• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Pelaksanaan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi HAIs

2.4.1 Pendidikan dan Pelatihan Pencegahan dan Pengendalian

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan bertujuan untuk melindungi pasien, petugas kesehatan, pengunjung yang menerima pelayanan kesehatanserta masyarakat dalam lingkungannya dengan cara memutus siklus penularan penyakit infeksi melalui kewaspadaan standar dan berdasarkan transmisi. Bagi pasien yang memerlukan isolasi, maka akan diterapkan kewaspadaan isolasi yang terdiri dari kewaspadaan standar dan kewaspadaan berdasarkan transmisi.

Menurut Permenkes RI nomor 27 tahun 2017 untuk dapat melakukan pencegahan dan pengendalian infeksi dibutuhkan pendidikan dan pelatihan baik terhadap seluruh SDM fasilitas pelayanan kesehatan maupun pengunjung dan keluarga pasien.

Pendidikan dan pelatihan pencegahan dan pengendalian infeksi diberikan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan atau organisasi profesi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, serta petugas fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki kompetensi di bidang PPI, termasuk Komite atau Tim PPI (Permenkes RI, 2017).

Pendidikan dan pelatihan bagi Komite atau Tim PPI dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar dan lanjut serta pengembangan pengetahuan PPI lainnya.

2. Memiliki sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga pelatihan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

3. Mengembangkan diri dengan mengikuti seminar, lokakarya dan sejenisnya.

4. Mengikuti bimbingan teknis secara berkesinambungan.

5. Perawat PPI pada Komite atau Tim PPI (Infection Prevention and Control Nurse/IPCN) harus mendapatkan tambahan pelatihan khusus IPCN pelatihan tingkat lanjut.

6. Infection Prevention and Control Link Nurse/IPCLN harus mendapatkan tambahan pelatihan PPI tingkat lanjut.

Pendidikan dan pelatihan bagi staf fasilitas pelayanan kesehatan dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Semua staf pelayanan di fasilitas pelayanan kesehatan harus mengetahui prinsip-prinsip PPI antara lain melalui pelatihan PPI tingkat dasar.

2. Semua staf non pelayanan di fasilitas pelayanan kesehatan harus dilatih dan mampu melakukan upaya pencegahan infeksi meliputi hand hygiene, etika batuk, penanganan limbah, APD (masker dan sarung tangan) yang sesuai.

3. Semua karyawan baru, mahasiswa, Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) harus mendapatkan orientasi PPI (Permenkes RI, 2017).

2.4.2 Ketersediaan Sarana dan Prasarana Pencegahan dan Pengendalian Infeksi HAIs

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan.

Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses (usaha, pembangunan, proyek).

Menurut Permenkes RI nomor 27 tahun 2017 sarana dalam melaksanakan pencegahan dan pengendalian HAIs meliputi:

1. Sarana Kesekretariatan

a) Ruangan Sekretariat dan tenaga sekretaris yang full time.

b) Komputer, printer dan internet.

c) Telepon dan Faksimili.

d) Alat tulis kantor.

2. Dukungan Manajemen

Dukungan yang diberikan oleh manajemen berupa :

a) Penerbitan Surat Keputusan untuk Komite dan Tim PPIRS.

b) Anggaran atau dana untuk kegiatan : 1. Pendidikan dan Pelatihan (Diklat).

2. Pengadaan fasilitas pelayanan penunjang.

3. Untuk pelaksanaan program, monitoring, evaluasi, laporan dan rapat rutin.

4. Remunerasi / insentif/ Tunjangan / penghargaan untuk Komite / Tim PPI.

2.4.3 Monitoring dan Evaluasi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi HAIs Monitoring dan evaluasi kegiatan dilakukan untuk memastikan pelaksanaan kegiatan tetap pada jalurnya sesuai pedoman dan perencanaan program dalam rangka pengendalian suatu program, selain juga memberikan informasi kepada pengelola program akan hambatan dan penyimpangan yang terjadi sebagai masukkan dalam melakukan evaluasi. Dalam program PPI monitoring dan evaluasi bertujuan untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan program dan kepatuhan penerapan oleh petugas serta evaluasi angka kejadian HAIs melalui pengkajian risiko infeksi/Infection Control Risk Assesment (ICRA), audit, dan

monitoring dan evaluasi lainya secara berkala yang dilakukan oleh Komite atau Tim PPI. Monitoring dan Evaluasi yang dilakukan adalah sebgai berikut :

a) Monitoring kejadian infeksi dan kepatuhan terhadap pelaksanaan PPI dilakukan oleh IPCN dan IPCLN.

b) Monitoring surveilans menggunakan formulir terdiri dari : formulir pasien pasien baru, formulir harian, dan formulir bulanan.

c) Kegiatan monitoring dilakukan dengan melaksanakan surveilans dan kunjungan lapangan setiap hari oleh IPCN dan ketua komite jika diperlukan.

d) Monitoring dilakukan oleh Komite/Tim PPI dengan frekuensi minimal setiap bulan.

e) Evaluasi dilakukan oleh Tim PPIRS dengan frekuensi minimal setiap bulan.

f) Evaluasi oleh Komite/Tim PPI minimal setiap 3 bulan (Permenkes RI, 2017).

2.4.4 Ketersediaan Kebijakan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi HAIs Definisi kebijakan menurut KBBI adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak. Istilah ini dapat diterapkan pada pemerintahan, organisasi dan kelompok sektor swasta, serta individu.

Kebijakan yang perlu dipersiapkan oleh fasilitas pelayanan kesehatan menurut Permenkes RI nomor 27 tahun 2017 tentang pedoman pencegahan pengendalian infeksi adalah :

1. Kebijakan Manajemen

a) Kebijakan tentang pendidikan dan pelatihan PPI sekaligus pengembangan SDM Komite / Tim.

b) Kebijakan tentang pendidikan dan pelatihan untuk seluruh petugas di fasilitas pelayanan kesehatan.

c) Kebijakan tentang kewaspadaan isolasi meliputi kewaspadaan standar dan kewaspadaan transmisi termasuk kebijakan tentang penempatan pasien.

d) Kebijakan tentang PPI pada pemakaian alat kesehatan dan tindakan operasi.

e) Kebijakan tentang kesehatan karyawan.

f) Kebijakan tentang pelaksanaan surveilans.

g) Kebijakan tentang penggunaan antibiotik yang bijak.

h) Kebijakan tentang pengadaan bahan dan alat yang melibatkan tim PPI.

i) Kebijakan tentang pemeliharaan fisik dan sarana prasarana.

j) Kebijakan penanganan kejadian luar biasa.

k) Kebijakan tentang pelaksanaan audit PPI.

l) Kebijakan tentang pengkajian risiko di fasilitas pelayanan kesehatan.

2. Kebijakan Teknis

Ada SPO tentang kewaspadaan isolasi (isolation precaution) : a) Ada SPO kebersihan tangan

b) Ada SPO penggunaan alat pelindung diri (APD) c) Ada SPO penggunaan peralatan perawatan pasien d) Ada SPO pengendalian lingkungan

e) Ada SPO pemrosesan peralatan pasien dan penatalaksanaan linen f) Ada SPO Kesehatan karyawan / Perlindungan petugas kesehatan g) Ada SPO penempatan pasien

h) AdaSPO hygiene respirasi / Etika batuk i) Ada SPO praktek menyuntik yang aman

j) Ada SPO praktek untuk lumbal punksi

k) Upaya-upaya pencegahan infeksi sesuai di fasilitas pelayanna kesehatan antara lain :

1) Infeksi saluran kemih (ISK).

2) Infeksi daerah operasi (IDO).

3) Infeksi aliran darah (IAD).

4) Pneumonia akibat penggunaan ventilator (VAP).

5) Kebijakan tentang PPI lainnya (misalnya Phlebitis dan decubitus).

2.4.5 Kewaspadaan Standar Pencegahan dan Pengendalian HAIs

Berdasarkan Pedeoman Manejerial Pencegahan Pengendalian Infeksi tahun 2008 tentang Kewaspadaan standar yaitu kewaspadaan yang utama, dirancang untuk diterapkan secara rutin dalam perawatan seluruh pasien di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, baik yang telah didiagnosis,diduga terinfeksi atau kolonisasi. Ada 11 (sebelas) komponen utama yang harus dilaksanakan dan dipatuhi dalam kewaspadaan standar yaitu :

1. Kebersihan Tangan

Kebersihan tangan dilakukan dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir bila tangan jelas kotor atau terkena cairan tubuh, atau menggunakan alkohol (alcohol-based handrubs) bila tangan tidak tampak kotor.

Kuku petugas harus selalu bersih dan terpotong pendek, tanpa kuku palsu, tanpa memakai perhiasan cincin. Cuci tangan dengan sabun biasa/antimikroba dan bilas dengan air mengalir, dilakukan pada saat:

a) Bila tangan tampak kotor, terkena kontak cairan tubuh pasien yaitu darah, cairan tubuh sekresi, ekskresi, kulit yang tidak utuh, ganti verband, walaupun telah memakai sarung tangan.

b) Bila tangan beralih dari area tubuh yang terkontaminasi ke area lainnya yang bersih, walaupun pada pasien yang sama.

Indikasi kebersihan tangan:

a) Sebelum kontak pasien;

b) Sebelum tindakan aseptik;

c) Setelah kontak darah dan cairan tubuh;

d) Setelah kontak pasien;

e) Setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien.

Hasil yang ingin dicapai dalam kebersihan tangan adalah mencegah agar tidak terjadi infeksi, kolonisasi pada pasien dan mencegah kontaminasi dari pasien ke lingkungan termasuk lingkungan kerja petugas.

2. Alat Pelindung Diri (APD)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam APD sebagai berikut:

a) Alat pelindung diri adalah pakaian khusus atau peralatan yang di pakai petugas untuk memproteksi diri dari bahaya fisik, kimia, biologi/bahan infeksius.

b) APD terdiri dari sarung tangan, masker/Respirator Partikulat, pelindung mata (goggle), perisai/pelindung wajah, kap penutup kepala, gaun pelindung/apron, sandal/sepatu tertutup (Sepatu Boot).

c) Tujuan Pemakaian APD adalah melindungi kulit dan membran mukosa dari resiko pajanan darah, cairan tubuh, sekret, ekskreta, kulit yang tidak utuh dan selaput lendir dari pasien ke petugas dan sebaliknya.

d) Indikasi penggunaan APD adalah jika melakukan tindakan yang memungkinkan tubuh atau membran mukosa terkena atau terpercik darah atau cairan tubuh atau kemungkinan pasien terkontaminasi dari petugas.

e) Melepas APD segera dilakukan jika tindakan sudah selesai di lakukan.

f) Tidak dibenarkan menggantung masker di leher, memakai sarung tangan sambil menulis dan menyentuh permukaan lingkungan.

3. Dekontaminasi Peralatan Perawatan Pasien

Dalam dekontaminasi peralatan perawatan pasien dilakukan penatalaksanaan peralatan bekas pakai perawatan pasien yang terkontaminasi darah atau cairan tubuh (pre-cleaning, cleaning, disinfeksi, dan sterilisasi) sesuai Standar Prosedur Operasional (SPO).

4. Pengendalian Lingkungan

Pengendalian lingkungan di fasilitas pelayanan kesehatan, antara lain berupa upaya perbaikan kualitas udara, kualitas air, dan permukaan lingkungan, serta desain dan konstruksi bangunan, dilakukan untuk mencegah transmisi mikroorganisme kepada pasien, petugas dan pengunjung.

Tujuan Pengelolaan Limbah adalah sebagai berikut :

a) Melindungi pasien, petugas kesehatan, pengunjung dan masyarakat sekitar fasilitas pelayanan kesehatan dari penyebaran infeksi dan cidera.

b) Membuang bahan-bahan berbahaya (sitotoksik, radioaktif, gas, limbah infeksius, limbah kimiawi dan farmasi) dengan aman.

5. Penatalaksanaan Linen

Linen terbagi menjadi linen kotor dan linen terkontaminasi. Linen terkontaminasi adalah linen yang terkena darah atau cairan tubuh lainnya, termasuk juga benda tajam. Penatalaksanaan linen yang sudah digunakan harus dilakukan dengan hati-hati. Kehatian-hatian ini mencakup penggunaan perlengkapan APD yang sesuai dan membersihkan tangan secara teratur sesuai pedoman kewaspadaan standar.

6. Perlindungan Kesehatan Petugas

Melakukan pemeriksaan kesehatan berkala terhadap semua petugas baik tenaga kesehatan maupun tenaga non kesehatan.

7. Penempatan Pasien

a) Tempatkan pasien infeksius terpisah dengan pasien non infeksius.

b) Penempatan pasien disesuaikan dengan pola transmisi infeksi penyakit pasien (kontak, droplet, airborne) sebaiknya ruangan tersendiri.

c) Bila tidak tersedia ruang tersendiri, dibolehkan dirawat bersama pasien lain yang jenis infeksinya sama dengan menerapkan sistem cohorting.

Jarak antara tempat tidur minimal 1 meter. Untuk menentukan pasien yang dapat disatukan dalam satu ruangan, dikonsultasikan terlebih dahulu kepada Komite atau Tim PPI.

d) Semua ruangan terkait cohorting harus diberi tanda kewaspadaan berdasarkan jenis transmisinya (kontak,droplet, airborne).

e) Pasien yang tidak dapat menjaga kebersihan diri atau lingkungannya seyogyanya dipisahkan tersendiri.

f) Mobilisasi pasien infeksius yang jenis transmisinya melalui udara (airborne) agar dibatasi di lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan untuk menghindari terjadinya transmisi penyakit yang tidak perlu kepada yang lain.

g) Pasien Human Immunodeficiency Virus (HIV) tidak diperkenankan dirawat bersama dengan pasien Tuberclosis (TB) dalam satu ruangan tetapi pasien TB-HIV dapat dirawat dengan sesama pasien TB.

8. Kebersihan Pernapasan/ Etika Batuk dan Bersin

Petugas, pasien dan pengunjung dengan gejala infeksi saluran napas, harus melaksanakan dan mematuhi langkah-langkah sebagai berikut:

a) Menutup hidung dan mulut dengan tisu atau saputangan atau lengan atas.

b) Tisu dibuang ke tempat sampah infeksius dan kemudian mencuci tangan.

9. Praktik Menyuntik yang Aman

Pakai spuit dan jarum suntik steril sekali pakai untuk setiap suntikan, Jangan lupa membuang spuit dan jarum suntik bekas pakai ke tempatnya dengan benar.

10. Praktik Lumbal Fungsi yang Aman

Semua petugas harus memakai masker bedah, gaun bersih, sarung tangan steril saat akan melakukan tindakan lumbal pungsi, anestesi spinal/epidural/pasang kateter vena sentral (Permenkes RI, 2017).

2.5 Rumah Sakit

Berdasarkan undang-undang No.44 tahun 2009 tentang rumah sakit yang dimaksudkan dengan rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat (Undang-Undang RI, 2009).

Rumah Sakit Sandaran Operasi dan Latihan adalah rumah sakit dilingkungan kementrian pertahanan dan TNI yang menjadi sandaran pelayanan kesehatan dalam mendukung kegiatan operasi dan latihan TNI (Perpres RI, 2013).

2.5.1 Jenis - Jenis Rumah Sakit

Kegiatan pelayanan kesehatan Prajurit dan PNS TNI AD beserta keluarganya berdasarkan Undang-Undang nomor 5 tahun 1973 diorganisasikan sebagai berikut:

1. Tingkat Pusat

a) Direktorat kesehatan TNI AD sebagai Badan Pelaksana Pusat TNI AD dengan tugas pokok merumuskan kebijakan dan melaksanakan pembinaan kesehatan prajurit dan PNS TNI AD beserta keluarganya di tingkat pusat.

b) Pelaksanaan dan penuyelenggaraan pelayanan kesehatan bagi Prajurit/PNS TNI AD dan keluarganya dilaksanakan oleh:

 RSPAD Gatot Soebroto

 Sub Direktorat Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ditkesad

 Lembaga kesehatan Gigi Ditkesad

 Lembaga Kesehatan Militer Ditkesad 2. Tingkat Daerah

a) Kesehatan Kodam (Kesdam) adalah badan pelaksana tingkat kodam dengan tugas pokok melaksanakan dan menyelenggarakan pembinaan kesehatan Prajurit dan PNS TNI AD beserta keluarganya di tingkat daerah/kodam. Dalam melaksanakan kegiatannya Kakesdam dibantu oleh Rumkit dijajaran kodam dan bagian/seksi Yankes Kesdam.

b) Detasemen Kesehatan (Denkes) adalah pelaksana pembinaan kesehatan Prajurit/PNS TNI AD dan keluarganya ditingkat Korem.

3. Satuan-satuan Pelaksana Pelayanan Kesad

a) Pos Kesehatan (Poskes)/ Poliklinik Satuan (Polsat)/ Poliklinik Markas (Polma).

b) Poliklinik Pembantu (Polban) c) Poliklinik Induk (Polin) d) Rumah Sakit Tingkat IV e) Rumah Sakit Tingkat III f) Rumah Sakit Tingkat II g) Rumah Sakit Tingkat I 2.5.2 Asas dan Tujuan Rumah Sakit

Menurut undang- undang nomor 44 tahun 2009 tentang rumah sakit, bahwa Rumah Sakit juga memiliki asas dan tujuan untuk beroperasi. Agar rumah sakit tidak keluar dari tujuan, maka hal tersebut dituangkan dalam pasal 2 dan 3 yaitu : 1. Pasal 2

Rumah sakit diselenggarakan berdasarkan pancasila dan didasarkan kepada nilai kemanusiaan, etika dan profesionalitas, manfaat keadilan, persamaan hak dan

anti diskriminasi, pemerataan, perlindungan dan keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi sosial.

2. Pasal 3

Pengaturan penyelenggaraan rumah sakit bertujuan :

a) Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan;

b) Memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit;

c) Meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit;

d) Memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumberdaya manusia rumah sakit, dan rumah sakit.

2.5.3 Tugas dan Fungsi Rumah Sakit

Berdasarkan undang-undang nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit Pasal 4 , bahwa Rumah Sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Rumah sakit umum mempunyai misi memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Tugas rumah sakit umum adalah melaksanakan upaya pelayanan kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan peningkatan dan pencegahan serta pelaksanaan upaya rujukan.

Rumah sakit memiliki fungsi yang terdapat dalam undang-undang nomor 44 tahun 2009 pasal 5 tentang rumah sakit yaitu :

1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan ksesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit;

2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna otingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis;

3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan;

dan

4. Penyelengaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan tekhnologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

2.6 Kerangka Pikir

Kerangka pikir dalam penelitian ini mengacu pada format desain grounded research, dimana format ini dipengaruhi oleh pandangan bahwa penelitian kualitatif tidak membutuhkan pengetahuan dan teori tentang objek penelitian untuk mensterilkan subjektivitas peneliti, maka format desain grounded research dikontruksikan agar peneliti dapat mengembangkan semua pengetahuan dan teorinya setelah mengetahui data di lapangan (Burhan, 2007).

Kerangka pikir dalam penelitian ini mengacu pada landasan teori yang telah duraikan diatas dapat dilihat pada gambar 2.2 berikut ini:

BAB III

Gambar 2.1 Kerangka Pikir Penelitian

3.1 Jenis Penilitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan secara deskriptif untuk mengidentifikasi pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian terhadap kejadian HAIs di Rumah Sakit Tingkat IV Pematangsiantar serta observasi langsung terhadap pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian tersebut.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Tingkat IV Pematangsiantar berlokasi di jalan Gunung Simanuk-manuk No.6 Kelurahan Teladan , Kecamatan Siantar Barat, Kota Pematangsiantar. Adapun alasan pemilihan lokasi ini adalah berdasarkan hasil surveilans yang dilakukan Komite PPI tentang kejadian infeksi HAIs terjadi fluktuasi setiap bulannya seperti angka kejadian infeksi Phlebitis pada bulan Oktober 8,5%, bulan November 5,4%, bulan Desember 9,6% belum mencapai angka standar minimal kejadian infeksi HAIs ≤ 1,5% berdasarkan Permenkes RI nomor 27 tahun 2017.

3.2.2 Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini mulai dilakukan pada bulan Febuari sampai dengan bulan Juli tahun 2018.

3.3 Informan Penelitian

Informan penelitian adalah informan yang dianggap berkompeten memberikan informasi internal rumah sakit adalah:

1. Wakil Kepala Rumah Sakit 2. Ketua Komite PPI Rumah Sakit

3. Perawat Pencegahan dan Pengendalian dan Infeksi (IPCN)

4. Petugas Perawat Pelaksana Harian atau Perawat Penghubung Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (IPCLN) berjumlah 7 orang.

3.4 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan data primer dan data sekunder.

3.4.1 Data Primer

Merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya dan dicatat untuk pertama kalinya. Teknik pengumpulan data primer dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (indepth interview) dengan sumber informan yang telah ditetapkan dan pengamatan secara langsung (observasi). Instrumen yang digunakan dalam wawancara mendalam adalah pedoman wawancara dan menggunakan alat bantu rekam serta alat tulis untuk memperjelas informasi yang diperoleh.

3.4.2 Data Sekunder

Merupakan data yang pengumpulannya bukan dilakukan oleh peneliti. Data sekunder dalam penelitian ini berasal dari laporan-laporan Rumah Sakit Tingkat IV Pematangsiantar.

3.5 Definisi Operasional

1. Peningkatan kompetensi SDM

Peningkatan kompetensi SDM adalah usaha yang dilakukan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia berkualitas untuk meningkatkan pencegahan dan pengendalian HAIs melalui pendidikan dan pelatihan.

a. Pendidikan dan pelatihan PPI adalah upaya pengajaran memberikan pengetahuan, pemahaman serta kemahiran dan kecakapan tentang proses pencegahan dan pengendalian infeksi dirumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.

2. Sarana dan Prasarana PPI

Sarana dan Prasarana PPI adalah sekumpulan/segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat-alat yang mendukung/dibutuhkan dalam pelaksanaan pencegahan dan pengendalian HAIs meliputi sarana kesekretariatan dan dukungan manajemen.

a) Sarana Kesekretariatan adalah alat-alat yang mendukung bagian organisasi yang menangani pekerjaan dan urusan yang menjadi tugas sekretaris.

b) Dukungan Manajemen adalah kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak untuk penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan.

3. Monitoring dan Evaluasi PPI

Monitoring dan Evaluasi PPI adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk memastikan pelaksanaan kegiatan tetap pada jalurnya sesuai pedoman dan perencanaan program dalam rangka pengendalian suatu program, selain juga

memberikan informasi kepada pengelola program akan hambatan dan penyimpangan yang terjadi sebagai masukan dalam melakukan evaluasi.

4. Kebijakan PPI

Kebijakan PPI adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tentang pemerintahan, organisasi, dan sebagainya) tentang pencegahan dan pengendalian infeksi dirumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya:

a) Kebijakan Manajemen adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak dalam penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran.

b) Kebijakan Teknis adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak karyawan yang bertugas membantu pimpinan dalam bidang keteknisan.

3.6 Triangulasi

Menurut Sugiyono (2010), Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data untuk menjaga kualitas dan keakuratan data. Triangulasi yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber dilakukan dengan cara Cross Check data dengan fakta dari sumber yang berbeda dengan pertanyaan yang sama.

2. Triangulasi Metode

Triangulasi metode selain melakukan wawancara mendalam juga dilakukan telaah dokumentasi dan observasi singkat.

3.7 Metode Analisa Data

Metode analisa dalam penelitian ini difokuskan dalam proses penelitian dilapangan. Menurut Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2010) langkah-langkah dalam menganalisis data penelitian kualitatif dengan tahapan sebagai berikut :

1. Reduksi Data

Proses reduksi data merupakan suatu bentuk analis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.

2. Menyajikan data

Penyajian data disajikan dalam bentuk matriks yang menyajikan uraian singkat hasil wawancara mendalam. Penyajian data diarahkan agar data hasil reduksi dapat terorganisir dan mudah dipahami.

3. Menarik kesimpulan dan verifikasi

Tahap ini merupakan tahap penarikan kesimpulan dari semua data yang telah diperoleh sebagai hasil dari penelitian. Penarikan kesimpulan dan verifikasi adalah usaha untuk mencari atau memahami makna/arti, keteraturan, pola-pola, penjelasan, dan alur sebab akibat. Kesimpulan bersifat kausal berdasarkan informasi yang terus berkembang dari informan serta penelusuran kepustakaan.

Hasil dan pembahasan penelitian diperoleh melalui metode pengumpulan data dari wawancara mendalam, penelusuran data sekunder dan observasi singkat untuk menganalisis pelaksanaan program pencegahan pengendalian infeksi rumah sakit yang dilakukan oleh Rumah Sakit Tentera Tingkat IV Pematangsiantar.

Penulis beracuan pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 27 tahun 2017 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Peraturan tersebut menjelaskan bagaimana seharusnya rumah sakit dalam melaksanakan pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit.

Dalam sistem pelayanan kesehatan kepada masyarakat, rumah sakit mempunyai peran penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, mewujudkan keselamatan pasien ditinjau dari peranannya dalam pelayanan medis maupun dalam menciptakan perilaku yang mendukung terciptanya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Oleh karena itu rumah sakit

Dalam sistem pelayanan kesehatan kepada masyarakat, rumah sakit mempunyai peran penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, mewujudkan keselamatan pasien ditinjau dari peranannya dalam pelayanan medis maupun dalam menciptakan perilaku yang mendukung terciptanya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Oleh karena itu rumah sakit

Dokumen terkait