• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

D. Penelitian Terdahulu dan Pengembangan Hipotesis

Untuk membangun hipotesis, penulis menggunakan beberapa acuan dari penelitian terdahulu yang akan dijelaskan dalam bagian ini.

1. Pengaruh leverage terhadap risk management disclosure

Ketergantungan perusahaan terhadap hutang dalam membiayai kegiatan operasinya tercermin dalam tingkat leverage (Sembiring, 2005).

Leverage ratio merupakan perbandingan antara hutang terhadap modal (Suharli dan Megawati, 2005). Rasio tersebut digunakan untuk memberikan gambaran mengenai struktur modal yang dimiliki perusahaan, sehingga dapat dilihat tingkat risiko tak tertagihnya piutang. Teori keagenan memprediksi bahwa perusahaan dengan rasio leverage yang lebih tinggi akan mengungkapkan lebih banyak informasi, karena biaya keagenan perusahaan dengan struktur modal seperti itu lebih tinggi (Jensen dan Meckling, 1976).

Menurut teori stakeholder, perusahaan diharapkan mengungkap lebih banyak risiko dengan tujuan untuk menyediakan penilaian dan penjelasan mengenai apa yang terjadi pada perusahaan (Amran et.al., 2009). Suhardjanto

(2008) mengemukakan bahwa semakin besar tingkat leverage perusahaan, maka semakin terperinci informasi yang diungkapkan. Penggunaan utang yang sangat besar oleh perusahaan akan membuat perusahaan menyediakan informasi lebih banyak untuk memenuhi tuntutan stakeholder (kreditur), sebab kreditur akan selalu mengawasi dana yang dipinjamkannya kepada perusahaan (Suhardjanto dan Laras, 2009).

Hasil penelitian dari Amran et.al. (2008); Suhardjanto dan Laras (2009) menunjukkan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap disclosure. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa :

H1 = Leverage berpengaruh positif terhadap risk management disclosure.

2. Pengaruh blockholder ownership terhadap risk management disclosure Pemegang saham menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah pemegang surat bukti kepemilikan bagian modal perseroan terbatas yang memberi hak atas deviden dan lain – lain menurut besar kecilnya modal yang disetor. Blockholder ownership merupakan banyaknya jumlah blockholder

yang memiliki 5% atau lebih dari saham perusahaan yang beredar (Endri, 2011). Penyebaran kepemilikan perusahaan, terutama oleh pemegang saham yang peduli dengan kegiatan sosial perusahaan (dana tanggung jawab sosial bersama misalnya, gereja dan rencana pensiun sipil, dan pemegang saham etis), mempertinggi tekanan bagi manajemen untuk mengungkapkan kegiatan tanggung jawab sosial (Ullmann, 1985).

Pendapat Ullmann (1985) berbeda dengan pendapat Godfrey dan Jones (1999) yang menyatakan bahwa semakin rendah konsentrasi kepemilikan di tangan satu pemilik, maka akan semakin besar tingkat

disperse control terhadap perusahaan, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin rendah kepemilikan tunggal atas saham perusahaan, maka akan semakin tinggi tingkat pengungkapan laporan keuangan perusahaan.Eng dan Mak (2003); menemukan pengaruh negatif antara blockholder ownership

commit to user

dengan pengungkapan sukarela perusahaan. Oleh karena itu dengan adanya penurunan blockholder ownership maka akan terjadi peningkatan risk management disclosure.

H2 = Blockholder ownership berpengaruh negatif terhadap risk management disclosure.

3. Pengaruh kepemilikan manajerial terhadap risk management disclosure Kepemilikan manajerial adalah persentase saham biasa yang dimiliki CEO dan eksekutif direktur (Eng dan Mak, 2003). Menurut Boediono (2005) kepemilikan manajerial adalah jumlah kepemilikan saham oleh pihak manajemen dari seluruh modal saham perusahaan yang dikelola. Kepemilikan manajemen terhadap saham perusahaan dipandang dapat menyelaraskan potensi perbedaan kepentingan antara pemegang saham luar dengan manajemen (Jensen dan Meckling, 1976). Susanti, Rahmawati, Aryani (2010), mengungkapkan bahwa proporsi kepemilikan saham yang dikontrol oleh manajer mempengaruhi kebijakan perusahaan dan pengambilan keputusan terhadap metode akuntansi yang diterapkan pada perusahaan yang

mereka kelola (Boediono, 2005).

Tingginya tingkat kepemilikan manajerial akan mengakibatkan konflik antara stockholder dan bondholders sehingga mengakibatkan ketidakkompakan karena manajer cenderung mengambil tindakan untuk mementingkan diri sendiri dan dapat meningkatkan risiko perusahaan (Chen dan Steiner, 1999; Morck et.al., 1988). Semakin besar risiko yang dihadapi perusahaan maka keterbukaan mengenai informasi akan semakin kecil

(Widajati, 2007). Suhardjanto (2008) memeperkuat pendapat tersebut bahwa jika kepemilikan perusahaan terpusat pada manajemen maka pengungkapan mengenai risiko semakin kecil. Eng dan Mak (2003) menemukan hubungan negatif antara kepemilikan manajerial dengan disclosure. Dengan berkurangnya kepemilikan manajerial diharapkan dapat meningkatkan risk management disclosure.

H3 = Kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap risk management disclosure.

4. Pengaruh proposi Komite Audit Independen terhadap risk management disclosure

Menurut Suhardjanto dan Novita (2009) Komite Audit merupakan komite yang dibentuk untuk membantu tugas dan fungsi Dewan Komisaris. Komite Audit bertugas mewakili dan membantu Dewan Direksi untuk mengawasi proses pelaporan akuntansi dan keuangan, audit laporan keuangan dan pengendalian internal serta fungsi – fungsi audit. Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor: 8/4/PBI/2006 Komite Audit melakukan pemantauan dan evaluasi atas perencanaan dan pelaksanaan audit serta pemantauan atas tindal lanjut hasil audit dalam rangka menilai kecukupan pengendalian intern termasuk kecukupan proses pelaporan keuangan. Komite Audit yang dibentuk dalam perusahaan sebagai sebuah komite khusus diharapkan dapat mengoptimalkan fungsi pengawasan yang sebelumnya dilakukan oleh Dewan Komisaris (Siallagan dan Mas’ud, 2006)

Komite Audit Independen berpengaruh terhadap pengawasan dan proses pelaporan keuangan yang lebih baik (Beasley, 1996). Forker (1992)

commit to user

menyatakan bahwa keberadaan anggota Komite Audit Independen meningkatkan kualitas kontrol perusahaan. Proporsi anggota Komite Audit Independen berpengaruh positif terhadap environmental disclosure

(Suhardjanto dan Novita, 2010; Ho dan Wong, 2001; Li et.al., 2008, Suhardjanto dan Theodora, 2010). Semakin independen Komite Audit, diharapkan semakin meningkatkan kepatuhan terhadap risk management disclosure.

H4 = Proporsi Komite Audit Independen berpengaruh positif terhadap risk management disclosure.

5. Pengaruh ukuran Komite Pemantau Risiko terhadap risk management disclosure

Peraturan Bank Indonesia Nomor: 8/4/PBI/2006 tentang pelaksanaan

good corporate governance bagi bank umum pasal 12 menyebutkan bahwa dalam rangka mendukung efektivitas pelaksanaan tugas dan tanggung jawab, Dewan Komisaris wajib membentuk paling kurang : (a) Komite Audit, (b) Komite Pemantau Risiko, (c) komite remunerasi dan nominasi. PBI Nomor: 8/4/PBI/2006 pasal 44 menerangkan bahwa Komite Pemantau Risiko paling kurang melakukan : (a) evaluasi tentang kesesuaian antara kebijakan manajemen risiko dengan pelaksanaan kebijakan tersebut, (b) pemantauan terhadap evaluasi pelaksanaan tugas Komite Pemantau Risiko dan satuan kerja manajemen risiko, guna memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris.

Penetapan mengenai kewajiban Dewan Komisaris dalam pembentukan Komite Pemantau Risiko diharapkan agar manajemen risiko

perusahaan dapat dikelola dengan baik. Penetapan dari Bank Indonesia mengenai pembentukan Komite Pemantau Risiko pada industri perbankan Indonesia diharapkan agar manajemen risiko dapat dikelola dengan baik, sehingga risk management disclosure akan meningkat.

H5 = Ukuran Komite Pemantau Risiko berpengaruh positif terhadap risk management disclosure.

6. Pengaruh return on equity (ROE) terhadap risk management disclosure Pertumbuhan yang berkelanjutan dalam keuntungan ekonomi bagi pemegang saham ekuitas adalah tujuan utama yang umum bagi semua manajer perusahaan (Robert, 1992). Kinerja perusahaan yang memuaskan memiliki pengaruh tingkat dukungan para pengambil keputusan perusahaan agar dapat berkomitmen untuk masa depan kegiatan tanggung jawab sosial (Ullmann, 1985).

Suhardjanto dan Aryane (2011); Haniffa dan Cooke (2005) mengemukakan bahwa semakin tinggi nilai ROE maka akan semakin besar tingkat pengungkapan perusahaan. Dengan demikian, teori stakeholder

memprediksi hubungan positif antara tindakan akuntansi berbasis kinerja ekonomi dan tingkat perusahaan dari pengungkapan tanggung jawab sosial (Robert, 1992). Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin besar economic performance perusahaan maka akan semakin besar pula risk management disclosure yang diungkapakan.

H6 = Return on Equity berpengaruh positif terhadap risk management disclosure.

commit to user

7. Pengaruh Tobin’s q terhadap risk management disclosure

Tobin’s q merupakan salah satu dari beberapa jalur other asset channel yang digunakan oleh Bank Indonesia dalam mempengaruhi perekonomian khususnya dalam mencapai sasaran akhir dari kebijakan moneter yang dikeluarkan yaitu kestabilan harga-harga (tingkat inflasi) (Jin, 2010). Nilai pasar ekuitas saham (market value of equity) dihitung dengan mengalikan harga penutupan saham di akhir tahun dengan jumlah lembar saham yang beredar. Nilai Tobin’s q dapat digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan, yaitu dari sisi potensi nilai pasar suatu perusahaan. Menurut Tobin (1969), bila rasio lebih besar dari 1, berarti perusahaan menghasilkan earning dengan rate of return yang sesuai dengan harga perolehan aset.

Nilai Tobin’s qmenggambarkan suatu kondisi peluang investasi yang dimiliki perusahaan (Lang,et.al., 1989). Klapper dan Love (2002) menemukan adanya hubungan positif antara corporate governance dengan kinerja perusahaan yang diproksikan dengan nilai Tobins’q. Dengan

demikian jika nilai Tobin’s q tinggi maka risk management disclosure pun akan meningkat.

H7 = Tobins’q berpengaruh positif terhadap risk management disclosure.

commit to user

BAB III

METODE PENELITIAN

Setelah membahas landasan teori dan pengembangan hipotesis di Bab II, maka pada Bab III akan menjelaskan mengenai desain penelitian, populasi, sampel dan teknik pengambilan sampel, data dan metode pengumpulan data, pengukuran variabel dan metode analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini.

A. Desain Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian pengujian hipotesis (hypothesis testing) yang bertujuan untuk menguji hipotesis yang diajukan oleh peneliti mengenai pengaruh stakeholder yang direpresentasikan dengan leverage, kepemilikan manjerial, proporsi Komite Audit Independen, ukuran Komite Pemantau Risiko, ROE dan Tobins’q terhadap risk management disclosure. Menurut Sekaran dan Roger (2010), pengujian hipotesis harus dapat menjelaskan sifat dari hubungan

tertentu, memahami perbedaan antar kelompok atau independensi dua variabel atau lebih.

Dokumen terkait