• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Watak dalam Pergaulan dan Hidup Sehari-Hari

Mangkunegara IV. Serat Darmalaksita berada pada urutan ke-3, terdiri atas tiga pupuh: I Dhandhanggula

B. Kajian Isi

2. Pendidikan Watak dalam Pergaulan dan Hidup Sehari-Hari

Jika di atas telah dibicarakan pendidikan watak dalam hidup berumah-tangga disertai daya upaya/akal budi, maka di sini akal budi digunakan untuk membimbing watak pada tingkah laku yang baik/utama dalam pergaulan dan hidup sehari-hari dengan sesama. Beberapa contoh tingkah laku utama dalam

Darmawasita antara lain sopan santun, keramahan, ketaatan, kerendahhatian,

kesadaran dan lain sebagainya, seperti uraian dalam pupuh I, Dhandhanggula, bait 9-11 berikut ini.

9. rambah malih wasitaning siwi kawikana patraping agêsang kang kanggo ing salawasé manising nêtya luruh

angêdohkên mring salah tampi wong kang trêpsilèng tata tan agawé rêngu

wicara lus kang mardawa

iku datan kasêndhu marang sêsami wong kang rumakêt ika

Sekali lagi nasihatku untuk ananda,

ketahuilah cara menjalani kehidupan

yang berguna untuk sela-manya

Roman muka yang tenang/ lembut

menjauhkan salah paham. Orang yang sopan santun dan bertata krama

tidak membuat marah. Berbicara halus dengan le-mah lembut

itu tidak ditegur/dicela o-rang lain

orang yang ramah/bersa-habat itu

10. karya rêsêp mring réwangé linggih wong kang manut mring caraning bangsa watêk jêmbar pasabané

wong andhap asor iku yêkti oleh panganggêp bêcik wong mênêng iku nyata nèng jaban pakéwuh wong prasaja solahira

iku ora gawé éwa kang ningali wong nganggo têpanira

membuat senang orang lain.

Orang yang mengikuti tata cara dimana ia tinggal, pergaulannya luas (memi-liki banyak teman/relasi). Orang yang rendah hati itu pasti mendapat penilaian yang baik.

Orang yang tidak banyak bicara itu sesungguhnya terlihat memiliki rasa sung-kan.

Orang yang bersahaja da-lam tingkah lakunya

itu tidak membuat iri yang melihat.

Orang yang menggunakan diri sendiri sebagai ukuran

11. angêdohkén mring dosa sayêkti wong kang èngêt iku watêkira adoh marang bilahiné

mangkana wulangipun

sesungguhnya menjauhkan dosa.

Orang yang ingat/sadar diri (eling)

pangkal jauh dari celaka. Demikian pengajaran/nasi-hatnya.

wong kang amrih arjaning dhiri yèku pangolahira

batin ugêripun

ing lair gêrbaning basa

yêka aran kalakuan ingkang bécik margané mring utama

Orang yang menginginkan keselamatan dirinya

itu yang dilakukannya berdasarkan kata hati. Secara lahir sebagai rang-kaian bahasa.

Itu disebut tingkah laku yang baik,

sebagai sarana menuju keu-tamaan.

Namun apapun wujud atau bentuk keutamaan yang dilakukan manusia, pada dasarnya terangkum dalam catur upaya. Catur upaya berasal dari kata catur: empat dan upaya: usaha, jadi catur upaya berarti empat usaha yang dilakukan manusia agar kehidupannya dapat lebih terarah baik lahir maupun batin. Hal ini diuraikan dalam pupuh I, Dhandhanggula, bait 12 sebagai berikut.

12. pêpuntoné gonira dumadi ugêmana mring catur upaya mrih tan bingung pamusthiné

kang dhingin wêkas ingsun anirua marang kang bêcik kapindho anuruta

mring kang bênêr iku katri gugua kang nyata

kaping paté miliha ingkang pakolih dadi kanthi nèng donya

Kesimpulannya kehidupan-mu

berpeganglah pada catur

upaya (4 usaha),

supaya tidak bingung arah hidupnya.

Nasihatku yang pertama, tirulah hal yang baik, ke-2 taatilah

yang benar itu,

ke-3 ikutilah yang nyata/ terbukti

yang ke-4 pilihlah yang bermanfaat

sebagai pedoman/bekal hi-dup di dunia.

Catur upaya yang pertama yakni tirulah hal yang baik, kedua taatilah yang benar

itu, ketiga ikutilah yang nyata/terbukti, dan keempat pilihlah yang efektif. Tirulah hal yang baik dalam arti bahwa segala kebaikan hendaknya dilaksanakan dan dikerjakan sebagaimana adanya, dengan ketulusan dan motivasi yang benar. Oleh

karena itu dalam melaksanakan kebaikan harus disertai dengan pengetahuan tentang yang benar karena semua yang baik belum tentu benar. Sumber dari kebenaran tersebut adalah Tuhan. Oleh karena itu ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa harus dikembangkan agar dalam menjalankan kebaikan tersebut mendapatkan tuntunan dan tidak sia-sia. Seringkali orang melakukan kebaikan hanya untuk mendapatkan pujian dan gengsi dimata sesamanya. Hal ini menguraikan catur upaya yang kedua yakni taatilah yang benar itu. Kebaikan yang disertai dengan kebenaran kadangkala tidak selalu berbuah manis tetapi menjadi pil pahit yang harus ditelan. Sekalipun demikian kenyataan tersebut harus diikuti atau diterima dengan keikhlasan hati, sehingga tetap dapat bereaksi secara wajar dan dapat membawa diri dalam situasi tersebut. Hal ini menjelaskan catur upaya yang ketiga yakni ikutilah yang nyata/terbukti. Hal yang keempat pilihlah yang efektif, diartikan bahwa segala kebaikan yang disebut kebenaran dan kenyataan dengan respon yang wajar hendaknya dipertimbangkan sebab akibatnya sebelum bertindak. Tujuannya agar dituai hasil akhir yang tidak merugikan pihak manapun dan tepat sasaran atau efektif. Jadi daya upaya/akal budi tidak hanya bermanfaat untuk membimbing manusia dalam melaksanakan pendidikan watak dalam membina rumah tangga tetapi juga dalam pergaulan dan hidup sehari-hari.

Demikianlah beberapa contoh pendidikan watak yang terdapat dalam naskah Darmawasita. Kesimpulannya teks dalam naskah Darmawasita ini tidak hanya berisi tentang hal-hal yang bersifat tradisional tertutup yang konservatif dan feodal tetapi juga memberikan warna atau wawasan yang sesuai dengan keadaan jaman sekarang. Seperti yang telah dijelaskan pada permulaan subbab ini

bahwa tidak tertutup kemungkinan nilai-nilai yang terkandung dalam teks

Darmawasita dapat digunakan dan dimanfaatkan masyarakat umumnya,

termasuk di jaman yang serba modern ini. Dengan demikian pendidikan watak menurut tradisi Jawa yang dapat membimbing pada kehalusan batiniah dan menjunjung keselarasan dalam masyarakat yang terkandung dalam teks

Darmawasita ini menepis pandangan bahwa nilai-nilai hidup tradisional tidak

cocok lagi pada masa sekarang dan masa yang akan datang karena pada kenyataannya masih banyak nilai-nilai tradisional yang masih relevan. Kalaupun tidak, maka hanya perlu disesuaikan dengan beberapa cara sesuai situasi tanpa perlu menghilangkannya. Tujuannya agar identitas bangsa dapat terus dipertahankan keasliannya, terutama para generasi muda yang tidak boleh kehilangan pengetahuan dan penghargaannya pada cara atau nilai tradisional yang sudah ada dan harus menyesuaikan diri dengan dunia masa depan.

BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan terhadap naskah

Darmawasita, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Naskah A dipilih sebagai naskah dasar dengan pertimbangan bahwa naskah A adalah naskah yang paling lengkap dibandingkan ketujuh naskah yang lain, tanpa kesalahan metrum dengan bacaan terbaik, sekalipun naskah A bukanlah naskah yang paling tua. Kelengkapan naskah A ditunjukkan dengan tidak

adanya bagian teks yang korup/ hilang. Bait ke-19 naskah BDEFH dan bait ke-18 naskah C tidak terdapat pada naskah G, begitu pula sebaliknya. Naskah A dengan jumlah bait yang lebih banyak memuat keduanya. Bacaan naskah A kebanyakan mengalami substitusi sehingga makna kata tidak berubah, misal kata linêksanan dan linaksanan. Isi yang terkandung didalamnya tidak menyimpang dari kebanyakan naskah yang lain.

2. Darmawasita berisi tentang pendidikan watak dalam membina rumah tangga

Dokumen terkait