BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Kajian Konsep
5. Pendidikan bagi Kaum Perempuan
Setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan pada dasarnya dilahirkan dengan hak yang sama. Oleh karena itu, sudah seharusnya mereka memiliki akses yang sama pula dalam segala hal, diantaranya: pendidikan, pengambilan keputusan, kesehatan, dan pelayanan penting lainnya. Meskipun pemerintah telah memiliki kebijakan untuk memberantas buta huruf, tetap saja banyak anak-anak, remaja, dan dewasa yang tidak berpendidikan khususnya kaum perempuan.
Banyak faktor yang menjadi penyebab ketimpangan gender, seperti adat atau tradisi, agama, maupun kebijakan negara yang bias gender (Rosyidah &
Dwisetyani: 2017). Setiap masyarakat memiliki berbagai aturan untuk diikuti oleh anggotanya seperti mereka belajar memainkan peran feminime atau maskulin, sebagaimana halnya setiap masyarakat memiliki bahasanya sendiri.
Pendidikan memiliki karakter yang universal. Pandangan suatu masyarakat tertentu atas pendidikan berbeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya. pendidikan formal adalah sistem pendidikan yang terorganisasi secara sistematis dan diselenggarakan untuk mengasah keterampilan kognitif, afektif dan psikomotorik para siswa.
Pendidikan adalah interaksi individu dengan anggota masyarakat, yang berkaitan dengan perubahan dan perkembangan yang berhubungan dengan pengetahuan, sikap, kepercayaan, dan keterampilan. Pendidikan berfungsi untuk menstabilkan norma dan nilai masyarakat, menjadi media untuk mensosialisasikan dan memproduksi nilai-nilai tata sosial keyakinan dan nilai-nilai dasar agar masyarakat luas berfungsi dengan baik.
Dalam pandangan masyarakat lokal, pendidikan saat ini adalah keniscayaan. Untuk bisa survive dalam kehidupan, manusia harus dibekali oleh pendidikan. Dengan pendidikan, proses kehidupan bisa dilalui lebih mudah.
Banyak kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang layak berdatangan, hingga memperoleh tempat yang tinggi atau terhormat dalam status kemasyarakatan.
Bagi masyarakat lokal pendidikan sangat bermanfaat bagi anak. Masyarakat perlu faham sebagai orangtua, betapa pentingnya pendidikan. Anak adalah titipan tuhan dan untuk itu mereka perlu dididik dan diajar dalam segala aspek kehidupan.
Itulah konsep dasar nenek moyang tentang pendidikan. Implementasi dari konsep dasar itu tentu tidaklah sederhana. Dalam perkembangannya, tidaklah mungkin bagi orangtua memberi semua yang dibutuhkan oleh anak. Dengan keterbatasan yang dimiliki seperti keterbatasan waktu dan kemampuan tentu memerlukan sekolah untuk mendidik anak.
Banyak orang beranggapan bahwa dunia ilmu pengetahuan adalah milik kaum laki-laki. Seolah-olah, kaum wanita tidak memiliki kontribusi apa-apa dalam bidang ilmu pengetahuan. Padahal dalam sejarah yang panjang, banyak wanita yang berperan penting dalam pelestarian dan pengembangan ilmu
pengetahuan. Karena memang definisi pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan individu-individu baik laki-laki maupun perempuan untuk mentransmisikan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, dan bentuk-bentuk ideal kehidupan dalam meneruskan aktivitas kehidupan secara efektif dan berhasil nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, dan bentuk-bentuk ideal kehidupan dalam meneruskan aktivitas kehidupan secara efektif dan berhasil.
Angka partisipasi perempuan dalam bidang pendidikan sudah tinggi, bahkan dalam beberapa kasus lebih tinggi dari laki-laki. Namun demikian, bidang-bidang yang digeluti adalah bidang-bidang yang secara tradisional memang identik dengan perempuan, seperti pendidikan, pekerja sosial, dan keperawatan. Dalam bidang-bidang yang sering disamakan dengan pekerejaan kaum laki-laki, tingkat partisipasi perempuan masih dapat dikatakan rendah. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya partisipasi perempuan dalam bidang tersebut, di samping kurangnya minat perempuan di dunia itu, adalah adanya diskriminasi jender di bidang-bidang tersebut. Falcioni (2012) menyebutkan bahwa struktur lembaga-lembaga bidang sains dan tehnik sering tidak akomodatif terhadap perempuan. Mengutip sebuah laporan panel tentang partisipasi perempuan dalam bidang sains dan teknik bahwa “kaum perempuan masih menjadi minoritas di fakultas-fakultas sains dan teknik di universitas-universitas riset dan pada umumnya mereka tidak memiliki dukungan dan fasilitas sebaik kaum laki-laki”, bahkan laporan itu juga menyatakan bahwa “perempuan cenderung memperoleh perlakuan yang diskriminatif dalam bidang sains dan tehnik” (Falcioni, 2010: 1).
Teori sosialisasi berpandangan bahwa selama ini telah terjadi perlakuan yang tidak adil terhadap kaum perempuan, baik di rumah maupun di sekolah.
Siswa perempuan sering kali diperlakukan tidak sama dengan laki-laki.
Akibatnya, presetasi kaum perempuan di bidang pendidikan tidak setara dengan laki-laki. Teori ini berpandangan bahwa “jika kita menginginkan kaum perempuan untukberkembang, maka mereka harus diperlakukan sama (equally) dengan kaum laki-laki”. Keinginan dari para pendukung teori ini bahwa kaum perempuan harus diperlakukan sama dengan kaum laki-laki, nampaknya berkembang dari kenyataan sosial bahwa kaum perempuan tidak memperoleh pengakuan, perlakuan dan ekpektasi yang sama dengan laki-laki.
Dengan kata lain, kaum laki-laki dianggap lebih superior dibanding kaum perempuan. Oleh sebab itu, teori ini perlu menekankan aspek penyetaraan perlakuan terhadap gender yang berbeda. Keyakinan para pendukung teori ini akan pentingnya kesamaan perlakuan, nampaknya tidak memperhatikan faktor perbedaan genetic yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki. Sehingga perlakuan apapun yang diperoleh siswa laki-laki harus diterima secara sama oleh kaum perempuan. Padahal tidak semua hal bisa diterapkan secara sama kepada laki-laki dan perempuan para pendukung teori ini meyakini bahwa jika di sekolah siswi perempuan diperlakukan sama dengan siswa laki-laki, maka lambat laun akan terbentuk pula kesetaraan yang pada gilirannya akan membentuk masyarakat yang equal, yaitumasyarakat yang tidak membeda-bedakan fungsi sosial perempuan dan laki-laki.
Dalam prespektif pendidikan Islam peran wanita sama halnya dengan priaia punya misi di dalam hidupnya dan dengan demikian ia harus efektif,aktif dan berjiwa social sesuai dengan sikap dan prilaku Islam.Dimanapun terdapat wanita Islam,ia menjadi cahaya penuntun,sumber koreksi, pendidikan positf,melalui kata dan perbuatan.Karna itu pendidikan untuk perempuan juga sangat penting artinya. Perempuan adalah peletak dasar budi pekerti maka seharusnyalah perempuan mendapatkan pendidikan yang sebenarnya baik pendidikan psikologis, keimanan ataupun pendidikan yang bersifat keilmuan yang dapat ditransformasikan pada anak-anak mereka .Dan dari ibu–ibu yang cerdas, beriman serta mengerti faktor kejiwaan seorang anak, akan sangat memahami bagaimana cara menerapkan metode pengasuhan secara benar, dengan pendidikan demikian akan hadir anak –anak yang berperangai mulia dan kuat aqidahnya.
perempuan islam dapat berperan serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kalau dia tidak mendapatkan pendidikan yang cukup. Pada saat ini peran perempuan memiliki arti penting untuk peningkatan kualitas kehidupan berbangsa, perempuan yang terdidik dengan benar secara keagamaan dan ilmu pengetahuan, akan berpotensi melahirkan generasi-generasi cerdas yang akan membawa pengaruh penting dalam kemajuan sebuah Bangsa.
Pemikiran Kartini juga relevan dengan penerapan pada sitem pendidikan pada saat ini dimana pendidikan budi pekerti menjadi prioritas utama. Dari perempuan yang terdidik dan berakhlak mulia akan lahir generasi bangsa yang cerdas dan berbudi pekerti yang akan memberi arti penting pada kemajuan dan martabat sebuah Bangsa. Pendidikan secara akademis ataupun non akademis
harus terus terselenggara dengan baik untuk peningkatan derajat dan pengoptimalan peran perempuan. Pendidikan dan pengajaran pada wanita di tekankan untuk memenuhi tugas keibuannya.Dikarenakan Ibu adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Dari Ibu yang cerdas dan penuh kasih sayang akan hadir pula anak- anak yang pandai dan memiliki budi pekerti serta kepekaan sosial yang tinggi, inilah yang menjadi inti pedidikan Islam untuk perempuan.
Pendidikan adalah hasil dari konstruksi sosial yang didalamnya terdapat peran antara laki-laki dan perempuan. Pada beberapa kasus, kesenjangan pada sektor pendidikan telah menjadi faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap bias gender secara menyeluruh. Bahkan hampir pada semua sektor seperti lapangan pekerjaan, jabatan, peran dimasyarakat, sampai pada masalah menyuarakan pendapat antara laki-laki dan perempuan yang menjadi faktor penyebab terjadinya bias gender adalah karena latar pendidikan yang belum seimbang antara keduanya. Gender sebagaimana didefinisikan secara umum adalah perbedaan peran dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan sebagai hasil konstruksi sosial budaya masyarakat. Tataran bias gender banyak terjadi dalam berbagai bidang termasuk dalam bidang pendidikan. Misalnya peran gender terjadi dalam hal mengakses lembaga pendidikan yang menyebabkan rendahnya tingkat partisipasi perempuan padahal pendidikan merupakan hak asasi seluruh umat manusia. Pendidikan yang tidak diskriminatif akan mempermudah terjadinya kesetaraan gender dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan.
Kesetaraan gender beriringan dengan perkembangan zaman yang didukung oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memungkinkan kaum perempuan bekerja dan berperan sama dengan kaum laki-laki dalam segala sektor atau lapangan pekerjaan. Pengaruh perkembangan masyarakat juga menjadikan laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dalam mendapatkan pekerjaan dan penghasilan.
Dalam perkembangannya, pola hubungan laki-laki dengan perempuan mengalami distorsi. Pandangan bahwa pemimpin itu harus seorang pria merupakan pandangan yang keliru dan perlu ditinggalkan. Pendidikan berperspektif gender barulah akan memberikan hasil secara lebih memuaskan, jika dilaksanakan oleh seluruh kalangan masyarakat, mulai dari yang tergabung dalam lembaga pendidikan formal maupun non formal, instansi pemerintah, swasta seperti organisasi profesi, organisasi sosial, organisasi politik, organisasi keagamaan dan lain-lain sampai pada unit yang terkecil yaitu keluarga.
Pembangunan di bidang pendidikan misalnya, kalau perencanaannya, pelaksanaannya atau pelayanannya, pemantauannya dan evaluasinya sudah berwawasan gender, maka dapat dipastikan bahwa pendidikan yang baik dapat dinikmati oleh baik laki-laki maupun perempuan.