HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pendapatan Usahatani Padi Sawah
5.2 Pendapatan Usahatani Karet dan Kelapa Sawit
Sumber : Data Diolah Dari Lampiran 12, 15.
Dari tabel 6 diketahui rata-rata kontribusi yang diberikan oleh pendapatan dari Usahatani Padi Sawah terhadap pendapatan keluarga sebesar 5,45 %. Dan jika digolongkan menurut sumber on farm berkontribusi sebesar (6,29%). Daripersentase tersebut dapat dilihat bahwa usahatani padi sawah memberikan kontribusi yang paling sedikit terhadap pendapatan keluarga dibandingkan dengan pendapatan dari usahatani non padi sawah dan non usahatani.
5.2 Pendapatan Usahatani Karet dan Kelapa Sawit
Dari tabel 5 pendapatan dari usahatani perkebunan berasal dari usahatani karet, dan kelapa sawit sebesar Rp 22.494.463.Berdasarkan tabel 6 kontribusi yang diberikan oleh pendapatan
(%)
dari usahatani perkebunan karet dan kelapa sawitsebesar 81,21% . Dan jika dilihat dari sumber on farm kontribusi ushatani karet dan kelapa sawit sebesar (93,71%). Hal ini menjelaskan bahwa usahatani perkebunan karet dan kelapa sawit memberikan kontribusi yang paling besar daripada usahatani padi sawah dan non usahatani terhadap pendapatan keluarga.
PendapatanNon Usahatani PNS
Dari tabel 5 diketahui bahwa rata – rata pendapatan PNS satu tahun yaitu RP.2.075.000, dan dari tabel 8 dapat dilihat kontribusi terhadap keluarga sebesar 7,20 %. Dan jika dilihat dari sumber off farm pendapatan PNS berkontribusi sebesar (54%).Maka dapat di ketahui bahwa dari persentase tersebut dapat dilihat bahwa pendapatan PNS lebih besar di bandingkan dengan berdagang bila dilihat dari sumber pendapatan off farm.
5.3.2 Pendapatan Usaha Dagang
Berdasarkan tabel 5 pendapatan dari usaha dagang mempunyai rata-rata pendapatan sebesar Rp.1.767.105.Berdasarkan Tabel 8 sumbangan dari usaha dagang terhadap pendapatan keluarga adalah (6,13%).Dan kalau dilihat dari sumber off farm pendapatan usaha dagang sebesar (46%). Hal ini menjelaskan bahwa pendapatan petani yang bersumber dari usaha dagang memberikan kontribusi lebih kecil bila dibandingkan dengan PNS.
Konsumsi Keluarga Petani Pola Pengeluaran Pangan
Secara umum besaran konsumsi rumahtangga petani dibagi menjadi 2 kelompok yaitu pengeluaran untuk pangan dan pengeluaran untuk non pangan. Pada umumnya besarnya nilai pengeluaran rumahtangga di pedesaan bervariasi sesuai dengan besarnya pendapatan yang mereka peroleh. Fenomena ini akan terjadi apabila pendapatan rendah akan lebih mengutamakan untuk memenuhi kebutuhan subsistennya terutama kebutuhan pengeluaran bahan makanan dibanding lainnya. Berbeda halnya bila pendapatan yang diperoleh semakin tinggi akan terjadi pergeseran antara kebutuhan bahan makanan dengan kebutuhan bukan makanan. Rata-rata pengeluaran petani selama satu tahun dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 7. Rata-rata Proporsi Pengeluaran Pangan pada Petani Padi Sawah di Desa Purbatua Dolok, PerSatu Tahun.
No Jenis Pangan Pengeluaran Pangan
Nilai (Rp) Persentase (%)
Sumber : Data diolah Dari lampiran 17
Dari tabel 7 diketahui bahwa pengeluaran rumahtangga petani selama 1 tahun. Pengeluaran pangan tersebut meliputi 10 bahan pokok. Proporsi pengeluaran yang paling dominan adalah pengeluaran pada kebutuhan akan beras dengan rata-rata sebesar Rp 5.958.947 (58,67%).
Hal ini disebabkan karena mereupakam kebutuhan pokok.Pengeluaran untuk memenuhi
kebutuhan lainya adalah lauk-pauk, sayuran-mayur (21,12%), minyak goreng (3,50%), buah-buahan (0,62%), gula (3,80%), minuman (3,32%), dan garam (0,50%) untuk dikonsumsi.
Sementara itu, kebutuhan akan minyak tanah dengan besar rata- rata Rp 12.947 (0,12
%)mayoritas petani menggunakan minyak tanah selain digunakan untuk memasak juga digunakan sebagai penerang. dan gas dengan besar rata-rata 65.260 (0,64%)digunakankarena merupakan program pemerintah. Bila dilihat luas lahan yang dimiliki oleh petani, pola pengeluaran berbeda antara petani yang memiliki luas lahan yang sempit dengan petani yang memiliki luas lahan besar. Besarnya pengeluaran akan karbohidrat lebih utama bagi petani yang memiliki luas lahan sempit. Namun sebaliknya, petani yang tergolong lahannya luas memiliki pengeluaran yang besar akan lauk pauk, sayuran, minyak goreng dan minyak tanah.
Hal ini menggambarkan bahwa semakin besar pendapatan yang diperoleh akan terjadi pola diversifikasi pada pemenuhan kebutuhan.
5.4.2Pengeluaran Non Pangan
Pada tabel 8, memperlihatkan jenis pengeluaran non pangan yang dihitung selama 1 tahun.
Tabel 8. Rata-rata Proporsi Pengeluaran Non Pangan Rumah Tangga Petani, PerSatu Tahun.
No Jenis Pangan Pengeluaran Pangan
Nilai (Rp) Persentase (%)
Sumber : Data Diolah Dari Lampiran 18
Diantara ke 9 jenis non pangan tersebut, memperlihatkan bahwa pengeluaran untuk pendidikan lebih tinggi sebesar (86,80% ), dibandingkan pengeluaran non pangan lainnya.
Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran rumahtangga petani akan pentingnya pendidikan mulai berkembang meskipun biaya untuk pendidikan lebih besar dibanding untuk pengeluaran non pangan lainnya. Disamping itu pengeluaran untuk non pangan lainnya seperti pakaian sebesar (7,02%) , biaya kesehatan sebesar (2,16%) dan transportasi sebesar (18,40%) dan termasuk urutan kedua terbesar dari pengeluaran non pangan. Pengeluaran untuk biaya social sebesar (12,60%) dan ini merupakan pengeluaran non psngn urutan ke tiga karena sifat pengeluarannya secara insidentil. Namun untuk beberapa pengeluaran tertentu seperti untuk rokok sebesar(9,91%) lebih dominan bila dibandingkan dengan pengeluaran seperti pulsa (3,50%), tarif listrik (2,31%), dan rekreasi (2,14%).
5.4.3 Total Pengeluaran Konsumsi
Total pengeluaran rumahtangga petani antara kelompok kebutuhan pangan dan non pangan dapat dilihat pada Tabel 9 berikut.
Tabel 9. Total Pengeluaran Rumah Tangga Petani di Desa Purbatua Dolok, Per Satu Tahun.
No Jenis Pangan Jumlah (Rp) Persentase (%)
Sumber : Data Diolah Dari Lampiran 19
Dari tabel 9 tersebut memperlihatkan total pengeluaran rumahtangga antara kelompok kebutuhan pangan dan non pangan termasuk tidak merata dengan posisi (37,52%) pengeluaran pangan di banding (62,48%) pengeluaran non pangan dari total pengeluaran rumahtangga. Hal ini berarti petani harus lebih meningkatkan usahatani padi sawah mereka agar supaya kebutuhan pangan dapat menyeimbangi kebutuhan non pangan dan sesuai
dengan tingkat pendapatan yang mereka peroleh. Namun tidak menutup kemungkinan rumahtangga petani akan memprioritaskan lebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan pangan dibanding kebutuhan non pangan. Dilain pihak rumahtangga petani padi yang memiliki pendapatan rendah, ada kecenderungan untuk memenuhi kebutuhan pangan semakin tinggi dan sebaliknya. Hal ini menunjukkan bahwa besarnya pengeluaran untuk bahan pangan dan non pangan, erat kaitannya dengan pendapatan yang diterima baik dari usaha pertanian maupun pendapatan diluar usaha pertanian.