TINJAUAN LITERATUR
A. Landasan Teoritis
1. Penelitian Signifikan
Ada beberapa eksplorasi terdahulu yang dimanfaatkan sebagai sumber perspektif bagi pencipta, antara lain:
Eksplorasi utama yang dipimpin oleh Irmayanti Djasman (2010) berjudul
“Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran Brainstorming dan Problem Based Instruction Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas IX SMP Negeri 3 Anggeraja Kabupaten Enrekang”.
Dilihat dari konsekuensi tinjauan, terlihat adanya perbedaan hasil belajar siswa antar kelas brainstorming dan problem based instruction sebelum dan sesudah perlakuan.
Sehingga dapat dikatakan bahwa pemanfaatan teknik pembelajaran konseptualisasi dan strategi bimbingan berbasis isu sama-sama siap untuk mengembangkan hasil belajar lebih lanjut siswa dan pada mata kuliah kerjasama ekonomi internasional penggunaan metode pembelajaran brainstorming lebih
mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Dilihat dari konsekuensitinjauan, terlihat adanya perbedaan hasil belajar siswa antara kelas brainstorming dan problem based instruction sebelum dan sesudah perlakuan. Sehingga dapat dikatakan bahwa Ulasan selanjutnya, disutradarai oleh Muh.Zaidi Thahir (2017) dengan
judul “Efektivitas Penerapan Metode Pembelajaran Brainstorming Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas V MI Muhammadiyah Pannampu Makassar”.
205.00. Jika mengacu pada hasil penelitian maka angka 205.00 termasuk dalam kriteria sedang (95 205 205).
Sehingga disimpulkan bahwa hasil belajar siswa pada kelas yang tidak menerapkan metode pembelajaran brainstorming adalah sedangkan hasil belajar siswa pada kelas yang menerapkan metode pembelajaran brainstorming, berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa nilai rata-rata empiris adalah 318.00. Mengacu pada tabel 4.2, angka 318.00 termasuk dalam kriteria tinggi (318 > 205). Sehingga disimpulkan bahwa hasil belajar siswa pada kelas yang menerapkan metode pembelajaran brainstorming tergolong tinggi.
Penelitian ketiga yang dilakukan oleh Sarif Romadhoni (2014) berjudul
“Efektivitas Penerapan Metode Brainstorming Terhadap Peningkatan Minat dan Prestasi Belajar Ekonomi Siswa Kelas X SMK YPKK 3 Sleman”.
Metode brainstorming efektif dalam meningkatkan minat belajar siswa, hal ini dibuktikan dengan peningkatan rata-rata minat belajar siswa dari 59,26 pada minat belajar awal (pre-test) menjadi 68,74 pada minat belajar akhir (post-test) atau meningkat 16%. Tingkat signifikansi (I-tailed) ditemukan sebesar 0,00 atau < 0,05 dengan nilai t negatif sebesar -5.359 yang menunjukkan bahwa minat belajar akhir siswa lebih baik daripada minat belajar awal.
Dari ketiga hasil eksplorasi sebelumnya yang memiliki diuraikan, ada kesamaan dengan eksplorasi yang akan dilakukan oleh pencipta, yaitu: dengan Mengkonseptualisasikan strategi. Namun, tidak satu pun dari tiga investigasi sebenarnya setua masalah yang harus direnungkan
perbedaannya terletak pada variabel bebas yaitu, perlu mengetahui dampak penerapan strategi pembelajaran Brainstorming dan Berbasis Masalah Instruction pada variabel terikat, khususnya hasil belajar siswa. Untuk eksplorasi selanjutnya dipimpin oleh Muh. Zaidi Thahir, perbedaannya terletak pada variabel terikat khususnya hasil belajar siswa.
Sedangkan hasil belajar ketiga dipimpin olehSarif Romadhoni, perbedaannya terletak pada variabel terikatitu adalah peningkatan minat dan prestasi belajar ekonomi. Dari penjelasan di atas terlihat jelas perbedaan dan persamaan antara penelitian yang dilakukan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan.
2. Metode Brainstorming
A. Definisi Metode
Menurut Fathurrohman dan Sutikno (2014:45) Secara etimologis, metode berasal dari bahasa Yunani “methodos” yang terdiri dari dua suku kata, yaitu “metha”
(melalui atau melalui) dan “hodos” (cara atau jalan).
Jadi metode mempunyai arti suatu jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan atau suatu cara untuk melakukan sesuatu atau suatu prosedur Metode secara harfiah berarti “cara”.
Secara umum metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Pendapat lain dijelaskan pula bahwa metode adalah suatu cara atau prosedur yang digunakan fasilitator dalam interaksi
pembelajaran dengan memperhatikan keseluruhan sistem untuk mencapai suatu tujuan.
Metode memiliki peran yang sangat strategis dalam pengajaran. Metode berperan sebagai tanda atau “cara mengolah” pembelajaran agar dapat berjalan dengan baik dan sistematis. Bahkan dapat dikatakan bahwa proses belajar tidak dapat berlangsung tanpa suatu metode.
Oleh karena itu, setiap guru dituntut untuk menguasai berbagai metode agar dapat melakukan proses pembelajaran yang efektif, efisien, menyenangkan dan mencapai tujuan pembelajaran yang ditargetkan.
Metode adalah teknik yang digunakan oleh pendidik untuk membangun iklim belajar yang melandasi kegiatan pendidik dan siswa. Hal ini sejalan dengan penilaian Sani (2013:90) yang merekomendasikan bahwa teknik adalah suatu metode penyampaian materi pembelajaran dengan tujuan akhir untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Metode (method) secara harafiah berarti suatu cara, selain itu meode atau metode berasal dari bahasa Yunani, Metha (melalui atau melalui), dan Hodos (cara atau jalan), jadi metode dapat berarti suatu jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu.
Metode adalah suatu prosedur atau proses yang hasilnya adalah belajar atau dapat juga menjadi alat melalui arti belajar menjadi aktif. Dan yang lebih penting metode adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk menghasilkan pembelajaran.
Menurut Darmadi, (2017) Metode pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru untuk menyampaikan materi pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
Sedangkan menurut Wina Sanjaya, metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang telah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Artinya metode digunakan untuk mewujudkan strategi yang telah ditetapkan.
Dengan demikian metode dalam rangkaian sistem pembelajaran memegang peranan yang sangat penting. Keberhasilan penerapan strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran, karena suatu strategi pembelajaran hanya dapat dilaksanakan melalui penggunaan metode pembelajaran.
Sanjaya (2016:147) Metode pembelajaran adalah cara-cara yang dipilih untuk mengimplementasikan rencana yang telah disusun dalam kegiatan nyata sehingga tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.
Metode pembelajaran merupakan cara penyampaian materi pelajaran dan untuk memberikan kemudahan kepada siswa menuju pencapaian tujuan tertentu. Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu metode yang digunakan untuk melaksanakan rencana yang telah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.
Metode pembelajaran adalah ilmu yang mempelajari cara-cara melakukan kegiatan secara sistematis dari suatu lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melaksanakan suatu kegiatan agar
proses pembelajaran dapat terlaksana dengan baik dalam arti tercapainya tujuan pengajaran.
Prawiradilaga (2007) menyatakan bahwa metode pembelajaran adalah prosedur, urutan, langkah dan metode yang digunakan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran, dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran terfokus pada pencapaian tujuan.
Dari beberapa sumber yang peneliti peroleh, yang dimaksud dengan metode pembelajaran adalah suatu metode yang dianggap tepat oleh guru untuk digunakan dalam proses pembelajaran tertentu bagi siswa yang telah dirancang sebelumnya guna memudahkan guru dan siswa dalam belajar. proses belajar dan dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
B. Definisi Metode Brainstorming
Brainstorming merupakan salah satu pendekatan yang memiliki konsep mengembangkan keterampilan berbicara bagi siswa, karena brainstormingmengedepankan pekerjaan kemajuan pemikiran melalui brainstorming.
Konseptualisasi menyiratkan lebih banyak memperhatikan subjek yang dipilih, kemudian, pada saat itu, memikirkan potensi kata, ekspresi, dan kalimat yang diidentifikasi dengan tema akan berbicara tentang. Ini adalah sumber utama untuk membuat keterampilanbicara siswa.
Seperti yang ditunjukkan oleh Moedjiono, dkk (2009: 105), Brainstorming adalah teknik untuk menghasilkan pikiran dengan meminta siswa untuk menyusun pikiran nomor berapa pun yang diizinkan. Konseptualisasi adalah metode afiliasi
gratis untuk menghasilkan energi ilmiah. Salah satu strategi untuk menghasilkan pemikiran adalah strategi konseptualisasi atau curah pendapat.
Menurut M. Subana, (2009:105)Brainstorming berarti motivasi tiba-tiba, pikir atau ide indah dari bermacam-macam ide, memberi solusi terhadap masalah eksplisit dengan memberikan semua pemikiran secara cepat. Konseptualisasi adalah motivasi dan pemikiran yang tidak dibatasi yang cerdik.
Menurut Zainal (2014:118) Brainstorming adalah suatu metode atau cara mengajar yang dilakukan oleh guru di dalam kelas. Metode ini dilakukan dengan cara melemparkan suatu masalah kepada siswa oleh guru, kemudian siswa menjawab atau mengemukakan pendapat, atau komentarnya sehingga masalah tersebut dapat berkembang menjadi masalah baru. Cara ini juga bisa diartikan sebagai cara untuk mendapatkan banyak ide dan sekelompok orang dalam waktu yang sangat singkat.
Mengkonseptualisasikan strategi untuk melatih kemampuan berbicara siswa.
Dalam strategi Brainstorming, siswa dituntut untuk berkonsentrasi bersama, belajar bersama teman satu kelompoknya, semua siswa diperlukan untuk menawarkan sudut pandang dan semua pemikiran di benaknya.
Pada realitas seringkali ada satu siswa yang dominan dan bertele-tele, namun ada juga siswa yang tidak terlibat dan menyajikan semua tugas. kepada pasangannya mana yang lebih dominan sehingga pembagian Kewajiban dalam kumpul tidak terpenuhi dan tidak semua siswa dapat berbicara sesuai dengan tujuan belajar bahasa Indonesia.
Meskipun demikian, dalam Metode Brainstorming ini, semua siswa diwajibkan untuk mengungkapkan pendapat atau idenya tanpa terkecuali. Terlebih lagi, siswa diperbolehkan untuk menawarkan sudut pandangatau kemudian lagi idenya tidak takut dituduh.
Mengkonseptualisasikan strategimerupakan prosedur pemecahan masalah yang dapat dimanfaatkan keduanya individu hanya sebagai pertemuan. Ini termasuk merekam ide-ide yang muncul secara spontan dengan cara yang tidak menghakimi.
Dalam membuat konsep,De Porter (2011:310-313) menyatakan bahwa "terimalah semua ide sebagai ide yang baik, terlepas dari betapa anehnya kelihatannya".
Jika dikaitkan dengan latihan berbicara, Brainstorming menyiratkan lebih banyak memperhatikan tema yang dipilih, kemudian, pada saat itu, memikirkan potensi kata, ekspresi, dan kalimat yang terkait dengan titik yang akan dibahas, misalnya dalam praktik diskusi kelas. Ini adalah hotspot utama untuk menciptakan kemampuan.
Menurut Moedjiono, dkk (2009:105), Brainstorming adalah teknik untuk menghasilkan pikiran dengan meminta siswa untuk mengarang sebanyak mungkin pemikiran yang diizinkan. Konseptualisasi adalah metode afiliasi gratis untuk menghasilkan energi ilmiah. Konseptualisasi dimulai dengan satu kata atau pemikiran tertentu yang dikemukakan oleh instruktur dan kemudian, pada saat itu, siswa dapat memupuknya.
Brainstorming adalah strategi pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok dimana siswa memiliki latar belakang pengetahuan dan pengalaman yang
berbeda. Kegiatan ini dilakukan untuk mengumpulkan ide dan pendapat dalam rangka menentukan dan menyeleksi berbagai pernyataan dalam menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan kebutuhan belajar, sumber daya, hambatan dan sebagainya. Setiap siswa diberi kesempatan secara bergiliran untuk menyampaikan pernyataan tentang pendapat atau gagasannya.
Siswa yang tidak mengungkapkan pemikirannya tidak boleh mengkritik atau berdebat dengan ide-ide yang disampaikan. Penilaian atau ide tersebut disusun di papan tulis atau di atas kertas lebar memberi.Setelah menulis, penilaian atau pemikiran diperiksa dan dievaluasi oleh pertemuan atau kelompok yang dipilih untuk diselesaikan penelitian.
C. Tujuan Teknik Brainstorming
Tujuan dari konsep adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman yang sama atau berbeda dari semua peserta. Hasilnya adalah pengalaman, atau kemudian peta digunakan sebagai peta ide (mindmap) informasi, agar peta menjadi pembelajaran bersama. Metode brainstorming cocok sebagai upaya mengumpulkan pendapat/gagasan yang diungkapkan oleh seluruh peserta pembelajaran.
Tujuan penggunaan metode Brainstorming adalah untuk “menguras segala sesuatu yang dipikirkan peserta didik dalam menanggapi masalah yang diajukan guru kepadanya”. Agar tujuan penerapan metode Brainstorming dapat tercapai, maka perlu memperhatikan aturan.
Ini dimaksudkan agarMetode brainstorming dapat berjalan efektif dan efisien sehingga tujuan yang diharapkan dapat terwujud.
Tujuan dari brainstorming adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman yang sama atau berbeda dari semua peserta. Hasilnya kemudian digunakan sebagai peta informasi, peta pengalaman, atau peta ide untuk menjadi pembelajaran bersama. Metode ini digunakan untuk menguras apa yang siswa pikirkan dalam menanggapi masalah yang diangkat oleh guru di kelas.
D. Manfaat Metode Brainstorming
Acep Yonny dan Sri Rahayu Yunus (2011) menyatakan beberapa keuntungan dari penerapan Metode Brainstorming sebagai berikut:
1. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengungkapkan pendapatnya
2. Melatih kemampuan kritis dan analitis siswa
3. Mendorong peserta belajar untuk menghargai pendapat orang lain 4. Merangsang peserta pembelajaran untuk berpikir secara holistik.
Menurut Roestiyah (2012) kelebihan Metode Brainstorming adalah sebagai berikut:
1. Peserta belajar aktif berpikir untuk mengungkapkan pendapat.
2. Melatih peserta untuk belajar berpikir cepat dan logis.
3. Merangsang peserta pembelajaran untuk selalu siap mengemukakan pendapat terkait masalah yang diberikan oleh guru.
4. Meningkatkan partisipasi peserta pembelajaran dalam menerima pelajaran.
5. Peserta belajar yang kurang aktif mendapat bantuan dari teman atau gurunya yang pintar.
6. Terjadinya persaingan yang sehat.
7. Peserta didik merasa bebas dan bahagia.
Menurut Diyah Nur Fauziyah Amin, (2016) kelebihan metode brainstorming adalah sebagai berikut:
Metode ini melatih keaktifan siswa dalam bertanya dan mengolah pertanyaan sehingga mendorong siswa untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
Metode ini bertujuan untuk mengumpulkan ide atau pendapat guna menentukan dan memilih berbagai pernyataan sebagai jawaban atas pertanyaan yang berkaitan dengan pembelajaran. Dengan diterapkannya metode ini akan terjadi proses pembelajaran yang lebih aktif dengan ide-ide yang muncul dari siswa.
Menurut Roestiyah (2012) beberapa kelemahan metode Brainstorming adalah sebagai berikut:
1. Guru tidak memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk berpikir dengan baik.
2. Peserta belajar yang kurang selalu tertinggal
3. Terkadang percakapan hanya dimonopoli oleh peserta belajar yang pintar.
4. Guru hanya menampung pendapat tetapi tidak merumuskan kesimpulan.
5. Peserta didik tidak segera mengetahui apakah pendapatnya benar/salah.
6. Masalah dapat berkembang ke arah yang tidak terduga.
Selain memiliki kelebihan, metode ini juga tidak terlepas dari kelemahan, antara lain:
1. Memudahkan siswa lepas kendali.
2. Ada kesulitan bagi siswa untuk mengetahui bahwa semua pendapat dapat diterima.
3. Siswa cenderung mengevaluasi ide-ide yang diajukan.
4. Siswa tidak segera mengetahui apakah pendapatnya benar atau salah.
5. Masalah dapat berkembang ke arah yang tidak terduga.
A. Langkah Menggunakan Metode Konseptualisasi
Langkah menggunakan Teknik konseptualisasi seperti yang ditunjukkan oleh Roestiyah (2001:81). Berikutnya adalah langkah-langkah pembelajaran yang menggunakan teknik konseptualisasi:
1. Memberikan data dan inspirasi
Pendidik menjelaskan permasalahan dihadapkan dan dasar serta Selamat datang siswa dinamis untuk menyumbangkan pertimbangan mereka.
2. Membedakan bukti
Di panggung ini siswa diajak memberi ide sebanyak yang bisa diharapkan secara wajar. Semua ide yang masuk wajib, dicatat dan tidak dicela.Pemimpin pertemuan dan anggota hanya dapat meminta untuk meminta klarifikasi. Masalah ini dimaksudkan untuk imajinasi siswa tidak terhalang.
3. Memesan
Semua ide anggota dan sumber informasi dicatat. Tahap berikut adalah pesanan tergantung pada model yang dibuat dan diselesaikan oleh pertemuan. Pengaturan dapat didasarkan pada struktur/komponen yang berbeda.
4.Memeriksa
Berkumpul bersama-sama berpikir kembali brainstorming yang telah dipesan.
Setiap brainstorming mencoba signifikansinya untuk masalah. Jika ada brainstorming yang sama, salah satunya diambil dan saran yang tidak relevan bisa dicoret. Pemberi saran dapat dimintai argumentasinya.
5. Kesimpulan (Kesepakatan)
Guru/pemimpin kelompok bersama peserta lain mencoba menyimpulkan butir-butir alternatif pemecahan masalah yang telah disepakati. Setelah semua puas, kesepakatan akhir diambil tentang bagaimana memecahkan masalah yang dianggap paling tepat.
Metode Konseptualisasi memiliki beberapa tahap, antara lain:
1. Pendidik mengumpulkan ikhtisar kebutuhan beradaptasi, aset belajar.
2. Pendidik menyampaikan pertanyaan dalam pengaturan, untuk semua siswa dalam kelompoknya. Sebelum menjawab pertanyaan, siswa diberi waktu sekitar 3-5 menit untuk memikirkan alternatif jawaban.
3. Guru menjelaskan aturan-aturan yang harus diperhatikan siswa, seperti: setiap orang mengemukakan pendapat, mengemukakan pendapat atau gagasan dengan cepat, menyampaikan jawaban secara langsung, dan menghindari mengkritik atau menyela pendapat orang lain.
4. Guru memberitahukan waktu yang akan digunakan misalnya sekitar 15 menit yaitu menyampaikan setiap pertanyaan dan meminta siswa memberikan jawaban.
Kemudian siswa menyampaikan penilaian muncul kepadanya dan dilakukan secara timbal balik dan berurutan dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Siswatidak bisa mengomentari pemikiran yang diajukan oleh siswa yang lain, komentar positif yang luar biasa maupun komentar negatif.
5. Pengajar dapat menunjuk pencipta untuk merekam penilaian dan menanggapinya disampaikan oleh pengganti dan juga dapat memberi nama grup untuk menilai interaksi dan hasill dari pemanfaatan teknik ini. Instruktur dapat memimpin pertemuan sehingga pertemuan dapat menilai tanggapan dan sentimen yang sesuai dikumpulkan. Pengajar menghindari penguasaan satu anggota dalam menyampaikan ide juga, penilaian.
Strategi ini cocok karena dalam jangka waktu yang singkat ide, pengandaian, dan jawaban imajinatif dapat terkumpul, asalkan tidak analisis yang menghambat tiba-tiba penyampaian proklamasi oleh siswa.
Dengan strategi ini akan ada situasi belajar yang umumnya kuat dan menguntungkan bersama-samaterlebih lagi, ide dan perasaan yang sudah selesai antar pemain pengganti. Harus diperhatikan bahwa penggunaan teknik ini akan cocok jika terjadi keadaan mengenal antar murid.
3. Belajar bahasa Indonesia A. Definisi Bahasa
Seperti yang ditunjukkan oleh Rohmadi (2011: 9)Bahasa adalah aparat yang digunakan pria untuk berkomunikasi. Sedangkan sesuai Faisal, dkk (2009:14) tuturan merupakan bentuk dasar bahasa. Tuturan-tuturan yang dihasilkan oleh alat ujaran orang orang bilang sebagai wacana, wacana manusia dapat dianggap sebagai bahasa jika tuturan tersebut mengandung arti, atau jikadua atau lebih tidak diatur dalam batu itu suatu rangkaian suara memiliki makna yang sama. Jadi, dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah alat yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lain yang memiliki makna.
Sardiman AM (2010:21) dalam buku “Interaction and Motivation for Teaching and Learning” menegaskan bahwa: “Belajar adalah rangkaian kegiatan fisik dan mental, psiko-fisik untuk mengarah pada perkembangan pribadi manusia seutuhnya, yang artinya melibatkan unsur kreativitas, rasa dan karsa, ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik”.
B. Fungsi bahasa
Fungsi bahasa secara umum adalah untuk berkomunikasi. Susanto (2013:246) menyatakan bahwa Bahasa memiliki tiga kapasitas utama, khususnya: (1) kapasitas spellbinding, khususnya bahasa untuk menyampaikan data otentik, (2) kapasitas ekspresif, menjadi bahasa tertentu. memberikan data tentang pembaca sendiri, dalam hal sentimen, bias, pertemuan. . yang memiliki berlalu, (3) kapasitas sosial bahasa, khususnya menyelamatkan hubungan sosial antar manusia.
C. Belajar Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar
Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran penting dalam dunia pendidikan. Mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan program untuk mengembangkan pengetahuan, meningkatkan kemampuan berbahasa, dan menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia
Tarman A Arif menyatakan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia merupakan bagian dari bidang studi yang wajib diajarkan di sekolah dasar yang menuntut kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan ilmiah dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi saat ini.
Oleh karena itu, proses pembelajaran diciptakan untuk mengajak siswa terlibat dan menemukan sendiri suatu konsep pengetahuan dari apa yang mereka ketahui tentang suatu hal.
Secara garis besar, tujuan belajar bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Siswa menghargai dan bangga dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara.
2. Murid memahami bahasa Indonesia dari segi struktur, arti, dan artikulasinya fungsinya selanjutnya, gunakan itu secara cocok dan imajinatif untuk berbagai kebutuhan, kebutuhan dan kondisi.
3. Mahasiswa dapat memanfaatkan bahasa Indonesia untuk mengembangkan kapasitasnya emosi, terlebih lagi, pengembangan sosialnya
4. Siswamemiliki disiplin dalam bernalar dan berbahasa (berbicara dan mengarang)
5. Siswa dapat menghargai dan menggunakan upaya abstrak untuk mengembangkan karakter mereka, memperluas perspektif hidup mereka, dan meningkatkan wawasan dan kemampuan mereka keterampilan bahasa.
6. Mahasiswa mengapresiasi dan bangga terhadap Tulisan Indonesia sebagai rejeki sosial dan intelektual bangsa Indonesia. BNSP, (2007) dalam Nurul Hidayah (2015:4)
Sementara itu, Susanto (2013) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar adalah agar siswa dapat menikmati dan mengajarkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadiannya, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berbahasa.
meningkatkan karya sastra, melatih keterampilan membaca, menulis dan berbicara.
Ada empat keterampilan penting yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan tersebut merupakan tujuan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah, termasuk sekolah dasar. Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia secara baik dan benar, baik lisan maupun tulisan.
Menurut Nur Syamsiyah (2016:12) ciri-ciri pembelajaran bahasa Indonesia meliputi (1) setiap pembelajaran yang berkaitan dengan kegiatan siswa, (2) setiap kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan kegiatan bahasa, (3) setiap pembelajaran diawali dengan kata kerja dan dapat dikembangkan. kreatif, dan (4)
setiap pembelajaran berkaitan dengan komponen PBM dan pendekatan CBSA, keterampilan proses dan pendekatan komunikatif.
D. Fungsi Pembelajaran Bahasa Indonesia
Fungsi pembelajaran bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan produktivitas pendidikan, dengan mempercepat laju pembelajaran dan membantu guru menggunakan waktunya dengan lebih baik, dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat menumbuhkan dan mengembangkan semangat belajar siswa.
2. Memberikan kemungkinan pendidikan yang lebih bersifat individual, dengan mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya.
3. Memberikan dasar pengajaran yang lebih ilmiah, dengan merencanakan program pendidikan yang lebih sistematis, serta mengembangkan bahan ajar berbasis penelitian dan perilaku.
4. Lebih mengatur pengajaran, dengan meningkatkan kemampuan manusia dengan berbagai media komunikasi, serta menyajikan informasi dan data secara lebih konkrit.
5. Memungkinkan pembelajaran yang instan, karena dapat mengurangi kesenjangan antara pembelajaran verbal dan abstrak dengan realitas konkrit, serta
5. Memungkinkan pembelajaran yang instan, karena dapat mengurangi kesenjangan antara pembelajaran verbal dan abstrak dengan realitas konkrit, serta