• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2. Gambaran Umum Responden Penelitian

4.2.4. Pendapatan

48 Karakteristik responden yang telah diperoleh berdasarkan pendapatan bulanan yang disajikan dalam tabel, sebagai berikut:

Tabel 4.4 Pendapatan

No Pendapatan Frekuensi Persentasi

1 < Rp 500.000 1 2 %

2 Rp 500.000 - 1.000.000 32 64 %

3 Rp 1.000.000 - 5.000.000 3 6 %

4 Rp 5.000.000 - 10.000.000 3 6 %

5 >Rp 10.000.000 11 22 %

Total 50 100 %

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa pendapatan konsumen kurang dari Rp 500.000 sebesar 2 %, Rp 500.000 - 1.000.000 sebesar 32 %, Rp 1.000.000 - 5.000.000 sebesar 6 %, Rp 5.000.000 - 10.000.000 sebesar 6 %, dan pedapatan lebih dari Rp 10.000.000 sebesar 22 %. Melihat hasil tersebut dapat digambarkan bahwa responden yang paling banyak mengunjungi Starbucks Coffee memiliki pendapatan sebesar Rp 500.000 - 1.000.000 dengan persentase sebanyak 64 %. Dapat disimpulkan bahwa konsumen yang mengunjungi atau membeli produk Starbucks Coffee bukan hanya dari kalangan elit saja, melainkan juga kalangan biasa seperti pegawai swasta/mahasiswa/pelajar.

4.2.5. Waktu Yang Dubutuhkan Untuk Pergi ke Starbucks Coffee

49 Karakteristik responden yang telah diperoleh menurut Waktu yang dibutuhkan untuk pergi ke Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta yang disajikan pada tabel, sebagai berikut:

Tabel 4.5 Waktu Yang Dibutuhkan Untuk Pergi ke Starbucks Coffee

No Waktu Frekuensi Persentase

1 < 10 Menit 10 20 %

2 10 - 15 Menit 15 30 %

3 15 - 30 Menit 25 50 %

4 30 - 60 Menit 0 0

5 > 1 jam 0 0

Total 50 100 %

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa responden membutuhkan waktu untuk pergi ke Starbucks Coffee, < 10 menit sebesar 20 %, 10 - 15 menit sebesar 30 %, 15 - 30 menit sebesar 50 %, 30 - 60 menit sebesar 0, dan > 1 jam sebesar 0. Jika melihat hal tersebut dapat digambarkan bahwa waktu yang dibutuhkan konsumen untuk pergi ke Starbucks Coffee paling besar adalah 15 - 30 menit, dengan persentase sebesar 50 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konsumen yang berkunjung ke Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta adalah konsumen yang memiliki tempat tinggal tidak terlalu jauh dari lokasi Starbucks Coffee berada.

4.2.6. Intensitas Berkunjung

50 Karakteristik responden yang telah diperoleh menurut intensitas berkunjung dalam satu bulan yang disajikan pada tabel, sebagai berikut:

Tabel 4.6 Intensitas Berkunjung

No Intensitas Berkunjung Dalam Satu Bulan

Frekuensi Persentase

1 1 - 4 Kali 18 36 %

2 5 - 8 Kali 22 44 %

3 > 8 Kali 10 20 %

Total 50 100 %

Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa intensitas berkunjung responden dalam satu bulan ke Starbucks Coffee, 1- 4 kali sebesar 36 %, 5 - 8 kali sebesar 44 %, dan lebih dari 8 kali sebesar 20 %. Intensitas berkunjung paling besar adalah 5 - 8 kali dalam satu bulan dengan persentase sebesar 44 %. Maka dari itu dapat digambarkan bahwa responden pada penelitian ini memiliki intensitas berkunjung yang cukup sering dalam satu bulannya.

Kunjungan tersebut dapat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti brand image, label halal, pelayanan, cita rasa kekhasan dan masih banyak lagi.

4.2.7. Biaya Yang Dikeluarkan Oleh Responden Pada Saat di Starbucks Coffee.

Karakteristik responden yang telah diperoleh berdasarkan biaya yang dikeluarkan pada saat berkunjung ke Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta yang disajikan pada tabel, sebagai berikut:

51 Tabel 4.7 Biaya Yang Dikeluarkan Oleh Responden Pada Saat di Starbucks Coffee

No Pengeluaran Frekuensi Persentase

1 < Rp 100.000 16 32 %

2 Rp 100.000 - 200.000 22 44 %

3 Rp 200.000 - 300.000 12 24 %

4 Rp 300.000 - 500.000 0 0

5 > Rp 500.000 0 0

Total 50 100 %

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa pengeluaran responden/konsumen selama berkunjung ke Starbucks Coffee adalah kurang dari Rp 100.000 sebesar 32 %, Rp 100.000 - 200.000 sebesar 44 %, Rp 200.000 - 300.000 sebesar 24 %, Rp 300.000 - 500.000 sebesar 0, dan lebih dari Rp 500.000 sebesar 0. Jika digambarkan bahwa responden atau konsumen yang berkunjung ke Starbucks Coffee lebih sering menghabiskan biaya sekitar Rp 100.000 - 200.000 dengan persentase sebesar 44 %. Melihat hal tersebut maka kita dapat menyimpulkan bahwa biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen ketika pergi ke Starbucks Coffee cukup besar.

4.2.8. Lama Berkunjung

Karakteristik responden yang telah diperoleh menurut lama berkunjung yang akan disajikan dalam tabel, sebagai berikut:

52 Tabel 4.8 Lama Berkunjung

No Lama Berkunjung Frekuensi Persentase

1 Kurang dari 15 Menit 10 20 %

2 Kurang dari 1 Jam 0 0

3 1 - 2 Jam 25 50 %

4 2 - 3 Jam 11 22 %

5 > 3 Jam 4 8 %

Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa lama berkunjung responden atau konsumen di Starbucks Coffee adalah kurang dari 15 menit sebesar 20 %, kurang dari 1 jam sebesar 0, 1 - 2 jam sebesar 50 %, 2 - 3 jam sebesar 22 %, dan lebih dari 3 jam sebesar 8 %.

Maka dengan hasil tersebut dapat digambarkan lama berkunjung responden atau konsumen yang paling besar adalah 1 - 2 jam dengan persentase sebesar 50 %.

Dengan besarnya persentase tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwa responden atau kosumen tidak hanya berkunjung dan langsung pergi ketika membeli produk Starbucks Coffee, melainkan konsumen memilih untuk tinggal cukup lama 1 -2 jam untuk melakukan kegiatan ditempat tersebut dan tidak menutup kemungkinan konsumen tersebut menikmati suasana dan fasilitas yang disediakan oleh Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta.

4.2.9. Tahap Pengenalan Responden Terhadap Starbucks Coffee

53 Karakteristik responden yang telah diperoleh menurut tahap pengenalan terhadap produk Starbucks Coffee yang disajikan dalam tabel, sebagai berikut:

Tabel 4.9 Tahap Pengenalan Responden Terhadap Starbucks Coffee

No Tahap Frekuensi Persentase

1 SMP 0 0

2 SMA 12 24 %

3 Kuliah 28 56 %

4 Memiliki Pekerjaan Tidak Tetap 6 12 %

5 Memiliki Pekerjaan Tetap 4 8 %

Total 50 100 %

Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa tahap pengenalan responden terhadap Starbucks Coffee dimulai pada saat, SMP sebesar 0, SMA sebesar 24 %, Kuliah sebesar 56

%, memiliki pekerjaan tidak tetap sebesar 8 %, dan memiliki pekerjaan tetap sebesar 8 %.

Melihat hasil tersebut dapat digambarkan bahwa para responden mengenal Starbucks Coffee paling banyak dimulai sejak berkuliah dengan persentase sebesar 56 %.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebanyakan konsumen yang mengunjung Starbucks Coffee mengenal Coffee Shop ini semenjak mereka duduk di bangku SMA. Hal tersebut juga cukup dibuktikan ketika peneliti melakukan observasi langsung di Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta dan melihat ada beberapa pelajar SMA yang berada disana untuk membeli produk yang ditawarkan oleh Starbucks Coffee.

4.2.10. Produk Yang Dibeli

54 Karakteristik responden yang telah diperoleh menurut produk yang dibeli dan akan disajikan dalam tabel, sebagai berikut:

Tabel 4.10 Produk Yang di Beli

No Produk Frekuensi Persentase

1 Minuman 29 58 %

2 Makanan 21 42 %

Total 50 100 %

Berdasarkan hasil tabel tersebut dapat dilihat bahwa produk yang dibeli oleh responden adalah minuman sebesar 58 % dan makanan sebesar 42 %. Hasil tersebut menggambarkan bahwa produk minumanlah yang paling sering dibeli oleh responden atau konsumen dengan bobot persentase sebesar 58 %.

4.3. Hasil Penelitian

Pada penelitian ini data yang digunakan oleh penulis adalah data primer. Untuk mendapatkan data tersebut penulis menggunakan cara menyebarkan lembar kuesioner secara langsung kepada responden. Untuk memastikan data yang diperoleh kredibel, responden yang mengisi kuesioner diberikan kriteria “Pernah Membeli dan Berkunjung ke Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta”. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 50 responden.

Adapun hasil penelitian yang didapatkan, sebagai berikut:

4.3.1. Hasil Uji Instrumen Penelitian

4.3.1.1 Hasil Uji Validitas

55 Menurut Anwar (2000) uji Validitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur yang digunakan dalam melakukan fungsinya. Uji Validitas adalah ukuran yang akan menunjukan ukuran tingkat kevalidan data atau instrumen yang digunakan. Tujuan dalam melakukan uji ini adalah untuk memperjelas ukuran tingkat kevalidan data atau instrumen yang digunakan, agar dapat membuktikan secara akurat mengenai kevalidan data dan instrumen yang digunakan. Peneliti menggunakan teknik pengujian Korelasi Bivariate Pearson. Teknik pengujian ini dilakukan dengan cara mengkorelasikan masing – masing skor item pertanyaan dengan skor total. Jika nilai rhitung  rtabel menggunakan uji 2 sisi dengan sig. 0,05.

Tabel 4.11 Uji Validitas Variabel Brand Image

Item rhitung rtabel Keterangan

Butir 1 0,778 0,279 Valid

Butir 2 0,635 0,279 Valid

Butir 3 0,683 0,279 Valid

Butir 4 0,546 0,279 Valid

Butir 5 0,567 0,279 Valid

Butir 6 0,628 0,279 Valid

Butir 7 0,683 0,279 Valid

Butir 8 0,567 0,279 Valid

Butir 9 0,704 0,279 Valid

56

Butir 10 0,431 0,279 Valid

Butir 11 0,621 0,279 Valid

Butir 12 0,595 0,279 Valid

Butir 13 0,732 0,279 Valid

Butir 14 0,817 0,279 Valid

Tabel 4.12 Uji Validitas Variabel Institusi Sertifikasi Halal

Item rhitung rtabel Keterangan

Butir 1 0,787 0,279 Valid

Butir 2 0,741 0,279 Valid

Butir 3 0,842 0,279 Valid

Butir 4 0,912 0,279 Valid

Butir 5 0,843 0,279 Valid

Butir 6 0,881 0,279 Valid

Tabel 4.13 Uji Validitas Variabel Keputusan Pembelian

Item rhitung rtabel Keterangan

Butir 1 0,731 0,279 Valid

57

Butir 2 0,744 0,279 Valid

Butir 3 0,630 0,279 Valid

Butir 4 0,815 0,279 Valid

Butir 5 0,620 0,279 Valid

Butir 6 0,716 0,279 Valid

Butir 7 0,751 0,279 Valid

Butir 8 0,661 0,279 Valid

Butir 9 0,655 0,279 Valid

Butir 10 0,687 0,279 Valid

Butir 11 0,785 0,279 Valid

Butir 12 0,668 0,279 Valid

Butir 13 0,656 0,279 Valid

Butir 14 0,611 0,279 Valid

4.3.1.2 Hasil Uji Reliabilitas

Menurut Sugiono (2005) uji Reliabilitas merupakan tahapan dalam pengukuran yang memiliki konsistensi, apabila pengukuran dilakukan secara berulang dengan alat ukur tersebut. Pada penelitian ini uji reliabilitas dilakukan dengan teknik pronch Alpha, uji ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui instrumen yang dilakukan dalam sebuah penelitian berkualitas dan dapat

58 dipertanggung jawabkan. Syarat instrumen penelitian Reliabel adalah nilai Cronbach harus lebih besar dari pada nilai alpha ( >0,7).

Tabel 4.14 Uji Reliabilitas Variabel Brand Image (X1)

Tabel 4.15 Uji Reliabilitas Variabel Institusi Sertifikasi Halal (X2)

Tabel 4.16 Uji Reliabilitas Variabel Keputusan Pembelian (Y)

4.3.2. Hasil Uji Prasyarat Analisis 4.3.2.1.Uji Normalitas

Cara melakukan uji normalitas data dapat dilakukan dengan Non - parametrik statistik. Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan uji statisttik Kolmogorov - Smirnov. Uji statistik Kolmogorov - Smirnov dilakukan untuk menguji hipotesis komparatif dari dua sampel independen dalam bentuk data ordinal yang disusun dalan tabel distribusi frekuensi kumulatif dan menggunakan sistem interval kelas. Pada penelitian ini

BRAND IMAGE (X1) Nilai yang di

tetapkan Nilai Cronbach kesimpulan

0.7 0.88028177 RELIABEL

INSTITUSI SERTIFIKASI HALAL (X2) Nilai yang di

tetapkan Nilai Cronbach kesimpulan

0.7 0.902315379 RELIABEL

Pengambilan Keputusan (Y) Nilai yang di

tetapkan Nilai Cronbach kesimpulan

0.7 0.915882875 RELIABEL

59 menggunakan uji statistik Kolmogorov - Smirnov dengan tingkat kepercayaan 5 % atau 0,05 dengan tujuan mengetahui data yang telah didapatkan berdistribusi dan berfrekuensi normal atau tidak, dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Jika nilai Signifikansi (asym.sig) > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa nilai residual berdistribusi normal.

2. Jika nilai Signifikansi (asym.sig) < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa nilai residual tidak berdistribusi normal.

Maka dari itu outuput data yang telah diolah menggunakan IBM SPSS versi 22.0, sebagai berikut:

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardiz ed Residual

N 50

Normal Parametersa,b

Mean .0000000

Std.

Deviation

.30215121

Most Extreme

Differences

Absolute .085

Positive .085

Negative -.062

Kolmogorov-Smirnov Z .599

60

Asymp. Sig. (2-tailed) .866

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

Nilai sig sebesar 0,866 > 0,05 dengan demikian data terdistribusi normal

4.3.2.2.Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui adanya korelasi antara variable bebas dalam model regresi. Model regresi dapat dikatakan baik jika tidak memiliki multikolineritas. Untuk menguji ada atau tidaknya multikolineritas dalam model regresi pada penelitian ini, maka dapat dilakukan dengan menganalisis nilai variance infaltion factor (VIF). Menurut Ghozali (2016) variabel yang memiliki masalah dalam multikolineritas, jika tolerance ≤ dari 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10. Maka dari itu agar dapat melihat terjadi atau tidaknya multikolinearitas pada penelitian ini, dapat digunakan 2 cara sebagai berikut:

Cara melihat nilai tolerance dan VIF

Nilai tolerance:

1. Tidak terjadi multikolinearitas apabila nilai tolerance lebih besar dari 0,1.

2. Tidak terjadi multikolineritas apabila nilai tolerance lebih kecil atau sama dengan 0,1.

Nilai VIF:

1. Tidak terjadi multikolinearitas apabila nilai VIF lebih kecil dari 10,0.

2. Tidak terjadi multikolinearitas apabila nilai VIF lebih besar atau sama dengan 10,0

61 Coefficientsa

Model Unstandardized

Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig. Collinearity

Statistics

B Std.

Error

Beta Tolerance VIF

1

(Constant) .953 .366 2.604 .012

Sertifikasi Halal

.621 .111 .602 5.578 .000 .696 1.438

brand image .180 .071 .275 2.549 .014 .696 1.438

a. Dependent Variable: Keputusan Pembelian

Nilai Tolerance 0,696> 0,1 dan VIF 1,438< 10 dengan demikian tidak terdapat gangguan multikolinearitas pada penelitian ini.

4.3.2.3.Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas memiliki arti bhawa varian variabel memiliki gangguan yang tidak konstan. Menurut (Ghozali, 2016;134) uji heteroskedastisitas biasanya dilakukan untuk menguji apakah model regresi yang dugunakan memiliki ketidaksamaan varian, yang berasal dari residual satu pengamatan kepada pengamatan lainnya. Pada penelitian ini menggunakan teknik uji Glejser, dalam uji Glejser jika variabel independen signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen, maka terdapat indikasi heteroskedastisitas. Sebaliknya jika variabel

62 independen tidak signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen, dengan demikian tidak terdapat indikasi heteroskedastisitas. Hal tersebut akan diamati melalui probabilitas signifikansi dengan tingkat kepercayaan 5 % (Ghozali 2016 ; 138 )

Coefficientsa

Model Unstandardized

Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1

(Constant) .284 .240 1.184 .242

Sertifikasi Halal

-.022 .073 -.052 -.295 .769

brand image .006 .046 .022 .128 .899

a. Dependent Variable: ABS_RES

Nilai sig > 0,05 dengan demikian tidak terdapat gangguan heteroskedastisitas pada penelitian ini.

4.3.2.4.Uji Autokorelasi

Menurut (Ghozali 2016:107) Tujuan melakukan uji autokorelasi adalah untuk menguji apakah dalam model regresi liner yang digunakanm memiliki korelasi antara kesalahan pada periode t dengan periode t sebelumnya. Model regresi yang baik seharusnya tidak memilki

63 autokorelasi. Pada penelitian ini akan menggunakan autokorelasi dengan uji Durbin - Watson, dengan syarat adanya intercept (konstanta) pada model regresi dan tidak memilki varibel lag diantara variabel independen.

Dalam tabel di atas nilai Durbin-Watson sebesar 2,001. Untuk mengetahui ada atau tidak autokorelasi dalam penelitian ini, maka langkah selanjutnya yang dapat kita lakukan adalah mencari nilai dL dan dU dalam tabel Durbin-watson. K; N (K adalah nilai independen dan N adalah jumlah data). K = 2, N = 50, maka nilai Durbin Watson yang kita dapatkan adalah dL = 1,4625

dU = 1,6283

Syarat tidak ada autokorelasi adalah nilai DW lebih besar dari nilai DL dan kurang dari 4 - dU.

DW>dL= 2,00 > 1,4625 dan 4 - dU > DW = 2,3717 > 2,00

Maka dengan melihat nilai di atas kita dapat menyimpulkan tidak ada autokorelasi dalam penelitian ini.

4.3.2.5. Analisis Regresi Berganda

Analisis regresi linier berganda dilakukan untuk mengestimasi hubungan antara dua atau lebih variabel independen dan satu variabel dependen. Menurut Umi Narimawati (2006) analisis regresi linier berganda merupakan suatu analisis yang

64 digunakan secara bersamaan dalam meneliti pengaruh dua atau lebih bariabel independen terhadap satu variabel dependen dengan menggunakan skala interval.

Model Summary

Mode l

R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .787a .620 .604 .30851

a. Predictors: (Constant), brand image , Sertifikasi Halal

Koefisien determinasi sebesar 0,604, artinya variabel-variabel independent mampu memberikan pengaruh terhadap variabel dependen sebesar 60,4% dan sisanya dipengaruhi variabel lain diluar variabel X

ANOVAa

Model Sum of

Squares

df Mean

Square

F Sig.

1

Regression 7.293 2 3.646 38.310 .000b

Residual 4.473 47 .095

Total 11.766 49

a. Dependent Variable: Keputusan Pembelian

b. Predictors: (Constant), brand image , Sertifikasi Halal

65 Nilai sig sebesar 0,000 < 0,05 dengan demikian terdapat pengaruh secara simultan variabel-variabel independent terhadap variabel-variabel dependen

Coefficientsa

Model Unstandardized

Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1

(Constant) .953 .366 2.604 .012

Sertifikasi Halal

.621 .111 .602 5.578 .000

brand image .180 .071 .275 2.549 .014

a. Dependent Variable: Keputusan Pembelian

4.4. Hasil Uji Hipotesis

1. Koefisien regresi sebesar 0,180 dan nilai sig sebesar 0,014 < 0,05, dengan demikian brand image berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian, dan hipotesis H1 diterima.

2. Koefisien regresi sebesar 0,621 dan nilai sig sebesar 0,000 < 0,05, dengan demikian institusi sertifikasi halal berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian, dan hipotesis H2 diterima.

66 4.5. Hasil Pembahasan

Hasil penelitian yang didapatkan pada penelitian ini berjudul “Pengaruh Brand Image Dan Institusi Sertifikasi Halal Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Starbucks Coffee (Studi Kasus: Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta)’’ . Variabel Brand Image berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap variabel Keputusan Pembelian dengan nilai signifikasi sebesar 0,000<0,05. Variabel Institusi Sertifikasi Halal juga berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap variabel Keputusan Pembelian dengan nilai signifikasi sebesar 0,014<0,05. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel brand image dan institusi sertifikasi halal berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap variabel keputusan pembelian konsumen. Hasil tersebut juga sama dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Anita Haryanti (2020), persamaan tersebut terlihat dari variabel yang digunakan yaitu brand image dan label halal.

Hasil penelitian tersebut menunjukan sedikit perbedaan pada variabel label halal dengan nilai signifikansin sebesar 0,724>0,05 yang berarti bahwa label halal tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel keputusan pembelian. Pada sisi variabel brand image menunjukan satu hasil yang sama dengan nilai signifikasi 0,000<0,05 yang berarti bahwa variabel brand image berpengaruh secara signifikan terhadap variabel keputusan pembelian. Persamaan juga terlihat dalam penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati Rahman (2018) yang menghasilkan nilai signifikansi pada variabel citra merek sebesar 0,000<0,05 sehingga nilai tersebut berarti bahwa variabel citra merek berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap variabel keputusan pembelian. Untuk variabel labelisasi halal dengan nilai signifikansi sebesar 0,003<0,05 yang berarti bahwa variabel labelisasi halal berpengaruh secara signifikan terhadap variabel keputusan pembelian.

67 BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan pada penelitian mengenai “Pengaruh Brand Image dan Institusi Sertifikasi Halal Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Starbucks Coffee (Studi Kasus : Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta”

1.Variabel brand image berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.

2.Variabel Institusi Sertifikasi Halal berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.

5.2. Saran

1. Berdasarkan hasil analisis data, pembahasan, dan kesimpulan yang telah diperoleh, maka dapat diberikan beberapa saran sebagai berikut:

Saran untuk pelaku usaha :

Hasil analisis pada penelitian ini Variabel brand image berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Hal tersebut menggambarkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel brand image dengan keputusan pembelian, oleh karena itu dapat disarankan bahwa jika suatu usaha terutama usaha yang bergerak dibidang food and beverage harus memiliki citra produk/brand image yang baik di mata masyarakat. Citra produk yang baik akan mempengaruhi beberapa aspek yaitu keputusan pembelian dan kepercayaan konsumen terhadap produk tersebut. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan citra produk/brand image:

68 a. Pelaku usaha dapat membuat logo yang menarik, sehingga logo tersebut

mudah di ingat oleh konsumen.

b. Pelaku usaha dapat meningkatkan kualitas produk dan layanan.

c. Pelaku usaha dapat melakukan promosi yang lebih luas, misalkan menggunakan model promosi online.

d. Pelaku usaha dapat menciptakan produk yang memiliki ciri khas tertentu dan tidak terdapat di tempat lain, misalkan teknik pembuatan produk. Salah satu teknik tersebut dilakukan oleh Starbucks Coffee yang memiliki standardisasi espresso dengan waktu 18-23 detik untuk menghasilkan rasa kopi yang masih fresh.

Saran untuk Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta :

Hasil analisis yang telah dihasilkan dari penelitian ini menunjukan bahwa Variabel brand image berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen. Oleh karena itu Starbucks Coffee dapat meningkatkan kualitas produksi maupun penjualan produk dan juga dapat menerapkan makna – makna dan motto yang terkandung dalam lambang brand Starbucks Coffee, agar dapat menarik lebih banyak lagi konsumen dan membuat konsumen memutuskan untuk membeli produknya.

2. Hasil analisis data pada penelitian ini Variabel Institusi Sertifikasi Halal (Label Halal) berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Hal tersebut menggambarkan bahwa Label Halal memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap keputusan pembelian konsumen. Label Halal merupakan bagian penting yang harus dimiliki suatu pelaku usaha yang bergerak dibidang food and beverage.

Label Halal merupakan sertifikasi yang dikeluarkan oleh LPPOM MUI (lembaga

69 pengkajian pangan, obat – obatan dan kosmetika Majelis Ulama Indonesia). Tugas dari lembaga ini adalah mengkaji dan meneliti mengenai produk yang beredar di tengah – tengah masyarakat yang bertujuan untuk menjamin keamanan dan kenyaman bagi produk yang dikonsumsi. Dengan demikian suatu pelaku usaha yang bergerak dalam makanan dan minuman terutama Starbucks Coffee sudah seharusnya memiliki sertifikasi halal/label halal pada produk makanan dan minumannya, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan konsumen dan konsumen tersebut memutuskan untuk membeli produk yang dijual.

70 Daftar Pustaka

Al-Bara, & Nasution, R. (2018). Analisis Pengaruh Label Halal Pada Produk Makanan Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Masyarakat Kota Medan. Jurnal Agama Dan Pendidikan Islam.

Ananda, D., & Arlin, F. M. (2019). Pengaruh Label Halal Terhadap Keputusan Pembelian Dengan Religusitas Sebagai Variabel Intervening Di Mujigae Resto Bandung.

Dinamika Ekonomi Jurnal Ekonomi Dan Bisnis .

Anita, H., & dkk. (2020). Pengaruh Label Halal Dan Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian Produk Ikan Sarden ABC di Kecematan Kuala Jambi Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi.

Chairina, K. (2018). Pengaruh Labelisasi Halal dan Promosi Terhadap Keputusan Pembelian Produk Makanan Dalam Kemasan (Studi Kasus di Masyarakat Kecamatan Lowokwaru Kota Malang). Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB.

Darwin, H., & dkk. (2019). Pengaruh Labelisasi Halal Terhdap Keputusan Pembelian Produk Mi Instan Pada Mahasiswa Jurusan Ekonomi Syariah Institut Agama Islam Negeri Paangsidimpuan. Jurnal Ilmu Manajemen dan Bisnis Islam.

Fedianty, A., & Kristyan, D. (2018). Pengaruh Label Halal Dan Religiusitas Terhadap Minat Beli Dan Keputusan Pembelian (Studi Pada Wardah Beauty House Surabaya).

Hayet. (2019). Pengaruh Labelisasi Halal Terhadap Keputusan Pembelian Produk Kosmetik (Studi Kasus Di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia). Jurnal Ekonomi Islam.

Julia, L., & dkk. (2018). Pengaruh Label Halal Dan Harga Terhadap Keputusan Pembelian Produk Indomie ( Studi Kasus Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Malang).

Lim, S., & dkk. (2018). Pengaruh Persepsi Label Hala Dan Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian Produk Fesyen Muslim (Survei Pada Pelanggan Produk Zoya Muslim di Kota Malang).

Nawawi, M. (2018). Analisis Faktor - Faktor Yang Mempengruhi Keputusan Konsumen Dalam Pembelian Poduk Makanan Dan Minuman Halal Di Jakarta. Jurnal Muara Ilmu Ekonomi dan Bisnis.

Nurul, R. A. (2018). Pengaruh Atribut Produk, Brand Ambassador, Label Halal, Dan Loyalitas Merek Terhadap Keputusan Pembelian Produk Kosetik Wardah (Studi Pada Konsumen Wardah Di Kudus. Jurnal Studi Manajemen Bisnis.

Rahman, R. (2018). Pengaruh Labelisasi Halal Dan Citra Merek Terhadap Keputusan Pembelian Produk Ponds White Beauty Di Kecamatan Tamalate Kota Makasar.

Rizka, S. (2018). Produk Roti Dalam Pola Konsumsi Pangan dan Keberadaan Label Halal dalam Keputusan Konsumsi (Kasus: Kota Bogor).

71 Sufi, D. (2019). Pegaruh Religiusitas, Sertifikasi Halal, Bahan Produk Terhadap Minat Beli

Dan Keputusan Pembelian.

72 KUESIONER PENELITIAN

Dengan hormat,

Saya, Lehen Setyawan, adalah mahasiswa Jurusan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Saat ini saya sedang mengadakan penelitian dengan judul:

“Pengaruh Brand Image dan Institusi Sertifikasi Halal Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Starbucks Coffee: Studi Kasus Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta”.

Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai metode alat pengumpulan data primer. Oleh

Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai metode alat pengumpulan data primer. Oleh

Dokumen terkait