PEMERIKSAAN atas pencetakan, pengeluaran, dan pencetakan rupiah tahun 2014 pada Bank Indonesia (BI) dan Perum Peruri bertujuan untuk menilai apakah pencetakan, pengeluaran, dan
pencetakan rupiah pada tahun 2014 telah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sesuai dengan UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, rupiah merupakan mata uang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Proses pengelolaan rupiah terdiri dari perencanaan, pencetakan, pengeluaran, pengedaran, pencabutan dan penarikan, serta pemusnahan.
Pasal 20 UU tersebut mengatur bahwa pelaksanaan audit oleh BPK dilakukan secara periodik untuk menjamin pelaksanaan pencetakan, pengeluaran, dan pemusnahan rupiah. Pencetakan merupakan rangkaian kegiatan mencetak rupiah, termasuk di dalamnya pengadaan bahan uang yang akan dicetak.
Pengeluaran merupakan suatu rangkaian kegiatan menerbitkan rupiah sebagai alat pembayaran yang sah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Adapun, pemusnahan merupakan suatu rangkaian kegiatan meracik, melebur, atau cara lain memusnahkan rupiah sehingga tidak menyerupai rupiah.
BPK tidak dapat memperoleh harga pembanding untuk memastikan kewajaran harga bahan uang karena spesifikasinya yang khusus dan berbeda-beda antarnegara. Pengujian atas harga wajar dilakukan secara terbatas dengan menganalisis kewajaran tren harga dan ketaatan proses pengadaan sesuai dengan prosedur yang diharuskan.
Berdasarkan pemeriksaan BPK, dapat disimpulkan bahwa pengeluaran rupiah pada 2014 telah sesuai dengan kriteria. Namun, pencetakan dan pemusnahan rupiah tahun 2014 belum sepenuhnya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
Dalam pencetakan dan pemusnahan rupiah, BPK menemukan permasalahan kelemahan sistem pengendalian intern, antara lain; ● BI dan Perum Peruri belum menetapkan dan menyepakati standar
kualitas uang rupiah hasil cetak sempurna (HCS) atas uang kertas (UK). Hal ini mengakibatkan adanya perbedaan pendapat/ pemahaman mengenai kualitas HCS.
● Perum Peruri harus mempertanggungjawabkan bahan uang yang diserahkan ke BI dalam bentuk bahan uang yang dikembalikan, baik HCS maupun HCTS (hasil cetak tidak sempurna). Namun, Perum Peruri tidak melakukan penanganan yang memadai atas lembar kertas sementara (LKS) dan HCTS, sehingga terdapat 6 bilyet LKS yang diserahkan kepada BI sebagai HCTS.
LKS merupakan kertas biasa yang digunakan untuk cetak coba pada proses cetak rata (offset). Diperkirakan sebanyak 45 bilyet LKS tercampur dalam HCTS. Hal ini mengakibatkan kekurangan/ potensi kekurangan bahan uang yang harus dipertanggungjawabkan oleh Perum Peruri untuk pecahan Rp50.000 dan/ atau Rp10.000. ● Pengawasan dan pengamanan proses pencetakan uang kertas di
Perum Peruri belum sepenuhnya memadai. Hal ini ditunjukkan dengan adanya beberapa permasalahan, yaitu:
Sarana pengamatan proses pencetakan uang berupa CCTV kurang optimal dan jumlahnya kurang memadai, sehingga kamera CCTV belum menjangkau seluruh ruangan.
Pengamatan pada area/ kegiatan kritis seperti bongkar muat bahan uang dan hasil cetak tidak didukung dengan jumlah petugas pengaman elektronik (pamlek) yang memadai.
Petugas pamlek juga tidak dapat menetapkan jadwal pengamatan area/ kegiatan kritis secara terfokus dan intensif karena tidak ada permintaan pengamatan. Di samping itu, hasil rekaman CCTV tidak dilakukan reviu berkala oleh pejabat yang berwenang, dan hanya digunakan untuk pembuktian jika terjadi penyimpangan.
● Infrastruktur pengamanan pada area perkasan di Kantor Pusat BI dan 18 Kantor Perwakilan BI (KPw BI) belum sepenuhnya memadai. Permasalahan yang ditemukan antara lain:
Pada Kantor Pusat BI, peliputan CCTV tidak menjangkau seluruh area perkasan karena penempatan CCTV dan jumlah kamera kurang memadai, sehingga aktivitas di area perkasan dan nonperkasan tidak terpantau secara jelas.
Selain itu, tidak terdapat rekaman CCTV atas keseluruhan dan/ atau sebagian kegiatan pada ruang mesin sortasi uang kertas (MSUK), sehingga proses tersebut tidak dapat direviu.
Pada Kantor Perwakilan BI, peliputan CCTV tidak menjangkau seluruh area perkasan karena penempatan CCTV kurang memadai, sehingga aktivitas di area perkasan tidak terpantau secara jelas.
Sama halnya dengan di Kantor Pusat BI, di Kantor Perwakilan juga tidak terdapat rekaman CCTV atas keseluruhan dan/ atau
sebagian kegiatan pada ruang mesin racik uang kertas (MRUK), mesin sortasi uang kertas (MSUK), setoran, dan penggeledahan. Selain itu, terdapat rekaman CCTV yang kualitas hasil rekamannya tidak memadai, sehingga tidak dapat direviu. Bahkan terdapat ruangan yang tidak dilengkapi dengan CCTV dan pembatasan akses yang kurang memadai dan efektif.
Situasi ini mengakibatkan adanya risiko penyalahgunaan yang tidak terdeteksi. Hal tersebut disebabkan pemasangan Electronic Security System (ESS) belum selesai dan pelaksanaan assessment ESS belum seluruhnya ditindaklanjuti serta belum mencakup penilaian atas layout perkasan.
Terhadap permasalahan tersebut, BPK merekomendasikan agar: ● BI dan Perum Peruri segera menyempurnakan dan menyepakati
standar kualitas HCS.
● Perum Peruri memperbaiki pengendalian atas penanganan LKS dan HCTS serta menelusuri dan mempertanggungjawabkan kekurangan bahan uang pecahan Rp50.000 (X’05) dan Rp10.000 (V’05).
● Perum Peruri melakukan reviu secara menyeluruh atas ketersediaan sarana dan SDM pengamanan yang ada, memperbaiki SOP koordinasi pengamanan atas kegiatan kritis, dan menginstruksikan petugas pengamanan agar selalu melaksanakan penggeledahan sesuai dengan prosedur.
● BI segera melakukan penilaian atas layout perkasan dan
memperbaikinya sesuai dengan hasil penilaian, sekaligus menyelesaikan pemasangan ESS dan menyelesaikan perbaikan atas ESS yang sudah terpasang sesuai dengan hasil assessment.
Hasil Pemantauan BPK
UNTUK memenuhi amanat Undang Undang Nomor 15 Tahun 2004 dan Undang Undang Nomor 15 Tahun 2006, BPK memantau pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan dan penyelesaian kerugian negara/ daerah oleh pemerintah. Selain itu, apabila dalam pemeriksaan ditemukan indikasi unsur pidana, maka BPK melaporkan hal tersebut kepada instansi yang berwenang dan memantau tindak lanjutnya.
Hasil pemantauan tersebut disampaikan kepada lembaga perwakilan dalam bentuk Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) yang disampaikan kepada DPR, DPD, dan DPRD sesuai kewenangannya.
IHPS I Tahun 2015 memuat hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan (TLRHP) 2010-2014 dan semester I tahun 2015 yang disajikan menurut entitas kementerian/ lembaga, pemerintah provinsi/ kabupaten/ kota, BUMN, dan badan lainnya.
Pemantauan TLRHP dilaksanakan secara sistematis oleh BPK untuk menentukan bahwa pejabat telah melaksanakan rekomendasi hasil pemeriksaan dalam tenggang waktu yang telah ditentukan.
Pemantauan tindak lanjut dilakukan setelah BPK menerima jawaban atau penjelasan dari pejabat yang diperiksa dan/ atau pejabat yang bertanggung jawab untuk menentukan apakah tindak lanjut rekomendasi telah dilakukan sesuai dengan rekomendasi BPK.
Menurut Peraturan BPK Nomor 2 Tahun 2010 tentang Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BPK, hasil penelaahan diklasifikasikan dalam empat status yaitu:
● Tindak lanjut telah sesuai dengan rekomendasi ● Tindak lanjut belum sesuai dengan rekomendasi ● Rekomendasi belum ditindaklanjuti
● Rekomendasi tidak dapat ditindaklanjuti
Suatu rekomendasi BPK dinyatakan telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi apabila rekomendasi tersebut telah ditindaklanjuti secara nyata dan tuntas oleh pejabat yang diperiksa sesuai dengan rekomendasi BPK. Rekomendasi BPK diharapkan dapat memperbaiki pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara/ daerah/ perusahaan pada entitas yang bersangkutan.
Dalam rangka pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan ini, BPK menatausahakan LHP dan menginventarisasi temuan, rekomendasi, dan status tindak lanjut atas rekomendasi dalam LHP, serta nilai penyerahan aset atau penyetoran sejumlah uang ke kas negara/ daerah/ perusahaan.
Secara umum, rekomendasi BPK dapat ditindaklanjuti dengan cara penyetoran uang/ aset ke negara/ daerah/ perusahaan atau melengkapi pekerjaan/ barang, dan tindakan administratif berupa pemberian peringatan, teguran, dan/ atau sanksi kepada para penanggung jawab dan/ atau pelaksana kegiatan.
Tindakan administratif juga dapat berupa tindakan koreksi atas