BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.3 Pendapatan Asli Daerah (PAD)
22 tahun ditetapkan sesuai dengan peraturan daerah serta yang tertuang dalam perannya keuangan daerah akan bisa membuat lebih mampu untuk peningkatan kesiapan daerah terkait mendorong pertumbuhan otonomi daerah yang lebih otentik serta bertanggung jawab.
23 dengan terus menggali sumber terbesar PAD serta tentunya dalam lingkup peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Warsito dalam (Putra, 2018), pendapatan asli daerah didefinisikan bahwa pendapatan tersebut diperoleh serta pemungutannya dilaksanakan oleh pemerintah suatu daerah. Pajak daerah, retribusi daerah, keuntungan dari hasil Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan pendapatan daerah lainnya yang sah ialah sumber-sumber pendapatan bagi pendapatan asli daerah. Lalu pendapatan asli daerah juga didefinisikan sebagai dana untuk pelaksanaan otonomi daerah yang diperoleh dari hasil penerimaan pajak daerah, pembagian hasil pengelolaan kekayaan daerah tersendiri, dan pendapatan utama daerah lainnya yang sah ( Rahman, H., 2005).
Sumber pendapatan yang memanfaatkan dan mengoptimalkan seluruh potensi daerah yang digali dari suatu daerah juga mengikuti ketetapan peraturan daerah serta perundang-undangan yang telah diberlakukan secara umum mengartikan pendapatan asli daerah. Pada hakikatnya, pendapatan asli daerah adalah sebagai sumber utama pendapatan daerah yang juga menjadi salah satu sumber pendanaan pembangunan daerah dengan kebijakan fiskal daerah. Bagi keberlangsungannya pemerintahan dan pembangunan daerah sehingga menjadikan peningkatan hasil PAD tersebut untuk dapat digunakan saat menyelenggarakannya sesuai dengan yang dibutuhkan, dan juga agar ketergantungan memperoleh dana dari sumber lain terminimalisir. Oleh karena itu, terus berupaya agar mencapai peningkatan pendapatan asli daerah tentu harus melihat pandangan yang lebih luas bukan hanya dilihat dari pandangan daerah sendiri, juga melihat dari perspektif perekonomian indonesia.
Selanjutnya pendefinisian pendapatan asli daerah yang juga disebut PAD yakni penerimaan yang didapat dari sektor pendapatan daerah sangatlah penting, hal ini dikarenakan suatu daerah diharuskan bertanggung jawab atas kewajiban tugasnya untuk pemerintah dan pembangunan daerah dalam menjalankan dan membiayai kegiatannya tentu melalui pendapatan daerah tersebut. Berdasarkan pengertian diatas, dijelaskan apabila tingginya peranan PAD dalam struktur keuangan daerah, yang berarti bahwa saat akan melaksanakan kegiatan
24 pembangunan daerah mempunyai kemampuan keuangan yang dimiliki oleh daerah juga tinggi (Firdausy, C. M, 2017) Maka dari itu Yani, A (2013) menyatakan mengenai PAD ialah perlunya peningkatan penadapatan tersebut setiap tahunnya yang diperoleh daerah dari pemerintah daerah yang melakukan pungutan sesuai peraturan daerah. Hanya melalui meningkatnya pendapatan asli daerah agar tujuan dalam memperoleh pendanaannya yang akan digunakan untuk melaksanakan otonomi daerah serta mewujudkan asas desentralisasi suatu daerah dengan memberikan secara kebebasan.
Tujuan utama dari kebijakan desentralisasi ialah untuk mendukung kebijakan makro strategis nasional di satu sisi, dan desentralisasi akan melalui proses pendelegasian yang penting karena pemerintah mendesentralisasikan provinsi di sisi lain. Melainkan, tujuan dari otonomi daerah juga agar dapat melaksanakan pembangunan ekonomi daerah yang efektif bisa dipercepat oleh pelaku dan potensi ekonomi daerah dapat meningkat. Selanjutnya dengan melandasi prinsip desentralisasi dan otonomi daerah tujuan lainnya menyatakan melalui anggaran pendidikan yang tersedia dan memadai dalam otonomi daerah digunakan agar kualitas sumber daya manusia pada suatu daerah meningkat sejalan dan berkaitan dengan potensi dan kepentingan daerah serta pembangunan di seluruh daerah juga terjadi peningkatan yang lebih pesat (Carunia, 2017).
Dengan memperluasnya peran pendapatan asli daerah yang terus berkembang dan berjalan dalam urusan membiayai kegiatan rumah tangga pemerintah mengharuskan agar lebih mandiri. Dengan demikian pemerintah kabupaten diberikan tanggung jawab dalam menjalankan hak, wewenang dan kewajiban guna secara efektif mengembangkan potensi daerah dan mengelola mengelola pendapatan daerahnya, terutama pendapatan asli daerah (PAD) itu sendiri.
Pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 pasal 285, menyatakan sumber-sumber terkait pendapatan asli daerah. Berikut penjelasan terkait hal tersebut yakni :
25 1. Pajak Daerah
Sebagaimana penjelasan pajak daerah ialah pungutan yang wajib dipungut tanpa kompensasi langsung kepada orang pribadi ataupun badan yang dilakukan oleh pemerintah daerah diseimbangkan dalam rangka mendanai penyelenggaraan daerah. Hal terkait pengertian pajak daerah berdasarkan UU No. 34 Tahun 2000 dalam pasal 1 Ayat 6. Kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah terkait mengenakan pajak daerah. Terdapat jenis pajak daerah yang berbeda-beda dengan dibagi menjadi dua yakni pajak daerah provinsi dan pajak daerah kabupaten/kota.
Sesuai dengan isi dari undang-undang terkait pajak daerah diatas ialah penjelasan yang termasuk dalam kategori pajak daerah provinsi dan pajak daerah kabupaten/kota. Pajak kendaraan bermotor dan kendaraan berair, biaya pemindahan nama kendaraan bermotor dan kendaraan berair, pajak bahan bakar kendaraan bermotor, pajak pengambilan dan penggunaan air tanah dan air permukaan ialah yang termasuk dalam pajak daerah provinsi. Kemudian yang termasuk dalam pajak daerah kabupaten/kota diantaranya pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak galian kelas C, dan biaya parkir. Mendasari pertimbangan keputusan bahwa biasanya pemungutan pajak tersebut dilakukan hampir seluruh daerah dengan menggunakan cara terbaik untuk mengenakan pajak.
Pajak daerah adalah pajak yang bersifat wajib atas suatu daerah yang ditanggung oleh perseorangan ataupun kelompok hasil pemasukan pungutan itu dimanfaatkan dengan tujuan sebesar-besarnya atas kemajuan tingkat kesejahteraan rakyat, diketahui secara hukum berlaku untuk diterima tanpa imbalan secara langsung (Mardiasmo, 2018).
2. Retribusi Daerah
Sebagaimana terkait pajak daerah, dalam hal pengendalian pemerintah dan pembangunan daerah retribusi menjadi sumber pendanaan dalam rangka peningkatan serta menyeimbangkan kemakmuran rakyat. UU No. 28 Tahun 2009 pada pasal 1 ayat 64, terkait dimaksudkan retribusi daerah yang disebutjuga retribusi ialah pembayaran khusus mengenai jasa atau izin tertentu yang hanya dilakukan oleh pemerintah daerah demi kepentingan pribadi atau badan. Dengan
26 kata lain, berperan penting dalam pelaksanaan otonomi daerah dan realisasi pendapatan daerah. Dalam artian memberikan dampak pada pendapatan retribusi yang tinggi secara langsung pada pendapatan asli daerah juga ikut tinggi.
Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah menyatakan bahwa, terdapat tiga pembagian kelompok dalam retribusi yakni retribusi jasa umum, retribusi jasa usaha, dan retribusi perizinan tertentu. Retribusi jasa umum ialah kelompok retribusi yang diberikan atau disediakan oleh pemerintah daerah atas jasa dengan bertujuan kepentingan dan kemamfaatan umum serta bisa dinikmati oleh orang pribadi atau badan. Retribusi jasa usaha ialah kelompok retribusi yang disediakan oleh pemerintahan daerah atas jasa yang menganut prinsip komersial, dikarenakan pada dasarnya sektor swasta juga dapat menyediakan jasa usaha tersebut. Kemudian, retribusi perizinan tertentu yakni kelompok retribusi yang dinyatakan pemerintah daerah atas kegiatan yang digunakan untuk memberikan izin kepada orang pribadi ataupun badan dengan tujuan untuk memajukan, mengatur, mengendalikan dan mengawani pemanfaatan ruang, sumber daya alam, komoditas, prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu dalam rangka melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.
3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
Pada UU No. 34 Tahun 2004 tertulis bahwa yang termasuk dalam memperoleh sumber pendapatan utama daerah berikutnya bersumber dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Hasil pengelolaan kekayaan daerah nya berupa pendapatan dari kinerja perusahaan daerah serta pembagian hasil laba yang terdiri dari pembagian hasil laba atau keuntungan dari perusahan daerah yaitu PDAM (perusahaan daerah air minum), pembagian hasil laba yang berasal dari bank ataupun lembaga keuangan bukan bank, pembagian hasil laba perusahaan atas milik daerah lain lalu pembagian hasil laba dalam ikut serta modal atau investasi pada pihak ketiga. Berdasarkan hal in, agar keuntungan dari badan usaha milik daerah mampu menjadi sumber pendapatan bagi daerah diperlukannya pengelolaan BUMD yang berpegang teguh pada prinsip ekonomi umum. Sejalan dengan tujuan adanya BUMD yakni hadir ikut serta dalam pelaksanaan pembangunan terutama dalam pembangunan daerah dan pembangunan nasional
27 agar mencapai pemenuhan kebutuhan rakyat dengan mengutamakan industrialisasi dan regulasi serta ketenagakerjaan perusahaan, menuju masyarakat yang adil dan makmur.
4. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah
Pendapatan daerah yang berasal dari sumber lain yaitu seperti sumbangan oleh pihak ketiga sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada daerah ialah sebagai pendapatan lainnya yang sah. Pendapatan PAD lainnya yang SAD meliputi penghasilan dari menjualnya kekayaan daerah yang tidak dipisahkan, penghasilan jasa giro, penghasilan diperoleh pendapatan bunga, pendapatan dari hasil selisih antara kurs rupiah dan valuta asing serta meliputi penghasilan dari bayaran yang timbul dari penjualan ataupun pembelian berupa barang dan/atau jasa daerah, diskon atau lainnya.
Pada buku Tata Kelola Ekonomi Keuangan Daerah, Feni Rosalia dalam Putra (2018) menyatakan terdapat beberapa kategori yang bisa disebut sebagai sumber-sumber pendapatan asli daerah yang sah diantaranya :
a. Penerimaan pajak yang sesuai dari otoritas pajak pemerintah daerah atau non-pusat yang berkembang penuh dengan daerah yang berpotensi;
b. Penerimaan jasa daerah seperti royalti, pungutan izin tertentu serta lainnya;
c. Penghasilan daerah diperoleh dari laba perusahaan daerah yakni perusahaan yang sebagian atau segala modalnya berasal dari kekayaan daerah;
d. Penerimaan daerah yang merupakan perbandingan antara penerimaan dan pengeluaran fiskal pusat dan daerah dengan ini diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai bagian dari penerimaan pusat;
e. Penerimaan daerah yang disubsidi atau digunakan langsung oleh pemerintah daerah;
f. Bersama-sama dengan pemerintah pusat untuk memberikan bantuan khusus untuk keadaan tertentu. Di Indonesia disebut insentif;
g. Pendapatan daerah diperoleh dari pinjaman pemerintah daerah.
28