DAFTAR ISTILAH
II. TINJAUAN PUSTAKA
3. Keputusan dan implementasi tindakan manajemen risiko, sangat diperlukan untuk menggunakan metode manajemen yang dapat
2.4. Penelitian Terdahulu dan Posisi Penelitian
Permintaan konsumen telah berubah secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Mereka meminta kepada pasar untuk menyediakan produk dengan variasi yang lebih banyak dan waktu yang lebih cepat, sementara harga yang kompetitif dan barang yang berkualitas menjadi persyaratan dasar agar supaya dapat berkompetisi di pasar. Kecenderungan ini memaksa perusahaan untuk meresponnya dengan produk yang berharga lebih rendah, kualitas yang lebih baik dan waktu penyediaan yang lebih cepat. Agar supaya dapat memenangkan kompetisi ini, perusahaan tidak hanya berfokus pada peningkatan proses organisasi di dalam tetapi juga harus memperhatikan jaringannya secara keseluruhan, mulai dari pemasok sampai pada konsumennya (Pujawan 2005).
Identifikasi risiko dalam jaringan rantai pasok secara keseluruhan bukanlah pekerjaan yang mudah berkaitan dengan kompleksitasnya dan ukuran dari jaringan. Penggunaan sistem berbasis pengetahuan telah diaplikasikan dalam manajemen risiko rantai pasok (Karningsih et al. 2007). Beberapa penelitian yang berkaitan dengan identifikasi risiko rantai pasok secara umum adalah Zsidisin (2003); Harland et al. (2003); Cavinato (2004); Christopher dan Peck (2004); Wu et al. (2006). Tetapi hanya terdapat sedikit penelitian yang mendiskusikan risiko tiap tingkatan rantai pasok. Risiko tiap tingkatan rantai pasok perlu diidentifikasi dan dievaluasi, karena adanya risiko tersebut bisa memunculkan risiko lain dalam jaringan rantai pasok ataupun dalam tingkatan itu sendiri.
Masih sedikit penelitian yang berkaitan dengan integrasi risiko manajemen kedalam skenario jaringan rantai pasok. Nagurney et al. (2005), menjelaskan suatu mekanisme optimisasi risiko dengan keuntungan dalam transaksi elektronik dan fisik berkaitan dengan model jaringan rantai pasok yang dipengaruhi oleh risiko pada sisi permintaan dan risiko pada sisi pasokan. Wu et al. (2006)
menjelaskan model risiko pada jaringan supplier inbound dalam memilih pemasok dengan kendala risiko menggunakan AHP. Hallikas et al. (2002) melakukan analisis dan pengkajian risiko secara detail jaringan rantai pasok dengan lingkungannya menggunakan studi kasus dyadic. Kull dan Closs (2008) mengevaluasi risiko akibat kegagalan rantai pasokan dengan simulasi penggudangan. Wu et al. (2006) mengembangkan sistem pemilihan pemasok dengan pertimbangan risiko menggunakan AHP. Hal yang serupa dilakukan oleh Schoenherr et al. (2008) yang membuat sistem pemilihan lokasi pemasok bahan baku dengan pertimbangan risiko. Wu dan Olson (2008), mengevaluasi risiko rantai pasok dengan menggunakan beberapa metode pengambilan keputusan kelompok seperti Data envelopment Analysis (DEA), Multiobjectives Programming (MOP), untuk membuat trade of dalam kendala biaya, mutu dan waktu pengiriman.
Beberapa peneliti lain melakukan manajemen risiko yang dengan pembagian informasi yang seimbang dan transparansi dalam jaringan rantai pasok seperti ayng dilakukan oleh Xiaohui et al. (2006), menganalisis risiko perusahaan dengan pendekatan pembagian informasi, risiko dalam pengendalian penggudangan dalam jaringan rantai pasok perusahaan. Demirkan dan Cheng (2008), mengkaji penggunaan strategi yang berbeda untuk mengoptimalkan tingkat risiko dan pembagian informasi dalam layanan rantai pasok. Kersten et al.
(2007) mengusulkan metode manajemen risiko dengan transparasi informasi menggunakan teknologi informasi sebagai alatnya.
Adapun beberapa penelitian manajemen risiko rantai pasok produk pertanian adalah: Jaffee et al. (2008) membuat kerangka kerja manajemen risiko produk pertanian dan teknik aplikasinya secara singkat. Diersen dan Garcia (1998) telah melakukan penelitian risiko harga terhadap perubahan nilai pasokan kedelai yang akan datang. Agiwal & Mohtadi (2008) memodelkan metode mitigasi risiko rantai pasok produk makanan untuk mengoptimumkan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengantisipasi risiko kualitas. Diaz dan Hansel (2007) yang memodelkan pembagian risiko dalam pembiayaan agri-bisnis antara petani, agroindustri dan lembaga keuangan dengan berbagai skenario.
Penelitian tentang rancang bangun sistem pendukung pengambilan keputusan cerdas dalam agroindustri yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu adalah: Suprihatini (2003) merancang bangun Sistem Manajemen Ahli Techno-Marketing yang terdiri dari sistem pakar penentuan saran perbaikan proses produksi dan pelayanan purna jual teh, model analisa trend, model comparative performance index, model analisis daya saing, model quality function deployment. Santoso (2005) mengembangkan SPK M-RISK untuk manajemen risiko pengembangan agroindustri buah-buahan. Model tersebut terdiri atas enam model utama, yaitu model penentuan produk olahan unggulan, model analisis risiko, model kelayakan finansial, model risiko finansial, madel manajemen risiko dan model manajemen pengendalian. Kusnandar (2006) merancang bangun model pengembangan industri kecil jamu dalam bentuk sistem manajemen ahli yanag diberi nama Sains-Jamu. Model terdiri dari sub model pengadaan bahan baku, sub model struktur pengembangan, sub model sumber permodalan, sub model kelembagaan usaha, sub model kelayakan finansial dan sub model sistem pakar strategi bauran pemasaran. Haris (2006) mengkaji model aliansi strategis sistem agroindustri Crumb Rubber. Model tersebut dirancang dalam sistem manajemen ahli yang menempatkan pengusaha agroindustri dan petani sebagai pelaku utama dengan dukungan kelembagaan ekonomi dan kelembagaan pendukung lainnya. Tetapi penelitian pemodelan sistem pendukung keputusan cerdas dalam manajemen risiko rantai pasok produk pertanian belum banyak dilakukan.
Kebaharuan dari penelitian ini dapat ditinjau dari beberapa aspek, misalnya dari aspek metodologi, komoditas, jenis risiko, tujuan dan model manajemen risiko rantai pasok yang dapat dilihat pada Lampiran 1. Penelitian pemodelan evaluasi risiko kualitatif pada produk manufaktur telah dilakukan oleh Wu et al. (2006) dan Schoenherr et al. (2008), sedangkan beberapa model kuantitatif manajemen risiko rantai pasok telah juga dikembangkan oleh Nagurney et al. (2005), Xiaohui et al. (2006), Wu et al. (2006), Li et al. (2007) dan Lee (2008). Selain itu telah dikembangkan juga model gabungan antara kualitatif dan kuantitatif seperti yang dilakukan oleh Arisoy (2007) dan Wu dan Olson (2008).
Sistem penunjang pengambilan keputusan (SPK) yang ada selama ini didasarkan
pada pemodelan konvesional (operation research dan teknik pendukung hard system methodology lainnya), dalam penelitian ini akan dikembangkan sistem pendukung keputusan cerdas dengan menggunakan pendekatan soft sistem metodologi dan soft computing supaya lebih sesuai dengan sifat permasalahan pengambilan keputusan nyata dalam membuat mekanisme penyeimbangan risiko.
Kebanyakan pengembangan sistem manajemen risiko rantai pasok dilakukan dengan pendekatan hard system (misalnya simulasi dan sistem dinamik) dalam penelitian ini akan dikembakan dengan pendekatan soft system.
Manajemen risiko rantai pasok (SCM) selama ini lebih banyak dikembangkan dalam bidang manufaktur yang mempunyai sifat tingkat kerusakan sangat rendah, sedangkan dalam penelitian ini akan dikembangkan sistem manajemen risiko rantai pasok pada produk pertanian yang mempunyai karakterisktik mudah rusak dan musiman. Selama ini sistem manajemen risiko rantai pasok hanya dikembangkan secara parsial atau sektoral, sedangkan dalam penelitian ini akan dikembangkan sistem manajemen risiko rantai pasok yang terintegrasi dengan membuat suatu sistem penunjang pengambilan keputusan cerdas yang dapat digunakan berdasarkan tingkatan peran pelaku dalam rantai pasok sehingga keputusan yang diperoleh mempunyai tingkat validitas yang lebih tinggi.
Disamping itu kebaruan penelitian ini juga dapat dipandang dari segi komoditas produk rantai pasok yang dikaji, karena selama ini belum terdapat model manajemen risiko rantai pasok produk pertanian tanaman pangan yang dapat digunakan untuk membantu stakeholder seperti petani, pengepul, distributor dan agroindustri dalam melakukan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan proses bisnisnya dengan memperhatikan risiko rantai pasok, sehingga diperoleh suatu tindakan yang efektif dan efisien dalam penanganan terhadap risiko yang mungkin akan terjadi, sehingga tercipta suatu sistem yang dapat digunakan oleh banyak pengguna, berbagai tingkatan rantai pasok untuk melakukan pengendalian risiko baik secara individu ataupun secara kelompok.
44