pendidikan nasional. Sebab perkembangan sosial, politik, dan kebangsaan ini memang cenderung menghasilkan karakter bangsa. Maraknya perilaku anarkis, tawuran antar warga, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, korupsi,
MANAJEMEN KINERJA PESANTREN
SEBAGAI MODEL
kriminalitas, kerusakan lingkungan dan berbagai tindakan patologi lainnnya merupakan indikasi masalah akut dalam pembangunan kararter bangsa ini. Hal tersebut telah menumbuhkan kesadaran betapa mendesaknya agenda untuk melakukan terobosan guna membentuk dan membina karakter para siswa sebagai generasi penerus bangsa. Sejumlah ahli pendidikan mencoba untuk merumuskan konsep-konsep tentang pendidikan karakter, dan sebagiannya lagi bahkan sudah melangkah jauh dalam praktik.
Pesantren merupakan salah satu lembaga yang dikatakan wujud proses wajar perkembangan sistem pendidikan nasional. Karena itu, lembaga pendidikan pesantren memiliki posisi stategis dalam dunia pendidikan. Sebagai salah satu bentuk pendidikan, pesantren mempunyai tempat tersendiri dihadapan masyarakat. Hal ini karena pesantren telah memberikan sumbangan yang besar bagi kehidupan bangsa dan pengembangan kebudayaan masyarakat. Peran agama dalam dalam pembangunan telah memiliki legitimasi konstitusional dalam GBHN, yaitu dengan pernyataan bahwa agama adalah landasan etik, moral, dan spiritual bagi pembangunan. Hal tersebut merupakan peluang sekaligus tantangan bagi pesantren untuk mewujudkan cita-cita pembangunan yang lebih baik.
Kiai, Masjid, dan Pondokan sebagai Sumber Pendidikan Karakter
Secara historis, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang dikembangkan oleh masyarakat Indonesia. Pesantren merupakan produk budaya masyarakat Indonesia yang sadar sepenuhnya akan pentingnya arti sebuah pendidikan bagi pribumi yang tumbuh secara natural. Terlepas dari mana tradisi dan sistem tersebut diadopsi, tidak akan mempengaruhi pola yang unik (khas) dan telah mengakar serta hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat.1
1 Ainurrafiq Dawam dan Ahmad Ta’arifin. Manajemen Madrasah
Pesantren adalah suatu bentuk lingkungan “masyarakat” yang unik dan memiliki tata nilai kehidupan yang positif. Pada umumnya, pesantren terpisah dari kehidupan sekitarnya. Seolah membentuk komunitas sendiri dengan aturan dan kultur yang khas. Komplek pesantren minimal terdiri atas rumah kediaman pengasuh, masjid atau mushola, dan asrama santri. Yang ketiganya merupakan rukun untuk adanya suatu pesantren. Tidak ada model atau patokan tertentu dalam pembangunan fisik pesantren. Sehingga penambaahan bangunan demi bangunan dalam lingkungan pesantren hanya mengambil bentuk improvisasi ‘sekenanya’. Hal ini khususnya terjadi pada pesantren tradisional yang tumbuh karena gotong-royong masyarakat.
Pesantren dengan segala keunikan yang dimilikinya masih diharapkan menjadi penopang berkembangnya sistem pendidikan di Indonesia. Keaslian dan kekhasan pesantren di samping sebagai khazanah tradisi budaya bangsa, juga merupakan kekuatan penyangga pilar pendidikan untuk memunculkan pemimpin bangsa yang bermoral.
Azyumardi Azra menilai ketahanan pesantren disebabkan oleh kultur Jawa yang mampu menyerap kebudayaan luar melalui suatu proses interiorisasi tanpa kehilangan identitasnya.2 Oleh sebab itu, arus globalisasi mengandaikan tuntutan profesionalisme dalam mengembangkan sumber daya manusia yang bermutu. Realitas inilah yang menuntut adanya manajemen pengelolaan lembaga pendidikan sesuai tuntutan zaman. Signifikansi professionalisme manajemen pendidikan menjadi sebuah keniscayaan di tengah dahsyatnya arus industrialisasi dan perkembangan teknologi modern.3
Pesantren sebagaimana diistilahkan Gus Dur ‘sub-kultur’ memiliki dua tanggung jawab secara bersamaan, yaitu sebagai lembaga pendidikan agama Islam dan sebagai bagian integral masyarakat yang bertanggung jawab terhadap perubahan dan
2 Azyumardi Azra, Surau di Tengah Krisis: Pesantren dan
Perspektif Masyarakat, dalam Raharjo (ed.), Pergulatan Dunia Pesantren Membangun dari Bawah, (Jakarta: LP3ES, 1985). hlm. 173.
3 Ainurrafiq Dawam dan Ahmad Ta’arifin. Manajemen Madrasah
rekayasa sosial.
Suatu organisasi dibentuk untuk mencapai tujuan sebuah organisasi. Pencapaian tujuan sebuah organisasi menunjukkan hasil kerja atau prestasi organsisasi dan menunjukkan kinerja organisasi. Hasil kerja organisasi diperoleh dari serangkaian aktivitas yang dijalankan. Aktivitas tersebut dapat berupa pengelolaan sumberdaya organisasi maupun proses pelaksanaan kerja yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi. Untuk menjamin agar aktivitas tersebut dapat mencapai hasil yang diharapkan, diperlukan upaya manajemen dalam pelaksanaan aktivitasnya. Dengan demikian, hakikat manajemen kinerja adalah bagaimana mengelola seluruh kegiatan organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Tujuan pendidikan pesantren adalah setiap maksud dan cita-cita yang ingin dicapai pesantren, terlepas apakah cita-cita tersebut tertulis atau hanya disampaikan secara lisan. Terlalu sulit untuk dapat menemukan rumusan tujuan pesantren secara tertulis, yang dapat dijadikan acuan tiap-tiap pesantren.
Namun tujuan pendidikan pesantren adalah terbentuknya manusia yang memiliki kesadaran setinggi-tingginya akan bimbingan agama Islam, yang bersifat menyeluruh dan diperlengkapi dengan kemampuan setinggi-tingginya untuk mengadakan responsi terhadap tantangan-tantangan dan tuntutan-tuntutan hidup, dalam konteks ruang dan waktu yang ada. Sekaligus melahirkan generasi yang unggul. Karena eksistensi dan ketahanan pesantren adalah akibat dampak positif dari kemampuan melahirkan berbagai daya guna bagi masyarakat.4 Akan tetapi secara esensial rumusan tujuan pesantren mengekor pada firman AllahU dalam surah at-Taubah ayat 22, yakni.
4 Abdul A’la, Pembaruan Pesantren, (Jogjakarta: LKIS, 2006), hlm. 15.
“Tidak sepatutnya bagi mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
Usaha untuk merumuskan kembali lembaga yang bercirikan pesantren yang mampu untuk memproduk siswa (santri) yang benar-benar mempunyai kemampuan profesional serta berakhlak mulia senantiasa perlu dilakukan terus-menerus secara berkesinambungan.5
5 Azyumardi Azra, Pembaharuan Pendidikan Islam: Sebuah
Pengantar, dalam Marwan Saridjo, Bunga rampai Pendidikan Agama Islam (Jakarta: CV Amissco, 1996), hlm. 2.
Daftar Pustaka
Ainurrafiq Dawam dan Ahmad Ta’arifin. Manajemen Madrasah Berbasis Pesantren. Jakarta: Listafariska Putra, 2005.
Abdul A’la, Pembaruan Pesantren, Jogjakarta: LKIS, 2006.
Amin Haedari, dkk. Masa Depan Pesantren dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Kompleksitas Global. Jakarta: IRD Press, 2004.
Azyumardi Azra, Pembaharuan Pendidikan Islam: Sebuah Pengantar, dalam Marwan Saridjo, Bunga rampai Pendidikan Agama Islam, Jakarta: CV Amissco, 1996.
Azyumardi Azra, Surau di Tengah Krisis: Pesantren dan Perspektif Masyarakat, dalam Raharjo (ed.), Pergulatan Dunia Pesantren: Membangun dari Bawah, Jakarta: LP3ES, 1985.
Idham Abdul Ghoni, lahir pada tanggal 27 juli 1995 di Desa Darmasari, Bayah, Lebak, Banten. Sekolah di SDN Darmasari II, MTSN Bayah, MAN Wonokromo Bantul. Sekarang menempuh studi di Pondok Pesantren Fadlun Minalloh dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.