BAB III PERKEMBANGAN DAN ANALISIS
PELAKSANAAN APBN DI TINGKAT REGIONAL
3.1 APBN TINGKAT PROVINSI
Secara nasional, penerimaan Perpajakan masih menjadi sumber utama pendapatan negara yaitu dengan kontribusi sebesar 72,59 persen dari total pendapatan negara tahun 2019. Pada tahun anggaran 2019, pendapatan negara tingkat Provinsi Sulawesi Selatan ditargetkan sebesar Rp 13,94 triliun dan terealisasi sebesar Rp 12.70 triliun atau sebesar 91,11 persen. Bila dibandingkan dengan 2018 terjadi penurunan realisasi sebesar Rp0,48 triliun. Meskipun terjadi kenaikan realisasi namun secara secara persentase menurun dari 94,24 persen di 2018 menjadi 91,11 persen di 2019 karena terdapat kenaikan target pendapatan di 2019.
Sementara dari sisi Belanja Negara di Sulsel, pagu meningkat sebesar Rp1,35 triliun (2,53 persen) dari Rp53,46 triliun di 2018 menjadi Rp54,81 triliun di 2019. Peningkatan pagu diikuti dengan kinerja realisasi yang mencapai 94,92 persen, naik sebesar 0,05 persen dibanding taun 2018 yang mencapai 94,87 persen. Tidak maksimalnya realisasi karena terdapat beberapa proyek besar yang terkendala dengan pembebasan lahan diantaranya Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air-Pompengan Jeneberang yang tidak dapat merealisasikan anggaran sebesar Rp598,22 miliar. Selain alokasi yang tidak terserap, masih terdapat blokir dana dengan total Rp11,73 miliar. Dana blokir tersebut terdapat pada Kementerian Agama Rp0,78 miliar, Kementerian Ketenagakerjaan Rp6,40 miliar, Kementerian Perdagangan Rp0,28 miliar dan Kementerian Pertanian Rp0,52 miliar.
3.2 PENDAPATAN PEMERINTAH PUSAT TINGKAT REGIONAL
3.2.1. Penerimaan Perpajakan
Target penerimaan pajak di Sulawesi Selatan mengalami peningkatan dari tahun anggaran 2018 yang sebesar Rp11,53 triliun menjadi Rp12,38 triliun di 2019. Dari sisi realisasi, penerimaan pajak Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2019 yang sebesar Rp10,37 triliun terdiri dari pajak dalam negeri sebesar Rp 10,09 triliun dan pajak perdagangan internasional sebesar Rp 275,60 miliar.
Kontribusi pendapatan terbesar masih bersumber dari PPn sebesar Rp5,71 triliun dan PPh sebesar Rp4,14 triliun. Penyebab rendahnya penerimaan pajak tahun ini, pertama,
kebijakan percepatan restitusi yang diberikan pemerintah yang memang diprediksi sebelumnya akan menurunkan penerimaan negara. Kedua, perlambatan ekonomi dunia, akibat perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok, membuat aktivitas ekspor dan impor dalam negeri ikut turun. Terakhir, rendahnya penerimaan pajak, karena harga komoditas yang menjadi andalan Sulsel yang belum membaik.
a. Analisis Tax Ratio
Tax Ratio merupakan perbandingan antara jumlah penerimaan pajak dalam satu tahun dibandingkan dengan PDRB. Rasio itu digunakan untuk menilai tingkat kepatuhan pembayaran pajak oleh masyarakat dalam suatu daerah. Perkembangan tax ratio di Sulawesi Selatan terlihat pada grafik 3.1.
Dari grafik terlihat bahwa PDRB 2015 – 2019 selalu meningkat dan tertinggi di tahun 2019 dengan peningkatan sebesar 9,18 persen dari tahun 2018. Peningkatan PDRB diiringi dengan peningkatan penerimaan pajak yang sempat menurun ditahun 2017.
Seiring dengan grafik penerimaan pajak, tax ratio mengalami penurunan ditahun 2017 sebesar 0,9 basis point dibanding 2016. Namun perbaikan kinerja penerimaan pajak di 2019 tidak diiringi dengan perbaikan tax ratio yang menurun menjadi 2,05 persen. Idealnya kenaikan PDRB akan berimbas pada kenaikan penerimaan pajak yang akan meningkatkan tax ratio. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak terdapat peningkatan tingkat kepatuhan masyarakat dalam membayar pajak di Sulawesi Selatan tahun 2019 dibandingkan tahun sebelumnya. Selain hal tersebut, para pelaku usaha sebagai pembayar pajak, banyak yang berasal dari luar Sulawesi Selatan dan memiliki NPWP diluar Sulawesi Selatan. Menurut Organisation for Economic Co-operation and
Development (OECD) yang merilis Revenue Statistic in Asia and Pasific Economies 2019 menyampaikan bahwa rendahnya tax ratio Indonesia, menurut laporan itu, adalah
tingginya kontribusi pertanian, sektor informal yang relatif besar, penghindaran pajak, serta basis perpajakan yang rendah (Ekonomi,Bisnis.com).
b. Analisis Secara Umum
Pajak merupakan sumber utama penerimaan negara yang digunakan untuk membiayai pengeluaran negara. Untuk melaksanakan pembangunan dibutuhkan dana yang tidak sedikit, dan ditopang melalui peneriman pajak. Oleh karena itu, pajak sangat dominan dalam menopang pembangunan nasional.
Total realisasi penerimaan pajak di Sulawesi Selatan tahun 2019 sebesar Rp 10,37 triliun. Pajak Dalam Negeri memberikan kontribusi sebesar 97,37 persen atau senilai Rp 10,09 triliun. Sedangkan Pajak Perdagangan Internasional hanya memberikan kontribusi sebesar Rp 275,60 miliar atau 2,66 persen dari total penerimaan pajak di Sulawesi Selatan tahun 2019.
Pajak Dalam Negeri di 2019 masih di dominasi PPh Non Migas dan PPN. PPh Non Migas memiliki kontribusi terbesar yaitu 56,59 persen dengan total realisasi sebesar Rp 5,71 triliun, meningkat jika dibandingkan tahun 2018 yang sebesar Rp5,26 triliun. PPN yang memiliki kontribusi sebesar 41,03 persen dengan total realisasi Rp 4,14 triliun mengalami penurunan sebesar Rp0,46 triliun dibanding 2018. Penurunan PPN terjadi karena kebijakan percepatan pembayaran restitusi diawal 2019 serta sebagai indikasi terjadinya penurunan transaksi akibat daya beli masyarakat yang melemah.
Penerimaan cukai yang dikelola oleh Ditjen Bea Cukai turut mengalami kenaikan sebesar Rp0,82 miliar dibanding 2018 yang sebesar Rp25,79 miliar dan menjadi Rp26,61 miliar di 2019. Penerimaan yang berasal
Industri rokok di Sulsel bermain di skala industri rumahan. Meskipun demikian, penerimaan cukai dari industri tembakau di wilayah pengawasan Bea Cukai Sulsel mencapai angka Rp26,61 miliar di tahun 2019. Produksi tembakau Sulsel berada di Cabenge, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten
Soppeng, Sulawesi Selatan. Di tempat ini beberapa perusahaan rokok umumnya berupa produksi ico timpo (tembakau dalam tabung bambu). Dalam bahasa bugis, ico berarti tembakau.
Realisasi pajak luar negeri di 2019 mengalami kenaikan sebesar Rp57,54 miliar dibanding tahun 2018 yang sebesar Rp218,14 miliar. Total penerimaan didominasi
Pendapatan Bea Masuk dengan kontribusi sebesar 92,48 persen dengan nilai 254,87 miliar dari total realisasi sebesar Rp275,59 miliar.
Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan nilai ekspor di 2019. Terdapat lima komoditas utama yang selalu mengalami peningkatan per triwulan di 2019 yaitu nikel yang tercatat pada September 2019 menjadi komoditas dengan nilai ekspor terbesar dari Sulsel dengan nilai USD 82,20 juta atau 66,84 persen dari nilai ekspor. Setelah nikel disusul kelompok komoditas biji bijian berminyak dan tanaman obat sebesar USD 10,63 juta, besi dan baja sebesar USD 9,67 juta, Lak getah dan damar sebesar USD 7,50 juta, serta ikan, udang dan hewan air tidak bertulang belakang lainnya sebesar USD 3,53 juta.
3.2.2. Penerimaan Negara Bukan Pajak
Selain optimalisasi sektor pajak, salah satu langkah kebijakan fiskal di bidang pendapatan negara adalah optimalisasi PNBP. Secara nasional Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) menyumbang kontribusi sebesar 17,48 persen dari pendapatan negara secara
nasional. Realisasi PNBP di Sulawesi Selatan dengan nominal sebesar Rp2,33 triliun, menyumbang 18,35 persen untuk pendapatan negara di Provinsi Sulawesi Selatan yang tercatat sebesar Rp12,70 triliun.
PNBP di Sulawesi Selatan terbagi menjadi 3 jenis penerimaan, yaitu Penerimaan Sumber Daya Alam (SDA), Pendapatan BLU, serta PNBP Lainnya.
Realisasi PNBP Sulawesi Selatan di tahun 2019 sebesar Rp2,33 triliun, meningkat jika dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,93 triliun.
Kenaikan realisasi PNBP dalam 5 tahun terakhir terjadi pada tahun 2015 ke tahun 2016 dan kemudian menurun di 2017 sampai 2018. Penerimaan PNBP yang berasal dari pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) tidak tercatat pada PNBP Sulsel dikarenakan pendapatan dari retribusi pengelolaan SDA langsung disetorkan ke kantor pusat kementerian lembaga. Realisasi PNBP dari pendapatan layanan BLU dalam 5 tahun terakhir mengalami titik terendah pada 2018 yaitu sebesar Rp987,23 miliar dan pada tahun 2019 kembali meningkat menjadi Rp1,36 triliun.
Menurunnya pendapatan BLU disebabkan berkurangnya jumlah satker BLU yang semula 12 satker menjadi 11 satker karena satker Universitas Hasanuddin yang semula satker BLU menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) di tahun 2017. Namun diakhir tahun 2018, jumlah satker BLU kembali menjadi 12 satker dengan ditetapkannya RS Pelamonia sebagai satker BLU. Tahun 2019, jumlah satker BLU menjadi 13 satker dengan bertambah 1 satker yaitu Universitas Negeri Makassar.
Sementara untuk PNBP lainnya pada grafik diatas terlihat bahwa pada tahun 2019 penerimaan pendapatan administrasi dan penegakan hukum memiliki kontribusi sebesar 33,87 persen atau terbesar dalam PNBP
Lainnya di 2019. Pendapatan tersebut didominasi oleh pendapatan urusan kendaraan bermotor yaitu penerbitan STNK 22,93 persen, pendapatan BPKB 20,62 persen, Pendapatan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor 16,67 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan untuk kendaraan baik roda 2 dan 4 atau lebih masih sangat tinggi di Sulawesi Selatan.
Urutan berikutnya adalah pendapatan Pendidikan, budaya dan ristek sebesar 21,48 persen atau senilai Rp208,72 miliar. Realisasi tersebut berasal dari UIN, Sekolah Menengah Kejuruan, Sekolah Tinggi dan universitas Negeri Makassar.
3.2.3. Penerimaan Hibah
Selain perpajakan dan PNBP, pendapatan negara juga bersumber dari Penerimaan Hibah. Sampai dengan akhir tahun 2019, di Provinsi Sulawesi Selatan tidak terdapat penerimaan negara yang bersumber dari hibah