• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penentuan Alamat IP Pada Perangkat Jaringan

Dalam dokumen Modul Pendalaman TKJ Pra Uji Komp (Halaman 83-88)

Judul Unit : Merancang Pengalamatan Jaringan A Tujuan Pembelajaran :

Materi 2. Membagi Alamat Jaringan Pada Perangkat Jaringan 2.1 Identifikasi Penomeran Alamat IP

2.6. Penentuan Alamat IP Pada Perangkat Jaringan

Agar setiap komputer yang terhubung ke jaringan dapat saling berkomunikasi satu dengan yang lain, maka pada setiap adapter jaringan yang terpasang pada komputer harus dikonfigurasi alamat IP-nya. Sebenarnya tidak ada satu ketentuan khusus dalam menentukan batatan dari IP address yang digunakan di jaringan lokal (LAN), dalam arti apakah akan menggunakan kelas A, B ataupun kelas C, tidak akan berpengaruh terhadap performansi transfer data di jaringan LAN. Begitu juga dengan pemilihan apakah menggunakan alamat publik ataupun alamat privat, juga tidak akan berpengaruh terhadap kinerja jaringan. Faktor yang berpengaruh terhadap kinerja jaringan di antaranya adalah bandwidth, media jaringan (kabel atau wireless), jumlah host yang terhubung ke jaringan dan sebagainya. Untuk penentuan IP address akan berpengaruh terhadap kemudahan pengelola atau admin jaringan dalam mengadministrasi layanan di jaringan. Untuk mempermudah administasi jaringan, terutama dalam mengatur privileges atau hak akses pengguna dalam satu jaringan yang cukup besar, diperlukan adanya pengelolaan IP address untuk setiap hostnya. Dalam penentuan segmen atau netid yang akan digunakan, disarankan agar dalam satu netid yang ditetapkan sebagai nomer jaringan, nantinya tidak

83

banyak IP address yang terbuang atau tidak terpakai. Dengan kata lain, sebaiknya untuk efektifitas pengalamatan, penggunaan IP address disesuaikan dengan jumlah host yang berpartisipasi dalam jaringan tersebut. Sebagai contoh misalkan terdapat 230 host yang akan di hubungkan dalam satu jaringan, maka akan lebih efisien dalam administrasinya jika digunakan jaringan – jaringan di kelas C, sebab sebagaimana telah dibahas pada sub bab sebelumnya bahwa untuk kelas C dapat digunakan sampai dengan 254 alamat IP atau host. 2.6.1. Konsep subnetting

Subnetting adalah proses memecah suatu IP jaringan ke sub jaringan yang lebih kecil yang disebut "subnet". Berikut ini adalah beberapa keuntungan dari penerapan subnetting pada jaringan :

1. Mengurangi efek broadcast.

Broadcast berarti menyebarkan paket yang dikrimkan oleh salah satu host ke semua host yang tergabung dalam sebuah jaringan LAN. Dalam sebuah jaringan LAN (Local Area Network), ketika sebuah komputer mengirimkan kepada salah satu komputer pada jaringan yang sama, maka semua komputer pada jaringan LAN yang sama akan menerima pesan tersebut dan mengecek untuk memastikan bahwa pesan tersebut ditujukan untuk dirinya atau tidak. Jika pesan tersebut bukan ditujukan untuk dirinya, maka pesan tersebut akan dibuang. Efek dari broadcasat ini dapat menyebabkan lalu lintas data yang padat pada sebuah jaringan LAN, terlebih jika pada jaringan tersebut terdapat banyak host. Dengan subnetting maka akan mengecilkan range sebuah blok IP address pada sebuah jaringan. Dengan demikian, pesan broadcast yang dikirim otomatis menjadi lebih sedikit sesuai dengan jumlah lebih sedikitnya host yang tersedia.

2. Penggunaan IP address menjadi efisien.

Metode subnetting dapat membuat penggunaan IP address menjadi lebih efisien. Dalam sebuah LAN, biasa digunakan IP address kelas C yang memiliki jumlah host secara default 254. Namun sebenarnya pada prakteknya tidak menggunakan blok dengan jumlah IP sebanyak itu. Dengan subnetting maka blok IP dalat diperkecil sesuai dengan jumlah host yang ada. Misalnya pada sebuah jaringan hanya terdapat 10 host, maka akan sangat tidak efisien jika digunakan network address yang berjumlah 254 IP address. Apabila hanya terdiri atas 10 host, maka dengan metode subnetting kita tidak perlu memakai Network address dengan kapasitas 254 IP address, tetapi cukup dengan yang berkapasitas 14 IP address saja, seperti contohnya 192.168.10.0/28;

3. Untuk pengamanan.

Hal ini biasanya sering diterapkan untuk koneksi point-to-point, baik antara server dengan server maupun server dengan router. Demi keamanan, sangat dianjurkan menggunakan subnetting untuk menentukan range blok pada network address tersebut hanya terdiri atas 2

84

IP address saja. Dengan demikian komputer atau perangkat jaringan tersebut tidak akan bisa terkoneksi dengan komputer lain karena IP address yang tersedia hanyalah 2 IP address saja. Pada prinsipnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berkisar tentang hal – hal berikut ini yaitu : jumlah subnet, jumlah host per subnet, blok IP address tiap subnet, dan alamat broadcast (broadcastID) tiap subnet. Berikut ini adalah contoh perhitungan subnetting terhadap sebuah netid : 192.168.1.0/26. Analisa subnetting terhadap netid tersebut adalah sebagai berikut :

192.168.1.0 termasuk kelas C dengan Subnet mask /26, yang berarti 11111111.11111111.11111111.11000000 (255.255.255.192 dalam desimal).

Perhitungan subnettingnya untuk menentukan jumlah subnet yang terbentuk, jumlah host per subnet, blok subnet dan broadcastID.

Jadi kita selesaikan dengan urutan seperti itu:

1. Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya angka biner 1 pada oktet terakhir subnet mask (2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A). Jadi Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet

2. Jumlah Host per Subnet = 2y – 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet. Jadi jumlah host per subnet adalah 26 – 2 = 62 host

3. Blok subnet = 256 – 192 (nilai oktet terakhir subnet mask) = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.

4. IP address adalah 1 angka setelah subnet, dan broadcast adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya. Hasil perhitungan subnetting di atas dapat dituliskan dalam abentuk tabel seperti berikut ini :

Tabel 2.3. Hasil perhitungan subnetting

Subnetid Range IP address / Host BroadcastID 192.168.1.0 192.168.1.1 - 192.168.1.62 192.168.1.63 192.168.1.64 192.168.1.65 - 192.168.1.129 192.168.1.128 192.168.1.128 192.168.1.129 - 192.168.1.190 192.168.1.191 192.168.1.192 192.168.1.193 - 192.168.1.254 192.168.1.255

Penerapan dari teknik subnetting adalah metode Classless Inter Domain Routing (CIDR) dan Variable Length Subnet Mask (VLSM).

2.6.2. Classless Inter Domain Routing (CIDR)

Classless Inter-Domain Routing (CIDR) adalah sebuah cara alternatif untuk mengklasifikasikan alamat-alamat IP yang berbeda dengan sistem klasifikasi ke dalam kelas A, kelas B, kelas C, kelas D, dan kelas E. CIDR Disebut juga sebagai supernetting. CIDR

85

merupakan mekanisme routing dengan membagi alamat IP jaringan ke dalam kelas-kelas A, B, dan C. CIDR digunakan untuk mempermudah penulisan notasi subnet mask agar lebih ringkas dibandingkan penulisan notasi subnet mask yang sesungguhnya. Untuk penggunaan notasi alamat CIDR pada classfull address pada kelas A adalah /8 sampai dengan /15, kelas B adalah /16 sampai dengan /23, dan kelas C adalah /24 sampai dengan /28. Berikut ini adalah tabel – table klasifikasi IP address dengan teknik CIDR untuk kelas A, kelas B dan kelas C.

Tabel 2.4. Tabel CIDR kelas A

86

Tabel 2.6. Tabel CIDR kelas C

Kolom pertama (#bit) pada tabel 4.1, 4.2 dan 4.3 menunjukkan jumlah bit dari hostid yang diambil sebagai tambahan netid. Bit – bit ini dikenal juga sebagai borrowed bit. Tahap berikutnya diterapkan perhitungan subnetting untuk menentukan range IP address, netid dan broadcastID yang valid di setiap subnetnya .

2.6.3. Variable Length Subnet Mask (VLSM)

Variable Length Subnet Mask (VLSM) adalah teknik pengalamatan jaringan komputer yang memungkinkan administrator untuk membagi ruang alamat IP ke subnet yang berbeda ukuran. Dengan definisi lain, VLSM adalah teknik memecah alamat IP ke subnet (sampai beberapa tingkat subnetting) dan mengalokasikan sesuai dengan kebutuhan individu pada jaringan. Hal ini juga dapat disebut IP tanpa kelas pengalamatan (Classless). Berikut ini adalah beberapa manfaat dari VLSM :

 Efisien menggunakan alamat IP: alamat IP yang dialokasikan sesuai dengan kebutuhan ruang host setiap subnet.

 VLSM mendukung hirarkis menangani desain sehingga dapat secara efektif mendukung ruteagregasi, juga disebut route summarization.

Berikut ini adalah contoh penerapan dari VLSM untuk menyelesaikan permasalahan dalam penentuan IP address :

Seorang network enginering harus mendesain beberapa jaringan untuk beberapa ruangan dengan jaringan utama 204.24.93.0/24. Dari jaringan utama tersebut diinginkan untuk dibentuk 5 subnet yaitu subnet A sebanyak 14 hosts, subnet B 28 hosts, subnet C 2 hosts, subnet D 7 hosts dan subnet E 28 hosts.

Tahap pertama dihitung terlebih dahulu jumlah bit host yang dibutuhkan dan diambil angka paling mendekati dan lebih besar dari jumlah host terbanyak (28 hosts). Nilai tersebut adalah 30 dari 2^5 - 2 = 30. Di mana 5 adalah jumlah bit dari hostid, sehingga jumlah bit dari netid-nya bertambah menjadi 24 + (8 – 5) = 27 bit net. Dari perhitungan tersebut di dapatkan kesimpulan sebagai berikut :

 Subnet A (14 hosts) : 204.24.93.0/27  ada 30 hosts, tidak terpakai 16 hosts  Subnet B (28 hosts) : 204.24.93.32/27  ada 30 hosts, tidak terpakai 2 hosts

87

 Subnet C ( 2 hosts) : 204.24.93.64/27  ada 30 hosts; tidak terpakai 28 hosts  SubnetD ( 7 hosts) : 204.24.93.96/27  ada 30 hosts; tidak terpakai 23 hosts  SubnetE (28 hosts): 204.24.93.128/27  ada 30 hosts; tidak terpakai 2 hosts

Dari perhitungan tersebut terlihat adanya IP address yang tidak terpakai dalam jumlah yang cukup besar. Hal ini mungkin tidak akan menjadi masalah pada IP private akan tetapi jika ini di alokasikan pada IP publik (seperti contoh ini) maka terjadi pemborosan dalam pengalokasian IP publik tersebut.

Untuk mengatasi hal ini (efisiensi) dapat digunakan metoda VLSM, yaitu dengan cara sebagai berikut :

1. Buat urutan berdasarkan penggunaan jumlah host terbanyak (14,28,2,7,28 menjadi 28,28,14,7,2).

2. Tentukan blok subnet berdasarkan kebutuhan host :

28 hosts + 1 netid + 1 broadcastid = 30  menjadi 32 IP ( /27 ) 14 hosts + 1 netid + 1 broadcastid = 16  menjadi 16 IP ( /28 ) 7 hosts + 1 netid + 1 broadcastid = 9  menjadi 16 IP ( /28 ) 2 hosts + 1 netid + 1 broadcastid = 4  menjadi 4 IP ( /30 ) Sehingga subnetidnya menjadi :

 subnet B (28 hosts) : 204.24.93.0/27  ada 30 hosts; tidak terpakai 2 hosts  subnet E (28 hosts) : 204.24.93.32/27  ada 30 hosts; tidak terpakai 2 hosts  subnet A (14 hosts) : 204.24.93.64/28  ada 14 hosts; tidak terpakai 0 hosts  subnet D ( 7 hosts) : 204.24.93.80/28  ada 7 hosts; tidak terpakai 7 hosts  subnet C ( 2 hosts) : 204.24.93.96/30  ada 2 hosts; tidak terpakai 0 hosts

Materi 3. Dokumentasi Pengalamatan Jaringan Komputer

Dalam dokumen Modul Pendalaman TKJ Pra Uji Komp (Halaman 83-88)

Dokumen terkait