PENEMUAN DAN ANALISIS DATA
4.2 Penemuan Kajian
Melayu Serdang di Kampung Bagan Serdang, Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang, Wilayah Sumatra Utara masih mempertahankan ritual tolak bala setiap tahun. Kampung Bagan Serdang terletak di ujung Kabupaten Deli Serdang Pantai Labu.
Kampung Bagan Serdang dikenal sebagai Kampung Nelayan karena sebagian besar masyarakat Melayu Bagan Serdang
berprofesi sebagai sebagai nelayan dengan memanfaatkan hamparan laut luas. Nama Kampung Bagan Serdang mempunyai makna "pinggir". Serdang di pinggir pantai Kabupaten Deli Serdang.
Penduduk di Kampung Bagan Serdang, Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang, Wilayah Sumatra Utara mengamalkan budaya dengan melakukan pelbagai bentuk seni tradisional yang merupakan media dan sarana sosialisasi budaya yang telah diterapkan melalui warisan tradisional. Salah satu tradisi masyarakat di Kampung Bagan Serdang, Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang, Wilayah Sumatra Utara yang mengandung unsur-unsur suci dan magis adalah ritual menolak bala dan penguatan.
Upacara tolak bala itu merupakan salah satu ritual yang masih berjalan di Kampung Bagan Serdang, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Wilayah Sumatra Utara, yang bertujuan untuk meminta keselamatan dari penyakit atau penguatan. Ritual ini telah menjadi manifestasi sejak zaman purba yang dilakukan oleh generasi hingga ke generasi hari ini berdasarkan perjanjian.
Terdapat beberapa proses yang dilakukan dalam ritual menolak pengukuhan persembahan dan membasuh hidangan ke laut yang dipimpin oleh seorang pawang atau orang pintar yang disebut masyarakat Kampung Melayu Bagan Serdang Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang. Pawang atau pengendali adalah orang yang bisa berhubung dan berinteraksi dengan
makhluk-BAB IV
PENEMUAN DAN ANALISIS DATA
4.1 Pendahuluan
Kaum Melayu Serdang bermukim di Kampung Bagan Serdang, Kecamatan Pantai Labu kabupaten Deli Serdang Wilayah Sumatra Utara. Budaya Melayu Serdang yang sangat kental seperti, bergotong-royong, bermusyawarah dan bermuafakat dalam mengambil sesebuah keputusan, ramah dan terbuka terhadap tetamu, serta mengutamakan budi bahasa yang sopan dan santun . Begitu juga dengan budaya dan adat istiadat yang mereka lakukan adalah harta dan kekayaan yang masih dimiliki dan perlu dilestarikan. Orang Melayu adalah orang asli yang bercakap dalam bahasa Melayu dan mengamalkan kebiasaan Melayu. Sebagian besar Masyarakat Melayu mendiami wilayah bagian pesisir khususnya di Wilayah Pesisir Timur Sumatra Utara seperti Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Labuhan Batu, Batubara, Asahan, dan Tanjung Balai, serta daerah lain seperti kota Medan, Binjai, Tebing Tinggi.
4.2 Penemuan Kajian
Melayu Serdang di Kampung Bagan Serdang, Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang, Wilayah Sumatra Utara masih mempertahankan ritual tolak bala setiap tahun. Kampung Bagan Serdang terletak di ujung Kabupaten Deli Serdang Pantai Labu.
Kampung Bagan Serdang dikenal sebagai Kampung Nelayan karena sebagian besar masyarakat Melayu Bagan Serdang
berprofesi sebagai sebagai nelayan dengan memanfaatkan hamparan laut luas. Nama Kampung Bagan Serdang mempunyai makna "pinggir". Serdang di pinggir pantai Kabupaten Deli Serdang.
Penduduk di Kampung Bagan Serdang, Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang, Wilayah Sumatra Utara mengamalkan budaya dengan melakukan pelbagai bentuk seni tradisional yang merupakan media dan sarana sosialisasi budaya yang telah diterapkan melalui warisan tradisional. Salah satu tradisi masyarakat di Kampung Bagan Serdang, Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang, Wilayah Sumatra Utara yang mengandung unsur-unsur suci dan magis adalah ritual menolak bala dan penguatan.
Upacara tolak bala itu merupakan salah satu ritual yang masih berjalan di Kampung Bagan Serdang, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Wilayah Sumatra Utara, yang bertujuan untuk meminta keselamatan dari penyakit atau penguatan. Ritual ini telah menjadi manifestasi sejak zaman purba yang dilakukan oleh generasi hingga ke generasi hari ini berdasarkan perjanjian.
Terdapat beberapa proses yang dilakukan dalam ritual menolak pengukuhan persembahan dan membasuh hidangan ke laut yang dipimpin oleh seorang pawang atau orang pintar yang disebut masyarakat Kampung Melayu Bagan Serdang Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang. Pawang atau pengendali adalah orang yang bisa berhubung dan berinteraksi dengan
makhluk-makhluk gaib atau roh. Pawang memainkan peranan penting dalam ritual menolak penguatan ini untuk memulai dan menutup ritual.
Proses komodifikasi ritual tolak bala bukan saja menjadikan barang-barang atau jasa ritual tolak bala sebagai produk komoditas, malah terlibat dalam proses pembuatan, pengedaran, dan penggunaan. Proses pembuatan ritual tolak bala melibatkan pawang dan masyarakat dalam merancang bentuk dan struktur ritual agar berharga walaupun sebelum ini produk ritual tolak bala merupakan produk budaya yang bersifat sakral. Komoditas ritual tolak bala oleh penangannya sendiri tetapi dalam konteks komodifikasi, produk ritual menolak bala melibatkan banyak pihak sehingga menjalin hubungan kerja berdasarkan upah.
Pengedaran ritual tolak bala merujuk kepada cara memasarkan, mempromosikan, dan memperkenalkan produk ritual tolak bala agar dikenali dan digunakan oleh masyarakat dengan menggunakan media massa seperti internet dan surat kabar serta komunikasi lisan sehingga diketahui oleh orang banyak. Proses penggunaan ritual tolak bala merujuk kepada aktivitas yang bertujuan menghabiskan barang/jasa dalam ritual tolak bala untuk memenuhi keperluan dan kepuasan secara langsung dengan pemakaian simbol untuk menandakan kedudukan sosial tertentu.
Penggunaan ritual tolak bala terbagi kepada dua bentuk yaitu penggunaan ritual tolak bala untuk tujuan penjagaan dan kegunaan ritual tolak bala untuk tujuan hiburan.
Faktor-faktor yang meyebabkan komodifikasi ritual tolak bala dalam kalangan Kaum Melayu Serdang Pantai Labu ialah: sikap masyarakatnya yang terbuka dengan hal-hal baru melalui hubungan budaya yang menyebabkan akulturasi sehingga mengakibatkan paradigma masyarakatnya berubah bagi penyesuaian budaya tradisi dalam konteks masyarakat modern yang memanfaatkan produk budaya (upacara pengukuhan) menjadi barang/jasa yang berharga. Paradigma masyarakat Kaum Melayu Serdang Kampung Bagan Serdang Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Wilayah Sumatra Utara yang berdasarkan pada perolehan keuntungan dari produk ritual tolak bala melahirkan kreativitas seni yang bertujuan melakukan inotivasi yang membawa pada estetika yang berharga. Kreativitas pastinya merupakan unsur utama dalam mengubah rupa upacara penguatan untuk menarik wisatawan. Media massa telah dikaitkan dengan industri budaya, citra, dan pandangan dunia yang diciptakannya. Sebagai lembaga penerbitan, media massa mampu memberi kesan pada paradigma masyarakat Melayu Serdang Kecamatan Pantai Labu untuk memanfaatkan produk kebudayaan yang berkait rapat dengan keinginan terhadap perubahan tahap kesejahteraanya. Hal ini berkaitan dengan o r i e n t a s i p e n g e m b a n g a n e k o n o m i k a p i t a l i s m e y a n g mengharapkan keuntungan dari produk pelaksanaan ritual.
Interaksi antara pawang dan penduduk setempat menghasilkan kerjasama dalam memanfaatkan produk ritual tolak bala sebagai bagian dari rawatan tradisi untuk kepentingan kesehatan dan perlindungan masyarakat Melayu Serdang Kampung Bagan
makhluk gaib atau roh. Pawang memainkan peranan penting dalam ritual menolak penguatan ini untuk memulai dan menutup ritual.
Proses komodifikasi ritual tolak bala bukan saja menjadikan barang-barang atau jasa ritual tolak bala sebagai produk komoditas, malah terlibat dalam proses pembuatan, pengedaran, dan penggunaan. Proses pembuatan ritual tolak bala melibatkan pawang dan masyarakat dalam merancang bentuk dan struktur ritual agar berharga walaupun sebelum ini produk ritual tolak bala merupakan produk budaya yang bersifat sakral. Komoditas ritual tolak bala oleh penangannya sendiri tetapi dalam konteks komodifikasi, produk ritual menolak bala melibatkan banyak pihak sehingga menjalin hubungan kerja berdasarkan upah.
Pengedaran ritual tolak bala merujuk kepada cara memasarkan, mempromosikan, dan memperkenalkan produk ritual tolak bala agar dikenali dan digunakan oleh masyarakat dengan menggunakan media massa seperti internet dan surat kabar serta komunikasi lisan sehingga diketahui oleh orang banyak. Proses penggunaan ritual tolak bala merujuk kepada aktivitas yang bertujuan menghabiskan barang/jasa dalam ritual tolak bala untuk memenuhi keperluan dan kepuasan secara langsung dengan pemakaian simbol untuk menandakan kedudukan sosial tertentu.
Penggunaan ritual tolak bala terbagi kepada dua bentuk yaitu penggunaan ritual tolak bala untuk tujuan penjagaan dan kegunaan ritual tolak bala untuk tujuan hiburan.
Faktor-faktor yang meyebabkan komodifikasi ritual tolak bala dalam kalangan Kaum Melayu Serdang Pantai Labu ialah: sikap masyarakatnya yang terbuka dengan hal-hal baru melalui hubungan budaya yang menyebabkan akulturasi sehingga mengakibatkan paradigma masyarakatnya berubah bagi penyesuaian budaya tradisi dalam konteks masyarakat modern yang memanfaatkan produk budaya (upacara pengukuhan) menjadi barang/jasa yang berharga. Paradigma masyarakat Kaum Melayu Serdang Kampung Bagan Serdang Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Wilayah Sumatra Utara yang berdasarkan pada perolehan keuntungan dari produk ritual tolak bala melahirkan kreativitas seni yang bertujuan melakukan inotivasi yang membawa pada estetika yang berharga. Kreativitas pastinya merupakan unsur utama dalam mengubah rupa upacara penguatan untuk menarik wisatawan. Media massa telah dikaitkan dengan industri budaya, citra, dan pandangan dunia yang diciptakannya. Sebagai lembaga penerbitan, media massa mampu memberi kesan pada paradigma masyarakat Melayu Serdang Kecamatan Pantai Labu untuk memanfaatkan produk kebudayaan yang berkait rapat dengan keinginan terhadap perubahan tahap kesejahteraanya. Hal ini berkaitan dengan o r i e n t a s i p e n g e m b a n g a n e k o n o m i k a p i t a l i s m e y a n g mengharapkan keuntungan dari produk pelaksanaan ritual.
Interaksi antara pawang dan penduduk setempat menghasilkan kerjasama dalam memanfaatkan produk ritual tolak bala sebagai bagian dari rawatan tradisi untuk kepentingan kesehatan dan perlindungan masyarakat Melayu Serdang Kampung Bagan
Serdang Kecamatan Pantai Labu sehingga lama-lama akan mengubah nilai kesucian ritual yang dicemari karena untuk keuntungan semata.
Untuk melestarikan keberadaan ritual tolak bala, walaupun perkembangannya telah mengalami perubahan yang disesuaikan dengan tuntutan zaman, namun perlu dilakukan usaha strategis untuk pewarisan agar generasi muda penerus tradisi Melayu Serdang Kampung Bagan Serdang Kecamatan Pantai Labu mampu memahami, mengajarkan, dan mengamalkan nilai-nilai dan makna yang terkandung dalam ritual tersebut yang mencerminkan sikap dan ciri identitas Kesultanan Melayu Serdang di Kampung Bagan Serdang Kecamatan Pantai Labu.
Strategi pewarisan dilakukan melalui usaha (1) pemberdayaan, yaitu memberikan kebebasan kepada masyarakat Kaum Melayu Serdang Pantai Labu menggunakan produk ritual tolak bala untuk dimanfaatkan bagi tujuan kesehatan masyarakat pendukungnya sehingga dapat menyelamatkan ritual tersebut dari kepunahan (2) dokumentasi yaitu memelihara ritual tolak bala dalam bentuk film (video), gambar atau inventori produk ritual sebagai keterangan informasi dalam usaha pemeliharaan budaya agar mampu bertahan seiringan dengan kemajuan tekhnologi modern (3) pembangunan yaitu tradisi lisan ritual tolak bala perlu dibangunkan ke arah penampilan ritual yang lebih baik, menarik, dan mampu diserap oleh masyarakat. Sudah tentunya pembangunan ritual tolak bala harus dilakukan dengan kesadaran yang tinggi tanpa menghilangkan asas budaya dan identitas Kaum
Melayu Serdang Pantai Labu. Perkembangan konsep, makna, bentuk, dan fungsi upacara masih digambarkan walaupun dengan penampilan berlainan dari penampilan asal. Penampilan tersebut perlu dibangunkan melalui industri budaya kreatif yang tetap menggambarkan unsur identitas budaya Melayu Pantai Labu walaupun terdapat perubahan dalam pelaksanaanya.