• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan Perencanaan Pembangunan Berkelanjutan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.6. Konsep dan Strategi Pembangunan Berkelanjutan

2.7.1 Pendekatan Perencanaan Pembangunan Berkelanjutan

Jika mengadopsi definisi pembangunan berkelanjutan dari WCED (World

Comission on Environment and Development) yang menyebutkan bahwa

pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri maka ada empat prinsip dalam mencapai pembangunan yang harus dipenuhi yang meliputi:

a) pemenuhan kebutuhan manusia (fulfillment of human needs)

b) memelihara integritas ekologi (maintenance of ecological integrity)

c) keadilan sosial (social equity)

d) kesempatan menentukan nasib sendiri (self detennination)

Empat komponen yang diajukan tersebut diatas dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Pemenuhan kebutuhan dasar meliputi:

- kebutuhan materi - kebutuhan non-materi.

2. Pemeliharaan Lingkungan meliputi: - konservasi

- mengurangi konsumsi

3. Keadilan Sosial mencakup:

- keadilan masa depan

- keadilan masa kini

4. Kesempatan menentukan nasib sendiri dapat berupa: - masyarakat mandiri

- partisipatori demokrasi

2.7.1.1. Pemenuhan Kebutuhan Dasar

Dalam kaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar, yang disebut kebutuhan materi termasuk didalamnya sandang, pangan dan papan. Kebutuhan non-materi meliputi rasa aman, hak asasi manusia, memiliki kesempatan untuk berkumpul dan mengekpresikan pendapat. Pemenuhan kebutuhan materi sangat penting karena kemiskinan dipandang baik sebagai penyebab niaupun hasil dari penurunan kualitas lingkungan. Hal in sejalan rumusan UNDP (1997:1) yang mendefinisikan human development as expanding the choices for all people in

society. This means that men and women particularly the poor and vulnarable-

Fokus perhatian terhadap kaum miskin kini menjadi hal yang esensial. Kerusakan lingkungan seperti menipisnya tanaman bakau, terumbu karang, erosi tanah, abrasi pantai dan sedimentasi, kerusakan lahan di beberapa daerah penambangan disebabkan oleh rendahnya kondisi sosial ekonomi masyarakat. Tanaman bakau ditebang untuk kayu bakar, terumbu karang dieksploitasi untuk pondasi bangunan, lahan konservasi dibuka untuk daerah pertanian. Rusaknya lingkungan juga menyebabkan timbulnya kemiskinan dan penurunan kualitas hidup, karena masyarakat tidak lagi memiliki sumber daya alam yang bisa dijadikan aset untuk menopang kehidupan. Misalnya kondisi laut yang sudah over

fishing, daerah bekas penambangan yang telah rusak seperti di Hampalit,

Kalimantan Tengah, kawasan industri yang polluted, hutan yang telah rusak seperti di Kalimantan dan Riau dan sebagainya.

Kebutuhan non-materi yang dicerminkan dalam suasana keterbukaan, bebas dari rasa tertekan, demokratis yang merupakan syarat penting bagi masyarakat untuk bisa mengambil bagian dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka. Keikutsertaan masyarakat akan mampu meningkatkan kualitas keputusan, karena sesungguhnya masyarakat adalah para pakar lokal dalam arti lebih memahami kondisi dan karakter lingkungan disekitar tempat tinggal mereka. Adanya kesempatan menyampaikan pendapat akan menumbuhkan perasaan sebagai part of the process. Kebutuhan non-materi ini terkait erat dengan komponen keempat yakni partisipatori demokrasi.

2.7.1.2. Pemeliharaan Lingkungan

Berkaitan dengan pemeliharaan lingkungan, prinsip yang pertama adalah konservasi; maksudnya adalah perlindungan lingkungan. Lingkungan, baik sebagai sumber daya maupun ruang harus dilindungi, karena masing-masing memiliki keterbatasan daya dukung. Jika sumber daya dieksploitasi melebihi daya dukung akan terjadi kerusakan. Setiap usaha/kegiatan harus di atur agar tidak menimbulkan dampak bagi lingkungan sebagai ruang. Prinsip ini sebenarnya sangat terkait dengan prinsip sebelumnya, dimana kerusakan lingkungan akan rnenghambat pemenuhan kebutuhan manusia. Bahkan jika kerusakan telah

sedemikian parah akan mengancam eksistensi manusia itu sendiri. Hal ini bisa kita lihat didaerah bekas penambangan, daerah industri yang berpolusi tinggi,

sungai yang berpolusi yang tidak lagi bisa dimanfaatkan untuk memenuhi

kebutuhan manusia bahkan menimbulkan gangguan kenyamanan dan kesehatan. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa penyebab pencemaran dan kerusakan lingkungan merupakan salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Prinsip mengurangi konsumsi bermakna ganda. Pertama, mengurangi konsumsi ditujukan pada negara maju sehubungan dengan pola konsumsi energi yang besar yang menyebabkan terjadinya polusi dan penurunan kualitas lingkungan. Negara-negara maju yang jumlah penduduknya hanya sepertiga penduduk dunia tetapi konsumsi energinya mencapai dua pertiga konsumsi energi dunia. Pada negara-negara berkembang, yang terjadi adalah sebaliknya. Jumlah penduduknya mencapai dua pertiga penduduk dunia tetapi konsumsi energinya hanya sepertiga. Dalam konteks ini para pakar lingkungan menjuluki negara maju sebagai high consumptioncountries, sedangkan negara berkembang sebagai less consumptioncountries.

Kedua, perubahan pola konsumsi merupakan seruan yang ditujukan

kepada siapa saja (sebagai individu) baik di negara maju maupun negara berkembang agar mengurangi beban bumi. Seperti diketahui, menurut temuan

UNEP (1995) pencemaran udara di Jakarta yang menempati urutan ketiga setelah Kota Mexico dan Bangkok 70% disumbang oleh emisi bergerak (kendaraan bermotor). Pemecahan utamanya seharusnya merubah pola berkendaraan dari pribadi ke umum atau berkelompok (car pool). Sampah yang merupakan salah satu persoalan pelik di perkotaan hanya bisa dipecahkan jika ada perubahan pola konsumsi barang-barang yang non-plastic dan less waste. Wackernagel (1997)

dalam penelitianya yang dituangkan dalam laporan berjudul Ecological Footprints

of Nations menemukan bahwa pada Tahun 1996, konsumsi sumber daya alam

penduduk di 52 negara yang merupakan 80% penduduk dunia telah melebihi

sepertiga kemampuan alam untuk memulihkannya. Pada tahun 1992 over

memulihkan. Persoalan lingkungan yang dipicu oleh pola konsumsi dalam bentuk pencemaran dan kemacetan lalu lintas diperkotaan akan memicu keberingasan sosial, sikap yang tidak saling menenggang.

Dampak lingkungan dan sosial yang timbul akibat Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) telah menjadi fenomena umum di kota-kota besar seperti Jakarta (Bantargebang), Surabaya (Keputih, Sukolilo), Semarang (Jatibarang) dan bahkan menjurus menjadi konflik vertikal. Resistensi terhadap TPA oleh penduduk lokal telah menjadi fenomena umum. Dalam konteks pemecahan persoalan sampah, maka perubahan pola konsumsi merupakan salah satu pendekatan yang harus mulai dilakukan.

2.7.1.3. Keadilan Sosial

Berkaitan dengan keadilan, prinsip keadilan masa kini menunjukkan perlunya pemerataan dalam prinsip pembangunan. Tanpa pemerataan akan menimbulkan ketimpangan sebagaimana yang terjadi pada pembangunan di era Orde Baru dimana yang menikmati hasil pembangunan hanya sekelompok kecil masyarakat. Keadilan masa kini juga berdimensi luas termasuk didalamnya pengalokasian sumber daya alam antara daerah dan pusat. Keinginan memisahkan diri pada daerah-daerah yang kaya sumber daya alam seperti Riau, Aceh, Papua menjadi indikasi adanya perasaan diperlakukan tidak adil atas pengalokasian sumber daya alam.

Sedangkan keadilan masa depan berarti perlunya solidaritas antar generasi. Hal ini ditunjukkan perlunya pengakuan akan adanya keterbatasan (limitations)

atas sumber daya alam yang harus diatur penggunaanya agar tidak mengorbankan kepentingan generasi yang akan datang. Komitmen untuk melindungi ekosistem itu sebenarnya harus tertuang dalam prinsip berbangsa dan bernegara yakni pada

UUD 1945. Pasal 33 ayat 3 dari UUD 1945 menyebutkan bahwa bumi air dan

kekayaaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai negara dan dipergunakan

untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pasal ini baru menyiratkan

penggunaan sumber daya alam untuk kesejahteraan masyarakat (pro jobs, pro people), tetapi tidak menyiratkan perlunya dipergunakan secara rasional agar tidak

merusak tata lingkungan hidup (pro nature). Karena itu amandemen UUD 1945 harus memasukkan klausul perlunya perlindungan terhadap fungsi lingkungan.

2.7.1.4. Penentuan Nasib Sendiri

Penentuan nasib sendiri meliputi prinsip terwujudnya masyarakat mandiri dan partisipatori demokrasi. Masyarakat mandiri (self reliant community) adalah masyarakat yang mampu mengambil keputusan sendiri atas hal-hal yang berkaitan dengan nasib dan masa depanya. Hal ini termasuk penentuan alokasi sumber-sumber daya alam. Sedangkan prinsip partisipatori demokrasi adalah adanya keterbukaan dan transparansi. Dengan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengambil bagian dalam setiap proses pengambilan keputusan yang menyangkut nasib mereka maka masyarakat akan merasa menjadi bagian dari proses sehingga tumbuh rasa memiliki dan pada giliranya bisa memperoleh manfaat atas perubahan yang terjadi disekitar mereka.

Seperti diketahui, ketidakpuasan pada pemerintah pusat yang diekspresikan dalam bentuk keinginan untuk memisahkan diri, protes dan demonstrasi dipicu oleh pola pengambilan keputusan yang otokratis, sentralis dan

top down. Ruang untuk dialog yang mempertemukan keinginan masyarakat

(daerah) dengan para pengambil keputusan hampir tidak ada, karena pintu-pintu demokrasi ditutup.

Prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan diatas, akan bisa terwujud jika

didukung oleh Pemerintahan yang baik (good governance). Governance

dikategorikan sebagai baik jika sumbersumber daya dan masalah-masalah publik dikelola secara efektif, efisien yang merupakan respon terhadap kebutuhan masyarakat. Good governance sebagaimana dirumuskan oleh ICEL (1999) dalam Sudharto (2010) mempersyaratkan lima hal:

a) Lembaga perwakilan yang mampu menjalankan fungsi kontrol dan penyalur

aspirasi masyarakat (effective representative system).

c) Birokrasi yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan memiliki integritas (reliable and responsive bureaucracy).

d) Masyarakat sipil yang kuat sehingga mampu melaksanakan fungsi kontrol

(strong and participatory civil society). Masyarakat yang partisipatif yang dicerminkan dalam bentuk public pressure akan membantu penegakan hukum lingkungan.

e) Desentralisasi dan lembaga perwakilan yang kuat (democratic

decentralization).

UNDP (1997:3) menekankan bahwa good governance is, among other

things, participatory, transparent and accountable. Good governance ensures that political, social and economic priorities are based on broad consensus in society and the voices of the poorest and the most vulnarable are heard in decision-making over the allocation of development resources

Dari uraian tentang prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan diatas, nampak bahwa konsep ini menghendaki suatu transformasi dalam pola kehidupan

dan kelembagaan. Menurut Roseland (1990) dalam Sudharto (2010), konsep

pembangunan berkelanjutan mengarahkan pada prinsip-prinsip berikut ini:

a) Pertumbuhan ekonomi, peningkatan derajat kesehatan, dan pengenalan

teknologi baru dapat dilakukan dengan wawasan lingkungan.

b) Peran Pemerintah dalam mewujudkan integrasi antara prinsip ekonomi dengan prinsip ekologi.

c) Asosiasi industri dan perdagangan dapat didorong untuk mewujudkan

integrasi antara ekonomi dengan ekologi.

d) Bentuk pengaturan kelembagaan yang diperlukan untuk mengajak para

2.7.2. Sumbangan Teori-Teori Perencanaan Terhadap Pembangunan

Dokumen terkait