• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS KARAKTER

B. Pendidikan Islam Berbasis Karakter

menggunakan fungsi panca indera secara pantas dan meninggalkan segala perbuatan

dan perkataan tercela.53

Pendidikan dalam perspektif Islam berupaya mengembangkan seluruh potensi

peserta didik seoptimal mungkin, baik yang menyangkut aspek jasmaniah maupun

rohaniah, akal dan akhlak. Dengan optimalisasi seluruh potensi yang dimilikinya,

pendidikan Islam berupaya mengantarkan peserta didik kearah kedewasaan pribadi

secara paripurna yaitu yang beriman dan berilmu pengetahuan.54

Adapun menurut Ghazali seperti yang dikutip Abidin Ibn Rusn bahwa tujuan

pendidikan itu adalah sebagai berikut:

1. Mendekatkan diri kepada Allah yang wujudnya adalah kemampuan dan dengan

kesadaran diri dengan melaksanakan ibadah wajib dan Sunnah

2. Menggali dan mengembangkan potensi atau fitrah manusia

3. Mewujudkan profesionalisasi manusia untuk mengembangkan tugas keduniaan

dengan sebaik-baiknya

4. Membentuk manusia berakhlak mulia, suci jiwanya dari kerendahan budi dan

sifat-sifat tercela

5. Mengembangkan sifat-sifat manusia yang utama sehingga menjadi manusia yang

manusia.55

B. Pendidikan Islam Berbasis Karakter

Dalam beberapa bahasa, secara harfiah karakter memiliki berbagai arti seperti: ―kharacter” (Latin) yang berarti instrument of marking, “charessein” (Prancis) yang

berarti to engrove (mengukir), ”tabi‟at‖ (Arab) yang berarti watak, “watek” (Jawa) yang

53

A. Ḥasjmī, Konsepsi Ideal Darussalam, dalam Komisi Redaksi, 10 Tahun Darussalam dan hari Pendidikan

Propinsi Daerah Istimewa Aceh, (Banda Aceh: Jajasan Darussalam, 1969), 68.

54

Samsul Nizar, Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam (Jakarta: Gaya Gramedia Pratama, 2001), 7.

55

berarti ciri wanci, watak (Indonesia) yang berarti sifat pembawaan yang mempengaruhi

tingkah laku, budi pekerti, tabiat, dan perangai. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

(KBBI), karakter adalah sifat, kejiwaan, akhlak, budi pekerti yang membedakan seseorang

dengan orang lain.56

Jika dalam kamus Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat, watak,

sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain.

Ciri pribadi meliputi hal-hal seperti prilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan,

kemampuan, kecendrungan, potensi, nilai-nilai, dan pola-pola pemikiran.57

Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan

Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud

dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma

agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.58 Karakter merupakan bagian

gabungan dari kebajikan dan nilai-nilai yang dipahat dalam batu kehidupan yang akan

menyatakan nilai sebenarnya. Sedangkan menurut Hermawan Kertajaya, karakter adalah

ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut sudah mengakar

pada diri seseorang sehingga akan menjadi pendorong untuk bertindak, bersikap dan

berucap.59

Pada hakikatnya pendidikan adalah penanaman rasa kesadaran beriman dan beramal ṣalih yang berdasarkan ilmu pengetahuan, sehingga karenanya manusia menjadi makhluk

sosial yang menghayati ajaran-ajaran Islam dalam segala kehidupannya, baik kehidupan

pribadi ataupun kehidupan jama‘ah, baik dalam kehidupan politik, kehidupan ekonomi

ataupun dalam kehidupan sosial.

56

Masykuri Bakri, Membumikan Nilai Karakter Berbasis Pesantren Belajar dari Best Practice Pendidikan

Karakter Pesantren dan Kitab Kuning, (Jakarta: Nirmana Media, 2011), 1.

57

Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, (Bandung:PT Rosadakarya2013), 11.

58

Marjuni, Pilar-pilar Pendidikan Karakter Dalam Konteks Keislaman, Auladuna, Vol. 2 No. 1, (Juni, 2015)

59

Furqan Hidayatullah,Pendidikan Karakter, Membangun Peradaban Bangsa (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010), 12-13.

Makna Pendidikan Islam adalah penanaman rasa kesadaran beriman dan beramal

ṣalih yang berdasarkan ilmu pengetahuan, sehingga karenanya manusia menjadi makhluk

sosial yang menghayati ajaran-ajaran Islam dalam segala kehidupannya, baik kehidupan pribadi ataupun kehidupan jama‘ah, baik dalam kehidupan politik, kehidupan ekonomi

ataupun dalam kehidupan sosial. makna pendidikan Islam yang pertama-tama mestilah dirumuskan dalam Arti ―penanaman kesadaran beriman‖ kepada Allah Swt dalam hati

sanubari anak didik. Selepas itu, barulah ditanamkan ―kesadaran beramal ṣalih‖ yang

berasaskan kepada ―ilmu pengetahuan.‖. Jadi, secara ringkas definisi atau makna

pendidikan Islam menurut Ḥasjmī mencakup ―penanaman‖ kesadaran ―beriman‖ dan ―‘amal ṣalih‖ berdasarkan kepada ilmu pengetahuan, bukan kepada amal ṣalih tanpa ilmu

pengetahuan.60

Pendidikan karakter tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus terintegrasi dan

diinternalisasi. Cara tersebut dapat dilakukan dengan kegiatan pembiasaan; integrasi

pendidikan formal, informal, dan nonformal; integrasi dan internalisasi dalam seluruh

mata pelajaran; integrasi dalam proses pembelajaran; keteladanan dari seluruh unsur

pendidikan; dan kegiatan ekstra kurikuler.

Untuk mengoptimalkan implementasi dari pendidikan karakter, maka harus

mendapat dukungan dari semua pihak, terutama guru dan orang tua yang mempunyai

peranan yang sangat penting. Mereka merupakan kurikulum yang hidup, keteladanan dan

semangat untuk mendidik peserta didik harus ada dalam diri para guru dan orang tua. Oleh

karena itu pendidik itu harus berkarakter sebelum membentuk karakter peserta didik, agar

peserta didik mampu menyerap dan mengamalkan atas apa yang ditanamkan oleh

pendidik.61

60

Syabuddin Gade, ―Konsep Pendidikan Islam dalam Perspektif Pemikiran Ali Hasymy (Analisis Hakikat dan Tujuan Pendidikan Islam), FITRA, Vol. 1, No. 2, (Juli – Desember, 2015) 30-31.

61

M. Nurul Mukhlishin, “Pengembangan Pai Berbasis Pendidikan Karakter‖, Inovatif, Volume 1, No. 2 (September, 2015), 54.

Hal yang menjadi episetrumnya adalah (1) Pendidikan Islam di Indonesia

sebenarnya sudah diajarkan tentang karakter, karakter yang lebih dikenal dengan sifat

positif yang tampak pada perilaku seseorang sudah diajarkan oleh guru maupun orang tua,

akan tetapi perilaku ini hanya ada pada sebagian orang yang menjunjung nilai-nilai

tertentu saja. Nilai-nilai karakter tidak cukup hanya diajarkan secara teoritis, tidak pula

hanya diajarkan dengan sikap saja, akan tetapi seharusnya tampak dalam perilaku dan

menjadi budaya sehingga akan menjadi ciri khas bangsa yang berkarakter. (2) Penerapan

nilai pendidikan karakter akan lebih efektif bila didukung oleh regulasi yang mendukung

penerapan nilai karakter tersebut. Dalam hal ini seluruh komponen pendidikan Islam, ikut

merealisasikan nilai -nilai karakter mempercepat proses keberadaan karakter sehingga

melekat menjadi karakter bangsa. (3). Pendidikan karakter atau akhlaq ini semestinya

merupakan agenda mendesak yang harus didesain oleh lembaga pendidikan Islam. Islam

memposisikan pendidikan sebagai urusan utama kaum muslimin, maka mutu pendidikan

Islam akan terjamin. Generasi yang terbentuk pun menjadi generasi yang berkarakter,

yakni Islami. Seandainya kita mau menerapkan nilai-nilai karakter yang ada dalam

akhlaqul karimah dan meneladani Rasulullah SAW, karena akhlaq Rasulullah adalah al

Qur‘an.62

Pendidikan islam berbasis karakter adalah langkah sengaja untuk memupuk nilai

akhlak dan intelektual yang terkandung dalam Al-Qur‘an dan Sunnah melalui setiap fase

sekolah contoh kehidupan orang dewasa, hubungan antara teman sebaya, penanganan

disiplin, resolusi konflik, isi kurikulum, proses pembelajaran, standar akademik yang

ditetapkan, lingkungan sekolah, pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler, dan keterlibatan

orang tua. Pendidikan Karakter adalah term atau istilah yang secara longgar digunakan

untuk menggambarkan bagaimana mengajar anakanak dengan cara yang dapat membantu

62

Samsul Bahri, ―World View Pendidikan Islam Tentang Pembentukan Karakter Peserta Didik Yang Holistik Dan Integratif‖ Mudarrisuna, Volume 7, Nomor 2, (July-Desember, 2017), 207-208.

mereka mengembangkan beragam kemampuan seperti moral, sipil, sopan santun,

berperilaku yang baik, sehat, kritis, sukses, tradisional, sesuai dan atau diterima oleh

kehidupan sosial.

Pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk karakter yang baik kepada peserta

didik (siswa). Karakter tersebut menyangkut unsur nilai-nilai moral, tindakan moral,

kepribadian moral, emosi moral, penalaran moral, identitas moral, dan karakteristik dasar

dalam memberikan respon terkait dengan moralitas seseorang yang harus dimiliki siswa

dan kemudian mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.63

Melihat makna pendidikan dan karakter di atas, dapat disimpulkan bahwa

pendidikan karakter merupakan sebuah proses membentuk akhlak, kepribadian dan watak

yang baik, yang bertanggung jawab akan tugas yang diberikan Allah kepadanya di dunia,

serta mampu menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Karena itu dalam

Islam, pendidikan karakter adalah pendidikan agama yang berbasis akhlak. Islam melihat

pentingnya membentuk pribadi muslim dengan nilai-nilai yang universal.

Dalam publikasi Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian

Pendidikan Nasional berjudul Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter (2011), telah

mengidentifikasi 18 nilai pembentuk karakter yang merupakan hasil kajian empirik Pusat

Kurikulum yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional.

64

18 Nilai-nilai tersebut dapat di lihat pada bagan sebagai berikut:

63

Muhsinin, ―Model Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Islam untuk Membentuk Karakter Siswa Yang Toleran‖, Edukasia, Vol. 8, No. 2, (Agustus, 2013), 209-211.

64

Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa, oleh Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, 2010

Bagan 2.1

18 Nilai Karakter Kebangsaan berdasarkan Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan Nasional

Adapun deskripsi dari masing-masing nilai karakter yang sudah dirumuskan oleh

Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan Nasional

dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

18 Nilai

Karakter

Religius Jujur Toleran si Disiplin Kerja keras Kreatif Mandiri Demokr atis Rasa ingin tahu Semang at kebang saan Cinta tanah air Mengha rgai prestasi Bersaha bat/kom unikatif Cinta damai Gemar memba ca Peduli Lingkun gan Peduli sosial Tanggu ng jawab

Tabel 2.1

Daftar Nilai-nilai Karakter berdasarkan Kemendiknas65

Nilai Karakter Deskripsi

Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya

sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan

Kerja keras Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan

Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas

Demokratis Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain

Rasa ingin tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar

Semangat kebangsaan

Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya

Cinta tanah air Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

Menghargai prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

Bersahabat/komuni katif

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

Cinta damai Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain

Gemar membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya

Peduli lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

Peduli social Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada

65

orang lain dan masyarakat yang membutuhkan

Tanggung jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa

Sedangkan dalam upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa dapat dilakukan

melalui peningkatan mutu pendidikan. Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui lembaga

UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization) yang

bergerak dibidang pendidikan, pengetahuan dan budaya mencanangkan empat pilar

pendidikan yakni: (1) learning to Know, (2) learning to do (3) learning to be, dan (4)

learning to live together.

Secara sederhana, tujuan pendidikan karakter dapat dirumuskan menjadi ―merubah

manusia menjadi lebih baik, dalam pengetahuan, sikap dan keterampilan‖. Dalam konteks

yang lebih luas, tujuan pendidikan karakter dapat dipilah menjadi tujuan jangka pendek

dan jangka panjang. Tujuan jangka pendek dari pendidikan karakter adalah penanaman

nilai dalam diri siswa dan pembaharuan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai

kebebasan individu. Tujuan jangka panjangnya adalah mendasarkan diri pada tanggapan

aktif kontekstual individu, yang pada gilirannya semakin mempertajam visi hidup yang

akan diraih lewat proses pembentukan diri secara terus menerus (on going formation).66

Pendidikan karakter juga bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan

yang mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh,

terpadu dan seimbang, sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada setiap satuan

pendidikan. Melalui pendidikan karakter peserta didik diharapkan mampu secara mandiri

meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta

mempersonalisasikan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam

66

Supiana & Rahmat Sugiharto, ―Pembentukan Nilai-nilai Karakter Islami Siswa Melalui Metode Pembiasaan (Studi Kasus di Madrasah Tsanawiyah Terpadu Ar-roudloh Cileunyi Bandung Jawa Barat), Educan, Vol. 01, No. 01, Februari 2017), 105.

prilaku sehari-hari. Pendidikan karakter pada tingkat satuan pendidikan mengarah pada

pembentukan budaya sekolah/madrasah yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi,

kebiasaan sehari-hari, serta simbol-simbol yang dipraktekkan oleh semua warga

sekolah/madrasah, dan masyarakat sekitarnya.67

Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan Islam dapat ditempuh dengan

langkah-langkah sebagai berikut:

1. Mendesain pendidikan karakter melalui penataan muatanmuatan yang akan diterapkan

pada masing-masing bidang studi yang akan dipelajari oleh murid.

2. Mengeksplorasi nilai-nilai yang dapat dikembangkan pada masing-masing bidang studi

sehingga menjadi bagian dari pendidikan karakter. Seperti penanaman nilai-nilai

keimanan, ketakwaan dan ibadah pada bidang Akidah Akhlak dengan membudayakan

praktek ibadah dalam kesehariannya serta membiasakan sikap dan perilaku yang baik

terkait dengan hikmah keimanan dan ibadah tersebut akan membentuk akhlak yang

baik.

3. Pembiasaan dan pembudayaan pada masing-masing bidang nilai-nilai yang ditekankan

pada setiap bidang studi.

4. Pengintegrasian seluruh nilai-nilai moral dan agama dalam kehidupan sosial melalui

praktek kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.

5. Penyadaran bagi para guru dan pendidik untuk selalu merealisasikan pendidikan

karakter dan berusaha memahami tentang ilmu-ilmu pendidikan untuk suksesnya

pendidikan karakter berbasis Islam.

6. Evaluasi dan kontrol yangn berkelanjutan untuk memperbaiki pelaksanaan pendidikan

karakter berbasis nilai-nilai Islami.68

67

E. Mulyasa, Manajememen Pendidikan Karakter, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2013), 9.

68

Muhsinin, ―Model Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Islam Untuk Membentuk Karakter Siswa Yang Toleran‖, Edukasia, Vol. 8, No. 2, (Agustus, 2013), 224-225.

Suatu perbuatan karakter atau akhlak setidaknya memiliki lima ciri yaitu: ( 1) perbuatan

yang sudah tertanam dalam dan mendarah daging dalam jiwa. (2) perbuatan yang dilakukan

dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran lagi. (3) perbuatan yang muncul atas pilihan

bebas dan bukan paksaan. (4) pebuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya bukan rekayasa

dan (5) perbuatan yang yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah semata.69 Atau dengan

kata lain pendidikan karakter keperibadian anak didik yang terbentuk dari hasil internalisasi

berbagai kebajikan (virtuis) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara

pandang, berfikir, bersikap, dan bertindak.70

69

Abuddin Nata, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta: Grasindo, 2012), 164.

70

Asmawan Sahlan dan angga Teguh Prastyo, Desain Pembelajaran Berbasis Pendidikan Karakter, (Yogyakarta: Aruzz Media, 2012), 13.

Dokumen terkait