• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh efesiensi usaha, risiko keuangan, kepercayaan masyarakat dan skala bank terhadap kemampuan penyaluran kredit.

1. Pengaruh Efesiensi usaha terhadap kemampuan penyaluran kredit bank komersial.

Dalam penelitian Quirin (1998) menyatakan bahwa teori sinyal fundamental terdapat efesiensi usaha yaitu perusahaan yang efesien dalam usahanya atau memberikan layanan jasanya akan mampu memenangkan persaingan dan berpotensi untuk memberikan kesejahteraan kepada para pemegang saham lebih baik. Bank merupakan perusahaan jasa dalam bidang keuangan. Efesiensi usaha suatu bank menggambarkan efesiensi dalam memberikan pelayanan jasa-jasa perbankan. Efesiensi usaha bank merupakan signal (tanda) positif bagi para investor. Semakin efesiensi usaha suatu bank

Ha.4 Ha.3 Ha.1 

Ha.2

Kemampuan penyaluran kredit bank komersial Skala bank Risiko keuangan a. Liquidity Risk b. Credit Risk c. Capital Risk Kepercayaan masyarakat Efesiensi usaha a. BOPO b. NIM c. ICR d. DSR

berpotensi berkembang dengan baik, dapat mmemberikan nilai tambah besar kepada pemegang saham dan kemampuan meningkatkan nilai perusahaan. Menurut teknik CAMEL aspek efesiensi dinilai dengan rasio berikut ini. a) Biaya operasional/pendapatan opersional (BOPO).

BOPO merupakan rasio antara biaya operasi terhadap pendapatan operasi. Biaya operasi merupakan biaya yang dikeluarkan oleh bank dalam rangka menjalankan aktivitas usaha utamanya seperti biaya bunga, biaya pemasaran, biaya tenaga kerja dan biaya operasi lainnya. Pendapatan operasi merupakan pendapatan utama bank yaitu pendapatan yang diperoleh dari penempatan dana dalam bentuk kredit dan pendapatan operasi lainnya. Semakin kecil BOPO menunjukkan semakin efisien bank dalam menjalankan aktivitas usahanya (Payamta,2009). Menurut Amilia dan Hendraningtyas (2005) bahwa BOPO dapat digunakan untuk mengukur kemampuan dan mengendalikan biaya operasional terhadap operasionalnya maka semakin kecil BOPO berarti semakin efesiensi biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga memungkinkan suatu bak dalam kondisi bermasalah semakin kecil.

b) Net interst margin (NIM).

NIM merupakan perbandingan antara pendapatan bunga bersih terhadap rata-rata aktiva produktif. Pendapatan bunga bersih diperoleh dari pendapatan bunga dikurangi beban bunga. Aktiva produktif yang

diperhitungkan adalah aktiva produktif yang menghasilkan bunga (interest

bearing assets) (Payamta,2009).

Menurut Amilia dan Hendraningtyas (2005) bahwa NIM dapat digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola aktiva produktifnya untuk menghasilkan pendapatan bunga bersih maka semmakin besar NIM maka meningkatnya pendapatan bunga atas aktiva produktif yang dikelola bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Menurut Peraturan Bank Indonesia nomor 7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum yang dimaksud dengan aktiva produktif adalah penyediaan dana bank untuk memperoleh penghasilan, dalam bentuk kredit, surat berharga, penempatan dana antar bank, tagihan akseptasi, tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali, (reverse repurchase agreement), tagihan derivatif, penyertaan, transaksi rekening administratif serta bentuk penyediaan dana lainnya yang dapat dipersamakan dengan itu. Oleh karennya bank wajib menjaga selalu kualitas aktiva produktifnya dan melaporkan perkembangannya ke Bank Indonesia secara berkala. Selain menjaga kualitas aktiva produktifnya, untuk menjaga posisi NIM perlu memperhatikan perubahan suku bunga. Dalam mencapai keuntungan yang maksimal selalu ada risiko yang sepadan, semakin tinggi keuntungannya semakin besar risiko yang dihadapi. Yang dalam perbankan sangat dipengaruhi oleh besarnya suku bunga (interest rate). Peningkatan keuntungan dalam kaitannya dengan perubahan suku

bunga sering disebut NIM (Net Interest Margin), yaitu selisih pendapatan bunga dengan biaya bunga (Indira Januarti, 2002).

c) Rasio Interest Cost to Total Cost (ICR).

Rasio ini menunjukkan efektivitas pengelolaan beban bunga bank. ICR merupakan perbandingan antara jumlah biaya bunga dibagi dengan jumlah total biaya dalam periode yang sama (Payamta,2009).

d) Debt Service ratio (DSR).

Rasio ini mengukur kemampuan bank dalam menutup biaya bunga dengan pendapatan bunga yang dihasilkan dalam periode tertentu. DSR merupakan perbandingan jumlah pendapatan bunga dibagi dengan jumlah biaya bunga dalam suatu periode yang sama (Payamta,2009).

Atas hasil penelitian tersebut di atas, maka dapat ditarik hipotesis pertama sebagai berikut ini.

Ha.1 : Efesiensi Usaha berpengaruh terhadap kemampuan penyaluran kredit bank komersial.

2. Pengaruh Risiko keuangan terhadap kemampuan penyaluran kredit bank komersial.

Risiko keuangan merupakan salah satu jenis risiko usaha bank yang terukur bedasarkan informasi laporan keuangan. Resiko keuangan menunjukkan tingkat relatif atas konsekuensi pengambilan keputusan manajemen dalam berbagai dimensi keuangan yang berhubungan dengan pengembalian (keuntungan) yang diharapkan dari keputusan tersebut. Risiko

yang dihadapi bank semakin besar jika tingkat keuntungan yang diharapkan semakin besar pula (Hempel,dkk,1994). Semakin besar risiko keuangan merupakan sinyal negatif terhadap kinerja bank. Risiko usaha bank sangat beragam dan tidak semua risiko terukur dalam bentuk informasi keuangan. Jenis risiko keuangan dapat meliputi.

a. Liquidity Risk

Liquidity risk yaitu rasio antara (Likuid asset-Sort term Borrowing)

dibagi dengan total deposit. Rasio ini mengukur kemungkinan timbulnya risiko bank tidak mampu memenihi kewajiban kepada deposannya (Payamta, 2009).

b. Credit Risk

Credit risk merupakan risiko kredit bermasalah terhadap total kredit diberikan. Rasio ini mengukur kemungkinan terjadinya risiko kegagalan suatu bank yang disebabkan oleh karena timbulnya kredit bermasalah atau kredit macet (Payamta, 2009).

c. Capital Risk

Capital risk merupakan rasio antara ekuitas terhadap aktiva bank yang berisiko atau risk asset. Risk asset bank meliputi total asset dikurangi dengan kas, giro BI dan surat berharga pemerintah (Payamta, 2009).

Hasil kajian literatur sebelumya, Meyer dan Piefer (1970) serta Wimboh,dkk.(1995) menemukan tingkat efesiensi berpengaruh terhadap kegagalan suatu bank dan risiko yang besar memberikan pengaruh positif terhadap kegagalan bank. Bank yang tidak efesien mempunyai risiko besar

untuk bankrut. Sinkey (2002) memberikaan acuan bahwa risiko usaha bank dapat diukur dengan variabelitas ROE.

Ada fenomena kredit bermasalah yang cukup besar dan negatif spread

pada suatu bank merupakan salah satu cermin adanya risiko tinggi yang dihadapi bank tersebut. Risiko bank semakin tinggi jika bank belum mampu memenuhi standar pemenuhan modal minimumnya. Adanya dorongan dari Bank Indonesia agar bank-bank melakukan merger dan akuisisi dengan bank lain adalah logis. Jika suatu bank telah dimerger atau diakuiisisi dengan bank lain, maka struktur permodal bank semakin kuat dan risiko usahanya semakin berkurang.

Dari sudut pandang teori keagenan , konflik antara debitur dengan kreditur akan selalu terjadi. Pada dasarnya, kreditur tidak akan pernah memperdulikan kepentingan bank sebagai kreditur. Debitur akan selalu memanfaatkan peluang bagaimana mencari keuntungan sebesar-besarnya dari hubungannya dengan kreditor (bank). Debitur tidak segan-segan melakukan pelanggaran atas sebagian ataupun seluruh ketentuan perkreditan yang ditetapkan bank. Akibatnya risiko kredit yang ditanggung debitur semakin besar, kredit menjadi tidak lancar. Kasus-kasus adanya kredit macet dalam perbankan nasional adalah contoh konkrit dari risiko yang dihadapi bank saat ini (Retnadi,2006:113). Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, maka dapat ditarik hipotesis kedua sebagai berikut ini.

Ha.2: Risiko keuangan berpengaruh terhadap kemampuan penyaluran kredit bank komersial.

3. Pengaruh Kepercayaan Masyarakat terhadap kemampuan penyaluran kredit bank komersial.

Falsafah yang melandasi kegiatan usaha bank adalah kepercayaan dari masyarakat atau nasabah. Sebagai lembaga kepercayaan maka bank dalam operasinya harus selalu menjaga kinerjanya sebagai fungsi dari nilai perusahaan, karena apabila kinerja sebuah perusahaan meningkat, maka nilai keusahaannya akan semakin tinggi (Mulyono 1995:18).

Menyalurkannya kembali kepada masyarakat yang membutuhkan baik untuk tujuan produktif maupun konsumtif. Karena bagi sebuah bank, dana merupakan darah dan persoalan paling utama, sehingga tanpa dana, bank tidak dapat berfungsi sama sekali.

Berdasarkan pengalaman di lapangan atau bukti-bukti empiris, dana bank yang berasal dari modal sendiri dan cadangan modal hanya sebesar 7% sampai dengan 8% dari total aktiva bank. Dana–dana yang dihimpun dari masyarakat merupakan sumber dana terbesar yang paling diandalkan oleh bank yang bisa mencapai 80% sampai dengan 90% dari seluruh dana yang dikelola oleh bank. Dana yang berhasil dihimpun dari masyarakat biasanya disimpan dalam bentuk giro, deposito dan tabungan (Grahacendikia, 2009)

Pada pasal 1 butir 5 UU No. 10/1998 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan simpanan adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan dana dalam bentuk giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan, dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan

dengan itu. Dana-dana utama yang dihimpun oleh sektor perbankan adalah sebagai berikut.

a. Tabungan (saving deposit)

Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. Dana tabungan biasanya dimiliki oleh masyarakat dengan kegiatan bisnis relatif kecil, bahkan tidak ada.

b. Deposito berjangka (time deposit)

Deposito berjangka adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan dengan bank. Dana yang berasal dari deposito adalah dana termahal yang harus ditanggung bank. Dana dari simpanan berjangka padaumumnya dihimpun dari pengusahamenengah dan masyarakat dari golongan menengah atas yang bukanbisnis.

c. Giro (demand deposit)

Giro adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya, atau dengan pemindahbukuan. Dana giro umumnya digunakan oleh pengusaha dengan likuiditas tinggi sehingga pergerakan dananya amat cepat. Memiliki rekening giro untuk pengusaha merupakan kebutuhan mutlak demi kelancaran bisnis dan urusan pembayaran.

Sertifikat deposito adalah simpanan dalam bentuk deposito yang sertifikat buktipenyimpanannya dapatdipindahtangankan.

Menurut Meydianawathi, L. G (2007) bahwa DPK berpengaruh nyata dan signifikan terhadap penawaran kredit investasi dan kredit modal kerja yang disalurkan bank umum kepada sektor UMKM di Indonesia. Selain dari empat macam bentuk simpanan dana pihak ketiga tersebut yaitu giro, deposito dan tabungan, masih terdapat beberapa macam dana pihak ketiga lainnya yang diterima bank. Akan tetapi, dana-dana ini sebagian besar berbentuk dana sementara yang sukar disusun perencanaannya karena bersifat sementara.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, maka dapat ditarik hipotesis ketiga sebagai berikut ini.

Ha.3 : Kepercayaan Masyarakat berpengaruh terhadap kemampuan penyaluran kredit bank komersial.

4. Pengaruh Skala bank terhadap kemampuan penyaluran kredit.

Dalam penelitian payamta (2009) bahwa variabel skala bank tidak cukup kuat untuk menjelaskan adanya perbedaan hasil prediksi tingkat kesehatan bank. Skala bank diukur dengan jumlah bank sesuai dengan kriteria Arsitektur Perbankan Indonesia (API).

Tujuan utama keberadaan API adalah menciptakan industri perbankan nasional yang sehat, kuat, dan efisien guna menciptakan kestabilan sistem keuangan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Salah

satu program penguatan struktur perbankan nasional adalah memperkuat permodalan bank. Menurut Januarti, I. (2002) bahwa semakin besar bank akan mempunyai kekuatan pasar yang lebih besar dibandingkan bank yang memiliki skala kecil maka kemungkinan bangkrut akan menjadi rendah. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, maka dapat ditarik hipotesis keempat sebagai berikut ini.

Ha.4: Skala bank berpengaruh terhadap kemampuan penyaluran kredit bank komersial.

commit to user

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Pada Bab III akan menjelaskan mengenai desain penelitian, populasi, sampel dan teknik pengambilan sampel, data dan metode pengumpulan data, pengukuran variabel, dan metode analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini.

A. Desain Penelitian.

Penelitian ini merupakan pengujian hipotesis karena penelitian ini menggunakan hipotesis yang hipotesisnya sudah dapat ditentukan di awal penelitian (Hartono, 2001: 40). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor efesiensi usaha, risiko keuangan, kepercayaan masyarakat dan skala bank terhadap kemampuan penyaluran kredit bank komersial. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kausal yaitu penelitian yang menyatakan hubungan satu variabel menyebabkan perubahan variabel yang lainnya, yang mempengaruhi adalah variabel independen dan yang dipengaruhi adalah variabel dependen (Hartono, 2004: 44), dimana sebagai variabel independen efesiensi usaha, risiko keuangan, kepercayaan masyarakat dan skala bank terhadap kemampuan penyaluran kredit sebagai variabel dependen.

Unit analisis dalam penelitian ini adalah bank karena sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah bank yang terdaftar dalam Bank Indonesia. Data yang digunakan dalam penelitian berupa laporan keuangan

sebagai satu kesatuan, sehingga study setting dalam penelitian ini adalah lingkungan riil atau field setting (Hartono, 2004: 54). Sedangkan berdasarkan waktu penelitiannya, penelitian ini merupakan penelitian pooled data yaitu pengumpulan data penelitian melibatkan banyak waktu tertentu dengan banyak sampel (Hartono, 2004: 55).

B. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel.

Dokumen terkait