BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Pustaka
2.1.2 Pendidikan
Pendidikan adalah hal yang penting bagi kehidupan. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara (UU No. 20 tahun 2003). Sesuai dengan pasal 31 ayat 2 UUD 1945 menyatakan bahwa pendidikan merupakan hal yang wajib dilakukan setiap orang. Seorang harus memiliki pendidikan yang tinggi untuk menghadapi persaingan global.
Driyarkara (dalam Yunus, 2007: 16) menjelaskan bahwa pendidikan dapat dicapai melalui berbagai cara. Peranan orang tua, sekolah maupun masyarakat sangat diperlukan dalam proses pendidikan. Freire (dalam Yunus, 2007: 7) mengungkapkan bahwa pendidikan merupakan hak dasar manusia untuk mempertahankan hidup. Melalui pendidikan manusia akan mengolah segala informasi yang diterima untuk memenuhi segala hasrat dan kebutuhannya. Sastrapratedja (dalam Winarti dan Trianggadewi, 2015) menjelaskan empat sudut pandangan dalam pendidikan. Pertama, menurut aliran fungsionalis. Pendidikan merupakan proses enkulturasi dan akulturasi. Proses enkulturasi berarti mengadopsi budaya yang sudah ada sebelumnya untuk proses pendidikan. Sedangkan proses akulturasi berarti proses pencampuran budaya yang sudah ada dengan budaya yang baru untuk terwujudnya berbagai informasi.
Aliran yang kedua yaitu konflik. Aliran ini membantu kepentingan kelompok dominan untuk mempertahankan adanya kesenjangan sosio ekonomi. Ketiga, menurut aliran kritis membantu para pembelajar untuk berpikir kritis dan menyadari keberadaannya terhadap sesuatu yang ada di sekitarnya. Pandangan Sastrapratedja yang terakhir adalah interpretif yang menjelaskan bahwa pendidikan merupakan suatu wilayah untuk mempelajari hal baru. Pendidikan selanjutnya merupakan proses humanisasi yaitu usaha untuk memanusiakan manusia agar menjadi manusia seutuhnya (Freire, dalam Yunus 2007: 1). Prinsip humanisasi ini dikembangkan dalam pendidikan emansipatoris.
Pendidikan emansipatoris menempatkan guru dan siswa sebagai pembelajar. Artinya, guru dan siswa sama-sama menjadi subjek dalam pembelajaran. Winarti dan Trianggadewi (2015: 53) berpendapat bahwa pendidikan emansipatoris membantu seseorang menyadari keberadaannya dalam lingkungan dan kemudian membantunya mengambil keputusan dengan menyatukan hati, kehendak, dan budi. Pendidikan emansipatoris ini setidaknya memiliki tiga kunci utama yaitu humanisasi, kesadaran kritis dan mempertanyakan sistem.
Humanisasi berarti memberdayakan kemampuan berpikir kritis dan terbentuknya kesadaran kritis yang membantu terwujudnya relasi antara guru dan siswa. Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan berpikir tinggi pada level yang lebih kompleks (Gunawan, dalam Suprijono 2016). Kemampuan berpikir kritis mengarahkan seseorang untuk membuat suatu keputusan. Terwujudnya kesadaran kritis ini jika seseorang mulai belajar menerima segala keadaan yang dialami
seseorang baik sosial, ekonomi, budaya, maupun politik. Diperlukan dialog yang nyata dalam mempertanyakan sistem untuk terwujudnya suatu realitas.
Mengutip pendapat Suprijono (2016) bahwa pendidikan emansipatoris merupakan pendidikan yang menekankan aktivitas utama pada siswa. Kegiatan pembelajaran berfokus pada perhatian siswa sebagai subjek pembelajaran dan melandaskan pentingnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang berpusat pada siswa mendorong berkembangnya kesadaran reflektif yang dimiliki siswa (Sartre, dalam Suprijono, 2016). Model pembelajaran yang berpusat pada siswa ini membantu siswa membentuk pembiasaan yaitu membuat kesadaran yang tidak disadari menjadi kesadaran yang disadari.
Salah satu bentuk pendidikan emansipatoris adalah Paradigma Pedagogi Reflektif atau yang sering dikenal dengan PPR (Winarti dan Trianggadewi, 2015: 54). Peterson dan Nielsen (dalam Winarti dan Trianggadewi, 2015: 55) menjelaskan lima hal yang berkaitan dengan siklus dalam PPR yaitu konteks, pengalaman, aksi, refleksi, dan evaluasi.
Dalam konteks, guru perlu mengidentifikasi dunia yang dimiliki siswa termasuk kehidupan sosial, politik, ekonomi dan hal lain yang dapat mempengaruhi dunia siswa tersebut. Para guru juga perlu memperhatikan pemahaman awal siswa. Pemahaman ini diperoleh dari lingkungan atau dari pembelajaran sebelumnya untuk mendorong siswa menggali pengalamannya (Subagya, 2010: 48).
Pengalaman merupakan titik tolak dari PPR. Pengalaman yang dialami siswa menunjuk pada kegiatan yang memuat ranah kognitif dan afektif. Keterkaitan antara perasaan batin dan pemahaman intelektual mendorong siswa untuk melakukan suatu tindakan. Selain itu, konfrontasi pengalaman baru dengan pengalaman yang lalu mendorong siswa untuk mencari pemahaman lebih lanjut dan membantu siswa memahami kenyataan lebih luas dan lebih mendalam. Pengalaman dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Bentuk pengalaman langsung bisa melalui kegiatan diskusi, eksperimen, olahraga, maupun proyek lainnya. Dalam pengalaman tidak langsung guru dituntut untuk merangsang imajinasi dan penggunaan panca indera yang dimiliki siswa, sehingga siswa bisa memasuki kondisi nyata yang sedang dipelajari.
Kegiatan refleksi merupakan proses untuk menemukan makna dengan memahami kebenaran secara lebih baik, dengan mengerti reaksi dalam mempelajari sesuatu, dengan memperdalam pemahaman tentang dampak yang telah dimengerti, dengan berusaha menemukan makna dari kebenaran yang dipelajari, dengan mulai mempelajari sikap apa yang harus ditunjukan kepada orang lain. Dalam kegiatan refleksi ini para guru ditantang untuk merumuskan pertanyaan yang meluaskan kesadaran siswa serta membuka kepekaan siswa terhadap dampak dari suatu hal yang telah dipelajari untuk mengembangkan pengalaman ke arah yang lebih nyata dan lebih unggul. Kegiatan refleksi ini bisa diperluas sehingga dapat memperkuat,
mendorong dan memberi kepastian tindakan yang akan dilakukan setelah mempelajari suatu hal.
Aksi menunjuk pada pertumbuhan batin seseorang berdasarkan pengalaman yang telah direfleksikan. Dalam kegiatan ini, siswa mempertimbangkan pengalaman yang telah diperoleh dari sudut pandangnya. Setelah seorang siswa dapat memahami pengalaman tersebut dalam segi pengetahuan maupun sikap, maka ia akan mulai tergerak untuk melakukan suatu tindakan. Pilihan yang dilakukan siswa atas tindakan tersebut dapat positif maupun negatif sesuai dengan pemahaman siswa.
Selanjutnya, para guru perlu melakukan evaluasi untuk mengetahui keberhasilan maupun kekurangannya dalam melakukan proses pembelajaran. Tes, ulangan, ujian merupakan alat evaluasi untuk menilai kemampuan dan keterampilan yang telah dikuasai oleh siswa. Kegiatan evaluasi ini mendorong guru maupun siswa dalam memperhatikan perkembangan intelektual dan mengidentifikasi kekurangan dalam pembelajaran untuk kemudian diperbaiki demi terciptanya pembelajaran yang lebih kondusif dan efisien.
Penelitian ini berlandaskan pada konsep pendidikan emansipatoris yang terwujud dalam Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR). Konsep-konsep dasar tersebut dikembangkan melalui proses pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpendapat, mendorong terjalinnya kerja sama dalam menemukan pengetahuan, mengembangkan sikap tanggung jawab, refleksi diri, dan berbagai kegiatan yang menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa. Selain itu, konsep-konsep dasar tersebut juga dapat dikembangkan melalui pemberian pengalaman
bermakna (Suprijono, 2016: 40). Pengalaman tersebut dapat diperoleh dari lingkungan tempat tinggal siswa.