BAB III GAGASAN PENDIDIKAN TAN MALAKA
C. Pendidikan Anti-Kolonialisme
1. Konsep Pendidikan Anti-Kolonialisme
Tan Malaka menggunakan pendidikan sebagai sarana menjaga harkat dan martabat bangsa Indonesia dari praktik penindasan bangsa asing.141 Gagasan pendidikan pun diciptakannya guna melawan ketidakadilan yang dilakukan penguasa (otoritsas Belanda). Pendidikan dalam pandangan Tan Malaka adalah bagaimana setiap individu mendapatkan keadilan dan haknya. Melalui pendidikan setiap individu tersebut dapat meningkatkan kualitas dan harga dirinya.142 Maka dari itu, semangat anti-kolonialisme harus selalu disuarakan, tak terkecuali di dalam dunia pendidikan.
140
Ibid, hal 171-172.
73
Dengan pemikiran revolusionernya itu, Tan Malaka menggunakan pendidikan sebagai alat yang tidak hanya sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan di dunia kaum pemodal, tetapi juga supaya rakyat memiliki kesadaran untuk bergerak bersama-sama melawan penjajahan, dengan kata lain dapat disebut dengan pendidikan anti-kolonialisme. Tan Malaka mengungkapkan:
Selain untuk membantu rakyat untuk mencari nafkah diri sendiri dan keluarga, juga untuk membantu rakyat dalam pergerakannya. Jelaslah, bahwa dasar yang dipakai adalah kerakyatan dalam masa penjajahan, hidup bersama rakyat untuk mengangkat rakyat jelata. Bukanlah menjadi satu kelas yang terpisah dengan rakyat dan dipakai oleh pemerintah penindas bangsa sendiri.143
Dengan jelas Tan Malaka ingin menumbuhkan kesadaran pergerakan melalui koridor pendidikan. Tan Malaka menuturkan:
Tatkala meninggalkan Deli menuju ke Semarang, hati saya bulat hendak mendirikan perguruan yang cocok dengan keperluan jiwa rakyat murba di masa itu. Dasar tujuan sudah saya pastikan, pengalaman sementara untuk memperteguh dasar tujuan sudah saya peroleh di Deli, selama hampir dua tahun. Yang saya butuhkan adalah tempat kemerdekaan bekerja, bahan berupa murid, material berupa rumah dan serta akhirnya, yang tak kurang pentingnya adalah keliling (lingkungan) yang mengandung penghargaan atas pekerjaan perguruan itu. Ketika mampir di rumah Horensma, yang sudah naik pangkat menjadi inspektur sekolah rendah Indonesia, berkedudukan di Jakarta, maka saya ditanya apakah saya mau bekerja di Ibu Kota itu dan mau bekerja apa supaya ia dapat diusahakan. Saya jawab bahwa saya meneruskan melakukan maksud yang sudah dia kenalkan dan tak pernah ia bantah, malahan sebaliknya. Dengan pendek dia berkata Ga je gang maar (teruskan saja). 144
Ungkapan Tan Malaka tersebut dapat dipahami bahwa orientasi gagasan pendidikan anti-kolonialisme itu memiliki misi untuk menyebarkan paham-paham yang berlandaskan kemerdekaan rakyat (anti-kolonialisme) dan melahirkan
143 Syafruddin Munir. Tan Malaka: Kisah Cinta Dan Pemikiran-Pemikirannya. Yogyakarta: Araska. 2019, hal 137. Dikutip dari. Harry A Poeze. Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik I. Jakarta: Pustaka Utama Graffiti. 1988, hal 359.
144 Ibid, hal 138-139. Dikutip dari. Harry A Poeze. Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik I. Jakarta: Pustaka Utama Graffiti. 1988, hal 105.
pemuda yang mampu mengakhiri rantai penjajahan yang sudah nyaman bersarang di Nusantara, serta di sisi lain ia berkeinginan agar masyarakat Indonesia secara umum memiliki semangat persatuan. Selain itu, Tan Malaka juga mendorong agar masyarakat pribumi memiliki kesadaran untuk berorganisasi namun dengan satu visi yang sama, yaitu berjuang menghapus penjajahan dan ketidakadilan.145
2. Tujuan Pendidikan Anti-Kolonialisme
Anak–anak dididik menjadi manusia yang merdeka. Pengalamannya selama dua tahun mengajar di tanah Deli sudah cukup menjadi bekal utama bagi Tan Malaka dalam mengintegrasikan kurikulum pembebasan nasional, kecakapan hidup dan intelektualisme. Pemikiran pendidikan Tan Malaka sangat kental dalam sekolah SI bentukannya. Bahwa kaum terdidik setelah lulus dari sekolah Tan Malaka, mereka jangan lupa kepada kaum tertindas yang sedang memperjuangkan hak dan kemerdekaannya.146
Tujuan Pendidikan anti-kolonialisme dapat dilihat dalam pendirian sekolah Sarekat Islam yang digagas Tan Malaka. Tujuan Tan Malaka bukan untuk melahirkan juru tulis bagi kepentingan pemerintah kolonial, tetapi sebagai bekal hidup dan keterlibatan aktif lulusannya bagi pergerakan kemerdekaan Indonesia. Hidup bersama rakyat untuk mengangkat rakyat yang terjajah, bukan untuk membuat kelas terpisah antara kaum terdidik dengan kaum tertindas.147
145 Syafruddin Munir. Tan Malaka: Kisah Cinta Dan Pemikiran-Pemikirannya. Yogyakarta: Araska. 2019, hal 137. Lihat juga. M Yuanda Zara. Peristiwa 3 Juli 1946: Menguak Kudeta
Pertama Dalam Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Medpress. 2009, hal 65.
146
Fridiyanto, op.cit., hal 164.
75
3. Usaha Merealisasikan Pendidikan Anti-Kolonialisme
Tan Malaka menciptakan landasan pendidikan sekolah rakyat sebagai usaha merealisasikan pendidikan anti-kolonialisme. Baginya, pendidikan harus mampu melahirkan pemuda yang bersedia memperjuangkan kemerdekaan. Tetapi dalam kekuasaannya, Belanda tidak memperdulikan nasib pendidikan daerah jajahannya. Belanda dengan sengaja merancang pendidikan di Indonesia sesuai kepentingan mereka saja, sehingga lahirnya pemuda yang berintelektual menjadi sangat terbatas. Menurut Tan Malaka kalau penjajahan Belanda selama 300 tahun itu tidak membatasi pendidikan bagi pribumi, niscaya derajat kaum intelektual pribumi jauh berbeda dari keadaan sekarang. Tentu banyak posisi strategis yang akan diisi oleh kaum pribumi, seperti saudagar, tuan tanah, dan pegawai bumiputera.148
Belanda sangat mengkhawatirkan perkembangan sekolah Tan Malaka akan melahirkan tunas-tunas pergerakan kemerdekaan. Sistem pendidikan yang diterapkan Tan Malaka di sekolah SI dianggap Belanda bercirikan paham komunis, yang akan membahayakan pemerintahan kolonial. Tetapi, pada praksisnya, orientasi utama pendidikan Tan Malaka bukan untuk mengomuniskan masyarakat Indonesia, tetapi lebih bersifat upaya untuk membangun kesadaran anti-kolonialisme rakyat Indonesia dalam bingkai marxisme guna membangkitkan jiwa perlawanan atas praktik penjajahan bangsa asing.149 Hal tersebut dirancang Tan Malaka sebagai usaha untuk merealisasikan pendidikan anti-kolonialisme buatannya.
148
Ibid, hal 124.
Usaha Tan Malaka tersebut sempat mendapat respon yang tidak menyenangkan dari pihak kolonial. Dalam dunia pendidikan, pemerintah Belanda selalu mengemukakan keberatan terhadap pendirian lembaga pendidikan di Indonesia, salah satunya sangat membatasi sekolah SI ciptaan Tan Malaka. Semua dalilnya digunakan untuk mempertahankan tanah jajahannya. Akibat politik pendidikan Belanda tersebut, sekolah rendah, menengah, dan tinggi tidak mampu menampung rakyat Indonesia yang saat itu berkisar 55 juta orang.150 Tan Malaka dengan jelas mengungkapkan:
Jumlah anak-anak yang harus masuk sekolah pada tahun 1919 adalah: H.I.S. 1%, sekolah rakyat 5%, sekolah desa 8% sampai 14%. Lebih kurang 86% anak-anak yang seharusnya bersekolah tidak mendapat tempat (menurut perslah kongres N.I.O.G. tahun 1923 yang diumumkan dalam Indische Courant). Mereka yang bisa membaca dan menulis sekarang ditaksir 5% sampai 6%, mungkin juga 2% sampai 3%. Jumlah belanja perguruan di tahun 1919 menurut kabar yang sah adalah f20 juta dan f75 juta untuk 150 ribu orang anak-anak dari 55 juta tukang bayar pajak rakyat Indonesia. Pada tahun 1923, belanja perguruan itu f 34.452.000. Jadi, untuk seorang anak bumiputera pada waktu itu dikeluarkan 30 sen, sama artinya 1/7 dari yang dikeluarkan untuk anak Filipina.151
Data di atas menunjukkan bahwa pemerintah kolonial menekan perkembangan pendidikan pribumi. Berbagai bentuk muslihat dilakukan termasuk melakukan tindak kekerasan. Guru-guru dilarang mengajar, dan para orang tua murid ditakut-takuti serta diancam. Tidak sampai di situ, terdapat pula organisasi Sarekat Hijau152 buatan pemerintah kolonial yang bertugas untuk menakut-nakuti dan mengancam para orang tua yang ingin menyekolahkan anak-anaknya. Mereka dipekerjakan untuk membakar sekolah, menganiaya para guru serta para murid.
150 Fridiyanto, op.cit., hal 125.
151
Tan Malaka. Cetakan Ke-5. Aksi Massa. Yogyakarta: Narasi. 2019, hal 61.
152
Sekumpulan orang bayaran (preman) yang dikerahkan oleh pemerintah kolonial, dan dalam melakukan aksinya selalu diberi upah oleh pihak kolonial. Fridiyanto, op.cit., hal 126.
77