Intentions In The Dutch Cellular Subscription Market”. Penelitian ini
mengindikasikan bahwa seorang konsumen yang puas merupakan konsumen yang paling loyal. Kinerja yang baik dari penyedia layanan merupakan salah alasan utama untuk tidak berpindah. Switching costs tidak tinggi bukanlah hambatan untuk berpindah. Maka lebih baik jika penyedia layanan telekomunikasi meningkatkan kepuasan pelanggan dibanding menciptakan
62
hambatan berpindah itu sendiri. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dibuat peneliti adalah mengidentifikasi penyebab dari perpindahan merek dengan mengukur tingkat kepuasan pelanggan sedangkan perbedaanya adalah penelitian ini menggunakan variabel switching costs sebagai salah satu variabel yang dipertimbangkan dalam membentuk kepuasan pelanggan.
4) Penelitian yang dilakukan Nugroho (2007) dengan judul “Pengaruh Keterlibatan Konsumen, Perbedaan Persepsi Merek, Karakteristik Hedonis dan Kebutuhan Mencari Variasi terhadap Keputusan Perpindahan Merek Telepon Seluler”. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 100 responden dengan cluster random sampling pada mahasiswa perguruan tinggi swasta di Surakarta yang pernah berpindah merek telepon seluler. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda pada tingkat signifikansi 5 persen. Hasil penelitian menunjukkan keterlibatan konsumen, perbedaan persepsi merek, dan kebutuhan mencari variasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap keputusan perpindahan merek. Namun karakteristik hedonis tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan perpindahan merek. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa keterlibatan konsumen, perbedaan persepsi merek, karakteristik hedonis, dan kebutuhan mencari variasi secara simultan berpengaruh siginifikan terhadap keputusan perpindahan merek. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dibuat peneliti adalah menggunakan variabel kebutuhan mencari variasi dan keputusan perpindahan merek sebagai objek penelitian sedangkan perbedaannya adalah penelitian ini menggunakan
63
jumlah sampel dan teknik analisis, serta tambahan variabel keterlibatan konsumen, perbedaan persepsi merek, dan karakteristik hedonis sebagai variabel bebas.
5) Penelitian yang dilakukan Sajeesh (2007) dengan judul “Positioning and Pricing
In A Variety Seeking Market”. Penelitian ini mempelajari posisi kompetitif dan
strategi harga di pasar tempat konsumen mencari variasi. Berbagai perilaku mencari variasi dimodelkan sebagai peningkatan kesediaan untuk membayar produk yang tidak dibeli pada kesempatan pembelian sebelumnya. Penelitian menunjukkan bahwa kehadiran perilaku mencari variasi mengarah untuk menurunkan keuntungan perusahaan dan surplus konsumen yang lebih tinggi. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dibuat peneliti adalah menggunakan variabel kebutuhan mencari variasi (variety seeking) sebagai objek penelitian sedangkan perbedaannya adalah pada penelitian ini menggunakan posisi kompetitif dan strategi harga yang berpengaruh terhadap keinginan konsumen untuk mencari variasi.
6) Penelitian yang dilakukan Setiyaningrum (2007) dengan judul “Pengaruh Ketidakpuasan Konsumen dan Variety Seeking Terhadap Keputusan Perpindahan Merek”. Jenis produk kosmetika yang digunakan adalah pelembab muka, alas bedak, susu pembersih muka, dan cairan penyegar wajah. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan menyebarkan kuesioner kepada 150 mahasiswi yang tersebar dalam enam universitas berdasarkan jumlah mahasiswa terbanyak di Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Universitas Gajah Mada,
64
Universitas Sanata Dharma, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Universitas Janabadra, Universitas Pembangunan Nasional, dan Universitas Islam Indonesia. Sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah nonprobability sampling dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ketidakpuasan konsumen dan variety seeking berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan perpindahan merek untuk ke empat produk kosmetika (pelembab muka, alas bedak, susu pembersih muka, dan cairan penyegar wajah). Penelitian ini juga menemukan bahwa variety seeking tidak memoderasi pengaruh ketidakpuasan konsumen terhadap keputusan perpindahan merek untuk ke empat produk kosmetika yang diteliti. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dibuat peneliti adalah menggunakan variabel ketidakpuasan konsumen, kebutuhan mencari variasi (variety seeking) sebagai variabel yang mempengaruhi keputusan perpindahan merek, serta penentuan sampel dengan karakteristik 18-24 tahun sedangkan perbedaannya adalah waktu pelaksanaan, jenis produk yang diteliti, sampel dan teknik analisis yang digunakan.
7) Penelitian yang dilakukan Espejel (2008) dengan judul “Consumer Satisfaction
A Key Factor Of Consumer Loyalty And Buying Intention Of A PDO Food
Product”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan yang lebih tinggi
mengarah ke tingkat yang lebih besar pada kesetiaan dan niat beli dari PDO "Minyak Zaitun dari Bajo Aragon". Selain itu, dalam konteks tertentu, pentingnya persepsi konsumen mengenai asosiasi produk makanan tradisional dengan tempat asal, wilayah, iklim dan tahu bagaimana suatu wilayah geografis,
65
dan kontrol yang ketat untuk yang produk di bawah perlindungan yang diajukan oleh dewan pengawas yang berwenang. Kedua aspek memimpin konsumen untuk menyimpulkan rencana keamanan dan kualitas pangan, yang membantu mengembangkan perasaan kepuasan dan loyalitas, dan kecenderungan lebih besar untuk membeli produk tradisional lagi. Tidak terdapat persamaan dalam penelitian ini dengan yang dibuat oleh peneliti, namun digunakan sebagai tambahan referensi untuk kelengkapan dalam penelitian.
8) Penelitian yang dilakukan Bigne, Sa´nchez dan Andreu (2009) dengan judul“The Role Of Variety Seeking In Short And Long Run Revisit Intentions In
Holiday destinations”. Hasil penelitian mengemukakan bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan dalam dalam melakukan niat wisata kembali dalam jangka pendek dan jangka panjang. Faktor utama yang mendorong untuk melakukan wisata kembali yaitu pengalaman dimasa lalu, switching cost, dan kebutuhan mencari variasi. Dalam jangka panjang kepuasan konsumen yang dimoderasi variety seeking berpengaruh terhadap niat wisata kembali sedangkan pengalaman dimasa lalu dan switching cost tidak berpengaruh secara signifikan. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dibuat peneliti adalah kebutuhan mencari variasi (variety seeking) sebagai objek penelitian dan pengaruh
moderating. Sedangkan perbedaannya adalah jenis produk yang digunakan,
waktu pelaksanaan dan teknik analisis data.
9) Penelitian yang dilakukan Widyasari (2008) dengan judul penelitian “Analisis Perilaku Brand Switching Konsumen dalam Pembelian Produk Sepeda (Studi
66
Pada Konsumen Sepeda Motor di Kotamadya Salatiga)”. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 145 responden dengan teknik analisis data adalah model persamaan struktural (SEM). Hasil penelitian ini merupakan pengujian atau verifikasi teori dari faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam berpindah merek pada produk dengan keterlibatan tinggi (high
involment) dalam proses pengambilan keputusan yang kompleks. Hasil pengujian
hipotesis menunjukkan bahwa dari sebelas (11) hipotesis yang diajukan, 8 hipotesis diantaranya didukung sementara empat (4) hipotesis lainnya tidak didukung. Kondisi ini menunjukkan bahwa ada tiga (3) variabel berpengaruh positif terhadap perilaku beralih merek dalam membeli sepeda motor produk di Salatiga, yaitu: kepuasan (satisfaction), pertimbangan (consideration set-size), dan pencarian media (retailer search). Hasil menarik lainnya adalah bahwa variabel kepuasan berpengaruh positif, tidak hanya pada pencarian media dan pertimbangan, tetapi juga perilaku perpindahan merek. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dibuat peneliti adalah perpindahan merek sebagai objek penelitian sedangkan perbedaannya adalah penelitian ini tidak menggunakan variabel kebutuhan mencari variasi, penggunaan jenis produk dengan keterlibatan tinggi, serta teknik analisis yang digunakan.
10) Penelitian yang dilakukan Geffen (2009) dengan judul “The Moderating Effect of
Variety-Seeking Behavior on The Satisfaction–Loyalty Relationship”. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perilaku mencari variasi tidak memoderasi hubungan antara kepuasan dan dua dimensi diperiksa kesetiaan, niat pembelian
67
kembali dan perilaku pembelian kembali. Selanjutnya, hasil menunjukkan bahwa meskipun kepuasan adalah indikator yang baik dari niat pembelian kembali, tidak ada hubungan yang kuat antara kepuasan dan perilaku membeli kembali. Temuan empiris menawarkan wawasan baru ke dalam kepuasan hubungan loyalitas, dan pengaruh dari berbagai perilaku mencari variasi sebagai moderator. Hasil ini juga menawarkan wawasan strategis baru ke dalam domain sebagai CRM, segmentasi dan loyalitas pelanggan. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dibuat peneliti adalah kebutuhan mencari variasi (variety seeking) sebagai objek penelitian dan variabel moderating, sedangkan perbedaannya adalah waktu pelaksanaan, dan teknik analisis data.