• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

A. PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH

1) Pendapatan Pajak Daerah

Terdapat 7 jenis Pajak Daerah yang tidak mencapai target yaitu : Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Parkir, Pajak Reklame dan Pajak Penerangan Jalan (PPJ) antara lain disebabkan oleh :

Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) a) Adanya kebijakan terkait dengan penghapusan PBB-P2 dengan

Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) sampai dengan Rp 1.000.000.000,- (Peraturan Gubernur Nomor 259 Tahun 2015 tentang Pembebasan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan atas Rumah, Rumah Susun Sederhana Sewa dan Rumah Susun Sederhana Milik dengan Nilai Objek Pajak sampai dengan Rp. 1.000.000.000.000,-.

b) Penurunan ketetapan dan penyampaian SPPT PBB, yang disebabkan oleh :

- Pemecahan NOP/ pemecahan bangunan strata tittle (Apartemen/ Rusun).

- Adanya pengurangan, keringanan, penghapusan, pembebasan, keberatan pajak dan angsuran pajak Pembetulan SPPT.

- Pembatalan SPPT (telah menjadi fasos/ fasum). - Menurunnya kemampuan ekonomis masyarakat.

- Masih adanya masyarakat yang belum mematuhi pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2).

- Masih terdapatnya basis data objek pajak PBB-P2 yang bermasalah dalam pemungutannya, disebabkan oleh :

- Penetapan ganda (double object).

- SPPT tidak dapat disampaikan karena objek dan subjek tidak dapat ditemukan.

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

a) Pemberlakuan Peraturan Gubernur atas pembebasan BPHTB terhadap transaksi dengan NJOP sampai dengan Rp. 2.000.000.000,-

b) Belum adanya perubahan Peraturan Daerah tentang pengenaan BPHTB terhadap PPJB.

c) Pertumbuhan makro ekonomi tidak sebagaimana yang diharapkan.

d) Harga properti meningkat sementara daya beli masyarakat menurun.

e) Adanya kecenderungan masyarakat untuk menunda pembelian property dan memprioritaskan pembelian kepada barang-barang primer.

Pajak Hotel

a) Pesatnya pertumbuhan hotel baru di daerah penyangga (Bogor, Bekasi, Tangerang).

b) Kurang optimalnya penerimaan Pajak Hotel dari jenis rumah kos dan guest house.

c) Pertumbuhan makro ekonomi tidak sebagaimana yang diharapkan.

d) Bertambahnya hotel baru tidak berbanding lurus dengan meningkatnya tingkat hunian.

e) Tidak stabilnya kondisi politik dan keamanan dalam negeri. f) Adanya pengurangan, keringanan, penghapusan, pembebasan,

keberatan pajak dan angsuran pajak. g) Masih adanya wajib pajak tidak patuh. Pajak Restoran

a) Turunnya daya beli masyarakat.

b) Pertumbuhan makro ekonomi tidak sebagaimana yang diharapkan.

c) Tidak stabilnya kondisi politik dan keamanan dalam negeri. d) Masih adanya wajib pajak tidak patuh.

e) Pengurangan, keringanan, penghapusan, pembebasan, keberatan dan angsuran pajak.

Pajak Parkir

a) Adanya perubahan dasar pengenaan pajak, dimana tarif parkir sudah termasuk pajak dan asuransi (sebelumnya excluded tax menjadi included tax).

b) Masih adanya wajib pajak tidak patuh.

c) Adanya pengurangan, keringanan, penghapusan, pembebasan, keberatan dan angsuran pajak.

d) Tidak stabilnya kondisi politik dan keamanan dalam negeri. Pajak Reklame

a) Belum adanya kebijakan Pemerintah Daerah untuk mendorong reklame jenis papan atau billboard beralih ke jenis LED (high

cost).

b) Penurunan belanja iklan disebabkan perlambatan ekonomi. c) Penurunan potensi karena adanya media luar ruang yang

terkena imbas proyek pengembangan sarana transportasi masal (MRT).

d) Pemberlakuan Pergub Nomor 244 Tahun 2015 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan Reklame.

e) Adanya penggolongan reklame produk dan non produk. Pajak Penerangan Jalan (PPJ)

a) PPJ merupakan jenis pajak yang secara langsung terkait dengan kebijakan Pemerintah Pusat, khususnya kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL).

b) WP PPJ hanya PT. PLN (Persero) Disjaya & Tangerang, sehingga relatif mudah dalam proses pemungutan PPJ, dengan tetap mempertimbangkan asas timbal balik dan berpedoman pada ketentuan yang berlaku.

c) Terdapat kenaikan TDL di Tahun 2016 ±15 persen seiring dengan diberlakukannya tariff adjustment setiap bulan sesuai dengan Permen ESDM 31 Tahun 2014 yang menyesuaikan TDL dengan perubahan nilai tukar rupiah, harga bahan bakar dan inflasi bulanan.

d) Sistematika yang berlaku “turun naiknya biaya perlu diimbangi oleh naik turunnya pendapatan PLN”.

Untuk mengatasi masalah tersebut diatas, telah dilakukan berbagai upaya antara lain :

Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) a) Penghapusan sanksi administrasi sebesar 50 persen untuk

tunggakan s.d tahun 2009 dan 25 persen untuk tunggakan tahun 2010-2012.

b) Pelaksanaan pelayanan malam hari dan sabtu minggu. c) Pembukaan gerai pembayaran PBB-P2 di mal.

d) Pemungutan PBB-P2 dengan cara jemput bola.

e) Inventarisasi tanah dan bangunan terhutang PBB-P2 yang tidak diketahui statusnya.

f) Melakukan pemasangan stiker atau plang penunggak pajak. g) Pendataan objek pajak baru.

h) Pengawasan objek PBB-P2 yang berubah bentuk/ ukuran.

i) Cleansing data.

j) Penilaian masal dan individual.

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

a) Percepatan proses validasi BPHTB dengan menerapkan one

day service.

b) Penelitian dan perhitungan serta verifikasi atas bukti pembayaran BPHTB.

c) Sosialisasi BPHTB kepada masyarakat dan PPAT. Pajak Hotel

a) Penyampaian surat himbauan setoran masa dan Surat himbauan pembetulan SPTPD.

c) Penyampaian surat himbauan jumlah minimal setoran masa berdasarkan analisa perhitungan potensi pajak.

d) Sosialisasi untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak.

e) Memberikan stimulus kepada WP dengan menghapuskan sanksi administrasi dan bunga keterlambatan bayar.

f) Pengawasan melalui online system (CMS BRI dan e-POS). g) Perbaikan pelayanan (menambah tempat pelayanan, jam

pelayanan, bank persepsi dan pelayanan melalui internet/

e-banking).

h) Intensifikasi pajak melalui pemeriksaan.

i) Pendataan wajib pajak melibatkan SKPD/ UKPD terkait, kecamatan dan kelurahan.

j) Penempelan stiker penunggak pajak. k) Penagihan pajak oleh PPNS.

l) Pertukaran informasi perpajakan dengan DJP. Pajak Restoran, Pajak Parkir

a) Penagihan pasif;

b) Penyampaian surat himbauan setoran masa minimal berdasarkan analisa perhitungan potensi.

c) Penyampaian surat himbauan setoran masa. d) Penyampaian surat himbauan pembetulan SPTPD. e) Sosialisasi untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak.

f) Memberikan stimulus kepada WP dengan menghapuskan sanksi administrasi dan bunga keterlambatan bayar.

g) Pengawasan melalui online system (CMS BRI dan e-POS). h) Perbaikan pelayanan (menambah tempat pelayanan, jam

pelayanan, bank persepsi dan pelayanan melalui mail dan e-banking.

i) Intensifikasi pajak melalui pemeriksaan.

j) Pendataan wajib pajak melibatkan SKPD terkait, kecamatan dan kelurahan.

k) Penempelan stiker penunggak pajak. l) Penagihan menggunakan PPNS.

m) Pertukaran informasi perpajakan dengan DJP. Pajak Reklame

a) Percepatan penerbitan SKPD berdasarkan penerbitan perizinan. b) Pembukaan gerai pajak di pusat perbelanjaan.

c) Penertiban reklame liar.

d) Pendataan wajib pajak reklame oleh UPPD.

e) Menghimbau WP agar bersedia membayar SKPD sebelum jatuh tempo.

f) Menerbitkan SKPD sebelum izin diterbitkan dengan meminta pernyataan tertulis dari wajib pajak bahwa reklame sedang dalam proses perizinan dan bersedia dibongkar jika izin ditolak. 2) Retribusi Daerah

Terdapat 4 jenis Retribusi Daerah yang tidak tercapai targetnya yaitu : Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor, Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran, Retribusi Pemakaian Tempat Pemakaman dan Retribusi Potong Hewan (RPH) antara lain disebabkan oleh :

a) Tidak tercapainya target penerimaan retribusi ini, utamanya disebabkan oleh penurunan volume pengujian terhadap kendaraan mobil barang, bus dan kendaraan khusus dan mobil berpenumpang umum. Penurunan tersebut terjadi karena banyak kendaraan yang dimutasi ke daerah sehingga kendaraan-kendaraan tersebut tidak melakukan pengujian. b) Hambatan tidak tercapainya target pendapatan dari Retribusi

Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran antara lain, retribusi yang menjadi kewajiban permohonan rekomendasi pengujian akhir proteksi kebakaran tidak terlalu signifikan jumlahnya. c) Hambatan pencapaian retribusi RPH diantaranya:

- Faktor lokasi rumah potong hewan yang rendah dan rawan banjir setiap awal tahun sehingga mengganggu kegiatan rumah potong hewan.

- Menurunnya penerimaan jumlah unggas dan ternak dari daerah.

- Menurunnya daya beli masyarakat.

Untuk mengatasi masalah tersebut diatas, telah dilakukan berbagai upaya antara lain :

a) Upaya yang dilakukan untuk pencapaian target realisasi penerimaan Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor :

- Peningkatan pelayanan kepada masyarakat melalui sistem

Drive Thru dalam pengujian kendaraan bermotor dengan

cepat dan mudah.

- Peningkatan koordinasi dengan Kepolisian.

- Peningkatan pengawasan dengan dilakukannya penertiban terhadap kendaraan umum.

- Melakukan penyuluhan kepada awak angkutan umum dan mengadakan penertiban di lapangan.

b) Upaya yang dilakukan untuk pencapaian target realisasi penerimaan Retribusi Pelayanan Pemakaman :

- Peningkatan pelayanan kepada masyarakat dengan menerapkan sistem pembayaran retribusi melalui bank. - Penyuluhan yang intensif kepada masyarakat bekerjasama

dengan yayasan yang bergerak di bidang pemakaman, dengan tujuan untuk menumbuhkembangkan tingkat kesadaran masyarakat terhadap kewajibannya seperti perpanjangan sewa tanah makam agar dapat dilakukan tepat pada waktunya.

c) Adapun strategi yang dapat dilakukan agar target retribusi rumah potong hewan tercapai adalah memperlancar distribusi pemasukan unggas dan ternak dari daerah ke Provinsi DKI Jakarta.