BAB I SASARAN PEMBANGUNAN DAN TANTANGAN DAERAH
1.1. Pendahuluan
Tujuan utama penyelenggaraan pemerintahan baik di tingkat pusat maupun di daerah adalah untuk mewujudkan keselarasan antara pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang adil dan merata. Oleh sebab itu, untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan yang baik maka harus disertai dengan unsur pendanaan yang berasal dari penghimpunan pendapatan maupun dari pengalokasian anggaran belanja baik pada APBN maupun APBD.
Sesuai dengan Undang Undang Nomor 17 Tahun 2003, pemegang kekuasaan tertinggi pengelolaan keuangan negara adalah Presiden, sedangkan di daerah adalah Gubernur/
Bupati/ Walikota, oleh karena itu dalam tataran implementasi kebijakan fiskal di daerah, maka diperlukan sinergi dan harmonisasi kebijakan serta pengelolaan keuangan pusat dan daerah agar tujuan dan sasaran pembangunan dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Selanjutnya, kebijakan fiskal sebagai alat pemerintah untuk mencapai sasaran pembangunan dan kesejahteraan masyarakat merupakan tanggung jawab pusat dan daerah dalam memastikan efektifitasnya. Dengan tiga fungsi utamanya sebagai alat alokasi, distribusi, dan stabilisasi, maka kebijakan fiskal yang efektif diharapkan mampu meningkatkan perbaikan dan kualitas indikator-indikator ekonomi makro dan kesejahteraan di daerah. Oleh karena itu, kebijakan fiskal yang efektif dapat terlihat dari perbaikan-perbaikan indikator makro ekonomi dan indikator-indikator kesejahteraan.
Tidak terlepas dari hal tersebut, maka hal pertama yang harus menjadi dasar bagi perumusan kebijakan fiskal yang efektif dan efisien adalah daerah harus memetakan terlebih dahulu tantangan-tantangan daerah yang dihadapi baik dari sisi ekonomi, sosial-kependudukan, serta tantangan wilayahnya, sehingga intervensi kebijakan fiskal melalui program prioritas dapat langsung menjawab tantangan daerah yang dihadapi.
1.2. TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH
Guna menjamin keselarasan dan sinkronisasi antar tahapan pembangunan, disusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) serta Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).
RPJPD merupakan suatu dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 20 (dua puluh) tahun yang digunakan sebagai acuan dalam penyusunan Rencana
BAB I
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk setiap jangka waktu 5 (lima) tahun. Setelah RPJMD ditetapkan, pemerintah daerah menyusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang merupakan penjabaran dari RPJMD untuk jangka waktu 1 tahun dengan mengacu pada RPJMD.
1.2.1. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sebagai satu kesatuan perencanaan daerah yang utuh, RPJMD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Tahun 2017-2022 sebagaimana tertuang pada Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 3 Tahun 2018 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2017-2022, RPJMD DIY merupakan irisan sebagai salah satu tahapan untuk mewujudkan tujuan perencanaan pembangunan jangka panjang Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu mewujudkan Daerah Istimewa Yogyakarta pada Tahun 2025 sebagai Pusat Pendidikan, Budaya, dan Daerah Tujuan Wisata Terkemuka di Asia Tenggara dalam lingkungan Masyarakat yang Maju, Mandiri dan Sejahtera.
Atas dasar hal tersebut, di dalam perencanaan jangka menengah Tahun 2017-2022 perlu dirumuskan Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran pembangunan jangka menengah yang mampu mewujudkan cita-cita pembangunan jangka panjang DIY, terutama dengan mewujudkan program/ kegiatan pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Hal ini tentu juga tidak bisa dilepaskan dari tujuan keistimewaan sebagaimana tertuang di dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 yang salah satunya adalah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui semangat keistimewaan hamemayu hayuning bawana, sangkan paraning dumadi dan manunggaling kawula gusti.
RPJMD DIY 2022 sebagai terjemahan dari visi dan misi Gubernur DIY periode 2017-2022, dalam penyusunannya berpedoman pada RPJM Nasional Tahun 2015-2019. Visi Gubernur DIY pada periode 2017-2022 mengambil Tema “Menyongsong Abad Samudera Hindia untuk Kemuliaan Martabat Manusia Jogja”. Tema visi tersebut menggambarkan makna pembangunan yang ingin dicapai oleh Pemerintah DIY pada tahun 2017–2022.
Visi politis tersebut kemudian diselaraskan dengan data-data maupun analisa teknokratik untuk dapat dicapai melalui upaya-upaya yang tergambarkan dalam misi. Rumusan misi Gubernur DIY dalam RPJMD dikembangkan dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis, baik eksternal dan internal yang mempengaruhi serta kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang ada dalam pembangunan daerah di DIY. Visi Gubernur DIY dapat diejawantahkan dalam dalam rumusan 2 (dua) misi pembangunan DIY tahun 2017–2022 sebagai berikut: 1) Meningkatkan Kualitas Hidup, Kehidupan Dan Penghidupan Masyarakat Yang Berkeadilan dan Berkeadaban. 2) Mewujudkan Tata Pemerintahan yang Demokratis.
RPJMD DIY merupakan irisan sebagai salah satu tahapan untuk mewujudkan tujuan perencanaan pembangunan jangka panjang DIY,
Mengacu pada visi dan misi yang telah ditetapkan, selanjutnya ditetapkan tujuan dan sasaran pembangunan daerah selama lima tahun. Rumusan tujuan dan sasaran merupakan dasar dalam menyusun pilihan-pilihan strategi pembangunan, sebagai berikut:
Tabel 1.1 Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Pembangunan Daerah sesuai RPJMD 2017-2022 Visi : “Terwujudnya Peningkatan Kemuliaan Martabat Manusia Jogja”
No Misi Tujuan Pembangunan Daerah Sasaran Pembangunan Daerah
1. Meningkatkan Kualitas Hidup, Kehidupan Dan Penghidupan Masyarakat Yang Berkeadilan dan Berkeadaban
Meningkatnya kualitas hidup, kehidupan dan penghidupan masyarakat dengan tatanan sosial yang menjamin menjamin ke-bhineka-tunggal-ika-an dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia serta
mampu menjaga dan
mengembangkan budaya Yogyakarta
1) Meningkatnya Derajat Kualitas SDM.
2) Meningkatnya derajat ekonomi masyarakat.
3) Terpelihara dan berkembangnya Kebudayaan.
4) Meningkatnya aktivitas perekonomian yang berkelanjutan.
5) Menurunnya kesenjangan ekonomi antar wilayah.
2. Mewujudkan Tata Pemerintahan yang Demokratis
Terwujudnya reformasi Tata Kelola Pemerintahan yang baik (good governance)
1) Meningkatnya kapasitas tata kelola pemerintahan.
2) Meningkatnya Kapasitas Pengelolaan Keistimewaan.
3) Meningkatnya Pengelolaan dan pemanfaatan tanah Kasultanan, Kadipaten dan tanah desa
Sumber : RPJMD DIY 2017-2022
1.2.2. Berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)
Secara hierarki dan keterkaitan antar dokumen, tema pembangunan RPJMD DIY 2017-2022 mempertimbangkan tema indikatif yang dirumuskan dalam RPJPD DIY 2005-2025.
Tema RKPD DIY tahun 2021 adalah “Penguatan SDM Unggul dan Percepatan Pemulihan Sosial Ekonomi Masyarakat DIY” dengan prioritas: 1) Penguatan SDM Unggul, 2) Aktivitas Perekonomian yang Berkelanjutan, 3) Penguatan Infrastruktur Strategis, 4) Pendukung Prioritas Pembangunan. Sejalan dengan RPJMD, maka Sasaran pembangunan DIY pada RKPD tahun 2021 adalah sebagai berikut :
Tabel 1.2. Sasaran Indikator Kinerja Pembangunan Daerah DIY
No Sasaran Indikator Tahun 2017
(Baseline)
No Sasaran Indikator Tahun 2017
Indeks Williamson 0.4577 0,4559 0,4542 0,4524 0,4506 0,4489
6. Meningkatnya
Sumber : RPJMD DIY 2017-2022
Pada periode RPJMD 2017 -2022, target kinerja perekonomian DIY meningkat seiring dengan beberapa pembangunan terutama di sektor sarana dan prasarana yang didukung dengan beberapa proyek fisik besar. Beberapa proyek program strategis DIY sebagai berikut:
Tabel 1.3. Proyek Program Strategis DIY
No Kelompok Pembangunan Infrastruktur Rincian Kegiatan 1. Pembangunan Jalan dan Jembatan Pembangunan Jalur Jalan Lingkar Selatan (JJLS)
Pembangunan Jogjakarta Outer Ring Road (JORR) Pembangunan Jalan/Jembatan Prambanan – Gading Pembangunan Akses Bandara Internasional baru Pembangunan Akses Kawasan Industri Piyungan Bantul Pembangunan Underpass Gejayan, Monjali dan Kentungan Pengembangan Jalan Selokan Mataran
2. Penyediaan Air Baku Pembangunan Bendung Kamijoro
3. SPAM Regional Pembangunan Jaringan Distribusi Air Baku, Jaringan Distribusi Air Bersih dan Jaringan Distribusi Utama 4. Pembangunan Bandara Internasional baru Pembangunan Sisi Udara dan Sisi Darat Airport City 5. Pembangunan Stasiun Interchange Pengembangan Stasiun KA Palbapang, Stasiun Kedundang
dan Stasiun Pathukan
6. Pembangunan Terminal Angkutan Barang Pembangunan Terminal Angkutan Barang 7. Pengembangan Pengelolaan Sampah Pengembangan TPA Regional Piyungan
8. Pengembangan Jalan Bebas Hambatan Pembangunan jalan tol Jogjakarta – Solo, Bawen - Jogjakarta dan Jogjakarta - Cilacap
Sumber : RPJMD DIY 2017-2022
1.3. TANTANGAN DAERAH
Dalam setiap tahapan pembangunan, terdapat berbagai kondisi permasalahan yang perlu diperhatikan dalam pembangunan daerah sekaligus juga menjadi isu strategis daerah mengingat dampak signifikan yang ditimbulkan.
1.3.1. Tantangan Ekonomi Daerah
Seiring dengan pandemi Covid-19 yang terjadi pada semua negara, hal ini berdampak juga bagi perekonomian di negara Republik Indonesia, khususnya Perekonomian DIY selama tahun 2021.
Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan IV tahun 2021 mencapai Rp38,81 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp27,46 triliun.
Perekonomian DIY selama 2021 tumbuh sebesar 5,53 persen (c-to-c). Kondisi ini lebih baik jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar 2,68 persen.
Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha jasa lainnya dan hanya dua lapangan usaha yang mengalami kontraksi. Sementara dari sisi pengeluaran, semua komponen tumbuh positif, kecuali net ekspor antar daerah. Perekonomian DIY triwulan IV tahun 2021 terhadap triwulan IV tahun 2020 mengalami tumbuh sebesar 2,82 persen (y-on-y).
Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Pertanian sebesar 25,41 persen, diikuti jasa lainnya dan transportasi. Dari sisi pengeluaran, semua komponen, kecuali pengeluaran konsumsi lembanga swasta nonprofit dan perubahan inventori, tumbuh positif. Ekspor dan impor luar negeri mengalami pertumbuhan lebih dari dua digit. Dibanding triwulan III tahun 2021 perekonomian DIY tumbuh sebesar 3,68 persen (q-to-q). Lapangan usaha yang tumbuh tinggi adalah jasa lainnya, diikuti oleh transportasi dan penyediaan akomodasi dan makan minum. Dari sisi pengeluaran, terutama dididorong oleh pertumbuhan konsumsi pemerintah, ekspor luar negeri, dan pembentukan modal tetap bruto.
Struktur ekonomi DIY tahun 2021 didominasi oleh lapangan usaha industri pengolahan, informasi dan komunikasi, dan konstruksi. Sementara dari sisi pengeluaran, pengeluaran konsumsi rumah tangga masih mendominasi dengan kontribusi 64,32 persen, disusul oleh pembentukan modal tetap bruto 32,83 persen, dan pengeluaran konsumsi pemerintah 15,45 persen.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) DIY sebesar 4,56 persen pada Agustus 2021, meski lebih rendah dibanding level nasional (6,49 persen), dan TPT Agustus 2021 turun 1 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2020. Indeks Gini di DIY periode September 2021 tercatat 0,436 berada diatas rata-rata Nasional yang sebesar 0,381 dan merupakan angka tertinggi ketimpangan sosial di Indonesia. Demikian juga dengan angka kemiskinan DIY per September 2020 masih di angka 11,91 persen, melebihi rata-rata Nasional 9,71 persen dan juga merupakan angka tertinggi di pulau Jawa. Melihat kondisi ini, diperlukan extra effort dalam usaha menaikkan pertumbuhan perekonomian DIY serta
Tantangan
menurunkan angka kemiskinan dan tentunya tidak mengabaikan protokol kesehatan dalam menghadapi penyebaran Covid-19.
1.3.2. Tantangan Sosial Kependudukan
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri, DIY memiliki penduduk sebanyak 3,68 juta jiwa dan 1,25 juta kepala keluarga per Juni 2021. Dari jumlah tersebut terdapat 2,54 juta jiwa (69,03%) merupakan kelompok usia produktif (15-64 tahun) pada Juni 2021. Dan 1,14 juta jiwa (30,97%) penduduk yang termasuk kelompok usia belum produktif. Berdasarkan jenis kelamin, terdapat 1,82 juta jiwa (49,53%) penduduk Yogyakarta yang berjenis kelamin laki-laki dan ada pula 1,86 juta jiwa (50,47%) perempuan. Yogyakarta, provinsi yang terletak di sebelah selatan Jawa memiliki wilayah seluas 3.133 km persegi. Kepadatan penduduknya mencapai 1.173 jiwa per km persegi. 1
Pertumbuhan lansia dunia berjalan cepat dan pesat, tak terkecuali Indonesia.
Pertumbuhan lansia yang cepat akibat adanya transisi demografi yaitu perubahan tingkat kelahiran dari tingkat kelahiran tinggi menjadi angka kematian rendah. Angka harapan hidup sekitar 273,65 juta jiwa penduduk Indonesia pada tahun 2025 diprediksi dapat mencapai 73,7 tahun. Meningkat 4,7 tahun dari angka harapan hidup saat ini yang hanya 69,0 tahun, meningkat 8,5%. Dalam catatan BPS 2020 yakni 74,82 tahun, sementara secara nasional 71, 25 tahun. Kabupaten Kulonprogo menempati urutan pertama di DIY yakni 75, 20 tahun. Fakta tersebut menjadikan DIY memasuki provinsi aging society atau berpenduduk tua. Di Gunungkidul misalnya, dari jumlah penduduk sebanyak 722.479 jiwa, sebanyak 169.748 jiwa atau 23,5% penduduknya berusia lansia. Adanya tantangan bonus demografi Lansia menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah DIY
Permasalahan alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri dan permukiman/real estate sedang marak di DIY beberapa tahun ini, terutama daerah perkotaan (Sleman dan Yogyakarta). Penyebabnya adalah peningkatan jumlah penduduk yang selain di pengaruhi oleh angka kelahiran juga sebagai akibat dari besarnya jumlah imigran, mengingat Yogyakarta merupakan kota pelajar, pariwisata,budaya dan perdagangan.
Seiring dengan banyaknya perguruan tinggi yang ada, tingginya intensitas pembangunan rumah kos serta meluasnya kawasan permukiman mengakibatkan makin menurunnya kawasan pertanian dan kawasan terbuka hijau. Hal tersebut mengakibatkan ketimpangan kesejahteraan antar kelas di masyarakat dan antar kawasan perkotaan dan perdesaan di Yogyakarta semakin melebar.
Di sisi lain perkembangan teknologi juga memicu perubahan nilai, baik nilai lokal maupun nilai sosial, yaitu nilai-nilai keluarga dan kebudayaan di DIY. Gadget menyebabkan anak anak kurang berinteraksi dengan masyarakat sekitar dan minimnya pemuda yang memiliki rasa ketertarikan dengan pengembangan budaya. Pemda DIY mendorong terciptanya
1 https://databoks.katadata.co.id/datapublish, diunduh pada tanggal 29 Januari 2022.
keluarga tangguh yang mampu menjadi pilar kehidupan masyarakat yang berkarakter, berbudaya, maju, mandiri dan sejahtera, menyongsong peradaban baru sehingga jogja tidak kehilangan kejogjaannya.
1.3.3. Tantangan Geografis Wilayah
Luas wilayah DIY mencapai 3.185,83 km2 dan memiliki letak geografis antara Gunung Merapi dan Samudera Hindia merupakah daerah yang subur yang menjadikannya daerah pertanian yang menghasilkan padi dan palawija sekaligus juga memiliki resiko terjadinya bencana alam berupa gempa bumi vulkanik dan tektonik.
Sebagian besar wilayah DIY atau sebesar 65,65 persen wilayah terletak pada ketinggian antara 100-499 m dari permukaan laut, 28,84 persen wilayah dengan ketinggian kurang dari 100 meter, 5,04 persen wilayah dengan ketinggian antara 500-999 m, dan 0,47 persen wilayah dengan ketinggian di atas 1000 m. Daerah-daerah yang relatif datar, seperti wilayah Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul adalah wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan memiliki kegiatan sosial ekonomi berintensitas tinggi, sehingga merupakan wilayah yang lebih maju dan berkembang serta ketersediaan sarana dan prasarana wilayah yang baik.
Hal tersebut berbanding terbalik dengan wilayah pegunungan di kabupaten Gunungkidul.
ketersediaan sarana dan prasarana wilayah yang relatif masih kurang memicu naiknya indeks ketimpangan antar wilayah. Dewasa ini kawasan pantai selatan kabupaten Gunungkidul memiiliki potensi pariwisata yang cerah dan ditunjang dengan dikucurkannya Dana Desa maka sedikit demi sedikit ketertinggalan infrastruktur jalan penunjang pariwisata dapat teratasi. Mengingat kondisi geografisnya merupakan daerah dengan potensi terdampak bencana yang besar,maka dalam merencanakan pembangunan wilayah DIY harus tetap memperhatikan risiko bencana serta dilakukan mitigasi bencana.
Kawasan rawan bencana di DIY dilihat dari besarnya bencana diantaranya adalah:
1. Kawasan rawan bencana dan terdampak gunung berapi di lereng Gunung Merapi.
Kawasan ini mencakup hampir seluruh wilayah DIY terutama Kabupaten Sleman bagian utara dan wilayah sekitar sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Status Gunung Merapi telah naik dari waspada (level II) menjadi siaga (level III) pada 5 November 2020 pukul 12.00 WIB. Peningkatan status tersebut didasarkan pada aktivitas vulkanik saat ini, yang dapat berlanjut ke erupsi dan baru di awal tahun 2021 telah terjadi beberapa kali guguran lava dari puncak Merapi namun tidak sampai mengakibatkan kerusakan yang cukup besar dibandingkan letusan tahun 2010 yang lalu. 2
2 https://www.kompas.com/tren, diunduh tanggal 21 Januari 2022.
2. Kawasan rawan gempa bumi tektonik. Jawa Tengah bagian selatan, termasuk kota Yogyakarta dan sekitarnya, merupakan salah satu wilayah rawan gempa bumi. Dan di DIY merupakan wilayah yang dilewati oleh sesar Opak merupakan patahan aktif sehingga kerap kali menjadi penyebab terjadinya gempa yang mengguncang Jogja seperti yang terjadi di tahun 2006 dengan kekuatan gempa 6,3 SR yang mengakibatkan sekitar 6000 korban jiwa.
3. Kawasan rawan bencana Tsunami. Kawasan rawaan bencana tsunami di DIY adalah wilayah pantai dari Kabupaten Kulon Progo, Bantul dan Gunungkidul dengan ketinggian kurang dari 30 meter dari permukaan laut.
1.3.4. Tantangan Pandemi bagi Daerah
Tahun 2021 merupakan masa transisi dari penanganan pandemi Covid-19 pada tahun 2020 yang berdampak pada sosial, ekonomi dan keuangan, menuju periode normal untuk pemulihan. Kebijakan ekonomi makro dan fiskal tahun 2021 diarahkan untuk mempercepat pemulihan pasca pandemi Covid-19 serta menjadi momentum untuk melakukan reformasi kebijakan dalam rangka mempersiapkan fondasi yang kokoh untuk melaksanakan transformasi ekonomi mencapai Visi Indonesia Maju 2045.
Secara umum, langkah kebijakan pemulihan ekonomi daerah diambil dengan memperhatikan arahan Pemerintah, yang fokus pada tiga aspek, yakni: Menjaga kesehatan masyarakat, Melindungi daya beli khususnya masyarakat golongan tidak mampu melalui penguatan dan perluasan jaring pengaman sosial, serta Melindungi dunia usaha dari kebangkrutan. Untuk itu, Pemerintah Daerah juga melakukan refocusing dan re-alokasi pada manajemen pembangunan daerah sejak tahun 2020 hingga tahun-tahun mendatang. Adanya pergeseran rancang desain sasaran pembangunan daerah sejak pandemi Covid-19 ini bergulir berserta dampaknya, diharapkan penanganan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah juga mengalami penyesuaian dengan pertimbangan-pertimbangan teknis tertentu. Hal itu dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah regulasi yang dikeluarkan pemerintah terkait upaya penanganan pandemi Covid-19 agar upaya pemulihan ekonomi bisa berdampak. Kebijakan pemulihan ekonomi yang berdampak tersebut merupakan Langkah-langkah yang harus diambil oleh Pemerintah Daerah, untuk menangani resesi ekonomi, menjaga ketahanan daya beli masyarakat, pemulihan KUMKM, dan memulihkan sektor strategis (pariwisata dan pendidikan) secara bertahap dalam koridor mengikuti standar protokol kesehatan dalam pengendalian laju penyebaran pandemi Covid-19. 3
3 Kajian BAPPEDA : “Kebijakan Ekonomi Pemulihan Daerah Terdampak Covid-19”.
KAJIAN FISKAL REGIONAL
Tahun
D.I.YOGYAKARTA
Analisis Ekonomi Regional
Bab II
& KESEJAHTERAAN
Laju Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi pada triwulan IV 2021:
§ 2,82% (Y-on-Y)
§ 3,68% (Q-to-Q)
§ 5,53% (C-to-C)
Inflasi
Tingkat inflasi bulanan (m-to-m) tertinggi selama triwulan IV 2021 terjadi di bulan Desember 2021 sebesar 0,71%.
Tiga Komoditas yang paling mempengaruhi inflasi di bulan Desember 2021
Kelompok makanan, minuman dan
tembakau
2,38%
Dalam Persen (%)
Kelompok Transportasi
Kelompok Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga
0,72% 0,21%
Tingkat Pengangguran Terbuka
Angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di DIY Agustus 2021
4,56%
TPT berdasarkan Jenjang Pendidikan
PDRB ADHB: Rp149,37 T PDRB ADHK: Rp107,31 T
TPT Menurut Kabupaten/Kota (%)
jan 21 feb 21 mar 21 apr 21 mei 2 1 juni 21 juli 21 Agt 21 Sept 21 okt 20 21 nov 2 021 des20 21
Yogyakart a Nas
0,57 0,71
0,436
Indeks Harga yang Diterima Petani (lt) DIY : 104,75 Indeks Harga yang Dibayar Petani (lb) : 111,41.
Tanaman
Indeks Harga yang Diterima Nelayan (lt) DIY : 124,86 Indeks Harga yang Dibayar Petani (lb) : 108,38.
Jumlah Penduduk Miskin DIY September
Indeks Gini DIY September 2021 : 0,436
Distribusi Pengeluaran Penduduk Per Kapita, dan Gini Ratio Per September 2021
Sep-16 Mar-17 Sep-17 Mar-18 Sep-18 Mar-19 Sep-19 Mar-20 Sep-20 Mar-21 Sep-21
488,83488,53
Mar'20 Juni'20 Sept 20 Des 20 Mar 21 Juni 21 Sept 21 Des 21 DIY Nas
Mar'20 Juni'20 Sept 20 des 20 mar 21 juni 21 Sept 21 Des 21
2.1. Analisis Indikator Makro Ekonomi
2.1.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Kondisi perekonomian DIY pada triwulan IV 2021 mulai membaik seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat sebagai dampak positif penurunan kasus harian Covid-19. Kinerja perekonomian DIY sepanjang tahun 2021 yang diukur dari laju pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) tumbuh 5,53 persen (c-to-c), melampaui pertumbuhan ekonomi Nasional 2021 yang sebesar 3,69 persen (c-to-c) dan pulau Jawa (3,66 persen). Secara nominal atau Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB), PDRB DIY 2021 mencapai Rp149,37 triliun, PDRB ADHK sebesar Rp107,31 triliun dan PDRB perkapita 2021 mencapai Rp40,23 juta.1
a. Laju Pertumbuhan Ekonomi (PDRB)
Laju pertumbuhan sebesar 5,53 persen (c-to-c) tersebut, jauh lebih baik jika dibanding tahun sebelumnya yang terkontraksi sebesar 2,68 persen. Andil pertumbuhan tertinggi berasal dari Jasa Lainnya sebesar 21,53 persen, Infokom sebesar 16,69 persen dan Konstruksi sebesar 10,82 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, kecuali net ekspor antar daerah, semua komponen tumbuh positif, dengan petumbuhan tertinggi terjadi pada komponen Ekspor Luar Negeri sebesar 21,68 persen, perubahan inventori sebesar 8,63 persen dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 8,20 persen.
Secara year on year (yoy), perekonomian DIY triwulan 2021 dibanding triwulan IV-2020 (yoy) tumbuh sebesar 2,82 persen, atau membaik jika dibanding triwulan yang sama tahun sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar 0,69 persen. Membaiknya kondisi perekonomian ini terutama didukung oleh pertumbuhan lapangan usaha pertanian dan jasa lainnya. Keduanya tumbuh mencapai 2 digit, yaitu 25,41 persen dan 13,34 persen, disusul lapangan usaha transportasi dan listrik masing-masing tumbuh 9,56 persen dan 8,51 persen.
Secara quarter to quarter (q-to-q), dibanding triwulan III 2021, perekonomian DIY triwulan IV 2021 tumbuh sebesar 3,86 persen (q-to-q), lebih baik dibanding triwulan sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar 0,09 persen. Pertumbuhan ekonomi ini terutama didukung oleh pertumbuhan lapangan usaha jasa lainnya yang mencapai 42,01 persen, diikuti transportasi dan pergudangan sebesar 27,23 persen dan penyediaan akomodasi, makan, dan minum sebesar 17,95 persen.
1https://www.bps.go.id/indicator/52/288/1/-seri-2010-produk-domestik-regional-bruto-per-kapita.html
Analisis Ekonomi Regional
Bab II
Perekonomian DIY Tahun 2021 tumbuh 5,53 persen (c-to-c) , Ekonomi DIY Trwiulan IV 2021 tumbuh 2,82 persen (y-on-y) , Ekonomi DIY Trwiulan IV 2021 Tumbuh 3,68 persen (q-to-q)
b. Nominal PDRB
1. PDRB Sisi Pengeluaran
Struktur PDRB ADHB DIY tahun 2021 dari sisi pengeluaran didominasi oleh konsumsi RT, yaitu sebesar Rp96,07 triliun atau 64,32 persen terhadap total PDRB (Rp149,37 triliun), kemudian PMTB sebesar Rp49,03 triliun (32,83 persen) dan konsumsi pengeluaran pemerintah sebesar Rp23,07 triliun (15,45 persen).
Tabel 2.1
PDRB DIY ADHB dan ADHK Dari Sisi Pengeluaran Tahun 2019-2021 (dalam Triliun)
Sumber : BPS Provinsi DIY
Dibanding tahun 2020, nilai nominal PDRB seluruh komponen pengeluaran tahun 2021 tercatat mengalami peningkatan. Secara persentase, peningkatan terbesar terjadi pada komponen Ekspor Luar Negeri sebesar Rp1,99 triliun atau 25,54 persen, diikuti komponen PMTB (meningkat sebesar Rp4,71 triliun atau 10,63 persen) dan komponen Impor Luar Negeri (meningkat Rp538,56 miliar atau 10,11 persen).
Secara pangsa distribusi, konsumsi RT masih mendominasi struktur PDRB ADHB DIY 2021 dengan kontribusi sebesar Rp96,07 triliun atau 64,32 persen dari total nilai PDRB. Hal ini berarti bahwa sebagian besar perekonomian DIY dipengaruhi oleh konsumsi RT. Tingginya porsi konsumsi RT dalam struktur PDRB disatu sisi menguntungkan karena merefleksikan tingginya aktivitas ekonomi dan permintaan domestik yang biasanya lebih stabil ditengah gejolak ekonomi global. Namun, perlu diperhatikan bahwa komponen yang bersifat konsumtif bukan sebagai penggerak perekonomian yang ideal, karena itu perlu adanya dorongan investasi dan peningkatan kinerja ekspor.
Secara pangsa distribusi, konsumsi RT masih mendominasi struktur PDRB ADHB DIY 2021 dengan kontribusi sebesar Rp96,07 triliun atau 64,32 persen dari total nilai PDRB. Hal ini berarti bahwa sebagian besar perekonomian DIY dipengaruhi oleh konsumsi RT. Tingginya porsi konsumsi RT dalam struktur PDRB disatu sisi menguntungkan karena merefleksikan tingginya aktivitas ekonomi dan permintaan domestik yang biasanya lebih stabil ditengah gejolak ekonomi global. Namun, perlu diperhatikan bahwa komponen yang bersifat konsumtif bukan sebagai penggerak perekonomian yang ideal, karena itu perlu adanya dorongan investasi dan peningkatan kinerja ekspor.