• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Humanisme Pasca- Renaissance : Manusia sebagai Pemimpin Dunia

Pendapat kedua mengatakan bahwa sebenarnya manusia menggantikan manusia lain, jadi bukan

A. Pendidikan Humanisme Pasca- Renaissance : Manusia sebagai Pemimpin Dunia

Paradigma peradaban Barat dan tak terkecuali dengan reformasi pendidikannya berkecenderungan pada humanisme.3 Peradaban reformasi pendidikan humanisme, begitupun dengan paradigm peradaban lainnya, selalu berpijak dan bermuara dari masa Renaissance (masa pencerahan). Renaissance berakar kata dari bahasa Perancis re dan naitre yang bermakna hidup kembali atau kelahiran kembali.4

Definisi renaissance adalah merujuk pada makna kelahiran kembali atau ‚reinkarnasi‛ kebudayaan klasik Yunani dan Romawi dalam kehidupan masyarakat Barat menuju zaman keemasan (the golden age).5 Hal ini menurut Malcolm Hebron, renaissance adalah era

3Abraham Verghese, Nigam H. Shah, dan Robert A. Harrington. "What This Computer Needs is A Physician: Humanism and Artificial Intelligence, "

Jama, Vol. 319. No. 1 (2018): 19-20; Naomar Almeida-Filho, "Higher

Education and Health Care in Brazil," The Lancet, Vol. 377. No. 9781 (2011): 1898-1900; Yudi Hartono, Samsi Haryanto, dan Asrowi, "Character Education in The Perspective of Humanistic Theory: A case study in Indonesia,"

Educare, Vol. 10. No. 2 (2018); 1-20; Jesper Sjöström, "Science Teacher

Identity and Eco-Transformation of Science Education: Comparing Western Modernism with Confucianism and Reflexive Bildung," Cultural Studies of

Science Education, Vol. 13. No. 1 (2018): 147-161; Jakob B. Madsen, dan

Fabrice Murtin, "British Economic Growth Since 1270: The Role of Education." Journal of Economic Growth, Vol. 22. No. 3 (2017): 229-272.

4Barry Bridgwood dan Lindsay Lenny, Histori, Performance and

Concervation (Abingdon: Taylor & Francis, 2009), 83, Christipher S.

Celenza, The Intellectual World of The Italian Renaissance: Language,

Philosophy, and The Search for Meaning (New Yor: Cmbridge University

Press, 2018), 1.

5Fokky Fuad Wasitaatmadja, Jumanta Hamdayama, dan Heri Herdiawanto,

Spriritualisme Pancasila (Jakarta: Prenadamedia Group, 2018), 105, Lies

Sudibyo, dkk, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Deepublish, 2014), 14, Jocelyn Hunt, The Renaissance: Question and Analysis in History (London: Routledge, 1999), 1.

‚terbitnya terang‛ setelah masa kegelapan (dark age) peradaban Barat dengan kembali pada pemikiran dan peradaban zaman klasik warisan Yunani dan Romawi Kuno sebagai sumber pencerahan (enlightment).6

Hal senada diungkapkan oleh seorang pelukis dan sejarawan bernama Giorgio Vasari (1511-1574), modus operandi pemikiran renaissance adalah memperbaharui (renovatio) dan menghidupkan kembali (rinascita),7 di mana menurut Henry S, Lucas (1960) dilatarbelakangi oleh keinginan melakukan kajian kritis dan mendalam tentang wawasan dan khasanah keilmuan kuno yang telah hilang akibat runtuhnya kebudayaan Yunani dan Emperium Romawi Kuno.8 Dengan demikian, renaissance adalah kesadaran, hasrat dan keinginan untuk melakukan kajian intelektual dalam rangka memperbaharui dan menghidupkan kembali wawasan dan khasanah keilmuan Yunani dan Romawi Kuno untuk dijadikan sebagai pelita untuk keluar dari zaman kegelapan menuju zaman pencerahan, dengan locus utama adalah manusia sebagai subjek dan obyek pendidikan.9

Kata renaissance pertama kali digunakan oleh sejarawan Perancis bernama Jules Michelet dalam karyanya berjudul History of France.10

Sejarawan Perancis yang lahir pada abad ke-18 M tersebut menekankan bahwa masa romatik Abad Pertengahan yang penuh keindahan dan keajaiban mempunyai sumbangsih yang besar dalam

6Malcol Hebron, Key Concpet in Renaissance Literature (Hampshir: Palgrave MacMillan, 2008), 124, Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat

(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007), 109.

7Margareth L. King, The Short History of The Renaissance in Europe

(Toronto: University of Toronto Press, 2017), xvii.

8Henry S. Lucas, The Renaissance and The Reformation (New York: Harper & Row Publisher, 1960), 207.

9William Robert Amilan Cook, "More Vision Than Renaissance: Arabic as A Language of Science in The UAE." Language Policy, Vol. 16. No. 4 (2017): 385-406; Carol Vincent, "The Children Have Only Got One Education and You Have to Make Sure It's a Good One: Parenting and Parent–School Relations in a Neoliberal Age," Gender and Education, Vol. 29. No. 5 (2017): 541-557; Kristjan Kristjansson, "Recent Work on Flourishing as the Aim of Education: A Critical Review," British Journal of Educational Studies, Vol. 65. No. 1 (2017): 87-107.

10Jules Michelet, History of Franch (T.tp: Creative Media Partner, LLC, 2015), John R. Williams, Jules Michlet: Historian As Critic of French Literature (Alabama: Summa Publications, INC, 1987), 23, Alex Novikoff, ‚The Ranaissance of The Twelfth Century Before Haskins‛, The Haskins Society Journal, Vol. 16, 2005, 106.

perkembangan kebudayaan Barat.11 Jules Michelet mengaplikasikan penggunaan kata renaissance untuk membedakan gambaran masyarakat Eropa sebelum dan sesudah zaman pertengahan dalam hal penafsiran doktrin keagamaan.12 Dalam tesis Jules Michelet, dijelaskan bahwa Abad Pertengahan ditandai oleh faktor dogmatis,13 sedangkan manusia pasca renaissance ditandai oleh faktor humanis.14 Setelah Jules Michelet menggunakan kata Renaissance dalam lembar kerjanya, selanjutnya, dipopulerkan oleh sarjana-sajana Eropa lainnya, seperti: Jacob Burckhard (1818-1898) dalam karya monumentalnya berjudul The Civilization of the Renaissance in Italy (Die Kultur der Renaissance in Italien) mempopulerkan ide tentang renaissance sebagai sebuah era yang unik, penting dan dapat dididentifikasi dalam sejarah peradaban Barat.15 Jacob Burckhardt mengemukakan renaissance merupakan revolusi gerakan ‚zaman‛ dalam rangka menemukan dunia dan manusia yang sesungguhnya.16Bahkan, menurut

11William Caffero, Contesting The Renaissance (UK: Blackwell Publishing, 2011), Elizabeth Emery, Romancing The Cathedral: Gothic Architecture in Fin-de-Siecle French Culture (New York: State Uiniversity of New York Press, 2001), 23.

12Jules Michelet, History of Franch, Michael Zank (ed), New Perspectives on Martin Buber (Jerman: Mohr Siebeek Tübingen, 2006), 90, Stephen A. Kipur,Jules Michelet: A Study of Mind and Sensibility (New York: State University of New York Press, 1981), 84-85.

13 Ali Syari’ati, Melawan Hegemoni Barat (Jakarta: Lentera Baristama, 1999), 296, Muhammad Iqbal, Ibn Rusyd & Averroisme: Pemberontakan Terhadap Agama (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2011), h 100, Wahyu Iryana, Historiografi Barat (Bandung: Humaniora, t.t), 164.

14Margaret L. King, Renaissance Humanism: An Anthology of Source

(Indiana: Hackett Publishing Company, Inc, 2014), James Hankins (ed),

Renaissance Civic Humanism: Reppraisals and Reflections (Cambridge: Cambridge University Press, 2003), Patrick Baker, Italian Renaissance Humanism in The Mirror (Cambridge: Cambridge University Press, 2015), James Hankins, Humanism and Platonism in The Italian Renaissance (Roma: Edizioni di Storia E Letteratura, 2003), 360.

15William R. Estep, Renaissance and Reformation (USA: William B. Eerdmans Publising, 1986), 18.

16Richard Franklin Sigurdson, Jacob Burckhardt’s Social & Political Thought (Toronto: University of Toronto Press, 2004), 26, John R. Hinde,

Jacob Burckhardt and The Crisis of Modernity (Monteral & Kingston: McGill-Queen’s University Press, 2000), 301, Kenneth R. Bartlett, A Short History of The Italian Renaissance (Toronto: University of Toronto Press, Inc, 2013), 7.

Burckhardt, pada masa renaissance-lah dilakukan ‚penyelaman‛ terhadap seluk beluk manusia dan dunia yang ‚bermuara‛ pada era individualistis, kemajuan dan keterlepasan dari berbagai ‚belenggu‛ kewajiban lama.17 Subjek manusia sebagi pribadi mulai berpikir dan bertindak melampaui ‚batas‛ yang pada era sebelumnya dikekang,18 di mana menurut Richard Hooker dalam Of the Law of Ecclesiastical Polity manusia diciptakan dengan segenap potensi untuk mengusai ilmu pengetahuan (potential for knowledge) yang berbeda dengan makhluk lain, seperti malaikat dapat ‚mengelakkan‛ dirinya dari pemberlakuan hukum Tuhan.19 Sehingga, dengan kesadaran tersebut, manusia tidak lagi menghindar dari dunia, sebaliknya menatap ‚wajah‛ dunia.20

Pandangan terhadap doktrin agama mengalami perubahan yang mendasar.21 Gereja tidak lagi menjadi satu-satunya tempat mencari keselamatan dan sumber pengetahuan sebagaimana yang telah berlaku pada zaman pertengahan.22 Dengan demikian, renaissance sebagai pemisah antara pola pikir dan tingkah laku manusia abad pertengahan di Eropa merupakan ‚induk‛ yang dari ‚rahimnya‛ lahir manusia merdeka a la tradisi dan peradaban luhur Yunani dan Romawi Kuno dengan segenap potensi yang melekat pada penciptaannya untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini.

17John R. Hinde, Jacob Burckhardt and The Crisis of Modernity, 22, Steven Lukes (ed), Individualism (Colchester: ecpr Press, 2006), 35, Janet Coleman (ed), The Individual in Political Theory and Practice (New York: Oxford University Press, 1996), 35.

18Alain de Benoist and Charles Champetier, Manifesto for a European Renaissance (London: Arktos Media Ltd., 2012), 18, Jessica Wolfe,

Humanism, Machinery, and Renaissance Literature (Cambridge: Cambridge University Press, 2004), 239.

19Richard Hooker, Of the Law of Ecclesiastical Polity (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), Jean E. Feerick dan Vin Nardizzi (ed),

The Indistinct Human in Renaissance Literature (New York: Palgrave MacMillan, 2012), 1.

20Erica Fudge (ed), Renaissance Beasts: of Animals, Humans, and Othe Wonderful Creatures (Illionis: The Board of Trustee of The University of Illionis, 2004), 116, Jeffrey Howard Denton (ed), Orders and Hierarchies in Late Medieval and Renaissance Europe (Toronto: University of Toronto Press Inc, 1999), 47.

21Lizann Flatt, Religion in The Renaissance (Ontario: Crabtree Publishing Company, 2010), 4, Paul Richard Blum, Philosophy of Religion in The Renaissance (England: Ashgate Publishing Ltd, 2010), 43.

Pasca renaissance, dominasi kekuasan absolut Gereja perlahan runtuh. Peristiwa ini berbuntut pada terbelahnya bangsa Barat dalam memahami agama dalam aplikasi segala bidang kehidupan termasuk dunia pendidikan, menjadi dua aliran, yaitu: deisme dan atheisme. Deisme adalah aliran pemikiran yang mempercayai eksistensi Tuhan sebagai pencipta alam dan manusia, namun sesudah penciptaan, Tuhan lepas tangan dan tidak lagi mengatur kehidupan, ibarat arloji berjalan sendiri setelah dibuat oleh tukang jam.23 Para penggagas aliran deisme ini adalah Huldrych Zwingli (1483-1556),24 Martin Luther King (1483-1556),25 John Calvin (1509-1650),26 John Locke (1632-1704),27 Isaac Newton (1642-1724),28 Immanuel Kant (1724-1804)29 dan lain sebagainya. ‚Rukun iman‛ kaum deisme adalah percaya kepada satu Tuhan bernama Deus melalui perenungan akal melalui matematika a la Descartes dan mekanika a la Newton, tidak meyakini mitos verbum dei, tidak mempercayai mukjizat yang berkarakteristik ‚gaib‛ dan berseberangan dengan hukum akal, mempercayai doktrin creatio ex nihilo dan membagi kehidupan dalam tiga matra, alam, Tuhan dan akal.30

Aliran atheisme atau disebut juga materialisme, pertama kali diproklamirkan oleh George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) melalui magnum opusnya berjudul Phenomenology of Mind (1807) bahwa kesempurnaan roh universal akan terwujud melalui

23P. A. Van der Weij, Filsuf-filsuf Besar Tentang Manusia, terj. K. Bertens (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2017), 97, Harun Nasution, Filsafat Agama (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), 40-41.

24Andreas Sofroniou, Moral Philosophy (Morrisville: Lulu Enterprises Inc., 2011), 145.

25Robert P. George (ed), Natural Law Theory: Contemporary Essays

(Oxford: Oxford University Press, 1992), 71.

26Michael A. Mullett, John Calvin (New York: Routledge & Francis Group, 2011), 238.

27John Marshall, John Locke: Resistance, Religion and Responsibility

(New York: Cambridge University Press, 1996), 409, Greg Forster, John Locke’s Politics of Moral Consensus (New York: Cambridge University Press, 2005), 86.

28Jeffrey R. Wigelsworth, Deism in Enlightenment England: Theology, Politics, and Newtonian Public Scince (Manchester: Manchester University Press, 2009), 72.

29Chris L. Firestone, Kant and Theology at The Boundaries of Reason

(New York: Routledge & Franscis Group, 2016), 7.

30G. C. Van Niftrik dan B. J. Boland, Dogmatika Masa Kini (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 126-127.

penghanyutan diri dalam kondisi-kondisi batas ruang dan waktu.31 Roh universal paling mungkin diimplimentasikan dalam pikiran manusia.32

Karenanya, gagasan tentang Tuhan yang transenden harus dibuang jauh-jauh dari pikiran manusia untuk memberikan ruang pada pemahaman sifat ketuhanan di dalam dirinya.33 Selanjutnya, gagasan sekular Hegel ini dijelaskan lagi oleh muridnya Ludwig Feuerbach (1804-1872 M), dalam teorinya Fuerbach menyatakan bahwa agama berpotensi memisahkan manusia dari Tuhan karena di dalam agama ada ‚potensi‛ untuk mengasingkan manusia dari dirinya sendiri.34 Hal ini bedasarkan kepercayaan bahwa Tuhan adalah maha sempurna sedangkan manusia tidak, Tuhan adalah maha abadi sedangkan manusia fana, Tuhan adalah maha kuasa sedangkan manusia lemah.35

Karl Marx (1818-1883), dalam buku Economic and Philosophical Manuscript menuangkan kegelisahan intelektualnya bahwa agama adalah gejala masyarakat yang sakit, agama adalah candu masyarakat yang hanya dapat menerima sistem sosial yang rusak.36 Bahkan, oleh Marx agama dianggap sebagai penghilang hasrat dan keinginan manusia untuk mencari solusi permasalahan mereka di dunia ini dengan mengalihkan perhatian mereka dari dunia ini kepada akhirat.37 Eksistensi Tuhan semakin sirna, setelah Charles Darwin (1809-1882) memperkenalkan teori evolusi dalam karya kontroversialnyanya The

31George Wilhelm Friedrich Hegel, The Phenomenologi of Mind (New York: Routledege& Francis Group, 2013, Sitorus, Fitzgerald K. "Dualitas Idealisme dan Materialisme." Extension Course Filsafat (ECF) (2017).

32Franz Magnis Suseno, Menalar Tuhan (Yogyakarta: Kanisius, 2006), 64.

33Mun’im A. Sirry, Membendung Militansi Agama: Iman dan Politik dalam Masyarakat Modern (Jakarta: Erlangga, 2003), 139.

34Tibor R. Machan, Kebebasan dan Kebudayaan: Gagasan Tentang Masyarakat Bebas, terj. Masri Maris (Jakarta: Kedutaan Besar Amerika Serikat, Freedom Institute dan Yayasan Obor Indonesia, 2006), 333.

35Bryan Magee, The Story of Philoshophy, terj. Marcus Widodo dan Hardono Hadi (Yogyakarta: Kanisius, 2008), 163.

36Karl Marx, Economic and Philosophy (New York: Dover Publications, INC, 2007), Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2016), 128, Franz Magnis Suseno, Dalam Bayang-bayang Lenin: Enam Pemikiran Marxisme dari Lenin Sampai Tan Malaka (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003), 29.

37Peter Conolly (ed), Aneka Pendekatan Studi Agama, terj. Imam Khoiri (Yogyakarta: LkiS, 2012), 278, Andi Muawiyah Ramly, Peta Pemikiran Karl Marx (Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis) (Yogyakarta: LkiS, 2000), 76.

Origin of Species by Means Natural Selection untuk menolak teori creatio ex nihilo yang sudah bertahun-tahun diyakini oleh Gereja. Dengan teori evolusinya tersebut, Darwin berusaha menunjukkan dalam proses penciptaan alam dan kehidupan makhluk di dunia tidak ada campur tangan Tuhan di dalamnya.38 Di tangan Friedrich Nietzsche (1844-1900), atheisme mencapai puncak perkembangannya, setelah Nietzsche mengabarkan kematian tuhan pada 1882 melalui karyanya bertajuk The Gay of Science.39

Kedua aliran tersebut di atas, meresap pada relung pemikiran paradigm pendidikan bangsa Eropa dari mulai akhir abad ke 17 Masehi sampai sekarang, sebagai konsekuensi logis sekaligus anitesa atas tindakan otoritas gereja yang selama beratus-ratus tahun yang lalu yang membodohi dan memasung kebebasan mereka sehingga mengakibatkan alienasi kemampuan dan potensi manusia untuk optimis dalam memandang dunia sebelum nantinya tiba di kehidupan dunia-sana. Paradigma reformasi pendidikan peradaban Barat lebih cenderung bercorak humanistik. Istilah humanisme berasal dari kata humus yang secara etimologis bermakna tanah atau bumi. Dari derivasi kata humus kemudian muncul beberapa, yaitu: homo yang bermakna manusia, humanus yang merujuk pengertian manusiawi dan humilis yang bermakna kesederhanaan atau kerendahan hati. Kata humanis berlawanan makna dengan kata dari konsep-konsep yang bermakna mahkluk selain manusia, seperti: hewan, tumbuhan dan juga termasuk dewa-dewa—deus-divus-divinus., istilah ini mulai diperkenalkan ke jagat raya oleh para intelektual abad ke-14 M.40 Pada dasarnya, humanisme menurut T. S. Robert dapat dipahami sebagai usaha pengentasan manusia dari obsesi pemikiran keagamaan yang mengasingkan manusia dari penalaran dan olah pikir untuk kemajuan ilmu pengatahuan di dunia-sini karena dipaksa untuk menerima apa adanya pemberian dari dunia supranatural nan transendental yang

38Charles Darwin, On The Origin of Species: By Means of Natural Selction or The Preservation of Favoured Races in The Strugle for Life (New York: Dover Publication INC, 2006), John Wilson, Physicist Examines Hope in The Resurrection: Examination ofh The Significance of The Work of John C. Polkinghorne for The Mission of Church (Eugene: Wipf & Stock Publishers, 2016), 49,

39Friedrich Nietzsche, The Gay of Science (New York: Vintage Books Edition, 1974), Muslih, Mohammad. "Konsep Tuhan Nietzsche dan Pengaruhnya terhadap Pemikiran Liberal." KALIMAH 16.2 (2018): 136-157.

40 Harun Hadiwiyono, Seri Sejarah Filsafat, 11, Tony Davies, Humanism

menghuni dunia-sana.41 Definisi tersebut dijelaskan lagi oleh Nicola Abagnano bahwa humanisme memposisikan value (nilai) dan dignity (martabat) manusia di atas segala-galanya, serta menjadikan kepentingan manusia sebagai tolok ukur kebenaran mutlak.42

Pengertian hampir sama juga diutarakan oleh Nurcholish Madjid bahwa humanisme adalah kombinasi antara gagasan pemikiran, sikap dan kepercayaan yang berasaskan kemampuan diri manusia untuk menginovasi nilai-nilai yang harus ada untuk membangun kehidupan.43

Menurut Sonhaji, manusia mempunyai nilai dan martabat yang lebih tinggi daripada makhluk lain dikarenakan kemampuan berpikir yang khas melekat pada ‚piranti‛ penciptaannya.44 Dengan kemampuan tersebut, Denis Colin berpendapat bahwa manusia dapat menguasai human world, suatu kondisi pendefinisian realitas tak terbatas dalam bentuk kosakata yang merupakan hasil ‚kerja gabungan‛ pikiran dan tindakan dalam rangka memanusiakan sejarah dan kebudayaan.45 Hal ini, dipertegas lagi oleh Wan Mohd Nor Wan Daud, bahwa melalui humanisme manusia disadarkan bahwa realitas kehidupan adalah suatu fenomena kehidupan yang dinamis. Karenanya, manusia harus mempunyai elemen kunci berupa daya intelektualitas, etika dan disiplin agar dapat bertransformasi dan berintegrasi dengan dunia dalam harmoni untuk menjinakkan dinamitas realitas kehidupaan manusia yang tidak terbatas.46 Pengertian-pengertian tersebut dirangkum oleh Ali Syari’ati seorang cendekiawan Iran, bahwa humanisme membawa misi untuk menyelamatkan dan menyempurnakan kehidupan manusia.47 Oleh karena itu, dalam keyakinan Franzs Magnis Suseno, seorang humanis adalah orang yang mendasarkan tingkah lakunya pada pemikiran memanusiakan manusia,

41T.S. Robert, Four Psychologies Applied to Education (Jakarta: LP3ES, 1998), 46.

42Nicola Abagnano, Humanism: Ensyclopedia of Philosophy (USA: MacMillan, 1972), 70.

43Nurcholish Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan (Bandung: Mizan, 1998), 185.

44Ahmad Sonhaji, Membangung Peradaban Bangsa dalam Perspektif Multikultural (Malang: UM Press, 2015), 9.

45Gregory, Tanner. "Moral Awareness, Original Sin and the Atonement."

Dialogue & Nexus 3.1 (2016): 10.

46 Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas (Bandung: Mizan, 2003), 106.

47Ali Syari’ati, Humanisme antara Islam dan Barat (Jakarta: Pustaka Hidata, 1992), 39.

tidak menyakiti manusia lain dan bersikap inklusif kepada mereka. Hal ini dilakukan untuk menjamin ‚membuminya‛ keadilan dan kasih sayang di belantara kehidupan manusia,48 disertai komitmen kesetiaan kepada manusia dan kebudayaan.49

Humanisme sebagai model pendidikan menurut Jonathan H. Kim mempunyai titik fokus untuk menggali seluruh potensi dan kemampuan dari dalam diri manusia guna memperoleh kesadaran akan nilai dan martabatnya melalui transformasi keberadaan manusia sebagai manusia dan tidak hanya pada transmisi ilmu pengetahuan semata.50 Pendapat senada, diutarakan oleh Wasty Soemanto dan Hendyat Soetopo bahwa melalui pendidikan manusia dapat mengenal dirinya sendiri, sehingga pada akhirnya manusia dapat berproses untuk melangsungkan aktivitas di masa depan atas dorongan hatinya sendiri.51 Dengan demikian, simpul pendidikan humanisme menurut Muhammad Nasir yang dikutip Azra adalah pendidikan yang berdimensi kemanusiaan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan menuju kesempurnaan jiwa dan raga.52 Hal senada juga diungkapkan oleh Alber V. E Avey, bahwa inti humanisme adalah manusia merupakan makhluk penting dalam perjalanan sejarah alam semesta.53 Lebih sederhananya, menurut Freire pendidikan humanisme adalah pendidikan untuk pemanusiawian manusia.54 Dalam penelusuran Sugiharto, humanisme dalam literatur Latin klasik merujuk pada makna karakteristik manusia, yaitu: kerendahan hati dan terpelajar. Makna terpelajar ini, di dalam tradisi renaissance Italia jamak digunakan untuk menyebut orang-orang yang bergelut pada kajian studia humanitatis, suatu kurikulum yang terdiri atas disiplin keilmuan

48Franzs Magnis Susesno, Humanisme Religius Vs Humanisme Sekuler,

(Semarang: IAIN Walisongo dan Pustaka Pelajar, 2007), 210.

49Musthofa Rahman, Humanisasi Pendidikan Islam Plus Minus Sistem Pendidikan Pesantren (Semarang: Walisongo Press, 2011), 34.

50James Riley Estep, The Heritage of Cristian Education (Missouri: Colleg Press Publishing Company, 2003), 82.

51Wasty Soemanto dan Hendyat Soetopo, Dasar dan Teori Pendidikan Dunia: Tantangan Bagi Para Pemimpin Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), 123.

52Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Millenium III (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), 5.

53Miftahul Munir, Filsafat Kahlil Gibran Humanisme Teistik (Yogyakarta: Paradigma, 2005), 1.

54Paulo Freire, Pedagogy of The Oppresed (New York: Penguin Books, 1972), 70.

retorika, puisi, sejarah, filsafat dan gramatika, di mana dalam tradisi Yunani kurikulum tersebut ditemukan di dalam sistem pendidikan Paidea dan pada abad pertengah familiar dengan istilah artes liberales yang kemudian dikenal dengan istilah disiplin ilmu humaniora.55

Penjelmaan humanisme menjadi sebuah teori dalam diskursus pendidikan mengemuka pada tahun 1970-an berpijak dan dipengaruhi oleh tiga teori filsafat, yaitu: pragmatisme, progresivisme dan eksistensialisme.56 Karenanya, konsep pragmatisme lebih cenderung digunakan untuk merujuk pemaknaan fungsi metode sebagai penjelas suatu konsep daripada diangga sebagai pemikiran dalam blantika kefilsafatan.57 Laurentius Tarpin mengemukakan bahwa pendidikan humanistik merupaka pendidikan secara terpadu dan holistik yang diterapkan untuk membina manusia agar dapat mengenali makna, menemukan jati diri, menyadari pontensinya untuk dikembangkan, mengendalikan nafsu (libido vivendi, sexualis, dominandi et possendi), menjernihkan hati nurani, mengembangkan rasa takjub dan dapat mengekspresikan perasaan dan pemikirannya secara tepat dan benar.58

Dari pemaparan di atas, terlihat pendidikan pasca renaissance di Barat dengan segala hiruk pikuk reformasi sosial di dalamnya melahirkan konsep pendidikan humanistik yang menempatkan manusia di atas segala-galanya dengan kebebesan yang tidak terbatas yang belum pernah dicapai dalam sejarah. Jika, pra renaissance penguasa dunia adalah Gereja, maka pasca renaissance kekuasan Gereja direbut oleh manusia secara individu. Namun, revolusi kemanusiaan gaya Barat ini pada akhirnya ‚mengeringkan‛ potensi spiritualitas manusia yang mengakibatkan manusia menghamba pada sesuatu yang materi saja berselimut modernitas.

B. Reformasi Pendidikan dalam Peradaban Islam: Sejarah Wacana