• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

1. Pendayagunaan Modal Sosial

a. Pengertian Pendayagunaan Modal Sosial

Pendayagunaan berasal dari kata “daya guna” yang berarti manfaat. Adapun pengertian pendayagunaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 326) adalah 1) Kemampuan mendatangkan hasil atau manfaat; dan 2) kemampuan menjalankan tugas dengan baik. Sedangkan pendayagunaan adalah pengusahaan agar mampu mendatangkan hasil atau menjalankan tugas dengan baik. Dapat diartikan bahwa pendayagunaan modal sosial adalah segala upaya dan cara yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk memanfaatkan dan memperoleh hasil dari penggunaan modal sosial.

b. Pengertian Modal Sosial

Pengertian mengenai Modal sosial telah dikaji oleh beberapa ahli dengan berbagai pandangan yang berbeda. Ilmuan yang berpengaruh terhadap teori ini diantaranya Pierre Bourdieu, James Coleman, Robert Putnam, dan Fukuyama. Para ahli mendefinisikan pengertian Modal Sosial berbeda-beda sesuai dengan latar belakang bidang keahliannya. Bourdieu mengungkapkan bahwa modal sosial sangat erat kaitannya dengan sumber daya potensial atau kepemilikan diri yang menghasilkan jaringan. Sedangkan Coleman lebih menekankan pada modal sosial sebagai bagian struktur sosial yang membantu kognitif anak. Putnam juga

menambahkan bahwa selain norma dan jaringan, modal sosial juga tersusun atas kepercayaan yang membantu individu melaksanakan kegiatannya secara lebih efisien dan terkoordinasi. Dilengkapi dengan pendapat dari Fukuyama bahwa di dalam modal sosial juga terdapat kerjasama antara elemen yang satu dengan yang lainnya sehingga membentuk suatu sistem yang terkoordinasi. Beberapa teori tersebut dirangkum oleh Dwiningrum seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. Pengertian Modal Sosial Menurut Ahli Ahli Pengertian

Bourdieu Sekelompok sumber-sumber aktual atau potensial yang berhubungan dengan kepemilikan suatu jaringan yang bertahan dari hubungan-hubungan yang kurang atau lebih melembaga dari saling mengetahui atau menghargai.

Coleman Bagian dari struktur sosial yang mendukung tindakan-tindakan para aktor yang merupakan anggota dari struktur itu. Modal sosial adalah beberapa aspek dari struktur sosial yang mendukung tindakan pelaku yang menyoroti tingkat tinggi modal sosial terutama manfaat perkembangan anak. Modal sosial sebagai seperangkat sumber daya yang menjadi sifat dalam hubungan keluarga dan organisasi sosial komunitas yang berguna bagi perkembangan kognitif atau sosial seorang anak dan remaja.

Putnam Bagian dari kehidupan sosial jaringan, norma, dan kepercayaan. Modal Sosial, sebagaimana bentuk modal lainnya adalah produktif dan memfasilitasi pencapaian tujuan tertentu yang tidak akan mungkin dalam keberadaannya

Fukuyama Kemampuan orang-orang bekerja bersama-sama untuk tujuan- tujuan umum di dalam kelompok-kelompok atau organisasi- organisasi.

Sumber: Dwiningrum, (2004: vii-viii)

Modal sosial merupakan sebuah sumber daya atau aset sosial yang berupa norma dan jaringan yang dilandasi atas kepercayaan yang terkoordinasi dengan baik sehingga menghasilkan kinerja yang lebih efektif dan efisien.

c. Dimensi Modal Sosial

Coleman (2009: 415) menyebutkan bahwa bentuk-bentuk modal sosial meliputi: (1) kewajiban dan ekspektasi, (2) potensi informasi, (3) norma dan sanksi efektif, (4) relasi wewenang, (5) organisasi sosial yang dapat disesuaikan dan (6) organisasi yang disengaja. Coleman juga mengungkapkan bahwa modal sosial dapat diciptakan, dipelihara dan dirusak konsekuensinya oleh individu itu sendiri. Sedangkan Pretty dan Ward (2001: 211) mengidentifikasikan empat aspek utama modal sosial yakni: (1) hubungan saling percaya (relation of trust), (2) adanya pertukaran (reciprocity and exchange), (3) aturan umum (common rules), norma- norma (norm), dan sanksi-sanksi (sanction), (4) keterkaitan (connectedness), jaringan (network), dan kelompok-kelompok (groups). Dilanjutkan menurut Putman (1993) dalam Dwiningrum (2004:10) mengungkapkan bahwa unsur-unsur pembentuk modal sosial meliputi: (1) jaringan pertemuan/dialog masyarakat (networl of civic engagement), (2) norma-norma yang saling berinteraksi/ timbal balik (norm of generalized reciprocity), dan (3) kepercayaan sosial (social trust). Hasbullah (2006: 9-12) menguraikan unsur-unsur pembentuk modal sosial dalam enam unsur-unsur modal sosial yakni: (1) Kepercayaan (trust), (2) Jaringan (network), (3) Saling tukar kebaikan (reciprocity), (4) Norma (norm), (5) Nilai (value), dan (6) Tindakan yang proaktif.

Berbagai pendapat ahli tersebut memiliki berbagai persamaan dan perbedaan, untuk memudahkan menarik kesimpulan mengenai unsur pembentuk modal sosial, maka dapat diringkas melalui Tabel 2.

Tabel 2. Dimensi Modal Sosial Pendapat Para Ahli Hasbullah,

(2006: 9-12)

Coleman, (2009: 415)

Pretty dan Ward, (2001: 211) Putman, (dalam Dwiningrum 2004: 10) Kewajiban dan ekspektasi

Kepercayaan Kepercayaan Kepercayaan sosial

Resiprositas Adanya pertukaran Norma dan

nilai

Norma dan sanksi efektif

Aturan umum, norma, dan sanksi

Norma yang saling berinteraksi Jaringan Potensi informasi Keterkaitan, jaringan,

dan kelompok Jaringan pertemuan/dialog masyarakat Relasi wewenang Organisasi Kelompok Tindakan yang proaktif

Pratikno selanjutnya mengelompokkan dimensi modal sosial menjadi tiga level, yaitu nilai, institusi, dan mekanisme. Dalam setiap level terdapat elemen- elemen yang menyertainya seperti Gambar 2.

Gambar 2. Level Modal Sosial Sumber : Pratikno, (2001:27). NILAI, KULTUR, PERSEPSI

a) Simpati

b) Rasa berkewajiban c) Trust

d) Resiprositas

e) pengakuan timbal balik

INSTITUSI MEKANISME

a) Kerjasama

b) Sinergi antar kelompok a) Keterlibatan civil engagement

b) Asosiasi c) network

Unsur-unsur yang dapat digunakan untuk penelitian mengenai modal sosial Kader Desa merupakan hasil kajian dari dimensi-dimensi yang dikemukakan oleh ahli yang meliputi:

1) Jaringan (network)

Jaringan di dalam modal sosial merupakan sebuah partisipasi yang dibangun oleh banyak individu dalam satu kelompok sehingga antara individu satu dengan yang lainnya saling terhubung dan berinteraksi dengan beberapa prinsip yaitu kesukarelaan, kesamaan, kebebasan, dan keadaban.

2) Kepercayaan (trust)

Kepercayaan merupakan suatu bentuk keinginan seseorang untuk mengambil resiko atas hubungan-hubungan sosial yang didasari oleh perasaan yakin bahwa orang lain akan melakukan sesuatu yang diharapkan dan tidak akan berlaku hal yang dapat merugikan kelompoknya. Rasa percaya akan membuat seseorang bertindak sebagaimana orang lain dalam kelompoknya lakukan tanpa memperhatikan resiko yang akan didapat.

3) Resiprositas (reciprocity)

Resiprositas atau saling tukar kebaikan merupakan sebuah pola hubungan antara individu satu dengan yang lainnya dalam suatu kelompok. Tindakan ini terjadi secara berangsung-angsur sehingga terjadi hubungan timbal balik yang saling menguntungkan dan saling mendukung satu sama lain.

4) Nilai dan Norma (value and norm)

Nilai dimaknai sebagai ide atau gagasan yang dimaknai dan dipercaya secara turun temurun yang dianggap benar dan merupakan warisan dari nenek moyang. Nilai-nilai tersebut antara lain etos kerja, harmoni, kompetisi, dan petisi. Selain itu, nilai kesetiakawanan juga merupakan salah satu motor penggerak suatu kelompok agar dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Norma merupakan seperangkat aturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang disepakati oleh anggota- anggota dalam suatu kelompok. Jika seseorang melanggar norma, akan mendapatkan sanksi disepakati oleh anggota kelompok sehingga seseorang akan cenderung untuk mengikuti norma yang berlaku. Nilai dan Norma merupakan kesatuan yang saling mempengaruhi dalam modal sosial.

d. Tipologi Modal Sosial

Menurut Woolcock dalam Gilchrist (2009: 12), modal sosial dibagi atas tiga tipologi yaitu :

1) Modal sosial yang mengikat (bounding social capital), yaitu modal sosial yang timbul akibat adanya perekat yang kuat dalam sistem kemasyarakatan. Perekat tersebut meliputi nilai, kultur, persepsi, tradisi, dan hubungan kekerabatan. 2) Modal sosial yang menjembatani (bridging social capital), yaitu modal sosial

yang timbul sebagai reaksi atas berbagai macam karakteristik kelompoknya. Modal sosial ini mendorong untuk membangun kelompok baru melalui ikatan berupa institusi atau mekanisme.

3) Modal sosial yang menghubungkan (linking social capital), merupakan hubungan sosial yang memiliki karakter adanya hubungan di antara beberapa level dari kekuatan sosial maupun status sosial yang ada di dalam masyarakat. e. Manfaat Modal Sosial

Menurut Marwani (dalam Theresia, 2014: 49) menyebutkan bahwa keberadaan modal sosial dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi bekerjanya komunitas atau kelompok. Secara terperinci, manfaat tersebut yakni: (1) memberikan kemudahan dalam mengakses informasi, (2) menjadi media pembagian kekuasaan dalam komunitas, (3) mengembangkan solidaritas, (4) memungkinkan mobilisasi sumber daya komunitas, (5) memungkinkan pencapaian bersama, dan (6) membentuk perilaku kebersamaan dan berorganisasi komunitas. Meskipun kontribusi modal sosial tidak dapat diukur secara kuantitas, namun peranannya sangat penting untuk keberhasilan suatu kelompok.

Sejalan dengan pandangan Gilchrist, (2009: 13) yang menekankan fokus pemanfaatan modal sosial terhadap jejaring di dalam komunitas. Gilchrist mengungkapkan bahwa banyak orang yang bergabung di dalam komunitas untuk mendapatkan keuntungan diantaranya mendapatkan perasaan saling memiliki, berkonsultasi dengan rekan di dalam kelompok untuk meningkatkan kualitas hidup, membantu beradaptasi dengan lingkungan sekitar, dan dengan mengikuti sebuah kelompok seseorang akan mudah melakukan aktivitas secara lebih efektif dan efisien.

Penelitian Coleman (2009: S95) berfokus pada pemanfaatan social capital dalam pembentukan human capital. Coleman mendefinisikan modal sosial sebagai sumber penting bagi para individu dan sangat mempengaruhi kemampuan mereka untuk bertindak meningkatkan kualitas hidupnya atau sering disebut sebagai human capital. Lebih lanjut Coleman menggambarkan bahwa modal sosial dapat memudahkan pencapaian tujuan yang sulit dicapai. Modal sosial terbentuk ketika relasi antara manusia mengalami perubahan positif yang membuat seseorang mudah melakukan tindakan. Seperti halnya sumber daya manusia, modal sosial juga tidak memiliki wujud yang real, namun dapat dirasakan melalui keterampilan dan pengetahuan dalam memudahkan kegiatan dan membentuk jejaring atau relasi antar manusia.

Dokumen terkait