• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II NILAI-NILAI KEKATOLIKAN DALAM DOKUMEN

E. Pendidikan Karakter

Karakter berasal dari bahasa Yunani ‘karasso’ berarti cetak biru, format dasar, sidik, seperti sidik jari (Doni Koesoema, 2007:90). Karakter juga dapat dilihat sebagai sikap yang sudah ada pada anak didik dan yang harus dikembangkan ke depan. Ki Hajar Dewantara mengartikan karakter sebagai paduan daripada segala tabiat manusia yang bersifat tetap sehingga menjadi tanda yang khusus untuk membedakan orang yang satu dengan yang lain. Ki Hajar Dewantara juga melihat karakter sebagai perkembangan dasar yang telah terkena pengaruh pengajaran (Paul Suparno 2015:28). Karakter dapat diartikan juga sebagai nilai-nilai dan sikap hidup yang positif, yang dimiliki seseorang sehingga memengaruhi tingkah laku, cara berpikir dan bertindak orang itu, dan akhirnya menjadi tabiat hidupnya.

2. Pengertian Pendidikan Karakter

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berarti proses pengubahan sikap dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Pendidikan karakter berarti pendidikan yang bertujuan membantu agar siswa-siswi mengalami, memperoleh, dan memiliki karakter kuat yang diinginkan. Pendidikan karakter dilakukan dengan keyakinan bahwa karakter

seseorang itu dapat dikembangkan dan dapat diubah. Driyarkara menjelaskan bahwa tugas pendidikan adalah mengembangkan karakter yang sudah baik dan membantu menghilangkan karakter yang tidak baik dalam diri anak didik. Dengan kata lain, manusia tidak hanya berhenti dengan mengikuti bakat yang sudah ada, tetapi harus berani mengembangkan diri menjadi lebih baik. (Paul Suparno, 2015:30).

Pendidikan berarti usaha membantu siswa untuk menjadi berkarakter atau karakternya berkembang semakin maju. Kekhasan pendidikan karakter adalah bahwa bantuan untuk mengembangkan karakter siswa direncanakan secara sistematis. Metode yang digunakan juga harus disesuaikan dengan model pendekatan pendidikan yang berpusat pada individu anak didik.

Lickona dalam Paul Suparno (2015:40-42) melihat adanya 3 unsur di dalam pendidikan karakter. Yang pertama, pengertian moral yang berarti kesadaran moral, pengertian akan nilai, kemampuan untuk mengambil gagasan orang lain, rasionalitas moral, pengambilan keputusan berdasarkan nilai moral, dan pengertian mendalam tentang dirinya sendiri. Yang kedua, afeksi yang meliputi suara hati, harga diri seseorang, sikap empati terhadap orang lain, perasaan mencintai kebaikan, kontrol diri dan rendah hati. Yang ketiga, aksi atau tindakan. Tindakan moral adalah kompetensi yang dimiliki untuk mengaplikasikan keputusan dan perasaan moral melalui tindakan konkret. Ketiga unsur ini saling bersinergi untuk membentuk suatu habitus atau kebiasaan baik yang nantinya akan memperkembangkan karakter anak didik dan mengikis karakter yang tidak baik.

3. Tujuan pendidikan karakter

Pada UU No. 20 Th 2003 Tentang Sisdiknas disebutkan bahwa tujuan nasional pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Maka, pendidikan harus mampu untuk membentuk manusia yang memiliki ciri seperti tercantum dalam tujuan pendidikan di atas.

Dalam rangka mewujudkan tujuan nasional pendidikan tersebut, langkah yang dapat ditempuh adalah melalui pendidikan karakter. Menurut Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025, tujuan dari pendidikan karakter itu sendiri adalah :

Membina dan mengembangkan karakter warga Negara sehingga mampu mewujudkan masyarakat yang Ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berjiwa persatuan Indonesia, berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (Pemerintah Republik Indonesia, 2010:4)

4. Fungsi pendidikan karakter

Dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Fungsi Pendidikan Nasional menyatakan bahwa :

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Mengacu pada fungsi pendidikan nasional tersebut, dalam Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025 (2010:4), pemerintah mengungkapkan tiga fungsi pendidikan karakter yakni :

1) Membentuk dan mengembangkan potensi manusia agar berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku baik.

2) Memperbaiki perilaku yang kurang baik dan memperkuat perilaku baik yang sudah ada.

3) Memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.

5. Faktor-faktor yang memengaruhi pendidikan karakter

Paul Suparno (2015:65-75) mengatakan bahwa pendidikan karakter tentu tidak dapat berjalan atas kehendak diri sendiri. Perlu adanya bantuan dari orang lain dalam rangka pembentukan karakter tersebut. Figur yang berperan di dalam perkembangan karakter antara lain:

a. Orangtua

Orangtua adalah pendidik karakter utama pada anak-anak. Sejak lahir anak belajar karakter tertentu dari kedua orangtua mereka. Suasana keluarga yang dibangun juga sungguh memengaruhi perkembangan karakter anak.

b. Teman atau kelompok

Sikap dan karakter anak, khususnya remaja, dipengaruhi oleh lingkungan pertemanan yang ada. Secara psikologis, anak-anak tengah berada pada

transisi untuk meninggalkan orangtuanya dan mulai bergabung dengan teman sebayanya.

c. Masyarakat atau lingkungan

Keadaan, situasi, dan karakter masayarakat tempat anak tinggal juga memengaruhi perkembangan karakter anak. Lingkungan masyarakat yang positif akan membantu anak untuk mengalami perkembangan karakter ke arah yang lebih baik. Iklim yang dibangun di tengah masyarakat dapat membantu anak merasakan pengaruh positif yang dapat membantu perkembangannya.

d. Media

Kehidupan anak zaman sekarang sungguh tidak dapat dilepaskan dari peran media baik itu media cetak maupun media sosial. Apabila anak memanfaatkan media dengan baik dan positif, maka anak akan memperoleh informasi yang dapat memperkaya pengetahuan dan menjauhkan dari nilai-nilai yang tidak baik.

e. Sekolah

Sekolah merupakan tempat di mana perkembangan karakter juga berlangsung. Di dalam sekolah, keteladanan dan pendampingan dari guru sungguh memengaruhi di dalam proses perkembangan karakter siswa.

f. Agama

Agama yang dianut oleh anak juga memengaruhi pola pikir dan perilaku anak.

Praksis pendidikan karakter saat ini semakin diperkuat dengan adanya Peraturan Presiden no. 87 tahun 2017 tentang penguatan pendidikan karakter.

Penguatan pendidikan karakter sendiri merupakan suatu bentuk gerakan pendidikan guna memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan melibatkan satuan pendidik, keluarga, serta masyarakat. Penguatan pendidikan karakter sendiri bertujuan membekali peserta didik guna menghadapi perubahan dimasa depan, menyelenggarakan pendidikan karakter baik melalui pendidikan formal, informal, serta berbagai kurikulum pengembangan, serta memperkuat peranan pendidik, keluarga dan masyarakat dalam upaya pendidikan karakter.