• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

D. Pendekatan Makrostruktural

Secara makrostruktural, analisis wacana ini menitikberatkan pada garis besar susunan wacana secara global untuk memahami teks secara keseluruhan.

Konteks memiliki peran penting untuk mengungkapkan makna yang ada dalam teks. Menurut Sumarlam (2003: 47) konteks wacana adalah aspek-aspek internal wacana dan segala sesuatu yang secara eksternal melingkupi sebuah wacana. Jika dalam analisis mikrostruktural konteks yang ada berupa konteks linguistik, maka dalam analisis makrostruktural adalah konteks situasi dan budaya.

Sumarlam (2003: 47) mengemukakan bahwa untuk memahami konteks situasi dan budaya dapat digunakan beberapa prinsip penafsiran dan prinsip analogi, yaitu prinsip penafsiran personal, prinsip penafsiran lokasional, prinsip penafsiran temporal, dan prinsip penafsiran analogi. Disamping itu, inferensi juga menjadi hal yang penting dalam memperoleh pemahaman sebuah wacana.

1. Prinsip Penafsiran Persona

Prinsip penafsiran persona berkaitan dengan siapa sesungguhnya yang mejadi partisipan di dalam suatu wacana. Dalam hal ini, siapa penutur dan siapa mitra tutur sangat menentukan makna sebuah tuturan. Penutur dan mitra tutur ini disebut sebagai pelibat wacana yang merujuk pada orang-orang yang mengambil bagian, sifat-sifat para pelibat dan kedudukan serta peranan mereka.

Perhatikan contoh berikut.

(42) Aku bisa bikin nasi goreng sendiri.

(Sumarlam, 2003: 48) Pada contoh (42) terlihat apabila penuturnya adalah anak berusia 5 tahun dan ia sudah bisa membuat nasi goring tanpa bantuan ibunya, hal tersebut merupakan suatu prestasi yang luar biasa bagi pelakunya sekaligus berita yang mengejutkan bagi mitra tutur. Tetapi jika penutur yang melakukan hal tersebut adalah seorang juru masak atau oleh orang yang berumur di atas 20tahun, tentu hal tersebut menjadi biasa saja dan bukan hal yang luar biasa pagi petuturnya.

Perhatikan pula contoh dalam bahasa Prancis berikut.

(43) Il présente le journal télévisé de 20h.

Dia menyiarkan berita di televisi jam 8 malam.

(J. Girardet dan J. Pécheur, 2008) Pada contoh tuturan (43) apabila penutur adalah anak berusia 6 tahun, maka hal tersebut akan terdengar luar biasa bagi pendengar. Sebaliknya, jika penuturnya adalah seorang penyiar berita professional, maka hal tersebut menjadi biasa saja dan bukan menjadi sebuah prestasi yang istimewa.

2. Prinsip Penafsiran Lokasional

Prinsip penafsiran lokal menyatakan bahwa pesapa (pendengar/pembaca) tidak membentuk konteks lebih besar daripada yang diperlukan untuk menafsirkan makna wacana melalui penggunaan akal yang didasarkan atas pengalamannya (Djajasudarma, 2012:38).

Konteks yang dimaksud yaitu wilayah, area, atau lokal (setting) tempat wacana itu berada. Konteks tersebut sangat bergantung pada jenis wacana yang sedang dianalisis. Apabila wacana tulis, maka konteks yang dimaksud adalah konteks di sekitar media yang digunakan sebagai sarana munculnya wacana ini.

Sumarlam (2003: 49) juga mengemukakan bahwa prinsip lokasional ini berkenaan dengan penafsiran tempat atau lokasi terjadinya suatu situasi (keadaan, peristiwa, dan proses) dalam rangka memahami wacana.

Perhatikan contoh berikut.

(44) Di sini murid-murid terbiasa tertib dan disiplin.

(Sumarlam, 2003: 49) Pada contoh (44) kata ‘di sini’ berarti “sekolah” ataupun “kelas” dengan adanya dukungan kata ‘murid-murid’ yang memperkuat realitas wacana pada contoh tuturan tersebut. Berikut contoh dalam bahasa Prancis.

(45) Noémie : Pardon. La Cité université, s’il vous plait?

L’étudiante : C’est là.

Noémie : Maaf. Dimana universitas La Cité?

Mahasiswa : Disini.

(J. Girardet dan J. Pécheur, 2008)

Pada contoh (45) makna ungkapan c’est là berarti La Cité université , hal tersebut didukung dengan adanya mitra tutur yang dijuluki sebagai mahasiswa.

3. Prinsip Penafsiran Temporal

Prinsip ini merujuk pada pemahaman wacana yang berkaitan dengan waktu (kapan atau berapa lama) terjadinya situasi berdasarkan konteksnya.

Menurut Sumarlam (2003: 49) berdasarkan konteksnya, suatu situasi (peristiwa, keadaan, proses) dapat ditafsirkan kapan atau berapa lama waktu terjadinya. Situasi tersebut dapat berlangsung dalam waktu singkat, agak lama, dan lama. Berikut contoh penggunaan prinsip penafsiran temporal.

(46) Sekarang ini sudah mulai banyak tugas. Hampir tiap dosen memberi tugas.

(Sumarlam, 2003: 50) Kata ‘sekarang’ pada tuturan di atas mengacu pada rentan waktu sekitar tiga bulan atau satu semester, sebagaimana rentan waktu yang digunakan untuk mengerjakan tugas dari dosen. Sedangkan contoh dalam bahasa Prancis sebagai berikut.

(47) Le dimanche, la ville de Paris organise des matinées « Sport et nature » dans 12 endroits différents.

Setiap minggu, kota Paris menyelenggarakan acara pagi « Sport et nature » pada 12 tempat berbeda.

(J. Girardet dan J. Pécheur, 2008) Contoh (47) menunjukkan bahwa kota Paris secara rutin diselenggarakan acara pagi seperti yang disebutkan pada contoh di atas.

Kegiatan tersebut dilakukan setiap hari minggu dimana orang-orang libur dan dapat mengikuti acara tersebut.

4. Prinsip Penafsiran Analogi

Prinsip analogi di dalam memahami wacana melibatkan pengalaman manusia, (akal yang didasarkan pada pengalaman). Prinsip analogi dapat dijadikan dasar berpijak yang dipakai, baik oleh pesapa maupun penyapa untuk menentukan penafsiran konteks (Djajasudarma, 2012: 39). Prinsip ini menganjurkan kepada pembaca, pendengar, atau siapapun yang ingin mengkaji wacana (baik tulis maupun lisan) agar menyiapkan bekal pengetahuan umum, wawasan yang mendalam, atau pengalaman dunia yang luas (knowledge of world) (Mulyana, 2005: 71). Perhatikan contoh berikut.

(48) Ndemok mati. (menyentuh mati)

(Mulyana, 2005: 71) Untuk menafsirkan makna dalam contoh tuturan (48) diperlukan prinsip penafsiran analogi. Biasanya tuturan tersebut terdapat pada gardu tiang listrik yang bertegangan tinggi. Hal tersebut menjadi peringatan kepada siapapun apabila ia menyentuh tiang tersebut, maka hal yang tidak diharapkan akan terjadi yaitu mati karena tersengat aliran listrik. Tuturan ini bukan dilakukan oleh petugas PLN tetapi hanya warga biasa yang menjadi penuturnya. Warga mengetahui bahwa gardu tersebut memiliki tegangan listrik tinggi diperoleh dari pengalaman dunia (pengetahuan umum). Selanjutnya, tuturan ini pula tidak sembarangan dituliskan di semua tempat. Maka dari itu inilah yang disebut

wacana. Kenyataan bahwa banyak aspek yang melingkupinya memang benar-benar nyata. Berikut contoh lain dalam bahasa Prancis.

(49) J’ai mal à la tête.

“Saya sakit kepala”.

(50) Il a une bonne tête.

“Dia rupanya menyenangkan”.

(Arifin dan Soemargono, 2009: 1027) Makna kata tête pada contoh (49) dan (50) dapat ditafsirkan secara berbeda. Pada contoh (49) kata tête bermakna kepala atau bagian dari anggota badan, sedangkan kata tête pada contoh (50) ditafsirkan sebagai ekspresi yang menyenangkan karena terdapat kata sifat bonne.