• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENDIDIKAN ANTI KEKERASAN DALAM PENDIDIKAN

A. Pendidikan Islam

3. Pendidikan Anti Kekerasan di Sekolah

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya24. Pendidikan anti kekerasan dapat didefinisikan sebagai suatu usaha sadar untuk mewujudkan suatu

23

Farida Dewi Maharani dkk., Anak adalah Anugerah: Stop Kekerasan Terhadap Anak

… 19.

24

suasana belajar tanpa harus menimbulkan kesengsaraan/kerusakan baik secara fisik, psikologis, seksual, finansial maupun spiritual25.

Berdasarkan definisi tersebut, dapat dinyatakan bahwa pendidikan anti kekerasan (non-violence) menunjukkan suatu proses pembelajaran dan penanaman sikap-sikap mental yang mengedepankan nilai-nilai positif nir-kekerasan dalam menghadapi setiap permasalahan sosial-keagamaan dalam masyarakat. Pendidikan ini membuang jauh-jauh sikap individul, namun justru lebih mengutamakan kepentingan seluruh masyarakat daripada kepentingan pribadi dan golongan demi terciptanya suatu keadaan yang damai dan harmonis di kalangan anggota masyarakat.

Pendidikan anti-kekerasan perlu digali dari nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat. Beberapa nilai yang mungkin bisa dijadikan sebagai bahan dasar adalah nilai-nilai yang diambil dari agama, budaya dan hak-hak asasi manusia yang universal.

Berkaitan dengan nilai-nilai yang digali dari agama, hampir semua agama mengajarkan prinsip-prinsip nir-kekerasan. Merujuk pada paradigma ini, dalam konteks pendidikan agama, menurut Baidhawi26, paradigma multikultural perlu menjadi landasan utama penyelenggaraan proses belajar mengajar. Pendidikan agama membutuhkan perubahan perspektif keagamaan dari pandangan eksklusif menuju pandangan multikulturalis. Multikulturalisme didefinisikan sebagai gerakan sosial

25

Luluk Atirotu Zahroh, “Islamic Perspective of Anti Violence Education for Early Childhood in The Family Environment” …, 48.

26

Zakiyuddin Baidhawi, Islamic Studies: Pendekatan dan Metode, Yogyakarta: Insan Madani, 2011, 212.

intelektual yang mendorong nilai–nilai keberagaman (diversity) sebagai prinsip inti dan mengukuhkan pandangan bahwa semua kelompok budaya diperlakukan setara (equal) dan sama-sama dihormati.

Pendidikan agama berbasis teologi multikulturalis memiliki karakteristik khas meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Belajar Hidup Bersama (How to Live and Work Together)

Praktek belajar hidup bersama dalam pendidikan, dilaksanakan melalui proses berikut27:

a. Pengembangan sikap toleran, empati, dan simpati yang merupakan prasyarat esensial bagi keberhasilan koeksistensi dan proeksistensi dalam keragaman agama. Pendidikan agama berbasis teologi multikulturalis dirancang untuk menanamkan sikap toleran dari tahap yang minimalis.

b. Klarifikasi nilai-nilai kehidupan bersama menurut perspektif agama-agama. Agama-agama saling berdiskusi dan menawarkan suatu perspektif nilai masing-masing yang dapat dipertemukan dengan kepentingan serupa dari agama lain. Nilai-nilai kebersamaan secara religius perlu memperoleh penguatan kembali, dan pendidikan agama merupakan sarana paling efektif untuk melakukan tugas ini demi masa depan bumi yang lebih manusiawi.

27

c. Pendewasaan emosional. Kebersamaan, kebebasan dan keterbukaan harus tumbuh bersama menuju pendewasaan emosional dalam relasi antar dan intra agama-agama.

d. Kesetaraan dalam partisipasi. Untuk menutup jalan bagi dominasi dan supremasi maka agama-agama perlu diletakkan dalam suatu relasi dan kesalingtergantungan, dan karenanya bersifat setara. Setiap agama memiliki kesempatan untuk hidup sekaligus memberikan kontribusi bagi kesejahteraan kemanusiaan universal. e. Kontrak sosial baru dan aturan main kehidupan bersama antar

agama. Untuk kepentingan ini, pendidikan perlu memberi bekal keterampilan komunikasi (communication skills) pada siswa dalam membuat perjumpaan pandangan dan rekonsiliasi secara kreatif melalui berbagai sarana yang memungkinkan.

2. Membangun Rasa Saling Percaya (Mutual Trust)

Saling percaya adalah salah satu modal sosial (social capital) yang memudahkan dukungan terhadap tugas-tugas sosial tertentu dalam pembentukan masyarakat madani28.

3. Memelihara Saling Pengertian (Mutual Understanding)

Saling memahami adalah kesadaran bahwa nilai-nilai mereka dan kita dapat berbeda dan mungkin saling melengkapi serta memberi kontribusi terhadap relasi yang dinamis dan hidup, sehingga oposan merupakan mitra yang saling melengkapi dan kemitraan menyatukan

28

kebenaran-kebenaran parsial dalam suatu relasi. Untuk itu, Pendidikan agama mempunyai tanggung jawab membangun landasan etis kesaling sepahaman antara entitas-entitas agama dan budaya yang plural, sebagai sikap dankepedulian bersama29.

4. Menjunjung Sikap Saling Menghargai (Mutual Respect)

Sikap ini mendudukan semua manusia dalam relasi kesetaraan, tidak ada superioritas maupun inferioritas. Menghormati dan menghargai sesama manusia adalah nilai universal yang dikandung semua agama didunia. Saling menghargai membawa pada sikap saling berbagi di antara semua individu dan kelompok30.

5. Terbuka dalam Berpikir

Pendidikan agama berwawasan multikultural mengkondisikan siswa untuk berjumpa dengan pluralitas pandangan dan perbedaan radikal yang menantang identitas lama dan segalanya mulai tampak dalam sinar baru. Hasilnya adalah kemauan untuk memulai pendalaman tentang makna diri, identitas, dunia kehidupan, agama dan kebudayaan diri sendiri dan orang lain31.

6. Apresiasi dan Interdependensi

Kehidupan yang layak dana manusiawi hanya mungkin tercipta dalam sebuah tatanan sosial yang care, dimana semua anggota

29

Zakiyuddin Baidhawi, Islamic Studies: Pendekatan dan Metode …, 220. 30

Zakiyuddin Baidhawi, Islamic Studies: Pendekatan dan Metode …, 221. 31

masyarakatnya dapat saling menunjukkan apresiasi dan memelihara relasi, keterikatan, kohesi dan kesalingkaitan sosial yang rekat. 32

7. Resolusi Konflik dan Rekonsiliasi Nirkekerasan

Dalam situasi konflik, pendidikan agama harus hadir untuk menyuntikan spirit dan kekuatan spiritual sebagai sarana integrasi dan kohesi sosial, ia juga menawarkan angin segar bagi kedamaian dan perdamaian. Dengan kata lain, pendidikan agama perlu memfungsikan agama sebagai satu cara dalam resolusi konflik. Resolusi konflik belum cukup tanpa rekonsiliasi, yakni upaya perdamaian melalui sarana pengampunan atau memaafkan (forgiveness).

Bahan dasar kedua setelah nilai-nilai agama, adalah nilai-nilai budaya (cultural values). Istilah "budaya", dalam konteks ini, merujuk kepada satu praktik dan kebiasaan masyarakat yang baik. Indonesia memiliki beragam suku dan budaya. Setiap suku memiliki budaya tersendiri, yang masing-masing dari mereka memiliki kesamaan atau perbedaan budaya satu sama lainnya. Nilai-nilai budaya seperti demokrasi, gotong royong, toleransi, egalitarianisme, yang ada dalam tiap suku di Nusantara ini adalah nilai-nilai universal yang bisa diolah sebagai bahan dasar dalam pendidikan anti kekerasan.

Bahan dasar berikutnya yang bisa diolah sebagai bahan dasar dalam pendidikan anti kekerasan adalah hak asasi manusia (human rights), dan hak-hak ini merupakan esensi dari manusia itu sendiri. Hak-hak asasi

32

manusia ini mencakup hak untuk hidup, kehormatan, dan mengembangkan diri sendiri. Kesemua nilai tersebut perlu disosialisasikan dalam bentuk pembelajaran, yakni mengenai nilai-nilai nir-kekerasan atau perdamaian, yang terambil dari ajaran agama, budaya, dan hak asasi manusia, bisa masuk ke seluruh mata pelajaran yang ada di lembaga pendidikan formal maupun non formal.

Suatu upaya konkrit dalam menerapkan pendidikan anti kekerasan, khususnya di lembaga pendidikan formal adalah dengan mewujudkan sekolah damai. Sekolah yang damai adalah sekolah yang kondusif bagi proses belajar mengajar yang memberikan jaminan suasana kenyamanan dan keamanan pada setiap komponen di sekolah karena adanya kasih sayang, perhatian, kepercayaan dan kebersamaan33.

Sekolah yang damai adalah sekolah yang beberapa aspeknya memiliki indikasi tertentu, antara lain sebagai berikut.

1. Proses belajar dan mengajar yang efektif

Proses belajar mengajar adalah proses transfer ilmu pengetahuan dan nilai-nilai etika. Pada sekolah yang damai proses belajar dan mengajar berlangsung dengan efektif yang ditandai dengan34:

a. Siswa dapat memaksimalkan potensinya dalam memahami materi pelajaran dan guru dapat mengajar dengan baik

33

M. Noor Rochman Hadjam, Budaya Damai Anti Kekerasan (Peace and Anti Violence), Jakarta: Dirjen Pendidikan Menengah Umum, 2003, 11.

34

M. Noor Rochman Hadjam, Budaya Damai Anti Kekerasan (Peace and Anti Violence)

b. Siswa dapat menguasai mata pelajaran

c. Ide-gagasan dan daya nalar siswa mengenai pelajaran tidak terhambat

d. Proses belajar dan mengajar berjalan dengan menyenangkan e. Suasana sekolah dan kelas sangat kondusif dalam belajar f. Siswa dilibatkan secara aktif dalam proses belajar.

2. Suasana yang nyaman dan aman

Suasana di sekolah adalah situasi dan kondisi objektif di sekolah yang dipersepsi oleh siswa. Suasana sekolah yang damai penuh dengan kenyamanan dan keamanan baik secara fisik maupun secara psikologis. Secara psikologis suasana yang nyaman dan aman terlihat pada35:

a. Tidak adanya rasa was-was pada siswa karena dirinya merasa takut dan terancam keselamatannya

b. Hubungan yang penuh kekeluargaan.

c. Tidak ada keributan di sekolah karena perselisihan dan permusuhan

d. Barang-barang siswa di sekolah atau fasilitas sekolah jauh dari pencurian

e. Tidak ada pemalakan atau pemerasan f. Bebas dari prasangka dan isu negatif

g. Siswa merasa diterima dan dihargai keberadaanya disekolah

35

M. Noor Rochman Hadjam, Budaya Damai Anti Kekerasan (Peace and Anti Violence)

h. Harga diri siswa tumbuh dan berkembang menjadi optimal i. Siswa memiliki kebebasan dalam beraktifitas

j. Bebas dari intimidasi dan rongrongan baik dari dalam maupun luar sekolah

Secara fisik suasana yang nyaman dan aman terlihat pada hal-hal berikut36.

a. Lingkungan sekolah yang asri dan terjaga kelestariannya b. Kebersihan, kerapian dan kesehatan sekolah dapat terjaga c. Siswa merasa betah lingkungan sekolah

d. Fasilitas sekolah memadai

e. Ventilasi dan penerangan di dalam kelas yang cukup f. Bebas dari polusi (polusi penciuman, pendengaran dsb) g. Tidak ada perusakan dan pencurian pada sarana sekolah 3. Komunikasi dan hubungan antar komponen sekolah yang terbina

Komunikasi dan hubungan adalah pola yang dikembangkan sekolah dalam mengatur interaksi antar warganya. Komunikasi dan hubungan merupakan satu hal yang tidak dapat diindahkan dalam menyelenggarakan proses pendidikan37.

Pada sekolah yang damai komunikasi dan hubungan yang terjadi antar warga sekolah antara lain:

36

M. Noor Rochman Hadjam, Budaya Damai Anti Kekerasan (Peace and Anti Violence)

…, 12.

37

M. Noor Rochman Hadjam, Budaya Damai Anti Kekerasan (Peace and Anti Violence)

a. Hubungan antar warga sekolah penuh dengan kerukunan dan kekeluargaan

b. Adanya sikap saling mencintai, menghargai, menghormati, memperhatikan dan mempercayai sesama warga sekolah

c. Adanya perasaan sederajat dan senasib sepenanggungan (solidaritas)

d. Guru tidak bertindak secara otoriter

e. Adanya komunikasi non formal antara guru dan siswa, misalnya siswa dapat mengeluarkan keluh kesahnya atau menceritakan masalah yang dihadapi

f. Guru dapat bertindak sebagai sahabat siswa. 4. Peraturan dan kebijakan ditaati

Peraturan di sekolah adalah kesepakatan yang harus ditaati karena dibuat untuk mengatur semua aktifitas di sekolah. Peraturan di sekolah meliputi peraturan mengenai proses belajar mengajar, pola hubungan, kebiasaan, serta cara bersikap dan bertindak. Peraturan ini secara tidak langsung akan mempengaruhi budaya sekolah. Kebijakan adalah ketentuan dan ketetapan yang dikeluarkan oleh pihak manajemen sekolah dalam menangani sebuah masalah. Pada sekolah yang damai, peraturan dan kebijakan di sekolah ditaati, dipatuhi dan dilaksanakan dengan baik oleh segenap komponen sekolah dengan

konsisten38. Selain itu, keterkaitan antara peraturan dan kebijakan sekolah dengan budaya damai antara lain:

a. Warga sekolah tidak merasa terkekang dengan adanya peraturan disekolahnya

b. Kebutuhan akan pengungkapan aspirasi terwadahi

c. Sistem yang dijalankan di sekolah adalah sistem terbuka dan transparan

d. Iklim demokratis dapat tumbuh

e. Adanya kesadaran terhadap peraturan sekolah

f. Adanya sosialisasi peraturan sekolah yang berkesinambungan.

Aspek-aspek yang berkaitan dengan Budaya Damai dan Anti Kekerasan menurut ketentuan UNESCO antara lain sebagai berikut39: a. Penghargaan terhadap kehidupan (Respect All Life)

b. Anti Kekerasan (Reject Violence)

c. Berbagi dengan yang lain (Share With Others) d. Mendengar untuk memahami (Listen to Understand) e. Menjaga Kelestarian Bumi (Preservethe Planet) f. Solidaritas (Rediscover Solidarity)

g. Persamaan antara laki-laki dan perempuan (Equality Between Man and Women)

h. Demokrasi (Democracy)

38

M. Noor Rochman Hadjam, Budaya Damai Anti Kekerasan (Peace and Anti Violence)

…, 13.

39

M. Noor Rochman Hadjam, Budaya Damai Anti Kekerasan (Peace and Anti Violence)

Dokumen terkait