• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penegakan Hukum Tindak Pidana Pemalsuan Uang

PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA PEMALSUAN UANG

B. Mengedarkan Uang Palsu (Pasal 245 KUHP) Pasal 245 KUHP merumuskan sebagai berikut :

3.2. Penegakan Hukum Tindak Pidana Pemalsuan Uang

Menurut Prof Dr. Jimly Asshiddiqie, SH, Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalu lintas atau hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.25

24

Undang-undang Nomor 7 tahun 2011 tentang Mata uang.

25

Sebagaimana yang telah kita ketahui penegakan hukum terhadap tindak pidana pemalsuan uang telah diatur dalam pasal 244 KUHP, pasal 245 KUHP dan pasal 250 KUHP yang mana peraturan tersebut hukuman bagi pelaku tindak pidana pemalsuan uang itu paling lama 15 ( lima belas) tahun. Tetapi seharusnya hukuman terhadap pemalsu uang itu harus diperberat, sebab pemalsuan uang bisa dikategorikan sebagai tindak pidana khusus karena berhubungan dengan masalah stabilitas dan keamanan Negara. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Kepala bagian Pengelolaan dan Pengelolaan uang Bank Indonesia Difi Johansyah dalam acara workshop wartawan ekonomi dan perbankan di Hotel Aston , Bandung, “ selama ini hukuman yang dijatuhkan aparat penegak hukum masih melihat berapa besarnya jumlah bukti yang ditemukan padahal sekecil apapun tindak pemalsuan uang berdampak pada kredibilitas Negara yang bersangkutan sebagai pihak yang berwenang menerbitkan uang tersebut. 26

Kita tidak bisa menyangkal bahwa kejahatan bahwa kejahatan selalu ada dalam masyarakat, walaupun demikian kehadirannya tidak dikehendaki oleh masyarakat karena setiap kejahatan pada hakekatnya merugikan siapa saja yang menjadi korbannya, baik secara individu maupun secara kelompok yaitu masyarakat , Negara dan juga merupakan perintang penghambat pembangunan yang sedang dilaksanakan.

Dengan adanya kerugian baik dari pihak korban, masyarakat dan Negara akibat dari kejahatan, maka dengan demikian kejahatan harus dicegah dan ditanggulangi. Dimana hal ini sesuai dengan pendapat Paul

26

Moedikdo Moeliono yang mengatakan : “ kejahatan adalah pelanggaran norma hukum yang ditafsirkan atau patut ditafsirkan sebagai perbuatan yang merugiakan, menjengkelkan dan tidak bisa dihilangkan sama sekali”27

Didalam hal penanggulangan kejahatan, hampir semua kriminolog mangatakan bahwa upaya dalam menghadapi kejahatan hanya dapat menekan dan mengurangi meningkatnya jumlah kejahatan dan memperbaiki penjahat agara dapat kembali sebagai warga masyarakat yang baik, jelasnya kajahatan tidak bisa dihilangkan sama sekali.

Di Indonesia yang berwenang dan bertanggung jawab serta memimpin mayarakat dalam upaya penanggulangan kejahatan adalah intansi Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan lembaga Pemasyarakatan.

Penanggulangan kejahatan yang banyak dipakai oleh Negara-negara yang telah maju merupakan azas umum dalam penaggulangan kejahatan, azas ini merupakan gabungan dari dua sistem, yaitu :

1. Cara moralistic : dilaksanakan dengan penyebaran luas ajaran-ajaran agama dan moral, perundang-undangan tang baik dan sarana-sarana lain yang dapat mengekang nafsu berbuat jahat.

2. Cara abolionistik : berusaha memberantas, sebab musababnya umpamanya kita ketahui bahwa faktor tekanan ekonomi (kemelaratan) merupakan salah satu faktor penyebab kejahatan maka usaha mencapai kesejateraan untuk

27

mengurangi kejahatan yang disebabkan oleh faktor ekonomi merupakan yang Abolionistik.28

Sedangkan menurut Sutherland mengemukaan 2 (dua) metode usaha menanggulangi kejahatan yaitu :

1. Metode reformasi, suatu cara yang ditujukan kepada pengurangan jumlah residivis / kejahatan ulangan

2. Metode prevensi, cara ini di arahkan kepada usaha pencegahan terhadap kejahatan yang pertama kali dilakukan seseorang.29

Dengan adanya dua pendapat tersebut diatas tentang cara penanggulangan kejahatan itu harus dilihat dari segi antara lain :

1. Jika suatu kejahatan sudah atau telah terjadi, maka bagaimana usaha menghadapi penjahat tersebut.

2. Dan apabila kejahatan itu belum terjadi, maka bagaimana upaya pencegahannya agar perbuatan itu tidak sampai terjadi

Mengenal upaya-upaya penanggulangan tindak pidana pemalsuan uang meliputi :

1. Upaya penanggulangan preventif 2. Upaya penanggulangan represif

1 ) Upaya penangulangan preventif

28 Ibid, hal. 35

29

Upaya penanggulangan preventif yang dilakukan ini menuntut adanya keterkaitan antara intitusi yang terkait dalam masalah kejahatan uang palsu ini dengan masyarakat luas yaitu :

a. Uang asli harus dibuat secanggih mungkin agar sulit dipalsukan. Untuk itu, perusahaan umum percetakan uang Republik Indonesia ( Perum Peruri) sebagai lembaga yang berwenang untuk mencetak uang harus mengambil langkah untuk melakukan pengamanan terhadap pembuatan uang dan pengamanan selama tahap produksinya, sehingga uang yang dihasilkan adalah uang yang sulit untuk dipalsukan.

b. Uang asli yang dibuat dengan secanggih mungkin ini pada akhirnya akan diedarkan keseluruh lapisan masyarakat. Masa peredaran yang lama dan setiap saat berpindah tangan dari satu tangan ke tangan lain, maka tidak menutup kemungkinan uang tersebut kotor yang akhirnya menjadi kusut dan lusuh. Uang yang lusuh dan kusut ini sulit untuk dilihat secara awam keahliannya. Untuk itu perlu dilakukan “ clean money policy” yaitu menarik dan memusnahkan uang yang tidak layak tersebut dengan mengeluarkan Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB) serta mengganti uang yang dimusnahkan tersebut dengan uang baru oleh pihak Bank Indonesia .

c. Masyarakat adalah korban dari kejahatan uang palsu ini, untuk itu diperlukan adanya informasi mengenai cirri-ciri umum uang asli. Informasi ini akan sangat membantu masyarakat ,khususnya bagi mereka yang pekerjaannya selalu berhubungan dengan uang

misalnya kasir took, pedagang, kasir bank, dan lain-lainnya, agar selalu waspada terhadap uang yang diterimanya. Pengenalan cirri-ciri uang ini bisa dilakukan secara bersama-sama oleh pihak terkait dibawah koordinasi Botasupal.

2 Upaya penanggulangan represif

Yang dimaksud dengan upaya penanggulangan represif adalah setiap upaya dan pekerjaan untuk melakukan pemberantasan dan pengungkapan kejahatan uang palsu oleh penegak hukum dengan langkah langkah :

a. Penyelidikan

Yaitu melakukan penyelidikan sesuai dengan kronologis yang terjadi dalam kasus peredaran uang palsu yang dilakukan oleh orang ataupun kelompok dalam masyarakat. Tidak terlepas apabila mendapatkan bukti-bukti baru dalam upaya untuk penegakkan hukum positif Indonesia.

b. Penindakan

Yaitu melakukan upaya penegakan hukum yang adil sesuai dengan tindakan peredaran uang palsu yang dilakukan masyarakat dalam bentuk strata apapun. Serta hukum wajib memutuskan seadil-adilnya hukuman terhadap pelaku tindak pidana peredaran uang palsu sesuai dengan Undang-undang yang berlaku yang termasuk dalam hukum positif Indonesia.

Dalam proses pemeriksaan pengadilan, para pengedar uang palsu sudah sepatutnya diganjar dengan ancaman hukuman pidana seperti yang terdapat dalam isi pasal 244 KUHP dan 245 KUHP yaitu lima belas tahun penjara, terkeculai untuk anak dibawah umur bila mengedarkan uang palsu serta ancaman hukuman yang terdapat dalam UU No. 7 Tahun 2011 tentang mata uang. Pihak pengadilan harus terus menegakkan keadilan setinggi-tingginya sesuai dengan apa yang didalam peraturan yang dibuat pemerintah dan disahkan menjadi hukum positif yang ada di Indonesia.

BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Dalam bab IV yang merupakan bab yang terakhir akan penulisan kesimpulan tentang uraian permasalahan dari bab-bab yang terdahulu sampai akhirnya ke pemecahannya atau penyelesaian. Jadi kesimpulannya sebagai berikut :

1) Kejahatan meniru atau memalsukan mata uang atau uang kertas yang kadang disingkat dengan pemalsuan uang adalah berupa penyerangan terhadap kepentingan hukum atas kepercayaan terhadap uang sebagai alat pembayaran yang sah. Sebagai alat pembayaran , kepercayaan terhadap uang harus dijamin . kejahatan ini diadakan berhubungan untuk melindungi kepentingan hokum masyarakat terhadap uang sebagai alat pembayaran tersebut. Perbuatan meniru (namaken) adalah membuat sesuatu yang menyerupai atau seperti yang asli dari sesuatu itu. Dalam kejahatan ini sesuatu yang ditiru itu adalah mata uang dan uang kertas, meniru diartikan sebagai membuat mata uang (uang logam) atau uang kertas yang menyerupai atau mirip dengan mata uang atau uang kertas yang asli. Untuk adanya perbuatan ini

disyaratkan harus terbukti ada yang asli atau yang ditiru. Membuat

mata uang atau uang kertas yang tidak ada yang asli atau yang ditiru, tidak termasuk dalam pengertian meniru. Berbeda dengan perbuatan

meniru yang berupa perbuatan menghasilkan suatu mata uang atau uang kertas baru (tapi palsu atau tidak asli), yang artinya sebelum perbuatan dilakukan sama sekali tidak ada uang. Pada perbuatan memalsu (vervalschen) sebelum perbuatan dilakukan sudah ada uang (asli). Pada uang asli ini dilakukan perbuatan menambah sesuatu baik tulisan, gambar maupun warna, menambah atau mengurangi bahan pada mata uang sehingga menjadi lain dengan yang asli. Tidak menjadi syarat apakah dengan demikian uang kertas atau mata uang itu nilainya menjadi lebih rendah ataukah menjadi lebih tinggi.

2) Penegakan hukum dalam memberantas uang palsu sebagimana yang kita ketahui bahwa penegakan hukum terhadap tindak pidana pemalsuan uang yang diatur dalam pasal 244 KUHP, pasal 245 KUHP dan pasal 250 KUHP. Dan dalam pasal 34, pasal 36 Undang-Undang No. 7 Tahun 2011 Tentang Mata uang, yang mana dalam peraturan tersebut hukuman bagi pelaku tindak pidana pemalsuan uang itu paling lama adalah 15 (lima belas) tahun. Tetapi seharusnya hukuman terhadap pemalsu uang itu harus diperberat. Sebab pemalsuan uang itu dikategorikan sebagai tindak pidana khusus karena berhubungan dengan stabilitas dan keamanan Negara.

4.2. Saran – saran

Di dalam akhir skripsi ini , saya ingin memberikan suatu saran-saran yang mungkin bermanfaat bagi penegak hokum maupun bagi masyarakat di dalam menghadapi kejahatan, yakni dalam hal ini kejahatan uang palsu. Adapun saran-saran yang dimaksud antar lain :

a. Dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran uang palsu, hendaknya masyarakat berhati-hati jika menerima uang kertas lembaran Rp.100.000,- (seratus ribu rupiah) dan juga uang kertas lembaran Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah), sebab kebanyakan para pemalsu tersebut lebih banyak mebuat uang kertas seratus ribuan baru kemudian lima puluh ribuan. Dan apabila menerima uang yang mencurigakan, supaya segera melaporkan ke Pihak kepolisian yang terdekat dan secepatnya,sebab jangan sampai uang palsu itu lebih banyak beredar lagi apalagi kalau sampai menyebar luas.

b. Hendaknya bagi Penuntut Umum dan Hakim jika memberikan tuntutan dan menjatuhkan hukuman terhadap terdakwa sesuai dengan pertimbangan yang memberatkan dan meringankan terdakwa, agar dihindari perbedaan yang mencolok antara hukuman yang dijatuhkan dengan hukuman yang tercantum dalam ketentuan.

c. Bagi pemerintah terutama harus mencipkakan lapangan kerja yang memadai bagi orang-orang atau pemuda usia kerja tentu saja yang sesuai dengan pendidikannya. Paling tidak memberikan bimbingan supaya mereka biasa menjadi seorang yang dapat berdikari. Bahkan lebih baik kalau sampai biasa menciptakan lapangan kerja bagi orang lain.

Dokumen terkait