Inisiatif Elemen-Elemen MRV Nasional
4. Penelitian Emisi GRK dari Lahan Pertanian di Indonesia
Kementerian Pertanian telah melakukan kegiatan monitoring emisi GRK dari lahan sawah terutama CH4 (gas metana) untuk memformulasikan faktor emisi dan faktor koreksi untuk jenis tanah yang berbeda. Dari kompilasi data-data hasil penelitian tersebut diperoleh faktor emisi CH4 dengan kisaran 0,67-79,86 g/m2/musim dengan nilai tengah faktor emisi sebesar 16,09 g CH4/m2/musim, nilai ini lebih kecil 2 g CH4/m2/musim dibandingkan nilai default dari IPCC 1996 sebesar 18 g CH4/m2/musim. Revisi faktor skala dan faktor koreksi untuk emisi GRK berbagai jenis tanah di Indonesia dilakukan untuk upscaling emisi pada tingkat nasional. Perhitungan emisi CH4 dari lahan sawah Indonesia di tingkat nasional dilakukan atas dasar luas lahan sawah (activity data) menurut kabupaten yang ada untuk tahun 1980, 1985, 1990, 1995, 2000, dan 2005 dari BPS. Activity data ini kemudian dikalikan dengan faktor emisi dan faktor koreksi untuk mendapatkan tingkat emisi nasional. Model monitoring ini dapat dijadikan sebagai salah satu pembanding bagaimana peghitungan emisi GRK dari lahan gambut pada tingkat nasional dapat dilakukan, tentunya dengan banyak penyesuasian mengingat kondisi pada lahan gambut dengan berbagai jenis tutupan lahan jauh lebih kompleks.
69
Rekomendasi Sistem MRV Nasional
DNPI: Rekomendasi Langkah Tindak - Pengembangan Measurable, Reportable and Verifiable (MRV) (April, 2010)
Pengembangan sistem MRV secara teknis direkomendasikan untuk mencakup 3 sub-sistem: (1) Pengumpulan/akuisisi data, (2) Pengolahan/analisis data, dan (3) Pengembangan sistem pelaporan yang didukung oleh sistem basis data yang terstruktur. Dalam prakteknya, pengembangan sistem ini lebih jauh akan melibatkan berbagai rincian teknis untuk mengatur alur informasi antar lembaga, proses standarisasi maupun pengembangan berbagai perangkat analisis pendukungnya. Kelembagaan MRV yang kredibel perlu dibangun, didukung dengan sumberdaya teknis yang handal serta dukungan finansial yang memadai untuk menjamin kelancaran dan keberlanjutan sistem MRV. Kemampuan teknis ini sangat diperlukan untuk: (1) Mengkonsolidasikan berbagai data dan informasi dari berbagai sumber kedalam basis data yang terintegrasi, (2) Mengelola dan mengolah basis data untuk kepentingan pengarsipan maupun analisis, (3) Menyusun pelaporan dan verifikasi secara teratur baik untuk kepentingan para pembuat keputusan baik nasional maupun berbagai lembaga yang terkait, dan (4) Memberikan arahan, tuntunan dan rekomendasi teknis pelaksanaan MRV.
Struktur organisasi kelembagaan MRV yang direkomendasikan minimal mencakup:
1. Pengumpulan/akuisisi data spasial dan non-spasial (termasuk standardisasi dan integrasi data), 2. Pengolahan/analisis data (penghitungan karbon, analisis performa capaian kegiatan
penurunan emisi, dan pengarsipan hasil analisis),
3. Pelaporan (Executive Summary, Dashboard Management, laporan rinci hasil analisis berdasarkan RAN/RAD, verifikasi data dan fakta lapangan), dan (4) Unit lainnya untuk menunjang pelaksanaan kegiatan sehari-hari dari organisasi (Sekretariat dan pembangunan kapasitas organisasi)
Isu implementasi dan rekomendasi langkah tindak dalam pengembangan sistem MRV: 1. Perluasan cakupan MRV dalam konteks Good Governance
a. Penetapan konsensus untuk membangun mekanisme kelembagaan dalam pelaksanaan MRV (baik lembaga pengawas maupun pelaksana)
b. Pembangunan sistem informasi yang terintegrasi dalam rangka pengawasan pelaksanaan kegiatan pengurangan emisi
2. Ketersediaan data, akses data dan penguatan kelembagaan pemasok data a. Berbagai pilihan pemenuhan data untuk MRV perlu dilakukan
70
b. Perlu dilakukan asesmen data dan informasi yang lebih teknis (ketersediaan dan keterbatasan teknologi yang ada)
c. Standar pertukaran data dan mekanisme pertukaran data (interoperability) perlu segera dirumuskan (melibatkan lembaga pemasok data untuk MRV)
d. Pembangunan basis data dengan ketelitian yang rinci (khususnya di high-priority area) perlu segera dilakukan
3. Peningkatan kapasitas teknis dalam pengolahan dan pengelolaan data MRV.
a. Mengkonsolidasikan kegiatan peningkatan kapasitas teknis (pelatihan teknis dan fasilitasi dialog teknis).
b. Uji coba (Proof of Concept), terutama pada high-priority area. 4. Dukungan finansial.
a. Segera mengkonsolidasikan semua kegiatan yang terkait dengan pembangunan basis data di berbagai lembaga.
b. Program komprehensif melalui pendanaan yang signifikan. c. Pembangunan infrastruktur data dan informasi.
Beberapa hal belum dicakup dalam rekomendasi ini, diantaranya adalah status terkini, strategi dan roadmap MRV.
UN-REDD : REDD+ Indonesia Information, Monitoring & Measurement, Reporting and Verification (MRV): United Nations Recommendation (Juni, 2011)
UN-REDD merekomendasikan rencana aksi untuk mengembangkan, menerapkan dan mengoperasionalisasikan sistem Informasi, Pemantauan dan Pengukuran, Pelaporan dan Verifikasi (MRV) untuk REDD+ di Indonesia, mengikuti keputusan terbaru yang telah disepakati secara internasional oleh UNFCCC dan mengikuti pedoman IPCC. Pelaksanaan Sistem Informasi, Pemantauan, dan MRV Indonesia perlu mengikuti pendekatan bertahap, sejalan dengan tiga fase REDD+.
Persyaratan yang harus dipenuhi Indonesia pada setiap tahap adalah:
1. Pada Tahap 1, Indonesia perlu membangun kapasitas nasional REDD+ melalui kemitraan internasional dan inisiatif. Pada tahap ini Indonesia perlu untuk lebih menentukan pengaturan kelembagaan untuk Informasi, Monitoring dan MRV, membangun Lembaga MRV dan menyusun kebijakan dan langkah-langkah REDD+ nasional.
2. Pada Tahap 2, Indonesia harus mulai melaksanakan kebijakan nasional dan kegiatan demonstrasi REDD+ sub-nasional, dan mengembangkan sistem untuk memberikan informasi tentang bagaimana kerangka pengaman REDD+ ditangani dan diperhatikan.
71
3. Pada Tahap 3, REDD+ sepenuhnya terintegrasi dengan mekanisme mitigasi lainnya di bawah UNFCCC, yang berarti bahwa kegiatan REDD+ harus sepenuhnya diukur, dilaporkan dan diverifikasi. Diperlukan Sistem Pemantauan Lahan berdasarkan Satelit (Satellite Land Monitoring System) untuk mendapatkan data aktivitas mengenai luas hutan dan perubahan luas hutan, dan Inventarisasi Hutan Nasional untuk mengukur emisi atau serapan per unit aktivitas REDD+. Kompilasi data ini akan menjadi informasi Inventarisasi GRK REDD+ sebagai kinerja mitigasi kegiatan REDD+, dan dilaporkan ke UNFCCC sebagai bagian dari Komunikasi Nasional Indonesia.
Dalam mengembangkan dan menerapkan elemen-elemen MRV, diperlukan pengaturan kelembagaan dan pembangunan kapasitas, yang mencakup aturan, peran dan tanggung jawab kelembagaan, mandat institusi, dan mekanisme koordinasi. Pengaturan kelembagaan MRV sedapat mungkin didasarkan pada institusi dan kemampuan yang ada (institusi yang baru dibangun jika diperlukan).
Pendekatan yang diambil untuk pengembangan dan implementasi Sistem Informasi, Monitoring dan MRV REDD+ perlu disesuaikan dengan kebijakan-kebijakan kunci dan prinsip-prinsip teknis. Kebijakan-kebijakan kunci yang dimaksud adalah: (1) kepemilikan nasional, (2) mendukung proses UNFCCC, (3) otonomi, dan (4) tanggung jawab. Sedangkan prinsip-prinsip teknis yang diperlukan adalah: (1) disesuaikan dengan kondisi nasional, (2) operasional, (3) terkoordinasi, terstandardisasi dan terukur, (4) memanfaatkan kompetensi, kapasitas dan informasi yang ada, (5) Kepatuhan IPCC, (6) efisiensi biaya, (7) manfaat ganda, dan (8) pendekatan bertahap.