• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENGEMBANGAN KECERDASAN SOSIAL

A. Aktualisasi Konsep Fiqh Sosial Dalam Pendidikan

5. Pendidikan Keterampilan

109

pendidikan untuk mengupas teori bahwa latihan kebugaran tubuh adalah bagian esensial dari kesejahteraan mental dan psikologis seseorang.152

Olahraga terbukti mampu meningkatkan semangat dan motivasi peserta didik. Dengan berolahraga secara teratur, tubuh akan sehat dan secara otomatis membantu peserta didik dalam menangkap setiap pelajaran. Dari sinilah kemudian urgensi olahraga bagi kebugaran tubuh dan kesehatan fisik serta jiwa. Di Pesantren Maslakul Huda sendiri kegiatan olahraga dilakukan secara rutin tiap minggunya. Walaupun tidak mewajibkan semua santri, namun setidaknya telah disediakan wadah bagi santri yang gemar berolahraga. Selain itu, tidak sedikit santri yang mempunyai bakat di bidang olahraga yang dapat diberdayakan untuk mengikuti kompetisi dan olimpiade keolahragaan.

Kegiatan olahraga yang berada di pondok pesantren tidak lepas dari produk ijtihad Kiai Sahal. Mengingat, kala itu sedikit pesantren yang mewadahi olahraga sebagai bentuk kegiatan khusus di pesantren. Olahraga memiliki banyak manfaat, di antaranya dalam bidang sosial, santri atau peserta didik akan berlatih membaur satu sama lain, kerja sama dalam tim, ini akan mengasah kecerdasan sosial juga. Dalam bidang intelektual, dengan berolahraga tubuh menjadi sehat sehingga mudah menangkap materi pembelajarann yang disampaikan kiyai/ guru. Jika ditilik dalam sejarah Islam, Nabi saw. sendiri gemar berolahraga sampai-sampai dianjurkan untuk mengajak anak-anak untuk berolahraga, sebagaimana dalam sabda-Nya, “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang, dan memanah”. (H.R. Bukhari Muslim).

5. Pendidikan Keterampilan

Di era kontemporer, tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual (IQ) saja, namun kecerdasan sosial dan pendidikan keterampilan menjadi faktor determinan. Selain memiliki kemampuan

152 Wara Rahmawati, “Mensana In Corpore Sano: Sehat Jiwa dengan Olahraga”, Jurnal

110

akademisi yang mapan, seorang santri/ peserta didik juga harus dibekali keterampilan dankecapakan khusus yang memadai untuk menopang segala aktivitasnya. Hal tersebut tidak luput dari perhatian fiqh sosial.

Pada bab III telah dipaparkan bahwa salah satu unsur filosofis fiqh sosial adalah sesuatu yang multi purpose lebih utama daripada sesuatu yang kemanfaatannya terbatas. Dengan demikian, pembekalan keterampilan dan kecakapan menjadi penting agar fiqh sosial tidak sekadar berwacana saja, akan tetapi juga dapat diaplikasikan.

Kursus atau training mutlak harus diberikan kepada peserta didik untuk menunjang kesuksesannya agar terampil dan cakap dalam menyikapi pelbagai persoalan serta dinamika perubahan zaman. Seperti yang diadakan di pesantren Maslakul Huda, di antaranya pengoperasian komputer, manajemen administrasi dan keuangan, bahasa Arab dan Inggris, latihan rebana, tila>wah al-qur’a<n, training berdakwah dan public

speaking, dan lain-lain.

Lebih lengkapnya bisa dilihat di bawah ini.153

a. Bidang sosial-kemasyarakatan bertanggung jawab pada pelaksanaan latihan rebana, tilawatil qur’an, dan latihan sepak bola. Ditujukan kepada semua santri yang berminat pada bidang ini. Tidak ada penekanan, sebab sifatnya hanya pelengkap. Mengingat, kegiatan di pondok dan madrasah cukup padat sehingga santri dibebaskan memilih kegiatan yang dikehendaki.

b. Bidang penguasaan bahasa asing (bahasa Arab dan bahasa Inggris). Kegiatan ini termasuk kegiatan pokok yang wajib diikuti oleh semua santri kecuali kelas 3 Aliyah. Kemampuan bahasa asing ini sangat dibutuhkan santri ketika sudah lulus dari pondok untuk menunjang pendidikannya ke depan dan sebagai bekal dalam dunia kerja. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari sabtu pukul 20.00 dan senin pukul 21.00 wib.

153 “Sejarah Pesantren Maslakul Huda”, http:///maslakulhuda.net/index.php/2019/01/28/pesantren-maslakul-huda-li-al-mubtadiin/ (Diakses pada 11 November 2019).

111

c. Bidang perpustakaan bertugas melaksanakan kursus komputer dan manajemen administrasi keuangan. Objek sasarannya adalah semua santri. Kegiatan ini diselenggarakan pada hari sabtu, ahad, senin dan rabu siang hari.

Secara garis besar, implementasi gagasan fqih sosial Kiai Sahal dalam bidang pendidikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel. 6.6

Aktualisasi Konsep Fiqh Sosial Dalam Pendidikan

No. Ciri Pokok Fiqh Sosial Aplikasi di Pesantren Maslakul Huda

1. Interpretasi Teks-teks Fiqh Secara Kontekstual

Pada pendidikan intelektual meliputi kitab kuning, membaca al-Qur’an, kajian ilmu alat (nahwu dan saraf). Pengajaran dilakukan dengan sistem klasikal dan dorogan, bandongan dengan metode ceramah, diskusi, penyampaian materi oleh siswa di depan guru. Format pertemuan dengan O-from atau U-form. 2. Perubahan Pola

Bermazhab dari Mazhab Qauli> (tekstual) ke Manha>ji> (metodologis)

Pada pendidikan keorganisasian, santri didorong untuk aktif dalam kegiatan kepengurusan pondok. Sesekali Kiai Sahal mengajak santri senior dalam forum rapat MWC NU di Kajen agar belajar keorganisasian secara baik.

3. Verifikasi Us}u>l dan Furu>’ Pada pendidikan intelektual santri dibekali pemahaman mendalam mengenai ajaran us}u>l fiqh dan qawa>’idul fiqhiyyah sehingga memungkinkan santri dalam memverifikasi mana persoalan atau fenomena sosial yang us}u>l (pokok) dan

112

furu>’ (cabang). 4. Fikih Sebagai Etika

Sosial: Bukan Hukum Positif Negara

Pada pendidikan sosial-kemasyarakatan, Kiai Sahal mengikutsertakan santri

seniornya untuk belajar latihan

pengembangan kegiatan sosial di Jakarta selama 1 tahun, kemudian setelah pulang membentuk UBSP (Usaha Bersama

Simpan Pinjam) yang dirasakan

manfaatnya oleh warga sekitar. Pola pendidikan ini mengajarkan pada santri untuk mengejawantahkan fiqh dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu berdialektika dan berinteraksi antara santri dengan masyarakat sekitar.

5. Aplikasi Pemikiran Filosofis: Konteks Sosial Budaya

Integrasi pendidikan intelektual dan sosial-kemsyarakatan. Model integrasi ini menumbuhkembangkan aspek pemikiran filosofis pada kegiatan pembelajaran santri

di pesantren yang selanjutnya

diaplikasikan dalam konteks sosial budaya seperti contoh di atas, adanya UBSP, bakti sosial, koperasi, tahlilan bersama warga sekitar, rembug desa, dan sebagainya.

113

B. Pengembangan Kecerdasan Sosial Bagi Peserta Didik: Telaah