BAB I PENDAHULUAN
F. Metodologi Penelitian
2. Pendekatan Masalah
Karena penelitian ini ingin mengungkap Elaborasi Maqâshid dalam penafsiran pada karya Ibn ‘Âsyûr, maka digunakan pendekatan struktural dalam kerangka yang bersifat historis dan komparatif.
Pendekatan struktural (analysis structure) berangkat dari asumsi bahwa suatu pemikiran merupakan sebuah struktur yang otonom dan dapat dipahami melalui relasi antar unsur-unsurnya.67 Dengan pendekatan tersebut, karya-karya Ibn ‘Âsyûr akan dipandang sebagai suatu kesatuan yang utuh dan terstruktur, dengan substruktur-substruktur yang
64
Karya Ibn ‘Âsyûr berporos pada Ulûm al-Islâmiyah, dalam kedua kategori ini terletak ide besarnya yaitu: tafsir dan Maqâshid al-syarî’ah al-Islâmiyah, lihat dalam Muhammad Thâhir Al- Maisâwi "Maqâshid al syarî’ah Al Islâmiyah, [Dar al Nafais Urdun, cet-2 2001] hal. 48-77
65
Teknik dokumenter adalah teknik pengumpulan data dari sumber-sumber tertulis. Lihat Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, cet. 12, 2002), hal. 206.
66
Maryaeni, Metode Penelitian Kebudayaan (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal. 73. 67
Tirto Suwondo, “Analisis Struktural: Salah SatuPendekatan dalam Penelitian Sastra”, dalam Jabrohim dan Ari Wulandari [ed.], Metodologi Penelitian Sastra (Yogyakarta: Hanindita, 2001), hal. 54-56. Taufik Abdullah menilai bahwa pendekatan struktural sangat produktif untuk digunakan dalam kajian teks. Lihat Taufik Abdullah, “Agama Sebagai Kekuatan Sosial (Sebuah Ekskursi di Wilayah Metodologi Penelitian)”, dalam Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim [ed.], Metodologi Penelitian Agama: Suatu Pengantar (Yogyakarta: Tiara Wacana, cet. 2, 2004), hal. 45-46.
saling berhubungan, melalui mana Maqâshid dan prinsip-prinsip tafsir yang dirumuskannya akan dielaborasi dalam penafsirannya.
Pendekatan struktural (analysis structure) dalam penelitian ini diletakkan dalam kerangka yang bersifat historis dan komparatif_“historis” karena penelitian ini juga mengkaji kondisi-kondisi psikologis, sosial, politik, dan intelektual yang memengaruhi pemikiran Ibn ‘Âsyûr, dan “komparatif” karena ia mencoba membandingkan pemikiran Ibn ‘Âsyûr itu dengan al-Syâtibî seputar Maqâshid dan prinsip-prinsip tafsirnya.
Sedangkan dalam teknik penulisan dan transliterasi, penulis mengacu kepada buku “ Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis dan Disertasi),” karya Hamid Nasuhi, dan kawan-kawan. ( Jakarta: CeQDA Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, cet.2, 2007).
G. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan suatu bentuk tulisan yang sistematis sehingga tampak adanya gambaran yang jelas, terarah, logis dan saling berhubungan antara bab satu dengan bab berikutnya, maka tesis ini penulis klasifikasikan menjadi lima bab, yang terdiri dari satu bab pendahuluan, tiga bab pembahasan dan satu bab kesimpulan.
Bab pertama, merupakan landasan umum penelitian dari tesis ini. Bagian ini berisi pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi dan pembatasan masalah, tujuan dan guna dan tujuan penelitian, kajian pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab kedua, penulis akan membangun kerangka teoritis tentang Maqâshid dan pembacaan al-Qur’an, perspektif salaf dan khalaf. Pandangan kebebasan, kemaslahatan dan batasannya. Kemudian komparasi pandangan seputar tema tersebut, dan diakhiri dengan sub bab tentang pandangan sarjana barat seputar rigiditas dan elastisitas tafsir.
Bab ketiga, dikhususkan pada formulasi Maqâshid dan prinsip-prinsip tafsir Ibn ‘Âsyûr, elaborasi delapan Maqâshid al-’asliyyah dalam penafsiran Ibn ‘Âsyûr, serta
pembahasan tentang prinsip-prinsip tafsirnya dalam mukaddimah kitab al-Tahrîr wa al-Tanwîr.
Bab keempat, penulis mendeskripsikan aplikasi Maqâshid dalam penafsiran ayat-ayat hukum; khususnya mengenai ibadah; shalat, zakat dan puasa. Kemudian penilaian dan respon akademik terhadap gagasan Ibn ‘Âsyûr seputar Maqâshid dan penafsiran al-Qur’ân, Ibn ‘Âsyûr dan ortodoksi penafsiran Al-Qur’ân Kontemporer diperuntukkan untuk melihat sejauh mana relevansi gagasan Ibn ’Asyur dapat diterapkan.
Bab kelima, bab penutupan, penulis menulis kesimpulan-kesimpulan dari isi tesis secara keseluruhan sebagai penegasan jawaban atas permasalahan yang dikemukakan sebelumnya, disertai dengan saran-saran yang dianggap penting berkaitan dengan tema ’ilm al-Maqâshid dan prinsip-prinsip penafsiran seputar interaksi sosial kemasyarakatan.
BAB II
MAQÂSHID DAN PEMBACAAN AL-QUR’ÂN
Maqâshid dalam perspektif pakar linguistik seperti Ibn Manzhûr, Fairuz Âbadî keduanya mensinyalir bahwa kalimat ini merupakan jama’ dari kata maqshad yang terambil dari kata kerja qashada, yaqshudu, qashdan;68 yang mempunyai arti lurusnya jalan, merupakan bentuk jamak dari maqshid69 yang berarti: Makân al-Qashd (arah tujuan; maksud) juga dapat dipahami sebagai keadilan (lihat an-Nahl; [16:9]).70 Namun yang sering dipakai oleh Fuqahâ’ dan pakar ilmu Ushûl adalah arti bersandar pada unsur dasar (al-umm) kesengajaan yang berjalan sesuai dengan arah keinginan yang dicapainya. Seperti pandangan mayoritas mereka yang mengatakan bahwa Maqâshid terdapat pada hukum pertukaran (al-Tasharrufât).71 Abdul Aziz bin ‘Ali dalam ‘Ilm Maqâshid al-Syâri’ mendefinisikan al-Maqâshid ádalah apa yang dikehendaki hukum-hukum syara’ [al-murâd min tasyrî’i al-Ahkâm] dengan kata lain tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh hukum-hukum syara’.72
68
Lihat lebih lanjut makna ini dalam Ibn Manzhûr (Abû Fadl Jamâluddîn Muhammad ibn Mukrim) (w. 117 H) dalam Lisan al-arab “Dâr Lisân al-Arab” Beirut, jld. 3 hal. 96. bandingkan dengan Fairuz Âbadî dalam al-Qâmûs al-Muhîth,cet.1, Maktabah ar-Risalah, 1406 H/1986, Mesirhal. 396. terdapat beberapa makna juga yang sering dijadikan sandaran lihat juga Abdul Aziz bin ‘Ali dalam ‘Ilm Maqâshid al-Syâri’ hal. 19-20. keterangan Ahmad Fayyûmi dalam al-Misbah mu’jam
Arab-arabi (Beirut Maktabah Lubnân, 1990), hal. 192; lihat juga, Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam
(Beirut Dâr al-Masyriq, 1986) cet. Ke-28 hal. 632; lihat juga Hans Whr, a Dictionary of Modern Written Arabic (Beirut Maktabah Lubnân, 1980), cet. Ke-3 hal. 767.
69
Lihat Ahmad Fayyûmi, al-Misbah hal. 192. lihat juga, Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam (Beirut Dâr al-Masyriq, 1986) cet. Ke-28 hal. 632; lihat juga Hans Whr, a Dictionary of Modern Written Arabic (Beirut Maktabah Lubnân, 1980), cet. Ke-3 hal. 767.
70
Lihat Mahmud Yunus, Kamus Arab- Indonesia (Jakarta:Hidakarya, 1990), hal. 344. 71
Lihat lebih lanjut uraian ini dalam Syamsu al-Dîn Abû Abdillah Muhammad bin Abi Bakar Ibn Qayyim I’lâm al-Mu’awwiqîn ‘an Rabb al-‘âlamîn, tahqîq Abdu Rauf Saîd, Maktabah Kulliyyah al-Azhariyah 1967,juz 3 hal. 98, lihat juga al-Syâtibî dalam Muwâfaqatfî Ushûl al-Syarî’ah juz 2, Dâr al-Ma’rifah 1395 H/ 1975 hal. 323.
72
Abdul Azîz bin ‘Ali,‘Ilm Maqâshid al-Syâri’ hal. 20. Bandingkan dengan al-Maysâwî dalam Maqâshid al Syarî’ah al Islâmiyah, 2001. hal. 90-91.
Menurut Abû Hamid al-Ghazâli rahasia (sirr), hati (lubb), dan tujuan (maqâshid) al-Qur’an adalah menyeru hamba menuju Tuhan-nya yang Maha Kuasa.73 Sedangkan menurut Fârid Wâjidi dalam Tafsirnya, al-Mushhaf al-Mufassar, Maqâshid al-Qur’ân adalah mendidik manusia dengan didikan yang benar dan menjadikan mereka manusia-manusia pada tingkat kesempurnaan, dimana menemukan jati dirinya baik secara lahiriah maupun Batiniah.74
Pengertian yang lebih luas diberikan oleh pengarang Manâhil al-Irfân fî Ulûm al-Qur’ân Muhammad ‘Abd al-Azhîm al-Zarqâni, menurutnya Allah dalam menurunkan kitab-Nya (al-Qur’an) sebagai mu’jizat yang Mulia mempunyai tiga Maqâshid raîsiyyah (tujuan-tujuan pokok): yakni sebagai petunjuk bagi manusia dan jin, disisi lain sebagai bukti kebenaran risalah Nabi Muhammad saw. serta sebagai sumber pahala karena membacanya.75
Pembacaan yang dimaksud disini adalah tafsir itu sendiri, yang secara etimologis merupakan serapan dari bentuk taf’îl kata benda al-fasr76 yaitu kata kerja fassara – yufassiru dengan arti “keterangan dan ta’wil”77 yang satu-satunya ungkapan dalam Al-Qur’ân terdapat pada surah al-Furqân (25):33:
73
Abû Hamid al-Ghazâli, Jawâhir al-Qur’ân wa Duraruhu (Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988), cet. Ke-1, hal.11.
74
Lihat Mukaddimah tafsir Muhammad Farid al-Wâjidi, al-Mushhaf al-Mufassar (Kairo: Mathâbi Dâr al-Sya’b, 1977), hal. 95.
75
Muhammad Abdu al-Azhîm al-Zarqâni dalam karyanya Manâhil al-Irfân fî ulûm al-Qur’ân, (Kairo:Dâr al-Hadits, 2001), vol.2 hal.104. bandingkan dengan pandangan Ibn ‘Asyûr yang mengatakan bahwa penafsiran al-Qur’ân memiliki tiga tujuan-tujuan pokok yaitu; pertama sisi Al-Qur’ân yang meliputi kemaslahatan umum [duniawi dan ukhrawi]; kedua sisi yang menerangkan generalitas keilmuan [kulliyyât al-‘ulûm] dan intisari kesimpulannya [ma’âqid istinbâtihâ]; ketiga; sisi al-Qur’an yang sarat dengan filologik [balaghah] yang melekat pada redaksinya. Ismaîl Hasani dalam Nazhariyyat al-Maqâshid ‘ind Ibn ‘Âsyûr, hal. 90-91.
76
Menurut Ibn Manzhûr, kalimat fasr berarti al-bayân yaitu keterangan yang memberikan penjelasan, sedangkan tafsir dipahami dengan membuka sesuatu yang dimaksud oleh lafadz yang sukar dipahami, Lisan ’Arab, Jilid 5, hal. 55.
77
Kata ta’wil berasal dari kata kerja awwala kata bendanya ”awl” yang berarti kembali keasal) yang berarti mengembalikan sesuatu kepada maknanya, lihat Al-Râzy, Muhtar shihhah , hal. 33. lihat juga Mahmud Yunus, kamus arab-Indonesia (Jakarta- Hidakarya Agung, 1990) hal.316.ada juga yang berpendapat bahwa ta’wil identik dengan tafsir. Lihat Majid al-Dîn aal-Fairuzzabadi, Qâmûs al-Muhîth (al-Mathba’ah Misriyyah, 1933, jld II, hal. 110
Ÿ ωuρ y 7tΡθè?ù'tƒ @ ≅sVyϑÎ/ ωÎ) y 7≈oΨ÷∞Å_ Èd ,ysø9$$Î/ z |¡ômr&uρ #·Å¡øs? ∩⊂⊂∪
“Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya”.
Sedangkan secara terminologis tafsir adalah penjelasan tentang arti atau maksud firman-firman Allah sesuai dengan kemampuan manusia (mufassir). Yang sementara tujuannya untuk mengklarifikasi sebuah teks. Dalam hal ini, tafsir selain menjelaskan makna tersirat, Ia juga berfungsi secara simultan mengadaptsikan teks pada situasi/konteks yang sedang dihadapi seorang Mufassir. Dengan kata lain, kebanyakan penafsiran tidaklah murni teoritis, namun ia juga mempunyai aspek praktis utnuk membuat teks dapat diterapkan dalam memantapkan keimanan dan menjadi pandangan dan petunjuk orang-orang mu’min.78
A. Ibn ’Âsyûr dan Penafsiran kontemporer
Muhammad Thâhir Ibn ‘Âsyûr adalah seorang reformis dan pembaharu Tunisia yang hidup pada dua periode perubahan; pertama periode penjajahan Tunis mulai tahun (1298 H/1881) sampai (1363 H/1956 M) kedua periode Kemerdekaan Tunis tahun (1956 M-1973 M/1393 H) yang terakhir ini adalah tahun wafatnya, demikian tulis Ismaîl Hasani dalam Nazhariyyah al-Maqâshid ‘ind Ibn ‘Âsyûr.79 Ia lahir disaat gejolak pembaruan dan perubahan terhadap pandangan yang jumud dan budaya taqlid yang sudah mengakar di seantero dunia khususnya pada generasi di Timur Tengah, daerah kelahirannya adalah (al-Marsâ/î) sekitar 20 kilo dari Ibukota Tunisia pada tahun 1879 M/ 1296 H dimana kakek Ibn ‘Âsyûr tinggal. Mulai itulah Ibn ‘Âsyûr diasuh kakeknya Muhammad al-‘Azîz Bû’attûr, disebut demikian karena di daerah tempat tinggalnya tersebut dijadikan tempat persinggahan kapal-kapal laut,
78
Al-Zarqâni, Manâhil al-Irfân fî ulûm al-Qur’ân, (Kairo:Dâr al-Hadits, 2001), vol.2 hal.104. 79
Lihat Ismaîl Hasani dalam Nazhariyyat al-Maqâshid ‘ind Ibn ‘Âsyûr, (al Ma'had Al-‘Â'limiy lil fikri al Islamiy, Herendun USA) cet. I thn. 1995 hal. 75-82. lihat juga al-Mawsû’ah al-‘Arabiyyah al-‘Âlamiyyah (7357); dan al-Mawsû’ah al-‘Arabiyyah (7/200).
kemudian jalan menuju tempat ini sekarang diabadikan dengan nama Syaikh Imâm Muhammad Thâhir Ibn ‘Âsyûr.80
Nama asli dari kitab ini adalah “Tahrîr al-Ma’nâ al-Sadîd wa Tanwîr al-‘Aql al-Jadîd min tafsîr al-Kitâb al-Majîd”, dari judulnya menggambarkan ekspresi penulis yang berupaya ingin melepaskan makna yang kaku dan mengelaborasinya pada penafsiran yang elastis, disisi lain membentuk prinsip mainside [pola pikir] muslim.81 Metodologi penafsiran Ibnu ‘Âsyûr (w.1393H/1973) termasuk memakai pola narasi pemikiran dalam menerapkan metode (muqârin) perbandingan antara lain; perbandingan ayat Al-Qur’ân dengan yang lain, kemudian perbandingan ayat Qur’ân dengan hadits, dan perbandingan mufasir satu dengan yang lainnya. Dalam tafsirnya nuansa fiqh sangat dominan karenanya, upaya menafsirkan ayat dalam kaitannya dengan persoalan hukum-hukum Islam banyak dijumpai, tidak heran tafsir ini tergolong panjang lebar dalam pembahasan, aspek kebahasaan (filologik) juga terlihat dominan karena penulisnya mahir bahasa juga ahli sastra.82
Pandangan-pandangannya mencerminkan revolusi terhadap taqlid dan kemandegan berfikir, upaya tersebut dibuktikan dalam karya-karyanya setelah sekian lama paradigma berfikir dan konsep tatanan masyarakat berperadaban yang selama ini dipandang hanya sebagai wacana/paradigma dalam angan-angan atau hilang dari peredaran kehidupan implementatif/praktis kaum Muslim. Ia dianggap sebagai Pioner Mufassir di zaman modern. Karya tafsirnya al-Tahrîr wa al-Tanwîr dapat dikelompokkan dalam penafsiran yang didalamnya memuat ringkasan
80
Lihat juga dan baca lebih lanjut Ayâd Khâlid Thabbâ’, ‘Ulamâu wa Mufakkirîn Mu’âshirîn,
lanmahâtu min hayâtihim wa ma’rifatu bimu’allafâtihim, (Dâr al-Qalam, Damaskus, cet-1, 2005) hal.
25. Lihat juga karya ‘Abdul Qâdir Muhammad Shâlih dalam Tafsîr wa Mufassirûn fî ‘Ashri al-Hadîts, menurutnya,Ibn ‘Âsyûr termasuk pakar tafsir umum kontemporer (tafsîr al-‘Âm). Lihat Ismaîl Hasani, Nazhariyyah hal. 75-82. diadopsi dari al-Shahabiy al-‘Atîq, al-Tafsîr wa al-Maqâshid ind
Syaikh Muhammad Thâhir Ibn ‘Asyûr (Dâr Tûnis al-Sanâbil, 1410 H/1989 M) cet-1 hal. 11.
81
Ibnu ‘Âsyûr al-Tâhrîrwaal-Tanwîr” hal. 7-8, Lihat Ismaîl Hasani, Nazhariyyah hal. 90-91. 82
Ibnu ‘Âsyûr al-Tâhrîr waal-Tanwîr” hal. 7-8, Lihat juga Mani’ Abdul Halim, Prof. Dr. “Metodologi Tafsir” [terj. Raja Grafindo persada Jakarta 2006] hal. 314-315
pendapatnya yang bernuansa Ijtihad dan memperbaharui cakrawala berfikir global dengan usaha dan upaya elaborasi paradigma penafsiran yang ada selama ini.83
Ia juga merupakan orang pertama yang menafsirkan al-Qur’ân di daerah (Ifriqiiyah) Tunis, yang digelari pertama kali dengan sebutan Syaikh Islam dan Syaikh Jâmi’al-A’zham, selanjutnya ia menghidupkan kembali Maqâshid al-Syarî’ah setelah al-‘Izz ibn ‘Abd al-Salâm (w. 660 H) dan al-Syatibi (w. 790 H), dan mendasarkan ilmu Maqâshid Syarî’ah Islâmiyah sebagai kajian yang lebih luas dari (ushul fiqh), sebagai pioner perubahan paradigma pengajaran dan manajemennya, salah satunya memasukkan kurikulum pengajaran ilmu-ilmu eksakta (ilmu Kimia,Fisika, al-Jabar dll). Ia menutup mata menghadap Ilahi Rabb di desanya (al Marsa) dalam umur 94 pada hari Ahadbertepatan dengan 13 Rajab 1393/12 Agustus 1973, kemudian didedikasikan sebagai pioner bangsa Tunis pada abad 1400 Hijriah.84
Beberapa pertanyaan besar yang dapat diajukan sehubungan dengan penafsiran Al-Qur’ân adalah; mengapa Al-Qur’ân perlu ditafsirkan? Apa hukumnya? Pra syarat yang dipenuhi seorang mufassir? Untuk dapat menjawab secara tegas perlu ditegaskan bahwa penafsiran dapat membantu manusia untuk mengungkap rahasia-rahasia Allah dan alam semesta baik yang tampak maupun tidak. Penafsiran dapat membebaskan manusia dari belenggu perbudakan baik oleh manusia maupun harta serta membimbingnya untuk berkeyakinan penuh terhadap Allah yang maha adil. Dengan demikian manusia dapat berhubungan baik secara vertikal maupun horizontal. Dalam al-Qur`ân tersirat segala petunjuk yang komprehensif mengenai seluruh aktifitas kehidupan manusia mulai ajaran-ajaran beribadah, etika, transaksi,
83
Ismaîl Hasani, Nazhariyyah ... hal. 75-82. Lihat juga Muhammad Khidr Husain, Tarjamah Ibn ‘Âsyûr dalam (Majalah al-Hidâyah al-Islâmiyyah 2/29) akses juga www.almostafa.com, (Tarâjum al-Mu’allifîn al-Tunîsiyyîn). Lihat lebih lanjut tulisan ‘Abdul Qâdir Muhammad Shâlih (Muhamad Shalih al-Alûsi) dalam al-Tafsîr wa al-Mufassirûn fî al-‘Ashri al-Hadîts, (Dâr al-Ma’rifah Beirut Libanon), cet-1. 2003 M-1424 H, hal. 109-152. lihat juga karya al-Fâdhil Ibn ‘Asyûr dalam al-Tafsîr
wa rijâluhu, (Kairo; Dâr al-Salâm 2007) hal. 242. ia adalah putra dari Thahir Ibn ‘Âsyur yang
meninggal sebelum Ibn ‘Asyur wafat (1973) yaitu sekitar tahun 1970. 84
Ismaîl Hasani, Nazhariyyah ... hal. 113-128. lihat dan baca juga tulisan Ayâd Khâlid al-Thabbâ’, dalam Muhammad Thâhir Ibn ‘Âsyûr ... hal. 78-87. bandingkan dengan Abdul ‘Aziz ibn ‘Abd al-Rahman al-Rabî’ah, ‘Ilm Maqâshid al-Syâri’, (Maktabah al-Mulk Mamlakah al-‘Arabiyah, cet 1 2002/1423), hal.73-85.
hukum, perang dan damai, sistem ekonomi utama yang diwahyukan Allah sebagai anugrah bagi umat manusia.85
Terdapat dua istilah yang digunakan dalam penafsiran Al-Qur’ân yaitu tafsir dan ta’wîl. Dua istilah ini dapat dijelaskan perbedaannya. Menurut terminologi tafsir berarti klarifikasi, eksplanasi, dan ilustrasi, seperti termaktub dalam Al-Qur`ân (QS.al-furqân:33).86 Kemudian kata tafsir mengacu kepada pemahaman secara komprehensif tentang kitab Allah yang diwahyukan kepada Nabi SAW, adanya keterpautan antar makna asli dan manqûl (yang tidak menjadikan ambiguitas) secara ringkas didalamnya.87
Dari uraian diatas dapat diambil pengertian bahwa (ilmu) tafsir ilmu yang mempelajari kitabullah dan menerangkan makna didalamnya dengan menggali hukum-hukumnya dan mengambil hikmah dan pelajarannya bersandar pada ilmu bahasa, nahwu, sharf, ilmu bayân, ushûl fiqh, dan juga mengetahui sebab-sebab turunnya ayat serta tidak mengabaikan Nâsikh mansûkh. Tafsir dapat disebut juga dengan ilmu penelitian tentang al-Qur’ân kemudian disebut dengan penafsiran.88
Disiplin kajian ilmu tafsir memberikan kontribusi dan pengaruh besar terhadap keilmuan Islam seperti jurisprudensi Islam, tasawuf, falsafah. Urgensi dan relevansinya yang dibutuhkan oleh masyarakat muslim sepanjang masa. Khâlid abdul Rahman al-’Akk,89 dan ’Abdul Hayy Farmâwi,90 keduanya disinyalir mengadaptasi
85
Lihat pengantar tafsir Thameem Ushama, Metodologies the Qur’anic Exegesis, terj. Hasan Bashri dan Amroeni, Riora Cipta, Jakarta, 2000, hal. 3-4.
86
Mannâ’ Khâlîl al-Qaththân, Mabâhits fî ulûm al-Qur’ân, Mu’assasah al-Risâlah, Beirut, 1983, hal. 323. lihat redaksi ayat yang secara bahasa dalam (QS. 25 :33). Lihat juga Yusuf al-Qaradhâwi, berinteraksi dengan al-Qur`ân, Gema Insani Press , Jakarta 1999, hal. 233.
87
Ibnu ‘Âsyur “Muqaddimah al-Ûlâat-Tahrîrwaat-Tanwîr” hal. 11-13 88
Khâlid ‘Abd al-Rahmân al-‘Akk, Ushûl al-Tafsîr wa Qâwâ‘iduhu, hal. 32-40. pendekatan nahwu dilakukan oleh Abû aswad As-Du’aliy (w. 69 H), Nashr bin ‘Âshim (w’ 89 H), yahya bin Yamar (w. 129 H), Abu ‘Amr bin al-‘Ila (w. 145), dan Isa bin Umar ats-Tsaqafy (w. 149 H).sayangnya kitab tafsir yang muncul di abad awal sampai pertengahan abad ke 2 hijriah hilang dan tidak sampai kepada kita kecuali dalam bentuk kutipan dibuku-buku Ulama’ yang muncul belakangan. Lihat juga Badruddin Muhammad Abdullâh az-Zarkasyî, al-Burhân fî ulûm al-Qur’ân, Bâb al-Halabi, jld 1, 1972, hal., Muhammad Ali Shabûniy, al-Tibyân fî ulûm al-Qur’ân, Maktabah al-Ghazâli Damaskus, 1401 H, hal. 61.
89
Khâlid ‘Abdur Rahmân al-‘akk, ia juga mengadaptasi dari karya al-Shabûny, al-Tibyân fî ulûm al-Qur’ân, lihat lebih lanjut dalam karya al-‘akk Ushûl al-Tafsîr wa Qawâ‘iduhû, hal. 27.
pandangan as-Suyûthi,91 dan pandangan ini bersumber dari pendapat al-Asfahâni yang menyatakan bahwa hasil karya manusia yang paling mulia adalah tafsir al-Qur’ân. Karena kemuliannya dapat dilihat dari tiga aspek berikut ini:
Pertama, dari sisi objek kajiannya, ilmu tafsir adalah kalam Allah Ta’âla yang merupakan sumber dari segala hikmah dan keutamaan (syaraf ‘ilm syarafa al-ma’lûm). Kedua, dari sisi tujuannya, ilmu tafsir berpegang teguh pada urwah al wutsqâ (agama) untuk mencapai kebahagiaan yang abadi. Dengan ilmu tafsir seseorang akan mengetahui maksud dan kehendak Allah Ta’ala dalam kalam-Nya yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., mengetahui perintah-perintah-Nya, sehingga mampu mengerjakannya dengan baik, dan mengetahui larangan-larangan-Nya sehingga ia mampu menjauhinya, bekal inilah (takwa) yang menghantarkan seseorang kepada sa’âdah didunia dan akhirat. Ketiga, sisi kebutuhan terhadap ilmu tafsir ini dijelaskan bahwa kesempurnaan agama maupun dunia sekarang dan yang akan datang pasti membutuhkan penjelasan ilmuilmu syara’dan pengetahuannya terhadapnya (agama) yang bertolak pada pengetahuan terhadap Al-Qur’ân. Mujahid berkata: “Makhluk yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling mengetahui kitab Allah yang diturunkan”.92
Urgensi ilmu tafsir ini terlihat jelas karena pertautannya dengan kalam Allah, dan ilmu tafsir merupakan induk dari pelbagai ilmu; baik ilmu syara’ maupun umum. Para ulama dari berbagai disiplin ilmu tidak dapat melepaskan diri dari ilmu tafsir ini. Seperti halnya seorang Fakih mesti harus menguasai ilmu tafsir sebelum beristimbat hukum. Begitu juga mutakallim harus mampu menguasai ilmu ini sebelum beristidlâl untuk memperkuat ajarannya, demikian juga seorang muhaddits, sufi, dan seterusnya.
90
Abd Hâyy Farmâwi, al-Bidâyah fî Tafsîr al Mawdhû'î [Kairo, al- Hadharah al-arabiah] cet. Ke-2, 1977, hlm 12-13/ www.hadielislam.com
91
Al-Suyûthi, al-Itqân fî ulûm al-qur’ân, jld. 4, hal. 173. 92
Abd Hâyy Farmâwi, al Bidâyah hal. 12/ www.hadielislam.com. Ia mengatakan setiap kesempurnaan urusan agama dan dunia, baik jangka pendek maupun jangka panjang, tidak akan sempurna kecuali dengan bantuan ilmu-ilmu syari’at dan pengetahuan-pengetahuan tentang agama. Ilmu dan pengetahuan tersebut haruslah diambil melalui hadits yang tidak dicampuri oleh kekeliruan dan diambil pula dari kitab yang diturunkan kepada orang yang terpercaya (Muhammad saw.), yaitu Al-Qur’ân.
Yusuf Qarâdhâwi menekankan bahwa al-Qur`ân diturunkan dengan bahasa arab yang mengandung banyak kemungkinan arti, dari Sharîh, Kinâyah, hakikat, Majâz, khâs ‘âm, mutlak dan muqayyad, Manthûq- Mafhûm, dan apa yang dipahami dengan isyarat dan dengan ibarat. Kemampuan dalam memahaminya berbeda-beda. Ada yang mampu memahami makna tampak (Zhâhir) dan makna dibalik teks (Bâthin) [ada juga yang memahaminya dengan makna dasar dan relasional/leksikal], juga terdapat pula yang berupaya memahaminya secara metaforis. Demikian juga keterpautan makna dengan konteks sejarah sebab turunnya ayat [leksikal] dikorelasikan relevansinya pada kehidupan kekinian. Karenanya, manusia sangat membutuhkan ilmu tafsir.93
Dalam hal ini ’Abdul Hâyy Farmâwi juga demikian, dalam karyanya ia menyatakan bahwa ilmu tafsir memiliki urgensi yang tidak kalah yaitu; mengetahui segi-segi kemu’jizatan Al-Qur’ân, sehingga ketika orang menelaahnya akan mengimani kebenaran risalah kenabian Muhammad saw.94
Prasyarat bagi mufassir yang ditekankan Ibnu ‘Âsyûr sebelum menafsirkan