Pengertian: pendidikan usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Anonim, 2003a: 5, Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Depdiknas, Cetakan ke-1.). Selanjutnya pendidikan usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudhotul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat
(Anonim, 2003a: 20 Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Depdiknas, Cetakan ke-1.).Taman Kanak-kanak: Taman kanak-kanak adalah salah satu bentuk pendidikan prasekolah yang menyediakan program pendidikan dini bagi anak usia 4 (empat) tahun sampai memasuki pendidikan dasar (Anonim, 1990: 54, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah, Jakarta: Sekretariat Negara. Raudhotul Athfal: Raudhotul Athfal merupakan
jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan Islam yang menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi diri seperti pada taman kanak-kanak (Anonim, 2003a: 61 Undang- undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Depdiknas, Cetakan ke-1.). Pendidikan Prasekolah: Pendidikan Prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani rohani anak didik di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar ynag diselenggarakan di jalur pendidikan sekolah atau di jalur pendidikan luar sekolah (Anonim, 1990: 54, Peraturan Pemerintah RI nomor 27 tahun 1990 tentang Pendidkan Prasekolah, Jakarta: Sekretariat Negara). Tujuan Pendidikan Prasekolah adalah membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya (Anonim, 1990: 54 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah, Jakarta: Sekretariat Negara). Fungsi Pendidikan Prasekolah: Mengembangkan seluruh kemampuan yang dimiliki anak sesuai dengan tahap perkembangannya, mengenalkan anak dengan dunia sekitarnya, mengembangkan sosialisasi anak, mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak, memberikan kesempatan kepada anak untuk menikmati masa bermainnya (Anonim, 2003-b: 21, Program Kegiatan Taman Kanak-kanak, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional). Prinsip Pendidikan Prasekolah: Menciptakan situasi pendidikan yang memberikan rasa aman dan menyenangkan bagi anak didik, Kegiatan belajar sesuai dengan minat dan tahap perkembangannya, Perkembangan adalah hasil proses kematangan dan proses belajar. Pengenalan atau rangsangan perlu diberikan sebelum anak didik mencapai kematangan atau kemampuan dasar tertentu. Sifat kegiatan belajar di TK adalah pembentukan perilaku melalui
pembiasaan yang terwujud dalam kegiatan sehari-hari seperti menjaga kebersihan dan keamanan, mendiri, sopan santun, berani, tanggung jawab, dan pengendalian diri. Sifat kegiatan belajar TK juga merupakan pengembangan berbagai kemampuan dasar anak didik. Oleh karena itu, pengetahuan terhadap dunia sekitar merupakan alat yang dipilih oleh guru untuk pengembangan kemampuan dasar tersebut. Proses pengembangan kemampuan dasar ini hendaknya berlangsung dengan cara-cara sederhana ke yang lebih rumit, dari yang konkrit ke yang abstrak, dari gerakan ke verbal, dan dari kekakuan ke sosial. Pendidikan Prasekolah sebagai Media Interaksi awal di Sekolah: sebagai media interaksi antar faktor, pendidikan prasekolah diselenggarakan untuk membantu meletakkan dasar pengembangan sikap pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta di luar lingkungan keluarga. Usia tersebut merupakan masa yang sangat menentukan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Pada usia ini berada pada masa yang peka dan mudah menerima rangsangan untuk didorong ke tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang lebih baik. Dengan memanfaatkan masa peka tersebut, diharapkan kemampuan dasar anak didik dapat berkembang dan tumbuh secara baik dan benar melalui pendidikan. Sebagaimana pepatah diungkapkan ranting muda akan lurus jika kau luruskan….sementara kayu tua tak mungkin lagi kau bengkokkan. Imam Ali r.a. dalam Muhammad Syarif Ash-Shawwaf (2003: 53) "sesungguhnya, hati orang yang masih muda bagaikan tanah yang kosong. Apa saja yang dilemparkan kepadanya pasti akan diterimanya". Dan Imam Ibn Abi Zaid al-Qairuni dalam Muhammad Syarif Ash-Shawwaf (2003: 53) "ketahuilah bahwa sebaik-baik hati adalah yang dipenuhi dengan kebaikan sebelum keburukan masuk ke dalamnya". Demikian juga dalam Syair lagu, Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar sesudah dewasa laksana mengukir di atas air. Syair lagu tersebut menggambarkan sulitnya men-transfer ilmu pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan untuk orang tua, sebagaimana digambarkan pada syair sulit dan keras-kuatnya
batu. Menjadi sebaliknya, kuatnya kemampuan siswa prasekolah untuk menerima pengetahuan baru digambarkan sulitnya tulisan yang diukir di atas batu. Pada falsafah tersebut orang tua merasa berkepentingan atas upaya-upaya pendidikan bagi anak di usia prasekolah. Pendidikan Prasekolah sebagai Tempat Pengembangan Kemampuan Dasar Anak: Pembentukan perilaku dengan pengembangan Agama Islam dan pengembangan kemampuan dasar berupa kemampuan daya cipta, bahasa, daya pikir, keterampilan, dan jasmani bagaikan memberi sikap dan perlakuan pada tanaman. Tanaman kalau tidak disiram dan tidak dipupuk, akan mengalami gagalnya pertumbuhan. Indikasi yang muncul tumbuhan tumbuh kerdil bahkan layu, dan dalam waktu yang relatif singkat akan mati. Atas dasar ini orang tua harus selalu memperhatikan akan kebutuhan anak untuk tumbuh-kembang yang diawali dengan pengenalan lebih dekat dengan bakat yang dimiliki anak. Lebih lanjut, orang tua harus berperan sebagai fasilitator dan dinamisator bagi perkembangan dan pertumbuhannya. Untuk itu, hendaknya orang tua dan guru memupuk kreativitas anak sejak dini. Karena makin dini anak diberi kesempatan mengelaborasi lingkungan, mencari jawaban tentang rasa ingin tahunya tentang Allah, mengenal dan mencintai Allah melalui ciptaannya, berbuat sopan dan penuh santun kepada orang tua, orang yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda, meminta tolong dengan baik, dan mengucapkan terima kasih dengan baik…(Maimunah Hasan, 2001: 99 Membangun Kreativitas Anak Secara Islami, Jogjakarta: Bintang Cemerlang). Sesanti Pendidikan Prasekolah: Pendidikan prasekolah yang selalu menggunakan sesanti bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain memiliki karakteristik didaktik dan metodik yang spesifik. Hal ini memiliki arti bahwa, bermain sambil (berasosiasi dengan) belajar merupakan obyek yang masih lekat dengan kegiatan bermain. Melalui variasi bermain itu tidak sekedar untuk bermain tetapi dengan insert (asosiasi) belajar. Hal ini mengingat pada masa ini digambarkan masa yang sangat peka bagaikan
ranting dan batu untuk dibengkokkan dan atau diluruskan serta ditorehkan beberapa hal. Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan dengan dan tanpa alat untuk menghasilkan pengertian atau informasi, kesenangan maupun mengembangkan imajinasi anak (Anggani Sudono, 2000: 2, Sumber Belajar dan Alat Permainan untuk Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta: Grasindo). Beramain sendiri sebenarnya merupakan sebuah metode yang berkedudukan sama dengan metode-metode lain, namun pada pendidikan usia dini ini nampaknya menjadi sebuah metode yang populis dan cukup diminati baik oleh guru maupun oleh anak didik.