Lembar Halaman Ini Pada Aslinya Memang Tidak Ada
6 INTERAKSI EKSPLOITATIF ANTAR STAKEHOLDER KEGIATAN PENANGKAPAN IKAN
6.3 HASIL PENELITIAN
7.4.3 Pendapat pemanfaat perikanan
Bom ikan sudah dikenal nelayan turun temurun semenjak jaman kolonial Belanda dulu. Bentuk dan bahan bom ikan mengalami perubahan terus menerus. Bom yang sekarang diperoleh dari belajar pada nelayan Taiwan yang ditangkap oleh polisi dan beristirahat di pulau Barrang Lompo. Pada saat di pulau itulah mereka mengajarkan kepada penduduk setempat bagaimana cara membuat bom ikan ala mereka. Jenis bom ini terbukti lebih ampuh dari segi ledakan, hasil, dan sumbunya tidak mudah mati ketika sudah masuk dalam air. Menurut mereka hasil tangkapan ikan cukup saja, tergantung nasib dan kepandaian Punggawa Laut mencari ikan. Pekerjaan nelayan bom ikan ini diakui mereka sebagai ilegal.
Mereka mengakui memperoleh bahan pembuat bom melalui perdagangan ilegal yang sangat rahasia dan tertutup sifatnya. Para nelayan enggan menceritakan karena kuatir akan berakibat tertutupnya usaha mereka. ”Kita melindungi Punggawa, karena dari merekalah kita hidup, ” ujar seorang nelayan Pa’es.
”Pendapat pemerintah itu beda dengan pendapat nelayan. Kalau pemerintah selalu bilang bom menghancurkan karang. Kita juga perhatikan nasib anak cucu kita nanti. Padahal tidak, kalau bom harus selalu meledak di atas ikan, kalau di bawah ikan, ikan tidak mati. Bom biasa diledakkan dekat-dekat dengan
permukaan. Kalau bom sampai jatuh di karang, itu kesalahan, biasa si sawi dimarahi, karena harga bom mahal dan memang karang hancur. Nelayan biasa cari sasaran di dekat pasir. Kalau ikan jatuh di pasir mudah diambil hanya 1 jam saja, kalau di karang tangan bengkak-bengkak tergores-gores lama 5 jam baru selesai ,” tutur seorang Punggawa Pa’es.
Beberapa nelayan yang ditemui mengatakan kalau orang menggunakan bom ikan jauh dari pulau, tetapi lokasi pencarian ikan memang dekat dengan karang (taka) yang dalamnya hanya sekitar 5 - 25 meter. Mereka menangkap ikan bukan di area terumbu karang, karena akan sulit dan tubuh bisa terluka bila mengambil ikan yang jatuh di karang akibat ledakan bom ikan. Orang biasa meledakkan bom ikan di permukaan air tepat di atas area pinggir-pinggir terumbu karang yang berupa hamparan pasir dan batu-batu. Bom meledak jangkauan getarannya antara 5 - 6 meter (4 depa ke kanan-kiri, atas-bawah). Kalau nelayan yang melempar bom salah ambil sumbu, misalnya sumbu bom terlalu panjang, maka bom akan jatuh ke dasar laut, dan tidak menimbulkan getaran yang mematikan ikan. Biasanya si nelayan akan dimarahi oleh punggawa, karena berarti membuang-buang bom ikan saja tanpa hasil, padahal harga bom ikan sangat mahal bagi nelayan.
Kalau bom ikan jatuh tepat di atas karang barulah akan meledakkan karang dengan kerusakan hanya sekitar ½ - 1 meter. Kalau hanya 2 depa di atas karang tidak akan menghancurkan karang. Misalnya kalau ada orang menyelam ke dalam laut, kita lempar bom, asal tidak mengenainya langsung tidak apa-apa, apalagi kalau kepala orang tersebut ada di atas air.
Bagi nelayan sesungguhnya menyetop pemboman dalam sehari saja bisa, ”asal mau stop barang-barang itu seperti detonator (lopis) dan pupuk”, kata seorang nelayan Pa’es. Pemerintah ternyata membuka terus gudang pupuk dan kepolisian membiarkan terus lopis keluar. Nelayan melihat bahwa pemerintah dan aparat keamanan bersikap ambivalent (mendua), di satu sisi mereka tidak menyetujui penggunaan bom ikan, tapi mereka pulalah yang mengejar keuntungan melalui adanya praktek kenelayanan destruktif ini, dengan memungut ’uang polisi’ dan dana untuk pembangunan (rent seeker).
Persepsi nelayan kalau orang mengebom, akan datang ikan-ikan untuk makan ikan-ikan kecil yang mati, yang berarti akan makin banyak ikan di tempat tersebut, sehingga orang lain dari pulau terdekat berkata : ”ambil-ambil saja” , sebaliknya praktek penggunaan potasa akan menyebabkan karang dan tanaman serta makanan ikan mati bahkan juga anak-anak ikan, warna karang jadi putih (bleaching), sehingga seringkali orang yang melakukan potasa akan dikejar-kejar orang dengan menggunakan parang. Contohnya pada saat riset ini berlangsung, beberapa nelayan Pulau Barrang Lompo marah dan mencari-cari pelakunya dengan membawa senjata (parang, badik) karena perairan di sekitar Barang Caddi dan Bonetambung dipenuhi dengan potasa. Potassium sianida bagi mereka jahat sekali.
Pernah ada LSM, perwakilan walikota dan polairud tahun 2002-an menyuruh berhenti sama sekali pemakaian bom, maka dijawab oleh para nelayan bahwa mereka senang kalau bisa berhenti mengebom. ”... tapi bagaimana makan kami, biaya pendidikan anak kami. Bila kami diberi pekerjaan, tidak usah yang terlalu besar gajinya, asal cukup untuk makan saja, hari ini juga kami akan berhenti,” kata penduduk dalam menyampaikan harapannya.
7.5 Pembahasan
Perbedaan pendapat di antara ketiga stakeholder terhadap fenomena
penggunaan bom ikan akan sangat mempengaruhi kinerja mereka (profesionalitas). Bila kinerja ketiga stakeholder tersebut tidak sesuai dengan standar kerja yang diharapkan dari mereka atau malah menyimpang dari ketentuan standar kerja, maka dampak yang langsung akan terasa. Sikap itu bisa digambarkan secara simbolis sebagaimana yang tertera pada Gambar 15.
Gambar 15 Implikasi perbedaan pendapat
7. 5. 1 Pengaruhnya terhadap para pengelola perikanan
Pengelolaan perikanan bertujuan agar nelayan dapat memperoleh hasil tangkapan secara berkesinambungan dan kondisi sumberdaya laut lestari. Obyek yang dikelola adalah manusianya atau masyarakat yang menjadi pengguna sumberdaya laut (Nikijuluw, 2002). Perbedaan pendapat bisa terjadi bila terdapat pemahaman yang berbeda terhadap perilaku yang berdampak pada sumberdaya laut. Faktor pengetahuan yang kurang terhadap laut dan kegiatan di atasnya akan menimbulkan perbedaan pendapat.
Pihak penegak hukum dan pengelola perikanan yang kurang pengetahuan tentang kegiatan laut akan dengan mudahnya melakukan stigmatisasi bahwa nelayan pengguna bom ikan perusak lingkungan dan serakah (greedy). Interaksi yang muncul terhadap nelayan adalah negatif, artinya tidak bersahabat dan penuh stereotip yang menganggap nelayan serba jelek, seperti bodoh, membangkang, serakah, mau mudahnya mencari nafkah, merusak lingkungan, tidak peduli nasib anak cucu di kemudian hari, dan lain-lain.
Respon dari nelayan tentunya juga akan cenderung menganggap pihak- pihak lain serba jelek juga, seperti pemerintah tidak memperhatikan nasib nelayan,
Penegak Hukum
Pemanfaat Perikanan Pengelola Perikanan
penegak hukum hanya mencari uang suap alias korupsi, pemerintah dan penegak hukum hanya memperkaya diri dengan memeras nelayan, dan lain-lain.
Suasana yang kontradiktif ini tidak akan memungkinkan pengelolaan perikanan berjalan dengan baik. Peraturan-peraturan yang datang dari atas tidak akan diperhatikan dan tindakan-tindakan hukum yang tegas akan dijawab dengan sikap ’kucing-kucingan’, di depan penegak hukum bersikap patuh, begitu penegak hukum tidak ada mereka akan melanggar atau menggunakan teknologi destruktif untuk menangkap ikan. Sikap semacam ini akan mendorong perusakan lingkungan secara besar-besaran sebagaimana yang terjadi selama ini.