BAB IV PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM KH. A. WAHID HASYIM
3. Pendidikan Guru Agama
Keberadaan dan peran guru dalam suatu proses pendidikan sangat penting. Sebab guru berperan besar dalam menentukan berhasil tidaknya proses pendidikan yang dijalankan. Abuddin Nata mengistilahkan guru sebagai salah
satu komponen pendidikan yang terpenting dari suatu sistem pendidikan17
secara keseluruhan. Dengan demikian, keberadaan dan peran guru dalam upaya melahirkan manusia yang tangguh baik secara intelektual maupun moral dan spiritual sangatlah diharapkan keberadaannya.
Oleh karena itu, guru sebagai faktor pendidikan yang sangat penting sebab di tangan guru lahir metode, kurikulum, alat pembelajaran lainnya akan hidup dan berperan. Ibrat manusia yang mengendalikan senjata itulah yang
menentukan bukan senjatanya (the man behind the gun). Atas asumsi itulah
maka salah satu yang paling pokok dibenahi oleh pemerintah di dalam membenahi dunia pendidikan adalah guru dalam hal ini guru agama.
Munculnya lembaga pendidikan guru agama ini, didasari kebutuhan yang meningkat dengan berdiri dan berkembangnya lembaga pendidikan yang membutuhkan guru-guru baru.
Pendirian Pendidikan Guru Agama (PGA) di lingkungan Departemen Agama didorong oleh tugas untuk memenuhi dan merealisir rekomendasi BPKNIP dan Panitia Penyelidik Pengajaran mengenai pelaksanaan pendidikan agama di sekolah umum.
Tugas menyiapkan calon guru agama di sekolah umum menjadi semakin mendesak, setelah ditetapkannya UU No. 20 tahun 1950 tentang Dasar-dasar
17
Abuddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam: Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta: Grasindo, 2001), cet. 1, h. 132
78
Pendidikan dan Pengaajaran di sekolah. Pasal 20 ayat 1 dan 2 dalam Undang-Undang tersebut menentukan bahwa dalam sekolah-sekolah negeri diadakan pelajaran agama. Orang tua murid menetapkan apakah anaknya akan mengikuti pelajaran tersebut atau tidak.
b. Sejarah
Sejarah munculnya Pendidikan Guru Agama (PGA), akarnya sudah dimulai sejak masa sebelum kemerdekaan khususnya di wilayah Minangkabau, tetapi dengan pendirian PGA oleh Departemen Agama, kelanjutan lembaga pendidikan Islam di Indonesia mendapat jaminan yang lebih strategis.
Mengingat semakin besarnya tugas penanganan masalah pendidikan Islam, maka bagian pendidikan dalam Departemen Agama dikembangkan menjadi Jawatan Pendidikan Agama pada tahun 1950 (ketika Wahid Hasyim sebagai Menteri Agama). Badan ini memiliki peran yang sangat penting dan strategis di lingkungan Departemen Agama mengingat tugas pengembangan pendidikan merupakan lahan garapan yang sangat luas dan menantang. Beberapa tokoh yang pernah menjabat posisi ini adalah Drs. Abdullah Sigit, Mahmud Yunus, Fakih Usman dan Arifin Tamyang. Hampir semua perubahan dan pengembangan pendidikan agama pada masa pemerintahan Orde Lama tergantung pada kebijakan yang dikeluarkan oleh Jawatan itu
kemudian disetuji oleh Menteri Agama.18
Sejarah PGA pada masa Orde Lama bermula dari program Departemen Agama yang ditangani oleh Drs. Abdullah Sigit sebagai penanggungjawab bagian pendidikan.
Pada tahun 1950 itu pula, bagian dari Departemen Agama tersebut membuka dua lembaga pendidikan yang dapat dikatakan sebagai lembaga profesional keguruan:
1. Sekolah Guru Agama Islam (SGAI). Terdiri dari dua jenjang:
18
Maskum, Madrasah; Sejarah dan Perkembangannya, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 125
79
a. Jenjang jangka panjang yang ditempuh selama 5 tahun19 dan
diperuntukkan bagi siswa tamatan Sekolah Rakyat (SR) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI),
b. Jenjang jangka pendek yang ditempuh selama 2 tahun dan
diperuntukkan bagi tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs).
2. Sekolah Guru Hakim Agama Islam (SGHAI) ditempuh selama 4 tahun dan
diperuntukkan bagi tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Terdiri dari 4 bagian:
a. Bagian A mencetak guru kesusastraan,
b. Bagian B mencetak guru ilmu alam dan ilmu pasti,
c. Bagian C mencetak guru agama, dan
d. Bagian D mencetak tenaga administrasi peradilan agama.20
Bagi calon guru agama pada sekolah umum ditekankan untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan yang sama dengan guru umum (lulus Sekolah Guru Bantu) di samping memiliki pengetahuan ilmu agama. Hal ini dimaksudkan agar calon-calon guru agama tidak merasa rendah diri dan diremehkan oleh guru umum di sekolahnya. Di samping itu, dimaksudkan agar guru agama mempunyai pengetahuan yang luas sehingga dapat mengajarkan agama melalui pendekatan ilmu pengetahuan umum. Dengan kata lain, ilmu agama yang diajarkan sejalan dengan ilmu umum dan tidak menimbulkan pertentangan antara agama dan umum.
Dengan adanya rencana dua lembaga ini yang diajukan oleh Drs. Sigit secara tegas membedakan kemampuan yang harus dimiliki oleh calon guru agama pada sekolah umum dan calon guru untuk madrasah.
19
Mata pelajaran selain agama juga diberikan. Pelajaran umum yang diberikan setingkat dengan Sekolah Guru Bantu (SGB) ditambah ilmu agama dan bahasa Arab. Jika di SGB lama belajar 4 tahun maka di SGAI lama belajar 5 tahun. Dengan langkah ini guru agama diharapkan mempunyai kemampuan seperti guru umum lulusan SGB ditambah kemampuan khusus agama (SGB Plus). Lihat: Husni Rahim, Madrasah dalam Politik Pendidikan di Indonesia, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 2005), h. 141
20
80
Mula-mula rencana ini hanya dijalankan di daerah Yogyakarta saja. Barulah setelah Kementrian Agama RI di Yogyakarta digabung dengan Kementrian Agama RIS di Jakarta dalam Negara kesatuan RI berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Agama No. 10 A.11/2/2175 tanggal 10 Agustus 1950, maka Menteri Agama Wahid Hasyim ketika itu hendak menjalankan rencana tersebut ke seluruh Indonesia. Ini tercermin dalam Surat Edaran Menteri Agama No. 277/C/C-9 tanggal 15 Agustus 1950 yang menganjurkan agar setiap daerah karesidenan di Indonesia membuka Sekolah Guru Agama Islam (SGAI), dengan perubahan nama, yaitu SGAI diubah menjadi Pendidikan Guru Agama (PGA) dan Sekolah Guru Hakim Agama Islam (SGHAI) diubah menjadi Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA).
Pengaruh surat edaran ini ternyata sangat besar, terbukti kemudian PGA berkembang pesat dan dapat dijumpai, tidak hanya di tiap Karesidenan, tapi hampir tiap kabupaten. PGA tersebut adalah:
a. PGAN di Tanjung Pinang, Sumatera Tengah didirikan pada 31 Mei 1951.
b. PGAN di Kotaraja, Aceh didirikan pada 14 Agustus 1951.
c. PGAN di Padang didirikan pada 16 Agustus 1951.
d. PGAN di Banjarmasin didirikan pada 16 Agustus 1951.
e. PGAN di Tanjung Karang, Sumatera Selatan didirikan pada 16 Agustus
1951.
f. PGAN di Bandung didirikan pada 2 Agustus 1951.
g. PGAN di Pamekasan didirikan pada 8 Agustus 1951.
Dengan hadirnya PGA ini diharapkan dapat menghasilkan guru agama yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidangnya sebagai tenaga profesional.
Sedangkan seorang yang professional memiliki ciri:
1. Memiliki keahlian di bidang yang dikerjakannya.
2. Menggunakan waktunya untuk bekerja dalam bidang pekerjaannya.
81
4. Pekerjaan tersebut bukanlah sebagai hobi.21
Dengan makin banyaknya lulusan PGA—di samping Madrasah Aliyah,
tentu saja—yang ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi,
maka semakin banyak pula kebutuhan akan IAIN, karena bagaimanapun
IAIN merupakan tempat yang tepat bagi mereka.22 Untuk pembinaan dan
pengembangannya mereka berhimpun dalam satu wadah Peratuan Pendidikan Guru-Guru Agama seluruh Indonesia.
c. Perkembangan
Ketika Jawatan Pendidikan Agama dipegang oleh Arifin Tameyang (1952-1958), di bawah Menteri Agama Fakih Usman, struktur lembaga keguruan Pendidikan Guru Agama (PGA) ditata ulang yang terkesan mengurangi eksistensi PGA tersebut. Pendidikan Guru Agama (PGA) yang semula ditempuh cukup dengan 5 tahun, dirubah menjadi 6 tahun yang terdiri dari 4 tahun tingkat Pertama dan 2 tahun tingkat Atas. Kebijakan Arifin juga menegaskan dihapuskannya PGA jangka pendek 2 tahun. Jadi untuk mencetak guru agama hanya disediakan Pendidikan Guru Agama 6 tahun. Sementara itu, perubahan drastis juga terjadi pada Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA) dirubah menjadi Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN), yang tidak lagi membuka jurusan keguruan seperti guru kesusasteraan dan
guru ilmu alam.23 Berikut rencana dari Arifin Tameyang:
1. PGA jangka pendek (2 tahun) dan PGA jangka panjang 5 tahun
dihapuskan (Penetapan Menteri Agama tanggal 21 Nopember 1953). Sebagai gantinya PGA tersebut diubah menjadi 6 tahun yang terdiri dari Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP) 4 tahun dan Pendidikan Guru Agama Atas (PGAA) 2 tahun.
2. SGHA dihapuskan (Penetapan Menteri Agama tanggal 9 Mei 1954)
terutama bagian A, B, dan C. Bagian D dianggap masih diperlukan. Sebagai ganti dari bagian D didirikan Pendidikan Hakim Islam (PHI) yang
21
Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam …, h. 76
22
Zamakhsyari Dhofier, “KH. Wahid Hasyim, Rantai Penghubung Peradaban Pesantren
dengan Peradaban Indonesia Modern ”, dalam Prisma, No. 8, 1984, h. 78
23
82
lama belajarnya 3 tahun dengan murid-murid pilihan dari Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP) 4 tahun. Kalau SGHA tadinya 4 buah, PHI tinggal 1 buah di Yogyakarta.
Atas diberlakukannya hal tersebut, Mahmud Yunus mensiyalir bahwa adanya penurunan mutu lulusan PGA belakangan ini (1957) dibandingkan
dengan lulusan PGA yang terdahulu.24
Pendapat ini ada benarnya bila ditilik bahwa kalau dalam rencana Drs. Sigit dibedakan secara tegas antara kurikulum PGA dan SGHA bagian C karena masing-masing mempunyai spesifikasi khusus yang harus disiapkan, sedangkan dalam rencana Arifin kurikulumnya disamakan. Hal itu yang berakibat adanya mata pelajaran tertentu di SGHA bagian C dihapuskan padahal berguna untuk menunjang tugasnya.
Saat sekarang ini tidak ada lagi sekolah-sekolah dinas25 yang disebutkan di
atas. Lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Departemen Agama menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan yang diberlakukan secara nasional.