• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENELITIAN-PENELITIAN YANG CERMAT DAN MENDALAM

Dalam dokumen Secret of the Quran - Don Richardson (Halaman 51-55)

Penelitian Alquran secara mendalam pertama kali dilakukan oleh Sir William Muir yang kemudian dibukukannya dengan judul Muhammad. Buku tersebut dipublikasi ulang untuk terakhir kalinya pada tahun 1923. Kemudian pada tahun 1961 diterbitkan buku yang juga diberi judul

Muhammad oleh penulisnya yang bernama Maxime Rodinson.

Selanjutnya ada sejumlah penulis yang menganut paham berpikir liberal di antaranya W. Montgomery Watt dan Armstrong yang sangat naif

dalam menyimak pandangan para apologis Muslim moderen. Para apologis moderen menganggap bahwa Muhammad telah diberitakan secara tidak benar, jadi mereka berusaha mengoreksi ketidakbenaran pemberitaan tentang Muhammad tersebut.

Namun, dalam usaha mereka itu mereka tidak bisa membuktikan adanya kesalahan dari pemberitaan sejarah yang ditulis berdasarkan sumber Islam sendiri. Usaha para apologis Muslim tersebut bahkan berakhir dengan kesimpulan yang justru mengkonfirmasikan kebenaran pemberitaan historis itu.

Saat ini, ketika ulasan tentang Alquran yang obyektif sangat diperlukan, karya Muir dan Rodinson sudah lama tidak dicetak lagi dan secara umum telah dilupakan orang.

Muhammad Menurut Para Sejarawan

Sejumlah ulasan singkat pada masa lalu menganalisis perbuatan-perbuatan kejam Muhammad hanya secara sambil lalu dalam rangka membicarakan hal mengenai gaya seni tulis Muhammad yang sangat jelek yang sesungguhnya bukan merupakan hal yang penting. Misalnya, penulis yang bernama Edward Gibbon dalam bukunya yang berjudul

Decline and Fall of the Roman Empire mengungkapkan :

Alquran merupakan suatu rapsodi fabel, ajaran, dan deklamasi membingungkan yang kurang menggugah sentimen atau pendapat, yang susunannya tidak karuan... . Penggunaan tipu muslihat dan kelicikan, penggunaan cara kekejaman dan ketidakadilan seringkali merupakan suatu bentuk ketaatan pada propaganda agama atau keimanan. Muhammad memerintahkan atau merestui pembunuhan terhadap umat Yahudi dan para penyembah berhala... Muhammad mengumbar nafsunya dengan semau-maunya dan menyalahgunakan klaim-klaim kenabian. Suatu wahyu Ilahi khusus memberinya dispensasi untuk dibebaskan dari jerat aturan hukum yang berlaku padahal dia sendiri yang membuat aturan hukum tersebut untuk ditaati oleh bangsanya. Kapanpun dia menginginkan hubungan seks dengan wanita, sang wanita harus segera melayaninya tanpa pamrih. 1

Pernyataan Gibbon yang terakhir ini akan dibicarakan lebih lanjut dalam bab berikut.

Selanjutnya Thomas Carlyle, dalam Sartor Resartus : On Heroes

and Hero Worship, menggambarkan Alquran sebagai :

Suatu kumpulan catatan campur aduk yang menjemukan, berupa draf, susunannya acak-acakan dan dipenuhi dengan

pengulangan-pengulangan dan sangat bertele-tele ... Membaca Alquran bagi orang-orang Barat sungguh merupakan beban/tugas yang sangat berat. 2

Filosof David Hume, dalam bukunya berjudul An Enquiry

Concerning Human Understanding, berkomentar :

Muhammad suka sekali melakukan hal-hal seperti pengkhianatan, kekejaman, kebengisan , pembalasan dendam dan kefanatikan yang sudah tidak lumrah dilakukan oleh manusia beradab. Tidak ada hukum asasi yang dijadikan acuan bagi setiap perbuatannya, dan setiap perbuatan seseorang akan disalahkan atau dibenarkan hanya berdasarkan pada sejauh mana perbuatan tersebut menguntungkan atau merugikan orang-orang Muslim. 3

Para Pengulas yang Bermunculan Baru-Baru ini

Beberapa tahun terakhir ini, sejumlah intelektual Muslim yang berpikiran bebas telah mengkritik Alquran secara terbuka. Salman Rushdie dengan The Satanic Verses-nya bukanlah satu-satunya walaupun komentar semacam yang tertulis dalam buku the Satanic

Verses tersebut sulit ditemukan sepanjang sejarah Islam. Ali Dashti,

seorang Iran, mengulas tentang karier kenabian Muhammad yang berlangsung selama 23 tahun dalam sebuah buku berjudul Twenty-Three

years : A Study of the Prophetic Career of Mohammad. Dashti melihat

kekurangan-kekurangan Alquran asli berbahasa Arab tulisan Muhammad bukan hanya dalam isinya tetapi juga dalam gaya seni sasteranya. Dashti mengeluh :

"Alquran (asli berbahasa Arab) mengandung kalimat-kalimat yang tidak lengkap dan tidak dapat dipahami ...komentar-komentar. Kata-kata asing ... dan kata-kata yang digunakan dengan arti lain yang tidak wajar, bentuk kata-kata dirubah tanpa disesuaikan dengan "gender" dan jumlah, tidak logis dan penerapan-penerapan kata ganti yang tidak sesuai dengan gramatika bahasa Arab baku, bahkan kadang-kadang tidak punya acuan sama sekali, selain itu predikat yang terdapat dalam wacana-wacana bersajak seringkali disingkirkan dari subyek-subyeknya, ... lebih dari 100 penyimpangan aturan gramatika bahasa Arab yang terdapat dalam Alquran yang telah ditemukan. 4

Toby Lester, seorang pengulas Alquran untuk majalah Atlantic

Monthly, mengutip pendapat seorang ilmuwan Jerman yang sangat mahir

menganalisis beberapa salinan Alquran yang sangat kuno yang ditemukan di dalam sebuah mesjid di Yaman. Nama ilmuwan Jerman tersebut adalah Gerd R. Puin. Dia berkomentar :

Alquran mengklaim dirinya sendiri sebagai "mubeen" atau "jelas". Namun apabila anda menelitinya (Alquran dalam bahasa Arab sebagaimana yang dilakukan oleh Puin), anda akan menemukan bahwa setiap kalimat ke-5 atau di sekitar itu merupakan kalimat yang tidak bermakna sama sekali. Orang-orang Muslim sudah pasti berpendapat sebaliknya , namun faktanya memang membuktikan bahwa teks Alquran ke-5 tidak dapat dimengerti. Itulah sebabnya menterjemahkan Alquran menjadi suatu masalah besar sejak dahulu . Jika Alquran asli berbahasa Arab sendiri tidak bisa dipahami maknanya, hal tersebut berarti Alquran tidak bisa diterjemahkan. Fakta itulah yang merupakan masalah besar. Alquran mengklaim secara berulang-ulang bahwa isinya sangat jelas padahal kenyataannya tidak demikian bahkan penutur asli bahasa Arab- pun akan menyatakan bahwa ada kontradiksi di dalam Alquran. Sesuatu yang lain kemudian terjadi. 5

Buku lain yang juga mengulas Alquran secara kritis adalah buku berjudul Why I Am Not a Muslim yang ditulis oleh seorang mantan Muslim bernama Ibn Warraq. Buku itu diedarkan pada tahun 1995. Karena harganya cukup mahal pada waktu itu yaitu $ 30, buku tersebut tidak dapat terjangkau oleh para pembaca dari kalangan yang luas (maksudnya hanya orang-orang dari kalangan tertentu saja yang dapat membelinya). Buku itupun mengandung kekurangan. Warraq, yang sangat kecewa dengan agama Islam yang telah ditekuninya selama ini, kemudian secara berlebih-lebihan menyatakan dalam bukunya tersebut bahwa semua agama adalah impian orang-orang sakit. 6

Pada tahun 2002 Bat Ye'or dalam bukunya yang berjudul Islam dan

Dhimmitude: Where Civilizations Collide (lihat Daftar Pustaka)

membongkar rahasia perlakuan sewenang-wenang orang-orang Islam terhadap orang-orang Yahudi, Kristen, dan Zoroastrian selama 1400 tahun di Timur Tengah. Bat Ye'or menemukan akar kesewenang-wenangan yang sangat luar biasa dan berlarut-larut sampai ribuan tahun tersebut sesungguhnya bersumber pada Alquran sendiri. Tindakan tersebut dipicu oleh perintah Muhammad yang tertuang dalam Alquran. Muhammad tidak dapat berdalih bahwa dirinya tidak bersalah atas kekeliruan yang dilakukan oleh para pengikutnya dalam menginterpretasikan perintah Alquran tersebut.

ALASAN-ALASAN PENULISAN BUKU INI

Dalam dokumen Secret of the Quran - Don Richardson (Halaman 51-55)