IV.2. Penelusuran Diferensiasinya
IV.2.4. Penelusuran Filosofi-Kultural dan Perwatakan
Penelusuran terhadap filosofi-kultural orang Ambon-Maluku, tidak dapat menafikan filosofi kultural Siwalima yang cukup kuat memengaruhi orang Ambon-maluku, di waktu dulu, kini dan mendatang.
Terkait dengan itu, maka penting untuk mengikuti penelusuran Huliselan dan Hetharia122 serta dilengkapi juga dengan penelusuran Watloly dan Gaspersz terhadap perspektif dialektika Heka-Leka, yang dapat dirangkum sebagai berikut:
Pertama, Filsafat hidup Siwalima menegaskan hakikat dan realitas sosial-budaya masyarakat Maluku dalam dua komunitas
120 Menurut bapa raja, kalau sajian kue di waktu dulu diwajibkan untuk menyediakan jenis kue yang diolah dengan menggunakan bahan baku beras, sebagai “simbol penghormatan kepada para tamu. Namun saat ini, para ibu yang menyediakan, telah menyesuaikan dengan bahan baku non beras juga, antara lain dengan tepung terigu dan ada juga dari tepung sagu. Begitupun dengan minuman. Pada waktu dulu, wajib disajikan minuman susu manis, yang dianggap sebagai sajian istimewa dalam menghormati para tamu VIP. Namun saat ini, telah disesuaikan. Sehingga tersaji pula ada jenis kopi, teh, bahkan airputih, bagi yang tidak dapat mengkonsumsikan minuman manis.
121 Bandingkan, Lattu, Orality and Interreligous Relationships...,Dissertation,104.
122 Dalam Hetharia, Nilai-Nilai Filsafat...,Disertasi, 106-109 dan Mus Huliselan,
“Berdampingan dalam Perbedaan, Konsep Hidup Anak Negeri” dalam Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku, Maluku Menyambut Masa Depan (Ambon:Indahjaya Adipratama,2005), 228.
asali suku Alune dan Wemale di pulau Seram123 yang monodualistik.
Kedua, Corak monodualis tersebut terkonsepkan pula dalam kosmologi masyarakat Ambon-Maluku yang membagi dunia dan membentuk cara pandang tetapi sekaligus memperlihatkan keseimbangan kosmos dalam perbedaan, yang bukan untuk saling menghancurkan melainkan saling tergantung dan melengkapi.
Dunia dibagi dua: Secara vertikal ada langit yang dikuasai oleh Upu Lanite dan bumi yang dikuasai oleh Ina Ume. Sedangkan secara horisontal, terbagi pula atas lau (laut) – dara (darat), atas (gunung) – bawa (bawah = tanah), atau gunung (langit) – pante (tanah).
Ketiga, Fenomena dialektika kultural orang Ambon-Maluku ditegaskan oleh Watloly bahwa cara berpikir dialektisme ini mengandaikan bahwa setiap kenyataan, termasuk klaim-klaim kebenaran, misalnya tradisi, agama, pandangan hidup, dan sebagainya, sebagai kenyataan hidup anak negeri selalu bersifat majemuk dan otonom.” 124 Bahkan fondasi dan struktur filsafat dialektis itulah yang membenam dalam aneka kebudayaan anak negeri Maluku, seperti Pela, Salam-Sarane, Masohi, atau demokrasi Baileo (di Maluku Tengah).125 Selanjutnya, fenomena yang patut dikemukakan adalah bahwa corak dialektisme manusia Ambon-maluku tersebut dilatari pula oleh nilai filosofis-kultural Heka-Leka.
Sebagaimana yang diuraikan oleh Gaspersz, bahwa dalam sistem budaya, ideologi (kepercayaan) dan filasafat kultural orang Ambon, heka-leka dimengerti sebagai bagian integral dari Asa (Yang Tunggal), yakni “hukum” yang menata kosmos dan menjadi tujuan perjalanan hidup manusia. Heka berarti pecahan,
123 Kelompok Alune umumnya mendiami pegunungan Seram (karena itu sering disebut “orang gunug”, sedangkan kelompok Wemale umumnya mendiami kawasan pesisir, sering disebut “orang pantai”. Ketika konflik kedua suku, maka terjadi migrasi ke pulau-pulau Ambon, Lease dan sekitarnya. Lihat, Ibid.
124 Aholiab Watloly, Maluku Baru, Bangkitnya Mesin Eksistensi Anak Negeri (Yogyakarta: Kanisius,2005),106
125Ibid,107.
pembagian, hancur, perang; sedangkan Leka berarti kelahiran baru. Hukum heka menjelaskan prinsip diferensiasi, diversifikasi dan konflik yang bertumbuh kembali ke totalitas Leka.126Asa sendiri diyakini mencakup tiga entitas yakni alam-manusia-masyarakat, yang ketiganya diwarnai oleh heka yang berlangsung hingga mencapai titik sublimasi. Pada momentum sedemikianlah terjadi leka, kelahiran totalitas kosmos baru, yang meliputi korelasi substansial ketiga entitas tersebut. Melalui filsafat heka-leka ini kita bukan hanya memahami worldview orang Ambon tetapi sekaligus pula tentang spirit psiko-kultural yang dibangun atas dasar nilai-nilai127: keberanian untuk hidup dalam ketegangan (koeksistensi), menampung ketegangan (dialektis), upaya menjaga keseimbangan (harmonis), berpengharapan (optimis), penentangan dominasi (ekualitas) serta penolakkan terhadap kemapanan (dinamis).
Selanjutnya, terkait dengan fenomena perwatakan orang Ambon-Maluku, yang mengacu pada filosofis kultural tersebut di atas, menarik untuk mengikuti paparan yang lugas dan reflektif dari P.Tanamal (seorang teolog yang mendalami psiko-budaya manusia Maluku/Ambon), antara lain:
Sikap seorang Maluku tidak ingin untuk bermain tusuk dari belakang. Sekiranya ia ditantang, selalu kita dengar perkataan, “kalau berani, muka sama muka”. Ia berani bakupukul tetapi segera pula ingin hidup rukun kembali, apabila diadakan penyelesaian. Ia bisa cepat panas dan jumawa (ungkapan kultural yang menunjuk pada kegeraman terhadap sesuatu yang tidak baik/ benar), tetapi bisa juga menjadi dingin. Ia emosional tetapi ikhlas jika didekati, dan dapat bersedia diajak berunding. Sifat khasnya menginginkan penyelesaian langsung atas hak dan keadilan. Apabila hal tersebut tidak saja dihiraukan, ia dapat saja bersikap nekad dan bertempur. Ia setia dan malah
126 Steve G.Ch. Gaspersz, Analisa Sosio-Budaya....,Tesis, 16.
127Ibid, x.
dapat menyerahkan nyawanya, sekiranya ia diberikan kepercayaan yang penuh. Terdapat semacam sifat kombinasi antara watak pemberani dan pendobrak dengan rasa simpati kemanusiaan yang menuntut keadilan pada sesama.
Ia musikal dan suka bernyanyi serta badendang (menari), di tengah alamnya yang keras dan ganas, baik di laut maupun di darat, di musim hujan dan musim panas. Semuanya membuat dia dapat lemah lembut, tetapi juga bisa keras dan tak mengenal rasa takut.128
Pada sisi lainnya, salah satu karakter dan perwatakan orang Ambon terungkap dari penelusuran Bartels, yang mengkonstatir kecenderungan orang Ambon yang menghargai kolektivisme dan keselarasan, namun pada sisi lainnya pula
~dapat dipastikan turut dilatari oleh corak dialektisme dari karakter orang ambon tersebut~ ada dorongan yang kuat juga untuk mengekspresikan peran dirinya agar dapat tampil menonjol.129 Karena itu, sulit bagi orang Ambon untuk mendefinisikan dirinya di luar konteks kelompok tertentu. Bahkan, menurut Bartels, bila hierarki loyalitas negara lazimnya menuntut loyalitas tertinggi, sesudah itu baru loyalitas kepada subkelompok, maka dalam masyarakat Ambon, justru terbalik. Dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga, kemudian kepada klan, soa, kampung, pela, pulau, dan akhirnya masyarakat secara keseluruhan. Hierarki loyalitas tersebut bila diurutkan maka urutannya sebagai
128 Pieter Tanamal,Pengabdian dan Perjuangan (Ambon: PNRI, 1985), 30-31. Huruf tebal (bold) sengaja dibuat oleh penulis.
129 Dalam kaitan dengan penonjolan peran diri (personal) ini, Bartels menyebutkan ada dua peran yang menjadi penyaluran ekspresi individualitas orang Ambon, yaitu sebagai jago dan sebagai pelawak. Peran pertama diperluas dalam kemampuan bela diri atau berp hingga orang rela mengambil resiko demi kebaikan masyarakat, misalnya bertindak menghadapi otoritas atau bertindak sebagai pemimpin dalam situasi krisis. Dari peran ini, tampaknya kita pun dapat mengerti fenomena jagoan-jagoan atau yang kerap disebut sebagai bijiruku dalam suatu komunitas pemuda Ambon, yang dianggap dan disanjungkan sebagai pemimpin komunitas tersebut (kelompok atau geng). Sedangkan peran kedua dihargai karena mampu membuat orang tertawa, menciptakan suasana gembira di pesta-pesta atau pertemuan tertentu. Dan kedua peran tersebut terbuka secara tradisional bagi kaum laki-laki ataupun perempuan. Lihat, Bartels, Di Bawah Naungan....,246-247.
berikut:130 (1) ego, (2) rumah tangga, (3) famili, (4) klan, (5) soa, (6) kampung (negeri), (7) pela, (8) pulau, (9) masyarakat Ambon, (10) Maluku, (11) Indonesia, (12) Dunia.
Dalam hierarkhi loyalitas ini, Bartels tidak menempatkan elemen agama sebagai elemen loyalitas yang patut diperhitungkan dan sangat rentan untuk terpicu dalam suatu reaksi fanatisme untuk tampil keluar, ketika emosi elemen keagamaan ini terusik atau diusik. Dalam konteks kehadiran agama-agama samawi, seperti Islam dan Kristen (salam dan sarane), tentunya patut diakui bahwa elemen keagamaan ini sesungguhnya merupakan lapisan elemen “baru” yang melekat dan menyatu dari keambonan sebagai elemen dasariah. Sehingga kehadiran elemen yang baru tersebut sekaligus melahirkan diferensiasi karakter daripada keambonan dan kekristenan (atau keislaman) itu sendiri. Fakta fenomenal yang tak terbantahkan adalah realita konflik Ambon-Maluku, yang secara langsung ataupun tidak langsung, turut dipengaruhi dan memengaruhi pula elemen sentimen keagamaan ini.131
Bila ditelusuri perwatakan orang Ambon-Maluku, maka fenomena yang patut diakui adalah bahwa perwatakan orang Ambon-Maluku, selalu menyatu dengan alamnya, dengan gunung-tanah, air (lautan), pepohonan, margasatwa dan sebagainya.
Sebagai salah satu contoh yang dapat diidentifikasikan terhadap
130 Bila penulis mendeskripsikan secara urutan sedemikian, Bartels mendeskripsikannya melalui pola lingkaran, dari yang terkecil (sebagai yang pertama), yakni lingkaran ego, kemudian keluar membesar ke lingkaran rumah tangga, famili, dan seterusnya, hingga yang terakhir lingkaran dunia. Lihat, Ibid, 248.
131 Terhadap fenomena ini, ketika menggarap kajian tesis tentang relevansi 5 (lima) tesis Kimball yang melatari agama menjadi evil atau tetemomo (jahat) dalam konteks konflik Ambon, penulis tiba pada salah satu kesimpulan yang mengisyaratkan kesulitan kita untuk tidak mengakui bahwa faktor agama pun dengan pelbagai variabelnya, ternyata turut melatari fenomena konflik Ambon. Lihat Ferry Nahusona, Ketika Agama Menjadi Tetemomo - Menimbang Relevansi Tesis Charles Kimball Dalam Fenomena Agama dan Kekerasan Di Kalangan Pemuda Kristen-Ambon Selama Konflik “19“, Tesis (Salatiga: PpsAM-UKSW, 2004), Tidak diterbitkan.
fenomena ini adalah corak perwatakan orang Ambon-Maluku yang dianalogikan sebagai “manusia sagu”.132
Adapun corak perwatakan yang mengalami proses pematangan di tengah realita perubahan sejarah dan konteks pergulatan hidup, digambarkan oleh Watloly seperti manusia sagu yang “putih” dengan karakternya yang luhur, jujur, tangguh, terbuka, unggul dan transparan, tiak munafik, ikhlas, dapat dipercaya, arif, dan tidak bercela di mata dirinya sendiri, sesama maupun dunia. Itu sama sekali tidak berarti bahwa “manusia sagu”
tersebut tanpa dosa. Namun diisyaratkan bahwa ia tetap bergumul dalam kemanusiaannya, tidak dengan cara yang jahat, kotor dan munafik, melainkan terbuka untuk mengakui kesalahannya, bertanggung jawab atas perbuatannya, dan sedia melakukan otokritik. Bagi Watloly, “manusia sagu” tersebut tidak pendendam, pengkhianat, memiliki etika pengembangan diri.133 Menurutnya,
“manusia sagu yang putih” tersebut kini terasa hilang dan berubah menjadi manusia berwajah buram penuh kemunafikan, fitnah, dan krisis identitas. Oleh karena itu, dibutuhkan semangat pembaharuan diri untuk terus mencari mata rantai yang hilang dalam tatanan identitas manusia Maluku itu.134
Ketika mencermati kakehan dengan pelbagai ritus dan prasyaratnya, tampak kuat adanya pembentukan watak warga dalam sikap militansi-agresif (dalam terminologi lokal: jumawa, bijiruku, sebagai spiritkapitang), kuatnya mentalitas gengsi dalam suatu perjuangan harga diri yang berpadu dengan fanatisme terhadap apa yang diyakini. Spirit kakehan membentuk watak orang Ambon untuk bukan hanya berani membunuh (mengayau) orang tetapi bersedia pula untuk mati demi sebuah kehormatan dan keyakinan.
132 Bandingkan Novistianus Salenussa, Teologi Pohon Sagu (Suatu Upaya Berteologi Konstekstual Melalui Mitos Terciptanya Manusia dari Pohon Sagu), Tesis (Ambon: Fakultas Teologi, Program Pascasarjana Teologi UKIM,2002), dan Watloly, 244-245.
133 Watloly,Ibid.
134Ibid.
Fenomena perwatakan lainnya dari orang Ambon-Maluku adalah pada keterikatan pada tatanan adat-budaya, termasuk pada para tokoh atau pemimpin, khususnya terhadap tokoh pendeta sebagai tokoh sentral di dalam jemaat. Terkait hal ini, de Jong dalam penelusurannya menulis,
Betapapun orang Eropa mengecam pengaruh agama tradisional dalam kekristenan Maluku, mutu rendah religiositas penduduk asli dan rendahnya tingkat pendidikan para guru pribumi, namun keterikatan penduduk pada adat-kebiasaan dan pranata yang ada tetap merupakan dasar kehidupan itu, sedangkan guru/penghentar jemaat tetap menjadi tokoh sentral di jemaat.135
Tentunya, sebagai tokoh sentral dan dihormati, pendeta mendapat tempat penghargaan tersendiri, selain bapa Raja dan juga para guru, sebagai tokoh-tokoh yang berada dalam lingkup Tiga Batu Tungku, yakni Pemerintah-Gereja-Sekolah (Pendidikan).
IV.2.5. Penelusuran Pengaruh Agama dan Kebudayaan lain