BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Pendidikan Agama Islam
2) Tujuan Pendidikan Agama Islam
3) Peran dan fungsi Pendidikan Agama Islam. 4) Metode Pendidikan Agama Islam.
b. Anak Tunagrahita
1) Pengertian Tunagrahita (Gangguan mental). 2) Klasifikasi Tunagrahita
3) Karakteristik Tunagrahita.
5) Masalah Anak Tunagrahita. c. Model Pembelajaran
1) Pengertian model pembelajaran
2) Model pembelajaran Pendidikan Agama
3) Faktor-faktor dalam memilih model pembelajaran. 4) Model pembelajaran Pendidikan Agama.
3. Bab III Paparan Data dan Temuan Penelitian: Paparan Data:
a. Gambaran Umum Sekolah Luar Biasa Negeri Pembina Yogyakarta. b. Gambaran umum Objek Penelitian
c. Gambaran Kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Luar Biasa Negeri Yogyakarta.
d. Materi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SLB Negeri Pembina Yogyakarta.
e. Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SLB Negeri Pembina Yogyakarta.
f. Faktor Pendukung Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SLB Negeri Pembina Yogyakarta.
g. Faktor Penghambat Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SLB Negeri Pembina Yogyakarta.
h. Tingkat Keberhasilan Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SLB Negeri Pembina Yogyakarta.
a. Kompetensi beragama yang ingin dicapai dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada anak Tunagrahita di Sekolah Luar Biasa Negeri Yogyakarta.
b. Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada anak Tunagrahita di Sekolah Luar Biasa Negeri Pembina Yogyakarta.
c. Faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan model pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Luar Biasa Negeri Pembina Yogyakarta.
5. Bab V Penutup, meliputi:
Bab ini merupakan bab penutup atau bab akhir dari penyusunan skripsi yang penulis susun. Dalam bab ini penulis mengemukakan kesimpulan dari seluruh hasil penelitian, saran-saran ataupun rekomendasi dalam meningkatkan pelaksanaan pembelajaran baik sesuai dengan model metode yang telah diterapkan di Sekolah Luar Biasa Negeri Pembina Yogyakarta.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994:232) kata pendidikan berasal dari kata didik, lalu kata ini mendapatkan awalan pe dan akhiran an sehingga menjadi pendidikan, yang artinya “ Proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam mendewasakan manusia, melalui upanya pengajaran dan pelatihan, atau proses perbuatan, cara mendidik”.
Sedangkan pengertian pendidikan agama Islam dalam (Kurikulum PAI, 3: 2002) seperti yang dikutip oleh Abdul Majid, (2004:9) mengatakan pengertian pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubunganya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.
Menurut (Daradjat, 1987:87) pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan pengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh, lalu menghayati tujuan, yang
pada akhirya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.
Sedangkan (Yusuf, 1986:35) mengartikan pendidikan agama Islam sebagai usaha sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan dan ketrampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwasanya pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk menyakini, memahami dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan, bimbingan, pengajaran atau pelatian yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2. Tujuan Pembelajaran Penidikan Agama Islam
Menurut (Daradjat, 2011:29) tujuan ialah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan telah selesai. Dalam (Kurikulum PAI : 2002) seperti yang telah dikutip oleh Abdul Majid dan Dian Adayani, pendidikan disekolah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengalaman serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaan, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjudkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Ada beberapa tujuan pendidikan agama Islam yang dipaparkan oleh (Daradjat, 2011:30-33)
a. Tujuan umum adalah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik pengajaran, baik dengan pengajaran atau dengan cara lain menuju menjadi Insan Kamil.
b. Tujuan akhir adalah menjadi Insan Kamil yang mati dan akan menghadap Tuhanya.
c. Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal.
d. Tujuan operasional adalah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu.
Sedangkan Pendidikan Agama Islam di SMPLB bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, serta pengalaman peserta didik tentang Agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaan kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Direktorat Pembinaan SLB 2003: 8).
Dari keterangan diatas dapat diambil kesimpulan bahwasanya tujuan pendidikan agama Islam adalah menghasilkan manusia yang
berguna bagi dirinya dan masyarakat serta senang dan gemar mengamalkan dan mengembangkan ajaran Islam dalam berhubungan dengan Allah dan dengan manusia sesamanya, dan untuk kepentingan dunia kini dan di akhirat nanti.
3. Peran dan Fungsi Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama dalam sekolah sangat penting untuk pembinaan dan penyempurnaan pertumbuhan kepribadian anak didik, sebagai penyempurna pendidikan agama yang telah diberikan oleh orangtuanya. Dengan pendidikan agama akan membentuk karakter akhlakul karimah bagi siswa sehingga mereka mampu memfilter mana pergaulan yang baik dan mana yang tidak baik. Khususnya terhadap para siswa, pendidikan agama sangat penting sebagai benteng sejak dini dari hal-hal yang tidak baik. Pendidikan agama yang diberikan sejak kecil, akan memberikan kekuatan yang akan menjadi benteng moral dan polisi yang mengawasi tingkah laku dan jalan hidupnya dan menjadi obat anti penyakit/ganguan jiwa (Daradjat, 2009:131).
Pendidikan dan pengajaran bukanlah memenuhi otak anak didik tetapi maksudnya adalah mendidik akhlak dan jiwa mereka, dengan kesopanan yang tinggi, rasa fadilah (keutamaan), mempersiapkan mereka untuk kehidupan yang seluruhnya ikhlas dan jujur. Pada akhirnya tujuan pendidikan Islam itu tidak terlepas dari tujuan nasional yang menciptakan manusia Indonesia seutuhnya, seimbang kehidupan duniawi dan ukhrawi. Dalam al-Qur'an sudah terang dikatakan bahwa manusia itu diciptakan
untuk mengabdi kepada Allah Swt. Hal ini terdapat dalam Al-qur’an Surat Adz-zariyat : 56, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka menyembah-Ku”. Pendidikan agama yang menyajikan kerangka moral sehingga seseorang dapat dapat membandingkan tingkah lakunya. Pendidikan agama yang terarah dapat menstabilkan dan menerangkan mengapa dan untuk apa seseorang berada di dunia ini. Pendidikan agama menawarkan perlindungan dan rasa aman, khususnya bagi para siswa dalam menghadapi lingkungannya. Agama merupakan salah satu faktor pengendalian terhadap tingkah laku anak-anak didik hari ini. Hal ini dapat dimengerti karena agama mewarnai kehidupan masyarakat setiap hari. Dari uraian di atas jelaslah peran pendidikan agama sangat besar pengaruhnya bagi para siswa sebagai alat pengontrol dari segala bentuk sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari- hari. Pendidikan agama mengarahkan kepada setiap siswa untuk komitmen terhadap ajaran agamanya.
Sedangkan fungsi pendidikan agama Islam di sekolah atau dimadrasah yang dituliskan (Majid & Andayani, 2004:134), yakni sebagai berikut :
a. Pengembangan yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya kewajiban menanamkan keimanan dan ketakwaan di lakukan oleh setiap orang tua dalam keluarga. Sekolah berfungsi untuk menumbuh kembangkan lebih lanjut dalam diri anak
melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan agar keimanan dan ketakwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.
b. Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagian hidup didunia dan di akhirat.
c. Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama islam. d. Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-
kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari. e. Pencegahan, yaitu untuk menangkal, hal-hal negatif dari
lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.
f. Pengajaran, tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum system dan fungsional.
g. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang agama islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.
Pembelajaran merupakan suatu cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan. Berikut ini adalah macam-macam model pembelajaran yang terbaru:
a. Model Ceramah
Adalah sebuah model pembelajaran dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Model pembelajaran ini bisa dikatakan sebagai model pembelajaran yang paling ekonomis dalam menyampaikan informasi serta paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literature.
b. Model Diskusi
Model pembelajaran diskusi merupakan model pembelajaran yang sangat berkaitan dengan pemecahan masalah. Model pembelajaran ini sering disebut sebagai diskusi kelompok dan resitasi/pelafalan bersama.
c. Model Demonstrasi
Adalah model pembelajaran dengan cara memperagakan benda, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.
d. Model Ceramah Plus
Model pembelajaran ceramah plus adalah model pembelajaran yang menggunakan lebih dari satu model, yakni model ceramah yang dikombinasikan dengan model yang lain. Terdapat 3 jenis model pembelajaran ceramah plus, yaitu: model ceramah plus tanya jawab dan tugas, model ceramah plus diskusi dan tugas, dan model ceramah plus demosntrasi dan latihan. e. Model Resitasi
Model pembelajaran resitasi adalah suatu model pembelajaran yang mengharuskan siswa membuat resume dengan kalimat sendiri
f. Model Eksperimental
Sering juga disebut sebagai model pembelajaran percobaan. Model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran dengan metode pemberian kesempatan kepada para peserta didik perorangan atau kelompok untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Model pembelajaran ini menggunakan alat tertentu dan dilakukan lebih dari 1x.
g. Model Teileren
Merupakan model pembelajaran dengan cara memberikan materi secara bertahap/sebagian-sebagian. Misalnya paragraf per paragraf kemudian dilanjutkan lagi dengan paragraf lainnya yang tentu saja berkaitan dengan masalahnya.
h. Model Global (Ganze Model)
Merupakan suatu model pembelajaran dengan meminta peserta didik membaca keseluruhan materi kemudian membuat resume atau kesimpulan dari apa yang mereka baca.
(http://carapedia.com.>home.>