakai oleh Pengadilan VOC di Hindia Timur.
10 Arso Sosroatmodjo dan A. Wait Aulawi, Hukum Perkawinan di Indonesia, (Jakarta: Bulan Bintang , 1975), h. 11.
11 Muhammad Daud Ali, Kedudukan Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Indonesia, dalam jurnal Pembangunan no 2 Tahun ke XII, Maret 1982, h. 101.
12 Ahmad Rofiq. Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2006), h.
49-50.
13 Seorang sarjana Belanda budaya oriental dan bahasa serta penasehat urusan pribumi untuk pemerintah kolonial Hindia Belanda. Lahir di Oosterhout pada tahun 1857, ia menjadi mahasiswa teologi di Universitas Leiden pada tahun 1874.
hukum Islam, melainkan hukum adat. Dan kemudian Cristian Snouck Hurgronje memunculkan sebuah teori baru yang dikenal dengan nama teori “Receptie”.14 Teori resepsi berawal dari kesimpulan yang menyatakan bahwa hukum Islam baru diakui dan dilaksanakan sebagai hukum ketika hukum adat telah menerimanya. Terpahami di sini bahwa hukum Islam berada di bawah hukum adat.
Dalam Indische Staatsregeling (IS)15 pasal 131 ayat 2 ditulis;
”Untuk golongan bangsa Indonesia asli dan Timur Asing, jika ternyata kebutuhan kemasyarakatan mereka menghendakinya, dapatlah peraturanperaturan untuk bangsa Eropa (Burgerlijk Wetboek/ Kitab Undang-undang Hukum Perdata) dinyatakan berlaku bagi mereka, baik seutuhnya maupun dengan perubahan-perubahan...”. Kemudian dalam ayat 4 disebutkan; ”Orang Indonesia asli dan orang Timur Asing, sepanjang mereka belum ditundukkan dibawah suatu peraturan bersama dengan bangsa Eropa, diperbolehkan menundukkan diri pada hukum yang berlaku untuk bangsa Eropa...”16
Kedua pasal diatas menunjukkan bahwa pemerintah Belanda berusaha menundukkan rakyat dengan hukum mereka, tetapi tentu dengan tanpa paksaan menghindari konflik yang terjadi, tetapi dampaknya membuka peluang bagi umat Islam untuk menggunakan Hukum Islam atau BW/KUHPer sebagai dasar hukum perkawinan.
14 Ahmad Rofiq. Hukum Islam di Indonesia, h. 54.
15 undang-undang dasar yang mengatur tata negara dan pemerintahan Hindia Belanda.
IS mulai berlaku pada 1 Januari 1926 sebagai pengganti dari Regeringsreglement 1854.
16 Ahmad Rofiq. Hukum Islam di Indonesia, h. 12.
Diberikannya kebebasan untuk memilih bagi masyarakat dalam menentukan hukum Islam atau BW/KUHPer memunculkan sebuah anggapan dari sebagian kalangan bahwa ini salah satu cara kolonial Belanda untuk melakukan Kristenisasi, sebagai contoh kita bisa lihat dalam Bab IV (Tentang Perkawinan) dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Bagian Kedua (tentang acara yang harus mendahului perkawinan), pasal 53 berbunyi; ”...Pengumuman tidak boleh dilangsungkan pada hari Minggu; dengan hari Minggu dalam hal ini dipersamakan: hari Tahun Baru, hari Paskah dan Pantekosta kedua, keduaduanya hari Natal dan hari Mikhrad Nabi”.17
Sampai dengan berakhirnya masa penjajahan Hindia-Belanda belum berhasil memberlakukan undang-undang yang memuat tentang perkawinan yang berlaku bagi seluruh rakyat Indonesia.
Peraturan yang ditinggal oleh kolonial tersebut hanya berupa golongan-golongan tertentu yaitu: Ordonansi Perkawinan Kristen (HOCI) yang berlaku bagi orang-orang Indonesia asli yang beragama kristen, kitab Undang-undang Hukum Perdata (BW) yang berlaku bagi warga keturunan Eropa dan Cina, kemudian peraturan perkawinan campuran (Staatsblad 1898 No. 158) atau GHR.18
Sementara itu, peraturan hukum perkawinan bagi umat Islam yang telah ditinggalkan oleh kolonial Belanda berupa hukum formal yang mengatur tatacara perkawinan. Sebagaimana tertulis
17 KUHPer, KUHP, KUHAP, (Jakarta: Pustaka Yustisia, 2009), h. 22.
18 Taufiqurrahman Syahuri, Legislasi Hukum Perkawinan di Indonesia, ( Jakarta : Kencana, 2013), h. 100.
dalam kitab fiqih yang ditulis oleh para ulama di kalangan umat Islam.
b. Masa Penjajahan Jepang
Pada tahun 1942 Belanda meninggalkan Indonesia, dan digantikan oleh Jepang. Pada masa penjajahan jepang tidak terdapat perubahan yang signifikan. Kebijakan Jepang terhadap peradilan agama tetap meneruskan kebijakan sebelumnya.
Kebijakan tersebut dituangkan dalam peraturan peralihan Pasal 3 Undang-undang bala tentara Jepang (Osamu Sairei) tanggal 7 Maret 1942 No.1. Hanya terdapat perubahan nama pengadilan agama, sebagai peradilan tingkat pertama yang disebut “Sooryoo Hooim” dan Mahkamah Islam Tinggi, sedangkan tingkat banding disebut “kaikyoo kootoohoin”.19