BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
3. Pendidikan Agama Islam
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati Agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional (Muhaimin, 2002:75-76). Menurut penulis yang dimaksud dengan Pendidikan Agama
Islam berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pendidikan agama Islam adalah upaya yang ditempuh pendidik dalam melaksanakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah memudahkan dalam mencapai tujuan utama khususnya pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Berdasarkan penegasan istilah yang telah dijabarkan maka maksud judul diatas adalah upaya merencanakan, melaksanakan dan evaluasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat diterapkan dengan mudah khususnya bagi anak tunarungu sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam baik dari segi kognitif, afektif, dan psikomotorik.
b. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Pendidikan yang amat penting itu tujuannya harus diambil dari pandangan hidup. Jika pandangan hidup adalah Islam, maka tujuan Pendidikan harus diambil dari ajaran Islam.
Menurut Daradjat (2009: 32) dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam tujuan itu meliputi:
1) Tujuan Umum
Tujuan umum adalah tujuan yang akan dicapai denagn semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara lain. Tujuan itu meliputi seluruh aspek kemanusiaan yang meliputi sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan dan pandangan.
2) Tujuan Akhir
Pendidikan Islam itu berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup didunia ini telah berakhir pula. Pendidikan Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, memelihara dan mempertahankan tujuan Pendidikan yang telah dicapai.
Tujuan akhir Pendidikan Islam itu dapat dipahami dalam firman Allah surat Al-Imran ayat 102, yang berbunyi:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allahsebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali- kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.
3) Tujuan Sementara
Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum Pendidikan formal.
4) Tujuan Operasional
Tujuan operasional adalah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu (Daradjat, 2009: 32).
c. Faktor Pendukung Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Faktor pendukung dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat dilihat dari segi guru, sumber/ sarana/ fasilitas, dan siswa, bahwa faktor pendukung pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut: 1) Sikap Mental Guru
Para guru hendaknya menyadari tentang perlunya pembaharuan strategi belajar mengajar. Sehingga mempunyai kesiapan mental untuk melaksanakan pendekatan belajar aktif (active learning strategy) sebagai hasil dari adanya pembahasan Pendidikan.
2) Kemampuan Guru
Para guru hendaknya mempunyai beberapa kemampuan yang dapat menunjang keberhasilan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Seorang guru dituntut untuk mampu menguasai isi pokok pelajaran Pendidikan Agama Islam.
3) Penyediaan Alat Peraga/ Media
Dalam kegiatan belajar mengajar alat atau media sangat diperlukan agar dapat menunjang tercapainya tujuan Pendidikan. Alat atau media harus diupayakan selengkap mungkin agar segala aktivitas mengajar dapat dibantu dengan media.
4)Kelengkapan Kepustakaan
Kepustakaan sebagai kelengkapan dalam menunjang keberhasilan pegajaran, hendaknya diisi dengan berbagai buku yang relevan sebagai upaya untuk pengayaan terhadap pengetahuan dan pengalaman siswa.
d. Kurikulum
1) Pengertian Kurikulum
Dalam proses Pendidikan, kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan Pendidikan. Tanpa kurikulum yang sesuai dan tepat akan sulit mencapai tujuan dan sasaran Pendidikan yang diinginkan. Sebagai alat yang penting untuk mencapai tujuan, kurikulum hendaknya adaptif terhadap perubahan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan serta canggihnya teknologi.
Kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan. Disamping itu, kurikulum harus bisa memberikan arahan dan patokan keahlian kepada peserta didik setelah menyelesaikan suatu program pengajaran pada suatu lembaga (Haryati, 2011:1).
Definisi kurikulum yang akan digunakan yaitu kurikulum yang dipandang sebagai suatu program Pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan Pendidikan tersebut. Kurikulum diartikan 2 macam yaitu:
a) Sejumlah materi pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari di sekolah/perguruan tinggi atau memperoleh ijazah tertentu.
b) Sejumlah materi pelajaran yang ditawarkan oleh suatu lembaga pendidikan atau jurusan (Munardji, 2004:83).
Dinyatakan oleh Nik Hayati (2011:2) bahwa hakikat kurikulum adalah kegiatan yang mencakup berbagai rencana kegiatan peserta didik yang terperinci berupa bentuk-bentuk bahan Pendidikan, saran-saran strategi belajar mengajar, pengaturan-pengaturan program agar dapat diterapkan, dan hal-hal yang mencakup pada kegiatan yang bertujuan mencapai tujuan yang diinginkan.
2) Ciri-ciri Kurikulum dalam Pendidikan Agama Islam
Menurut Al-Syaibani sebagaimana dikutip oleh Nik Haryati (2011:5), bahwa kurikulum Pendidikan Islam seharusnya ciri-ciri sebagai berikut:
a) Kurikulum Pendidikan Islam harus menonjol pada mata pelajaran Agama dan akhlak.
b) Kurikulum Pendidikan Islam harus memperhatikan pengembangan menyeluruh aspek pribadi siswa, yaitu aspek jasmani, akal, dan rohani.
c) Kurikulum Pendidikan Islam memperhatikan keseimbangan antara pribadi dan masyarakat, dunia dan akhirat; jasmani, akal, dan rohani manusia.
d) Kurikulum Pendidikan Islam memperhatikan juga seni halus, yaitu ukir, pahat, tulis indah, gambar, dan sejenisnya.
Berdasarkan kurikulum Pendidikan Agama Islam diatas, yang telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan kebudayaan, dalam pelaksanaan program PAI pada siswa tunarungu kurikulum yang dipakai di SMPLB Negeri Salatiga menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berdasarkan SKKD sebagai pedoman pengajaran di SMPLB Negeri Salatiga.
e. Faktor Penghambat Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Sedangkan faktor penghambat dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat disebutkan sebagai berikut:
1) Kesulitan dalam menghadapi perbedaan individu peserta didik.
2) Kesulitan dalam menentukan materi yang cocok dengan peserta didik. 3) Kesulitan dalam memilih metode yang sesuai dengan materi pelajaran. 4) Kesulitan dalam memperoleh sumber dan alat-alat pembelajaran.
5) Kesulitan dalam mengadakan evaluasi dan pengaturan.
(http://duniainformatikaindonesia.blogspot.com/faktor-faktor- pendukung-dan-penghambat.html, Senin 9 Oktober 2015).
f. Karakteristik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum
Ada tiga faktor yang mempengaruhi penggunaan model pembelajaran Pendidikan Agama Islam yaitu tujuan dan karakteristik bidang studi pendidikan agama Islam, kendala pembelajaran, serta karakteristik peserta didik. Pembelajaran Agama Islam bertujuan meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan siswa terhadap menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Dan yang dimaksud dengan karakteristik bidang studi pembelajaran Agama Islam adalah aspek-aspek suatu bidang studi yang terbangun dalam struktur isi dan konstruk/tipe isi bidang studi pendidikan agama Islam berupa fakta, konsep, dalil/hukum, prinsip/kaidah, prosedur, dan keimanan yang menjadi landasan dalam mendeskripsikan strategi pembelajaran (Muhaimin, 2002:150).
Faktor yang kedua yaitu kendala pembelajaran adalah keterbatasan sumber belajar yang ada, keterbatasan alokasi waktu, dan keterbatasan dana yang tersedia. Sedangkan faktor yang ketiga yaitu karakteristik peserta didik adalah kualitas perseorangan peserta didik, seperti bakat, kemampuan awal yang dimiliki, motivasi belajar, dan kemungkinan hasil belajar yang akan dicapai. Jadi ketiga faktor diatas sangat mempengaruhi
dalam pemilihan suatu strategi/metode pembelajaran Agama Islam (Muhaimin, 2002:151).
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam tentu saja sangat berbeda dengan pembelajaran materi-materi lainnya, sebab materi ini mencakup segala bentuk perubahan, baik kognitif, psikomotorik, maupun efektif, yang menuntut praktek langsung dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman kognitif tentang Agama Islam, menuntut perubahan psikomotorik yang harus dilakukan secara fisik maupun mental, dan perubahan itu menuntut perwujudan sikap yang disebut akhlak. Sehingga, pengetahuan Agama yang ditanamkan kepada peserta didik, dapat merubah tingkah laku mereka ke arah yang ditentukan dalam Islam.
Sebagai contoh, misalnya pembelajaran mengenai keyakinan terhadap adanya Malaikat. Pembelajaran pengetahuan mengenai Malaikat dan tugas-tugasnya, menuntut keyakinan bahwa para Malaikat itu ada, dan setelah keyakinan itu tumbuh, maka dituntut pula sikap yang mengarah kepadanya. Misalnya keyakinan terhadap adanya Malaikat Raqib dan Atid yang mencatat amal perbuatan manusia, maka peserta didik diharapkan menyadari bahwa setiap perbuatannya akan dicatat, sehingga ia tidak akan melakukan perbuatan yang tercela. Oleh karena itu, dalam pembelajaran Agama Islam, guru menjadi figure central yang sangat menentukan, sebab pembelajaran semacam ini membutuhkan contoh nyata dalam kehidupan. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam disekolah-sekolah umum diberikan sesuai dengan jenjangnya. Materi agama Islam pun disesuaikan
dengan jenjang pendidikannya. Materi tersebut antara lain sejarah Islam, Shalat, Thaharah, Puasa, hafalan surat-surat pendek dan do’a-do’a sehari, dan Tajwid.
Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, tugas guru sangatlah berat. Seorang guru dituntut memiliki sifat-sifat tertentu, antara lain: kesiapan mental dalam menghadapi berbagai kesulitan mengajar, mampu memegang teguh nilai-nilai kemanusiaan, selalu ingin meningkatkan prestasi, menguasai teknik-teknik mengaktifkan murid, dan menjadi teladan bagi murid-murid (Mansyur, dkk., 1982: 10-11).
g. Karakteristik Materi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SLB Materi Pendidikan Agama Islam yang diberikan kepada anak tunarungu hanya dibatasi pada meteri-materi yang sederhana. Muatan materinya meliputi Al-Qur’an, Akidah, Akhlak, dan Fiqih. Cara penyampaian materinya yang berkaitan dengan keseharian suasana pembiasaan kehidupan Islami seperti doa sehari-hari, surat-surat pendek, pengenalan huruf Hijaiyah, pengenalan Rukun Iman, Rukun Islam, Wudhu, Sholat berikut prakteknya, serta memberi contoh yang baik pada anak didik.
Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam guru mengajar dengan rasa sabar, berulang-ulang, serta dengan memberikan contoh-contoh sederhana sehingga siswa dapat sedikit demi sedikit memahami materi yang diajarkan. Di sini terdapat sesuatu yang khas dalam proses pembelajaran di SLB (Sekolah Luar Biasa) yaitu walaupun teknik yang
diterapkan sama dengan sekolah umum, umum dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan dalam sistem menggunakan metode yang ada.
Jadi, berdasarkan teori di atas, anak-anak tunarungu juga memiliki hak untuk mendapatkan pengetahuan akademik seperti anak-anak umumnya dimana kurikulum dan materinya disesuaikan kondisi mereka dan yang berupa materi-materi sederhana. Sedangkan penyampaian materinya menggunakan model-model khusus sesuai dengan gangguan yang dialami siswa.