pADA kegIATAn ekSTRAkuRIkuleR keloMpok SISWA-SISWI kReATIF SMA negeRI 1 JIWAn
C. pendampingan administrasi dan pelaporan keuangan
Gambar 5. Roadmap pengelolaan Lazismu. Sumber: Rizal Yaya, 2016
Berikutnya penulis menjelaskan tentang Sistem Akuntansi Zakat (Gambar 6). Diawali dengan adanya transaksi (berasal dari muzakki/ mustahik) harus tercatat secara kronologis ke dalam Buku Kas Masuk (BKM) dan Buku Kas Keluar (BKK).
Gambar 6. Sistem Akuntansi Zakat Sumber: Rizal Yaya, 2016
Selanjutnya BKM dan BKK akan mem-pengaruhi Buku Kas Dana Zakat. Pada akhir periode setidaknya harus disusun: 1) Laporan Posisi Keuangan (Neraca); 2) Laporan Perubahan Dana; dan 3) Laporan Perubahan Aset, Laporan Arus Kas. Penulis menawarkan format sebagaimana tabel 1, 2, dan 3.
Adapun buku-buku pendukung yang perlu disiapkan adalah: 1) Buku Induk Muzakki (didukung Kartu Pembayaran Personal Muzakki); 2) Buku Induk Mustahiq; 3) Buku Kas Masuk; 4) Buku Kas Keluar; 5) Buku Kas Dana Zakat; 6) Buku Kas Dana Infaq/Sedekah; dan 7) Daftar Inventaris.
Sesuai ketentuan di Lazismu, Karyawan dan Bendahara harus membuat Laporan Penerimaan dan Pendisribusian Dana secara rutin bulanan maksimal tanggal 5 bulan berikutnya. Selain itu juga diharuskan mem-buat Laporan Keuangan Tahunan. Laporan Keuangan dikirim/ditujukan kepada Muzakki, Lazismu PDM Kabupaten Madiun, dan PCM Caruban.
C. pendampingan administrasi dan pelaporan keuangan
Penulis ikut mendampingi staf ad-ministrasi (Meilinda Puspita Sari, 24
Nurharibnu Wibisono & Fatchur Rochman
108
Daya Mas
, Volume 1 Nomor 2 September 2016 tahun) dalam mengerjakankan tata kelolaadministrasi dan pelaporan keuangan (gambar 7). Pada awalnya staf administrasi masih kesulitan mengidentifikasi dan mengaplikasi-kan teknis pekerjaan, namun lambat laun terbiasa menerapkan pekerjaan administrasi dan pelaporan keuangan.
Staf administrasi masih perlu terus belajar dan berbenah dalam memahami dan mengimplementasi-kan pekerjaan administrasi dan pelaporan keuangan ini. Pekerjaan ini belum menggunakan program aplikasi komputer, tetapi masih menggunakan program word dan excel.
Gambar 7: Pendampingan administrasi dan pelaporan keuangan
Gambar 8. Formulir Kersediaan menjadi Muzakki (Donatur)
Tata urutan pekerjaan penggalian dana KL. Lazismu Caruban adalah sebagai berikut: 1. Pengisian formulir menjadi donatur
(muzakki) Lazismu. Tenaga pungut, karyawan dan pengurus KL. Lazismu Caruban harus mengidentifikasi keinginan muzakki apakah memilih membayar zakat, infaq/sedekah, dan wakaf tunai. Muzakki juga bisa memilih program donasi dan cara pembayaran. (Gambar 8) 2. Mengisi bukti pembayaran muzakki.
Pendampingan Administrasi dan Pelaporan Keuangan
Gambar 9. Bukti Pembayaran Lazismu
3. Distribusi majalah Lazismu
Pada saat muzakki membayar zakat atau infaq/sedekah bulanan, maka akan diberikan sebuah majalah Lazismu untuk pembayaran minimal Rp 20.000,-. (Lihat Gambar 10)
Gambar 10. Majalah Lazismu
4. Penyusunan Laporan Keuangan bulanan. Sesuai ketentuan di KL. Lazismu Caruban, Karyawan dan Bendahara harus membuat Laporan penerimaan dan pengeluaran/ distribusi dana KL. Lazismu Caruban secara rutin bulanan maksimal tanggal 5 bulan berikutnya. Selain itu juga diharuskan membuat Laporan Keuangan Tahunan. Laporan Keuangan dikirim/ ditujukan kepada Muzakki, Lazismu PDM Kabupaten Madiun, dan PCM Caruban. Contoh Laporan Keuangan bulanan KL. Lazismu Caruban seperti pada Gambar 11.
Gambar 11. Laporan Keuangan Bulanan
Selama ini (sejak tahun 2013), KL. Lazismu Caruban belum pernah membuat Laporan Keuangan Tahunan. Solusi format Laporan Keuangan untuk KL. Lazismu Caruban sesuai PSAK 109 adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Laporan Posisi Keuangan
KANTOR LAYANAN LAZISMU CARUBAN LAPORAN POSISI KEUANGAN Tanggal 31 Desember ………
Aset Kewajiban
Aset Lancar Kewajiban Jangka Pendek Kas dan setara kas Rp ………… Biaya yang masih harus dibayar Rp …………
Nurharibnu Wibisono & Fatchur Rochman
110
Daya Mas
, Volume 1 Nomor 2 September 2016Kas Dana Zakat Rp ………… Kewajiban Jangka Panjang Rp ………… Kas Dana Infaq/Sedekah Rp ………… Imbalan Kerja jangka panjang Rp ………… Kas Dana Amil Rp ………… Jumlah Kewajiban Rp ………… Kas Dana Non Halal Rp ………… Saldo Dana
Instrument Keuangan Rp ………… Dana Zakat Rp …………
Piutang Rp ………… Dan Infaq Rp …………
Jumlah Aset Lancar Rp ………… Dana Amil Rp ………… Aset Tidak Lancar Dana Non-Halal Rp …………
Aset Tetap Jumlah Dana Rp …………
Aset Tetap (Komputer,
Inventaris) Rp ………… Akumulasi Penyusutan Rp ………… Jumlah Aset Tetap Rp …………
Jumlah Aset Rp ………… Jumlah Kewajiaban& Saldo Dana Rp …………
Tabel 2. Laporan Perubahan Dana
KANTOR LAYANAN LAZISMU CARUBAN LAPORAN PERUBAHAN DANA
Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal 31 Desember ………
DANA ZAKAT
Penerimaan
Penerimaan dari muzakki + Bagi Hasil Rp ………
Hasil penempatan Rp ………
Jumlah penerimaan dana zakat Rp ……… Bagian amil atas penerimaan dana zakat Rp ……… Jumlah penerimaan dana zakat setelah bagian amil Rp ………
Penyaluran
Penyaluran Dana Zakat ke ………. Rp ……… Penyaluran Dana Zakat ke ………. Rp ……… Penyaluran Dana Zakat ke ………. Rp ………
Beban Administrasi Rp ………
Beban Pajak Rp ………
Jumlah penyaluran dana zakat Rp ………
Surplus (defisit) Rp ………
Saldo awal Rp ………
Saldo akhir Rp ………
DANA INFAK/SEDEKAH
Penerimaan
Infak/sedekah terikat atau muqayyadah Rp ……… Infak/sedekah tidak terikat atau mutlaqah Rp ………
Pendampingan Administrasi dan Pelaporan Keuangan Bagian amil atas penerimaan dana infak/sedekah Rp ………
Hasil pengelolaan Rp ………
Jumlah penerimaan dana infak/sedekah Rp ………
Penyaluran
Infak/sedekah terikat atau muqayyadah Rp ……… Infak/sedekah tidak terikat atau mutlaqah Rp ……… Alokasi pemanfaatan aset kelolaan (misalnya beban penyusutan dan
penyisihan) Rp ………
Jumlah penyaluran dana infak/sedekah Rp ………
Keterangan Surplus (defisit) Rp ……… Saldo Awal Rp ……… Saldo Akhir Rp ……… DANA AMIL Penerimaan
Bagian amil dari dana zakat Rp ……… Bagian amil dari dana infaq/sedekah Rp ………
Penerimaan Lainnya Rp ………
Jumlah penerimaan dana amil Rp ………
Penyaluran
Beban pegawai Rp ………
beban penyusutan Rp ………
Beban Umum dan administrasi lainnya Rp ……… Jumlah penggunaan dana amil Rp ………
Surplus (defisit) Rp ………
Saldo awal Rp ………
Saldo akhir Rp ………
DANA NON HALAL
Penerimaan
Penerimaan Dana Non Halal Rp ………
Bunga bank Rp ………
Jasa giro Rp ………
Penerimaan non halal lainnya Rp ……… Jumlah penerimaan dan non halal Rp ………
Penyaluran
Jumlah penggunaan dana non halal Rp ………
surplus (defisit) Rp ………
Saldo awal Rp ………
Saldo Akhir Rp ………
Nurharibnu Wibisono & Fatchur Rochman
112
Daya Mas
, Volume 1 Nomor 2 September 2016Tabel 3. Laporan Arus Kas
KANTOR LAYANAN LAZISMU CARUBAN LAPORAN ARUS KAS
Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal 31 Desember ……..
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI Kas diterima dari pendapatan Dana Zakat Rp ….……. Kas diterima dari pendapatan Dana Non Halal Rp ……..… Kas dibayarkan : Penyaluran Dana Zakat ke ……… Rp (…….…) Kas dibayarkan: Penyaluran Dana Zakat ke ………….. Rp (….……) Kas dibayarkan : Penyaluran Dana Zakat ke ……… Rp (…….…) Kas dibayarkan :Penyaluran Administrasi Rp (…….…) Kas dibayarkan : Pajak Rp (…….…)
Arus Kas Bersih Diperoleh (Digunakan) dari Aktivitas Operasi (1) Rp ….…… ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Perolehan Aset Tetap Rp ….…….
Arus Kas Bersih Diperoleh (Digunakan) dari Aktivitas Investasi (2) Rp ….…… ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Kas dari diterima dari refund Rp ….…….
Arus Kas Bersih Diperoleh (Digunakan) dr Aktivitas Pendanaan (3) Rp ….…… Kenaikan (Penurunan) Kas dan Setara Kas (4) = (1+2+3)
Kas dan Setara kas Awal Tahun Rp ….…… Kas dan Setara Kas Akhir Tahun Rp ….……
D. kendala
Terdapat kendala dan kelemahan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini, yaitu: 1) Pengurus Kantor Layanan Lazizmu Caruban belum profesional, belum melaksanakan job
describtion dengan baik, dan dikelola belum
sungguh-sungguh; 2) Karyawan masih belajar mengimplementasikan petunjuk teknis dari pengurus mengingat baru terjadi pergantian karyawan bulan September 2016; 3) Belum dipahami dan diterapkannya akuntansi sesuai dengan PSAK Nomor 109 tentang Pelaporan Keuangan Zakat, Infaq/Sedekah.
keSIMpulAn DAn SARAn
A. kesimpulan
Dari pelaksanaan kegiatan Pengabdian Masyarakat ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Tanggapan mitra sangat bagus dalam setiap tahapan kegiatan, yaitu ditunjukkan dengan antusiasnya mitra pada saat identifikasi permasalahan dan koordinasi, penyuluhan administrasi (tahap 1), penyuluhan pelaporan keuangan (tahap 2), dan pendampingan administrasi dan pelaporan keuangan.
2. Telah dilaksanakan penyuluhan ad-ministrasi (tahap 1), penyuluhan pelaporan keuangan (tahap 2), dan pendampingan administrasi dan pelaporan keuangan pada karyawan dan pengurus Kantor Layanan Lazismu Caruban dengan baik. 3. Karyawan dan pengurus mampu
me-mahami dan mempraktekan tata kelola administrasi dengan baik dan pelaporan keuangan dengan cukup baik.
Pendampingan Administrasi dan Pelaporan Keuangan
b. Saran
Saran ini khususnya ditujukan kepada mitra karyawan dan pengurus Kantor Layanan Lazismu Caruban, yaitu:
1. Hendaknya mitra senantiasa terus belajar tata kelola administrasi dan pelaporan keuangan yang baik.
2. Hendaknya mitra senantiasa mening-katkan jumlah penerimaan dari muzakki baru untuk selanjutnya disalurkan kepada yang berhak.
3. Hendaknya mitra senantiasa tertib dan disiplin dalam tata kelola administrasi dan pelaporan keuangan.
uCApAn TeRIMA kASIh
Penulis mengucapkan terimakasih kepada segenap Pengurus KL. Lazismu Caruban dan Pengurus Cabang Muhammadiyah Caruban yang telah bersedia bekerjasama dalam program pengabdian masyarakat ini.
ReFeRenSI
Al-Qur’an surat At-Taubah 9: 103
Rizal Yaya. 2016. Materi: Akuntansi Lembaga Amil Zakat Berdasarkan PSAK Syariah Nomor 109 dan PSAK lain yang relevan, pada Rakornas Lazismu, 7-9 April 2016.
Hidayat, Paski. 2016. Materi workshop Peng-elolaan administrasi dan keuangan Lazismu berdasarkan Pedoman Pem-bentukan Lazismu.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2011. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 109 Pelaporan Keuangan Akuntansi Zakat, infaq/sedekah. Jakarta.
UU RI Nomor 23 tahun 2011 tentang Peng
-elolaan Zakat
Wulansari, Sinta Dwi. 2014. “Analisis Peranan Dana Zakat Produktif Terhadap Perkembangan Usaha Mikro Mustahik (Penerima Zakat)”. Universitas Diponegoro. Semarang. Jurnal Ekonomi Volume 3 No. 1
Daya Mas
Media Komunikasi dan Informasi Hasil Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Volume 1 Nomor 2 September 2016; ISSN : 2502-7034
IbM. peMbeRDAyAAn keloMpok DukungAn SebAyA (kDS ) oDhA
MelAluI peMbeRIAn AnekA keTRAMpIlAn
unTuk MenIngkATkAn penDApATAn DAn keMAnDIRIAn
Tatik Mulyati 1)& ninik Srijani 2)Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Merdeka Madiun [email protected]
Dosen Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial,IKIP PGRI Madiun [email protected]
Abstracr
People with HIV / AIDS or referred to as people with HIV is an epidemic that threatens the health and lives of the future generation that directly endanger social development, economy and security of the State. Preventive efforts should be regarded as a problem important that based KPA reports Madison County, up to the month Maret2015 HIV-AIDS in Madison County is very high, with the figure reaching 325 people consisting of 128 patients and 197 HIV + AIDS patients with the number of deaths 107 cases. From these data it is known that people living with HIV and their families will have a high burden both social burden and economic burden, then entrepreneurship training as an economic empowerment program for people living with HIV and their families will be part of the program dealing with HIV-AIDS nationally, for the purpose of training for entrepreneurship this is making ODTWIV independent social and economic development of the culture of entrepreneurship through empowerment, productivity in a sustainable diversification so that it can independently without depending on government assistance program or other related agencies and can contribute to other people living with HIV through the relevant agencies. the method of execution in the program are education and training of various skills, with the success of entrepreneurial training and an understanding of social issues is expected to create jobs for people living with HIV and people living with HIV can make changes, especially social welfare, education, and health .
Keywords: ODTW, empowerment, self-reliance penDAhuluAn
Penderita HIV-AIDS atau disebut sebagai Orang Dengan HIV-AIDS(ODHA) merupakan satu dari sekian banyak penderita penyakit menular yang membutuhkan perhatian karena HIV-AIDS adalah epedemi yang mengancam kesehatan dan kehidupan generasi penerus bangsa yang secara langsung membahayakan
perkembangan sosial, ekonomi, serta keamanan Negara karena HIV-AIDS adalah penyebab kematian tertinggi nomor dua di Indonesia,setelah demam berdarah oleh karena itu upaya penanggulangannya harus dianggap sebagai masalah yang penting dengan tingkat urgensi yang tinggi. Banyak kasus,yang ditemui mengenai penanganan
IbM. Pemberdayaan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS ) Odha ODHA, bahwa korban HIV dan AIDS yang
meninggal dengan jangka waktu yang relatif singkat, bukan karena penyakit HIV tersebut melainkan karena beban psikologis. Belakangan seringkali diberitakan jika jumlah penderita HIV semakin tinggi, hal ini dapat diamati dengan semakin meningkatnya jumlah pasien yang positif terkena dan terinvek si HIV. Sayangnya, penderita yang tertular adalah yang memiliki usia produktif , yakni 50 % usia 20-29 tahun.
Para ODHA yang berusia tersebut terjangkit akibat menggunakan Narkotika dan berhubungan intim secara bebas. Di kabupaten Madiun Orang Penderita HIV-AIDS yang lebih dikenal sebagai ODHA, selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun,demikian juga angka kematian juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.Berdasarkan laporan KPA Kabupaten Madiun,sejak kasus AIDS pertama kali ditemukan pada tahun 2002 sampai dengan bulan Maret 2015 jumlah kumulatif penderita HIV-AIDS di Kabupaten Madiun sangat tinggi,dengan angka mencapai 325 orang terdiri dari 128 penderita HIV + dan 197 penderita AIDS dengan jumlah kematian 107 kasus (KPA, 2015).
Berdasarkan data kelompok jenis kelamin penderita HIV-AIDS laki-laki sebanyak 131 orang (46,95%), penderita perempuan sebanyak 137 orang ( 49,10%). Berdasarkan kelompok usia penderita HIV-AIDS tertinggi berada pada usia 16-30 tahun sebanyak 90 orang ( 32,26% ),usia 0-15 tahun sebanyak 13 orang (4,7%), usia diatas 45 tahun sebanyak 39 orang (13,98%). Sedangkan data penderita HIV-AIDS berdasar profesi peringkat terbesar berada pada profesi swasta/wirausaha sebanyak 113 orang (41%), belum sekolah sebanyak 6 orang (2%),IRT ( ibu rumah tangga) sebanyak 58 orang (21%),TKI sebanyak 22 orang ( 8%),lain-lain 20 orang ( 7%) Sedangkan berdasar faktor resiko penularan tertinggi
HIV-AIDS adalah pelanggan WPS sebanyak 76 orang (27,24%),IRT ( Ibu Rumah Tangga)/ pasangan sebanyak 60 orang (21,51%), IDU/ Narkoba suntik sebanyak 12 orang (4,30%), WPSL sebanyak 48 orang (17,20 %), Waria sebanyak 9 orang (3,23%), Gay sebanyak 2 orang (0,72%), perinatal sebanyak 13 orang (4,66%) (KPA, 2014). Dari total kasus HIV-AIDS yang semula didominasi laki-laki , saat ini telah berubah jumlah perempuan yang menderita HIV-AIDS meningkat. Fenomena feminisasi endemic HIV menempatkan ibu rumah tangga sebagai kelompok pengidap AIDS terbesar ( ibu rumah tangga peringkat kedua idap HIV-AIDS), kondisi ini akan meningkatkan jumlah bayi yang tertular HIV.
Dari data di atas dapat diketahui bahwa ODHA dan keluarga ODHA akan menghadapi beban ganda , baik sosial maupun ekonomi, meskipun mereka masih mendapat obat ARV gratis dari bantuan pemerintah , namun masih banyak pengeluaran yang dibutuhkan oleh ODHA dan keluarganya. Adanya beban pada ODHA yang tinggi baik beban sosial yaitu diskriminasi dan stigma dan beban ekonomi yaitu pengeluaran biaya kesehatan untuk ODHA, maka pelatihan ketrampilan berwirausaha sangat relevan untuk di apli-kasikan pada ODHA dan keluarganya untuk membuka lapangan pekerjaan bagi ODHA . Program ini sejalan dengan program pemberdayaan Nasional yang didukung oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono yang juga menjadi Duta AIDS Indonesia menyatakan bahwa program pemberdayaan ekonomi bagi orang yang terpapar HIV-AIDS dan keluarganya akan menjadi bagian dari program penanganan HIV-AIDS secara Nasional (Buku Saku Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Kotamadya Jakarta Utara. 2007). Untuk itulah melalui KDS ODHA ( Kelompok Dukungan Sebaya Orang dengan HIV-AIDS) para penderita HIV-AIDS diberi pelatihan ketrampilan enterpreneurship (kewirausahaan). Tujuan
Tatik Mulyati & Ninik Srijani
116
Daya Mas
, Volume 1 Nomor 2 September 2016 pelatihan ini adalah membuat ODHA mandirisecara sosial dan ekonomi dengan kultur enterpreneurship (kewirausahaan) melalui pemberdayaan, produktivitas usaha yang berkelanjutan sehingga dapat mandiri tanpa bergantung pada bantuan program dari pemerintah atau instansi terkait dan dapat memberikan kontribusi pada ODHA yang lain melalui instansi terkait.
MeToDe pelAkSAnAAn
Kegiatan yang direncanakan akan di-laksanakan dengan menggunakan metode-metode yang mencakup :