• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan Kepemimpinan

Dalam dokumen MANAJEMEN LEMBAGA PENDIDIKAN - Test Repository (Halaman 177-181)

Dalam studi kepemimpinan terdapat beberapa pende- katan atau teori kepemimpinan.Engkoswara dkk (2010: 179) merangkum pendekatan-pendekatan tersebut menjadi 3 (tiga) pendekatan, yaitu pendekatan sifat (Thraits approach), pendekatan perilaku (behavioral approach) dan pendekatan situasional (kontingensi).

Pendekatan sifat (Thraits approach)

Pendekatan ini lebih menekankan pada pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat atau watak.Kualitas pribadi yang dimiliki, banyak ahli yang berusaha meneliti dan mengemukakanpendapatnya tentang sifat-sifat baik manakah yang diperlukan bagi seorang pemimpin agar sukses dalam kepemimpinannya.Pemimpin yang memiliki ciri kepemimpinan adalah seseorang yang memiliki kualitas diri yang baik tercermin dari sifat-sifat atau watak.Secara umum sifat utama seorang pemimpin adalah kecerdasan, energik, bijaksana, tanggung jawab, jujur, dapat dipercaya.

Hikmat (2009: 253) mengemukakan sifat-sifat kepemim- pinan sebagai berikut:

1. Energik, artinya memiliki semangat yang tinggi dan terbaik dibandingkan dengan bawahannya;

2. Emosinya stabil, yairu telaten dalam melaksanakan tugas- tugasnya;

3. Mampu membangun relasi dengan semua bawahannya dan lingkungan eksternal organisasinya;

4. Memiliki motivasi yang kuat di dalam jiwanya untuk memimpin dengan baik;

5. Idealis, artinya memiliki gagasan dan cita-cita yang tinggi untuk diri dan organisasinya;

6. Mampu membimbing dan mengarahkan bawahannya; 7. Rasional dalam memecahkan masalah;

8. Memiliki moralitas tinggi yang patut diteladani; 9. Inovatif, kreatif, dan konstruktif;

10.Berwawasan luas;

11.Sehat jasmani dan rohani;

12.Memiliki keahlian tehnis, dan konseptor andal; 13.Jujur dan amanah;

14.Bertanggung jawab;

15.Demokratis, bisa memahami situasi dan kondisi bawahan. Sedangkan Davis dalam Engkoswara (2010: 179) mengikhtisarkan 4 sifat utama yang dapat mempengaruhi keberhasilan pemimpin, yaitu: (1) kecerdasan, (2) kedewasa- an dan keluasan hubungan sosial, (3) motivasi dan dorongan berprestasi, (4) sikap-sikap hubungan manusiawi.

Meskipun telah banyak pendidikan tentang sifat-sifat kepemimpinan, tetapi hingga kini para peneliti tidak berhasil menemukan satu atau sejumlah sifat yang dapat dipakai sebagai ukuran untuk membedakan pemimpin dan bukan pemimpin. Hal ini menunjukkan bahwa hanya dengan menggunakan pendekatan sifat saja, masalah kepemimpinan tidak akan dapat dipahami dan diselesaikan dengan baik.

• •• •

Pendekatan Perilaku (behavioral approach)

Pendekatan perilaku (behavioral approach) merupakan pendekatan yang berdasarkan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin yang bersangkutan. Sikap dan gaya kepemimpinan itu tampak dalam kegiatannya sehari-hari, dalam hal bagaimana cara pemimpin itu memberi perintah, membagi tugas dan

wewenangnya, cara berkomunikasi, cara mendorong semangat kerja bawahan, cara menyelenggarakan dan memimpin rapat anggota, cara mengambil keputusan dan sebagainya. Sehingga pendekatan ini memandang bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dari pola tingkah laku bukan dari sifat-sifat pemimpin, bahwa sifat seseorang sulit diidentifikasi secara pasti. Di samping itu, teori atau pendekatan perilaku ini juga beranggapan bahwa kepemim- pinan diciptakan oleh hubungan antar manusia.Oleh karenanya keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh kemampuan pemimpin sendiri bersama bawahannya.

Pendekatan Situasional (Kontingensi)

Pendekatan ini didasarkan atas asumsi bahwa keber- hasilan kepemimpinan bergantung pada situasi dan kondisi.Suatu organisasi atau lembaga memiliki ciri-ciri khusus dan keunikan tersendiri.Demikian pula pada organisasi atau lembaga yang sejenis pun akan menghadapi masalah yang berbeda karena lingkungan yang berbeda, semangat dan watak bawahan yang berbeda. Situasi dan kondisi ini harus dihadapi dengan pola kepemimpinan yang berbeda pula.Banyak kemungkinan yang dapat diterapkan dalam pola kepemimpinan sesuai dengan situasi dan kondisi organisasi, sehingga pendekatan ini dinamakan juga pendekatan kontingensi yang berarti kemungkinan.

Pendekatan situasional ini dikembangkan lebih lanjut oleh Fred E. Fielder dan Hersey. Menurut Fielder (1973), seorang pemimpin cenderung berhasil dalam menjalankan kepemimpinannya apabila menerapkan model kepemimpinan yang berlainanuntuk menghadapi situasi dan kondisi yang berbeda. Selanjutnya dikemukakan bahwa menentukan efektif tidaknya kepemimpinan tergantung dengan 3 (tiga) variabel, yaitu (1) hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin,

artinya hubungan mereka harus baik, pemimpin disenangi oleh anggotanya dan ditaati segala perintahnya; (2) derajat struktur tugas, maksudnya struktur tugas-tugas terperinci dengan jelas dan bisa dipahami oleh anggotanya, setiap anggota memiliki wewenang dan tanggung jawab masing- masing secara jelas sesuai dengan fungsinya; (3) kedudukan kekuasaan pimpinan, maksudnya pemimpin harus kuat dan kelas kedudukan kekuasaannya secara formal, sehingga memperlancar usaha untuk mempengaruhi anggotanya.

Hersey dan Blanchard dalam Engkoswara (2011: 184) mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan, yaitu (1) kepribadian, pengalaman masa lampau dan harapan pemimpin, (2) harapan dan perilaku atasan; (3) tuntutan tugas yang diberikan; (4) harapan dan perilaku rekan sejawat; (5) karakteristik, harapan dan perilaku bawahan; (6) kultur dan kebijakan organisasi. Selanjutnya dijelaskan bahwa kepemimpinan yang paling efektif adalah sesuai dengan kematangananggota organisasi, yaitu kesiapan anggota menerima tanggung jawab dan tugas serta memiliki motivasi untuk berprestasi. Seorang pemimpin perlu menerapkan pola kepemimpinannya dengan cara menyesuaikan perkembangan setiap tahap kematangan anggota. Untuk melaksanakannya ada 4 (empat) tipe tahapan berikut ini:

Tahap Direktif atau Telling: pemimpin sebagai pengambil keputusan dan memberi komando atau perintah kepada anggota, sehingga terjadi komunikasi hanya satu arah saja dari atas ke bawah.

Tahap Konsultatif atau Selling: pemimpin masih sebagai penanggung jawab dan pengambil keputusan, tetapi sudah mulai ada komunikasi dua arah.

Tahap Partisipatif: pemimpin menciptakan interaksi dengan anggotanya (komunikasi dua arah) berdasarkan respek dan kepercayaan. Sehingga dalam pengambilan keputusan, pemimpin mulai melibatkan anggotanya dan yakin bahwa anggota sudah memiliki kematangan untuk menyelesaikan tugas dengan baik.

Tahap Delegasi: pemimpin yakin bahwa apabila anggota organisasi diberi kepercayaan dan tanggung jawab, maka mampu untuk memecahkan masalah dan bisa mengambil keputusan dengan tepat.

Keempat tahap tersebut hendaknya dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi, baik berupa jenis pekerjaan, waktu, watak anggota, harapan dan keinginan anggota, arah dan tujuan organisasi, tingkat kematangan anggota, dan sebagainya.Sehingga pemimpin harus menerapkan pola kepemimpinannya disesuaikan dengan situasi yang dihadapinya.

Dalam dokumen MANAJEMEN LEMBAGA PENDIDIKAN - Test Repository (Halaman 177-181)