• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDEKATAN USUL AL-FIQH

Dalam dokumen NAHDATUL ULAMA DAN ISLAM DI INDONESIA (Halaman 37-39)

Seperti dikemukakan di muka ada dua pola pemahaman keagamaan yang berkembang pada awal sejarah Islam yaitu pihak yang meneguhkan peran para sahabat sebagai mata rantai transmisi pemahaman terhadap sumber pokok ajaran agama dan pihak lain yang kurang atau tidak mengabaikan peran tersebut. Namun dalam perkembangannya kemudian pola ini lebih banyak diterapkan dalam bidang kalam, sebab tidak sedikit ulama fikih golongan mu'tazilah yang tetap

menempatkan para sahabat Nabi sebagai rujukan dalam upaya mencari sumber pemahaman ajaran agama antara lain Qadi 'Abd al-Jabbar (915) dan Abu al-Husain al-Basri (1044).142 Bahkan sampai pada tingkat tertenlu pendekatan logika rasional ilmu kalam yang berkembang pesat ketika filsafat Yunani mulai memasuki dunia Islam melalui pener- jemahan akhir abad dua Hijriah, maka bidang fiqih pun tidak luput dari gelombang itu.143 Namun tidak lantas ha- dis Nabi Muhammad menjadi tidak diakui seperti halnya sebagian pendapat ahli ilmu kalam. Gelombang pendekatan analogi rasional yang memasuki fikih, seperti dikemukakan Imam Fakhr al-Din al-Razi (1210),144 karena ahl-hadis)145 mes- kipun mereka hafal hadis-hadis Nabi namun mereka tidak

mampu merangkum hadis-hadis itu secara sistematis dan logis, sehingga mereka seringkali tidak mampu menjawab soal-soal hukum yang berkembang di tengah masyarakat. Salah satu aspek yang memberi konstribusi pendekatan logika rasional ialah munculnya ilmu usul al-Fiqh yang men- sistemasi pokok-pokok teori dan dalil ilmu fikih ke dalam kesatuan teori dan kaidah-kaidah hukum.

Pendekatan usul al-Fiqh yang menggunakan asumsi ke- bahasaan dan logika rasional untuk menarik kesimpulan teoritis sehingga tersusun dalil-dalil pokok untuk menge- tahui ditil masalah menunjukkan adanya hubungan dengan filsafat dan kalam. Salah satu pengaruhnya ialah munculnya dua pola pendekatan ilmu usul al-fiqh yaitu aliran mutakal- limin (ahli ilmu kalam) dan aliran fuqaha atau dikenal pula aliran ahnaf (dari Abu Hanifah).146 Penulis buku usul al-fiqh aliran pertama antara lain Imam al-Sayfi'i, Abu Hasan al- Asy'ari, Abu Bakr al-Baqillani, al-Ghazali, Qadi 'Abd al- Jabbar, Abu Husain al-Basri, dan Fakhr al-Din al-Razi.147 Sedangkan penulis yang beraliran kedua antara lain al- Maturidi, al-Kurkhi, al-Jassas, Abu Zaid al-Dabusi, al-Sar- khasi, dan Zain al-Din ibn Nujaim al-Hanafi.148

Pola pendekatan usul al-Fiqh ini dengan sendirinya me- lahirkan fenomena lain dari perpecahan yang tejadi dalam kalam antara ahlussunnah waljamaah dengan aliran mu'ta- zilah; mereka sama-sama menghargai hadis Nabi Muham-

mad maupun tradisi sahabat Nabi yang telah melembaga dalam kehidupan sosial keagamaan mereka yang dikenal dengan istilah ijma' sahabat. Hanya saja yang pertama tetap menerapkan hadis Nabi Muhammad maupun sunnah sahabat sebagai dasar untuk merumuskan konsep-kon- sep ajaran kalam, sedang yang lain tidak demikian. Bahwa aliran ahlussunnah waljamaah dengan aliran mu'tazilah bisa sefaham dalam banyak hal tentang fikih, namun tetap tidak bisa sefaham tentang kalam. Perselisihan keagamaan yang tejadi di Indonesia sejak awal abad ini justru terjadi dalam soal-soal ditil fikih itu. Hal itu sebenar- nya bukan merupakan polarisasi mazhab, sebab di dalam mazhab ahlussunnah waljamaah sendiri perbedaan itu bisa saja tejadi. Adanya mazhab-mazhab fikih di lingkung- an sunni sendiri merupakan indikasi adanya perbedaan dan polarisasi itu. Jika dilihat dari segi ini perbedaan faham yang terjadi antara NU dan sayap pesantren lainnya de- ngan aliran baru nonpesantren bukanlah karena perbedaan aliran mazhab yang dianut, setidaknya bila hal itu dikait- kan dengan persoalan kalam. Perbedaan faham yang terjadi sebenarnya masih dalam lingkup sunni (ahlussunnah wal- jamaah), sebab mereka tidak memperdebatkan perbedaan tentang kalam.149 Beberapa masalah yang muncul yang akhirnya disengketakan ialah soal ijtihad, taqlid, sunnah, bid'ah dan soal-soal ditil lainnya tentang fikih dan ibadah. Dalam soal ijtihad dan taqIid, misalnya pernyataan pintu ijtihad sudah tertutup terutama pada zaman Imam Hara- main al-Juwaini dan al-Ghazali sebenarnya bukanlah dimak- sudkan sebagai ketidakmungkinan adanya ijtihad baru, tetapi berkaitan dengan konteks zaman itu. Kebebasan ijti- had temyata menimbulkan dampak yang luas dengan mun- culnya beragam perbedaan faham dalam skala komplek- sitas, bobot dan keragaman yang bertambah sulit untuk diselesaikan pemecahannya. Etik ilmiah untuk berijtihad tidak lagi menjadi perhatian yang memadai, setiap orang seakan bebas 'naik panggung' melakukan ijtihad. Kondisi ini tentu saja membawa dampak negatif. Namun seruan untuk membatasi ijtihad itu sendiri bukannya tanpa akibat

negatif pula, yaitu berhentinya semangat ilmiah ummat Islam. Kritik pertama datang dari ibn Taymiyyah (f 150 tahun sesudah al-GhazaIi) yang dengan gigih menganjurkan ummat Islam untuk melakukan ijtihad. Meskipun demikian dia toh tetap menyatakan dirinya bermazhab yaitu meng- ikuti Imam Ahmad ibn Hanbal, sebab metode istinbat hu- kum yang digunakan mengacu kepada metode Ahmad ibn Hanbal.

Di sinilah sebenamya akar dari issue ijtihad dan taqlid itu. Kalangan NU dan pesantren lainnya lebih terkesan hati-hati tidak bergairah untuk menjaga agar rentangan perbedaan yang muncul tidak bertambah lebar dengan menekankan penggunaan metode analisis soal-soal keagamaan mengacu kepada metode yang telah dikembangkan para imam ma- zhab itu, sebab sampai dewasa ini metode tersebut masih dianggap yang paling mu'tabar (baku), belum muncul me- tode baru yang orisinal.150 Sementara kalangan aliran baru nonpesantren lebih vokal dengan anjuran ijtihad dan me- ninggalkan taqlid, pada hal seiring dengan itu tidak atau belum memunculkan metode maupun hasil ijtihad yang baru. Issue yang muncul masih berkisar soal lama yang sudah muncul dari kalangan mazhab terdahulu dengan metode yang mereka kembangkan.

Walaupun kedua pihak mengesankan sikap yang ber- lainan, mereka belum atau masih kurang memberi kon- trubusi yang memadai bagi pengembangan pemikiran ke agamaan. Sementara soal-soal furu' dilontarkan sebagian mereka dianggap karya ijtihad, kalangan lain menganggap soal itu sebagai status quo yang bisa diterima ataupun di- tolak, sebab mengenai soal itu merupakan soal ijtihad yang boleh diikuti dan boleh juga tidak. NU tidak mau diper- salahkan karena mengikuti pendapat mazhab atau imam tertentu dan sebaliknya juga tidak menyalahkan orang lain yang pendapatnya berbeda dengan pendapat yang diikuti NU.

Sikap kehati-hatian ini bisa dilihat dari pernyataan ra'is akbar K. H. Hasjim Asj'ari yang menganjurkan agar para ulama NU meneliti mata rantai transmisi ilmu pengetahuan

keagamaan dari guru ke guru sebelumnya yang diakui

memiliki otoritas dan mu'tabar.151 Tidak gegabah mengambil kesimpulan hanya dengan membaca Qur'an dan hadis tan- pa diikuti kemampuan pemahaman bagaimana ulama ter- dahulu terutama generasi sahabat Nabi dan tabi'in (ge- nerasi sesudah sahabat Nabi) menginterpretasikan ayat-ayat Qur'an maupun hadis Nabi itu. Sikap langsung mengambil kongklusi dan mengabaikan transmisi interpretatif dari ula- ma terdahulu sebagai sikap ilmiah yang tidak memadai. Untuk itu maka perlu dilakukan kajian terhadap referensi lama yang membahas masalah-masalah yang timbul yang pernah dilakukan ulama generasi sahabat yang kemudian dibahas pula oleh generasi berikutnya dan seterusnya. NU pun kemudian menetapkan buku-buku mu'tabar yang di- anggap memenuhi standar kriteria di atas. Namun sayang akibat dari sikap NU itu lembaga pendidikan pesantren tidak cukup bersemangat mengembangkan dirinya menjadi lembaga kajian yang mampu menelaah secara kritis pro- blematik yang dihadapi. Para kyai umumnya memiliki pe- ngetahuan yang luas dari hasil kajian mereka terhadap referensi lama namun mereka tak mampu mengapresiasi- kan pengalaman itu menjadi kajian kritis orisinal yang mampu menjawab tantangan zaman. Tidak kurang dari lima dasawarsa terakhir ini hanya sedikit sekali ulama NU yang mampu mengapresiasikan pengalaman ilmiah mereka ke dalam bentuk kajian kritis melalui penerbitan buku dan berkala lainnya. Berbeda dengan generasi pendahulu NU, muncul ulama dari lingkungan pesantren yang mampu me- nuangkan pemikiran ilmiah mereka meskipun karya itu tidak ditulis ketika mereka melakukan kegiatan akademis di pesantren tetapi di luar negeri seperti Kiyai Ihsan Kediri dan Kyai Nawawi Banten.

Dalam dokumen NAHDATUL ULAMA DAN ISLAM DI INDONESIA (Halaman 37-39)