– Efek Hall dapat digunakan u/ penentuan energi gap
Eg secara tidak langsung, yaitu dgn mengukur koe-fisien Hall sebagai fungsi dari temperatur
– Prinsip kerjanya:
(i) Andai digunakan SK tipe-n. Jika bahan ini diberi temp. yg tinggi, maka eksitasi termal akan
mengahsilkan elektron bebas yang berjumlah besar dari pita valensi, dan pembawa-2 intrinsik berperan dominan pada temp. tinggi tsb.
> Daerah suhu tinggi ini disebut daerah intrinsik. (ii) Jika temp. diturunkan, konsentrasi elektron
bebas akan menurun, dan pada titik tertentu hanya elektron donor yang masih tertinggal dalam pita konduksi. Selama temperatur tidak cukup tinggi sehingga semua elektron donor masih tereksitasi ke dalam pita konduksi, maka konsentrasi pembawa akan bertahan konstan terhadap perubahan temperatur.
> Daerah ini disebut daerah aus (Exhausion) (iii) Penurunan lebih lanjut akan menyebabkan
peralihan kembali dari sebagian elektron ke tingkat energi donor
> Daerah ini disebut daerah tak-murnian (ekstrin-sik)
(iv) Konsentrasi pembawa menurun dgn cepat bila temp. diturunkan.
– Khusus penentuan Eg perlu ditinjau hubungan yang berlaku dalam daerah tak-murnian.
∗ Untuk daerah ini, n = p
∗ Dan berdasarkan uraian sebelumnya
n = pNcNve−Eg/kBT
dgn mengambil logaritma dari kedua sisi
ln(n) = − µ Eg 2kB ¶ 1 T + 1 2 ln(NcNv)
∗ Jadi jelas bhw Eg dapat diperoleh dari kemiringan (slope) kurva ln(n) vs 1/T di atas di dalam daerah tak-murnian
2 Resume Kuliah II dan Tambahan
Gejala transport pembawa terkait dgn gejala peng-hantaran listrik
• Gejala penghantaran listrik berwujud → arus listrik
• Arus listrik timbul baik dalam logam maupun semi-konduktor, karena tersedianya pembawa-pembawa listrik yang bebas:
– Logam: elektron bebas pada pita konduksi
– Semikonduktor: elektron dan hole, yang diciptakan melalui proses eksitasi.
• Catatan: mekanisme hantaran u/ kedua bahan berbeda • Berdasarkan mekanisme aliran pembawa bebas dua
jenis aliran:
(a) Arus hanyut (drift current) (b) Arus difusi
• Dalam Logam, mekanisme pertama yang berperan dgn elektron sebagai pembawanya.
• Dalam SK, kedua-duanya berperan, dan masing-masing jenis arus akan melibatkan elektron maupun hole
2.1 Arus Hanyut
• Andaikan elektron mengalir dgn kecepatan rata-rata atau kecepatan hanyut vn mempunyai konsentrasi atau kerapatan n dalam arah alirannya → maka dari gambar jelas bhw rapat arus per satuan luas penam-pang
jn = −envn (A/m2)
Ini berarti sama dengan jumlah muatan negatif yang mengalir per detik melalui penampang A.
• U/ arus hole, analog,
jp = epvp (A/m2)
• Jika gerak ini diakibat oleh medan listrik ξ, maka re-spon pembawa terhadap ξ:
vn = −µnξ; u/ elektron
vp = µpξ; u/ hole
• Besaran-besaran pembanding µndan µp disebut mo-bilitas elektron dan hole, dinyatakan dalam m2/(Volt detik).
– Mobilitas pembawa: ukuran ketanggapannya ter-hadap pengaruh medan listrik luar ξ (nilainya ter-gantung jenis bahan SK yg bersangkutan)
• Dari persamaan-2 diatas, maka rapat arus:
jn = enµnξ jp = epµpξ
– Catatan: Jika n, p, µn, µp tidak bergantung pada medan listrikξ, maka arus yang bersangkutan dise-but arus Ohmik dan memenuhi ’’hukum Ohm’’
j = σξ
dengan konstanta pembanding σ → dikenal seba-gai konduktivitas bahan.
∗ U/ elektron berlaku σn = eµnn
∗ U/ hole berlaku σp = eµpp
∗ dan konduktivitas total:
σ = σn + σp = e(µnn + µpp)
2.1.1 Konduktivitas dan Mobilitas
Konduktivitas dan mobilitas →parameter fenomenologi (yg berkaitan dgn pengukuran langsung.
Besaran ini dapat juga dikaitkan dgn → mekanisme penghantaran yg lebih terinci, dalam hal ini perlu tin-jauan model klasik Drude-Lorentz (yg lebih mendekati kedaan konduksi elektron dalam logam)
• Model klasik Drude-Lorentz
– Menurut model ini:
(i) Elektron-2 bebas yg bergerak akibat pengaruh medan listrik luar ξ akan mengalami tumbukan acak dgn ion positif dari kisi kristal logam dalam frekuensi tinggi sepanjang jalan.
(ii) Akibatnya, kecepatan gerak elektron mempun-yai harga rata-2 konstan.
(iii) Karena proses tumbukan tsb bersifat acak, dan keadaan elektron sebelum dan sesudah tumbukan bersifat bebas satu dgn lainnya, maka proses gerak elektron secara rata-rata dapat ditinjau dalam kurun waktu antara dua tumbukan yang berturut-turut.
(iv) Andaikan selang waktu rata-rata antara dua tumbukan adalah t, maka percepatan yang dialami elektron dalam selang waktu itu secara rata-rata dapat dihubungkan dgn kecepatan rata-rata yang dicapai pada akhir selang waktu
t:
vn = 1 2at
dgn vn = 0 ketika t = 0,yaitu pada akhir tumbukan sebelumnya. Tetapi percepatan a
ditentukan oleh ξ menurut pers.: a = F me = −eξ me Jadi, vn = −2eξmt e
(v) Dengan demikian, rapat arus yg terjadi:
j = −envn
= −ne
2t
2meξ
konduktivitas dan mobilitas
σ = ne
2t
2me
µ = et
2me
(vi) Dengan τ = t/2 sebagai waktu relaksasi
proses tumbukan, kita peroleh rumus DRUDE-LORENTZ: σ = ne 2τ me µ = eτ me
(vii) Berdasarkan rumus ini, karena n, e, me
besaran-2 konstan, maka σ hanya bergan-tung pada τ.
(viii) Jika l jarak rata-2 antara dua ion yang
elek-tron, maka τ dianggap kurang lebih sebanding dgn l/vthn.
(ix) Menurut model gas elektron bebas
vthn = r 3kBT m2 (x) Ini berarti: τ ≈ 1/√T dan σ ≈ 1/√T
dengan kata lain, konduktivitas logam akan menurun nilai temperaturnya menurun.
– Ramalan model ini sesuai dgn hasil eksperimen, terutama u/ temperatur yg tidak terlalu rendah ter-hadap suhu kamar. Pada suhu yang lebih rendah ternyata σ ≈ 1/T. (model gagal u/ suhu sangat rendah)
∗ Perbaikan teori:
(A) perlu penafsiran me sebagai massa efektif dan
(B) perumusan mekanika kuantum untuk proses tumbukan !!
• Untuk Semikonduktor
– Bentuk umum rumus konduktivitas tetap diperta-hankan:
σn = ne
2τ
σp = pe 2τ m∗ p atau σp = peµp dengan µn = eσn m∗ e , µp = eσp m∗ p
Harga mobilitas tergantung pada jenis kristal SK. – Perbedaan pokok dgn logam:
(i) konsentrasi pembawa pada logam konstan, sedangkan pada SK bergantung pada suhu secara eksponensial, yaitu
n = Nc exp((EF − Ec)/kBT) = Nc exp(−|EF − Ec|/kBT)
p = Nv exp((Ev − EF)/kBT) = Nv exp(−|Ev − EF|/kBT)
(ii) Waktu relaksasi dan tentunya mobilitasnya, hanya bergantung pada temperatur menurut ’’hukum pangkat’’
µ ≈ T−α
dgn α > 0, tetapi tidak jauh dari 1.
> Dengan demikian pertambahan hambatan disebabkan oleh meningkatnya hamburan dgn phonon akibat kenaikan temp. akan dikalahkan dgn peningkatan σ yang disebabkan oleh
pertambahan konsentrasi pembawa.
kenaikan temp., maka hal sebaliknya yang terjadi pada SK.
2.2 Arus Difusi
• Karena elektron di pita konduksi dan hole di pita valensi bergerak bebas, maka dlaam keadaan setimbang pembawa-pembawa ini akan tersebar secara mer-ata.
• Jika pada daerah tertentu terjadi konsentrasi yang lebih tinggi, maka pembawa daerag tersebut ’’dengan sendirinya’’ akan mengalir ke daerah dgn berkon-sentrasi lebih rendah. (Proses ini akan terus berlang-sung sampai terjadi kembali konsentrasi yang mer-ata u/ seluruh daerah !!)
• Arus listrik yg terjadi karena aliran pembawa ini dise-but arus difusi.
pada gambar di atas.
(Gbr. kiri) Distribusi elektron dan arus difusi elektron (Gbr. kanan) Distribusi hole dan arus difusi hole.
• Secara matematis: hubungan antara rapat arus dan gradient konsentrasi:
jn = eDndn dx jp = −eDpdp
dx
Besaran-besaran Dn dan Dp → koefisien difusi
dari e dan hole (satuan m2/dtk)
• Prinsip: Arus Total = P seluruh arus diatas
– Namun u/ SK tipe-n dan tipe -p hanya ditekankan arus berikut:
jn = eµnnξ + eDndn dx jp = eµppξ − eDpdp
dx
Harga D tidak hanya berbeda u/ e dan hole, tetapi juga bergantung pada jenis bahan !!. Hal ini dapat dilihat dalam Hubungan Einstein:
Dn µn = Dp µp = kBT e sehingga jn = eµn · nξ + kBT e dn dx ¸ ;jp = eµp · pξ − kBeT dxdp ¸
Kuliah III
3 Generasi dan Rekombinasi Pembawa
3.1 Konsep Quasi-Fermi
• Berdasarkan kuliah sebelumnya:
– Diasumsikan: konsentrasi elektron dan hole dalam keadaan kesetimbangan termal jika distribusi pen-dudukan keadaan elektronik dinyatakan dgn fungsi distribusi Fermi-Dirac
• Fungsi distribusi akan berubah secara dramatis, jika medah listrik tinggi (high electric field) diberikan ke sampel SK
>pada kondisi ini, yaitu kondisi tidak setimbang (non-equilibrium):
(i) konsentrasi elektron dan hole tidak lagi diny-atakan dgn np = n2i
(ii) dan konsep Fermi-level yang ada tidak lagi dapat digunakan
• Kondisi non-equlibrium juga dapat dibentuk melalui
generasi pasangan e & p ekstra dalam SK dgn ab-sorbsi cahaya.
Foton dgn energi lebih besar dari energi gap, akan mengeksitasi elektron di pita valensi ke pita konduksi
→ menggenerasi pasangan e & h.
• Dalam kondisi non-eq., penting merepresentasikan fungsi distribusi u/ elektron dan hole sbb:
fn = 1
1 + exp((E − EF n)/kBT); (3.1)
fp = 1
1 + exp((EF p − E)/kBT); (3.2)
> Dari pers. diatas, didefinisikan EF n & EF p dan disebut Tingkat quasi-Fermielektron dan hole (kadang disebur IMREF, kebalikan penyebutan fermi)
> Pada kondisi equilibrium: EF n = EF p = EF
> Pada kondisn non-eq: EF n 6= EF p dan keduanya dapat merupakan fungsi koordinat
Realita: perbedaan EF n - EF p dapat digunakan u/ mengukur deviasi (penyimpangan) dari keadaan se-timbang.
• Pada kasus SK nondegenerate, pers. (3.1) dan (3.2):
fn ' exp((EF n − E)/kBT)
fp ' exp((E − EF p)/kBT)
Substitusi persamaan-2 ini ke persamann danp (ku-liah II)
n = Nc exp((EF n − E)/kBT); (3.5)
p = Nv exp((E − EF p)/kBT); (3.6) 3.2 Perluasan Konsep quasi-Fermi
– yaitu u/ kondisi dimana medan yang diberikan menye-babkan peningkatan yang substansial dalam en-ergi rata-2 gerak random elektron atau hole dgn memperkenalkan konsep temperatur elektornatau
hole efektif, Te & Tp
– Temperatur efektif elektron
Te = 2
3E/kBT
dimana E adalah energi elektron – Persamaan (3.1) dan (3.2) menjadi
fn = 1
1 + exp((E − EF n)/kBTe)
fp = 1
1 + exp((EF p − E)/kBT)
catatan: hasil perhitungan dan simulasi konsep temp efektif sangat tidak akurat (detail M. Schur section 1.14)
• Konsep quasi-Fermi sangat bermanfaat, karena kon-sentrasi pembawa pada devais SK dapat bervariasi sebagai fungsi dari posisi atau bias dgn orde besar yang banyak, sedangkan quasi-Fermi berubah di-dalam energi gap atau dekat ke dasar pita konduksi atau ke puncak pita valensi. Variasi ini mudah divi-sualisasikan !!
• Andaikan:
(a) Cahaya menyinari GaAs tipe-n dgn rapat doping
Nd
(b) Cahaya secar uniform terabsorbsi dan mempro-duksi pasangan e & p dgn kerapatan P
(c) Kerapatan elektron menjadi
n ' P + Nd;(3.9) (d) Kerapatan hole menjadi
p ' P + n2i/Nd; (3.10)
(e) Tingkat quasi-Fermi elektron dan hole dihitung melalui pers. (3.5), (3.6), (3.9) dan (3.10)
• Pasangan elektron-hole yang tergenerasi dalam SK → merekombinasi
• Proses rekombinasi akan lebih intensif apabila kon-sentras ipasangan elektron-hole bertambah
laju generasi G diimbangi laju rekombinasi R
G = R
3.3 Mekanisme Rekombinasi
Terdapat 4 tipe mekanisme:
1. Rekombinasi radiatif langsung (pita-ke pita)
2. Rekombinasi pita-ke impuriti radiatif
3. Rekombinasi non-radiatif melalui tingkat impu-rity (trap)
4. Rekombinasi Permukaan
3.3.1 Rekombinasi radiatif langsung (pita-ke pita)
• Laju rekombinasi sebanding dgn perkalian np
• U/ SK non-degenerate
R = Gthnp/n2i; (3.12) dimana Gth laju generasi termal
• Ungkapan u/ Gth (Roosbroeck & Schockley (1954))
Gth = 32π2(kBT /h)4
Z
ξ(v)n3rx3 dx
[exp(x) − 1]; (3.13)
dimana v frekuensi, nr indeks refraksi, x = hv/kBT, ξ(x) = hcα(x)/(4πkBT nrx), c kecepatan cahaya dalam vakum dan α koefisien absorbsi.
• Persamaan (3.12) menjadi:
R = Crnp
• Pada steady state,
G = Crnp = Cr(n0 + 4n)(p0 + 4p)
dimana 4n & 4p konsentrasi elektron dan hole ek-stra dan n0 & p0 konsentrasi elktron dan hole setim-bang (n0p0 = n2i)
• Jika generasi pasangan e & h disebabkan cahaya, laju generasi G sebanding dgn intensitas cahaya I
Contoh:
Andaikan sebuah SK tipe-n dalam keadaan setim-bang: n0 = Nd dan p0 = n2i/Nd
Pada intensitas cahaya yang rendah jika 4n ¿ Nd,tetapi 4p ' 4n À n2i/Nd, diperoleh
4n = Gτr
dimana τr = 1/(CrNd) disebut radiative band-to-band recombination lifetime
Jika intensitas cahaya kecil, 4n sebanding dgn G, dan tentunya juga dgn I.
Pada intensitas tinggi, jika4n À n0, p0, 4p ' 4n, G ≈
Cr4n4p = Cr4n2, dan 4n sebanding dgn √G,
3.3.2 Rekombinasi pita-ke impuriti radiatif
• Rekombinasi ini secara praktis lebih penting ketim-bang mekanisme sebelumnya, terumta u/ devais SK pengemisi cahaya (light-emiting)
• Radiative bandto-impurity recombination lifetime:
τr = 1/(BrNA)
dimanaBr koefisien rekombinasi radiatif danNA kon-sentrasi impurity yang terkait dalam proses rekom-binasi ini
3.3.3 Rekombinasi non-radiatif via trap
• Dalam banyak hal, mekanisme ini dominan.
• Teori dari mekanisme dikembangkan oleh Schock-ley & Read (1952)
rekom-binasi ini
• Keterangan:
(a) Ketika e ditangkap oleh trap yang kosong dan kemudian hole ditangkap oelh trap yang terisi oleh elektron → rekombinasi pasangan e & h (b) Proses sebaliknya: elektron diemisi oleh trap
terisi ke pita konduksi, dan emisi hole dari trap yang kosong ke pita valensi
• Laju penangkapan elektron, Rnc, sebanding dgn jum-lah elektron dan jumjum-lah trap yang kosong
Rnc = Cnn(1 − ft)Nt
dimana ft fungsi pendudukan tingkat trap. – Koefisien
Cn = σnvthn
elek-tron,
vthn = (3kBT /m∗n)1/2
adalah kecepatan termal elektron dan m∗n massa efektif elektron.
• Laju emisi elektron dari trap, Rne, Rne = enftNt
• Dalam kondisi setimbang
Rnc = Rne
sehingga,
Cnn0 = enft0/(1 − ft0); (3.23) dimana
n0 = Nc exp((EF − Ec)/kBT)
adalah konstrasi elektron setimbang, ft0 pendudukan tingkat trap setimbang.
Ratioft0/(1−ft0) diperoleh dgn menggunakan fungsi pendudukan Fermi-Dirac:
ft0/(1 − ft0) = exp [−(Et − EF)/kBT]
Et energi tingkat trap
Sehingga darri pers.(3.23), diperoleh bhw
en = ntCn
dimana
nt = Nc exp [−(Et − Ec)/kBT]
elektron
Rn = Rnc − Rne = CnNt[(1 − ft)n − ftnt] ; (3.28) • Penurunan yang sama u/ perbedaan laju
panangka-pan dan pengemisian hole
Rp = Rpc − Rpe = CpNt [ftp − (1 − ft)pt]
dimana
Cp = σpvthp
• Pada kondisi setimbang: tidak terdapat akumulasi netto muatan, sehingga e & h harus merekombinasi dalam pasangan. Jadi,
Rp = Rn = R
dimana R laju rekombinasi
• Fungsi pendudukan ft dapat diperoleh dari kondisi
Rp = Rn,
ft = nCn + ptCp
Cn(n + nt) + Cp(p + pt)
• Substitusi pers. ini ke pers.(3.28):
R = pn − n
2
i
τpl(n + ni) + τnl(p + pi); (3.34)
ni konsentrasi intrinsik, τpl dan τnl lifetiem elektron dan hole
τnl = 1/(vthnσnNt)
τpl = 1/(vthpσpNt)
(n ¿ p ≈ NA, p À pt, p À nt), pers.(3.34) tere-duksi menjadi
R = n − n0
τnl
dimana n0 = n2i/ND.
– Jika hole minoritas (p ¿ n ≈ ND, n À pt, n À nt)
R = p − p0
τpl
dimana p0 = n2i/NA.
– Konsentrasi pembawa ditentukan oleh doping. Penu-runan lifetime thp doping pada tingkat doping yang rendah dapt dijelaskan melalui konsentrasi trap di sampel terdoped.
∗ Jika konsentrasi trap sebanding dgn konsentrasi dopant, diharapkan
τ ' 1/ND
∗ Hasil eksperimen (M.S Tyagi & R. van Overstraaten) menunjukan lain: pada tingkat doping yang re-latif tinggi, τpl menurun thp konsentrasi doping lebih cepat daripada 1/ND.
∗ Alasan: mekanisme rekombinasi yang berbeda (disebut rekombinasi Auger) menjadi penting un-tuk tingkat doping yang tinggi
∗ Pada mekanisme ini:
(B) dan energi yang dikeluarkan (dlm orde energi gap) ditransfer ke pembawa yang lain ( hole pada tipe-n dan elektron pada tipe-p)
(C) Proses demikian adalah kebalikan dari proses mekanisme impact ionization yang dgnnya pembawa energetik menyebabkan generasi pasangan e & h
(D) Karena terdapat dua elektron dan dua hole dalam rekombinasi Auger, lifetime rekombi-nasinya adalah berbanding terbalik kuadrat konsentrasi mayoritas
τnl = 1/(GpNA2); tipe-p
τpl = 1/(GnND2); tipe-n
Untuk Si Gp = 9, 9 × 10−32 cm6/s dan
Gn = 2,28 × 10−31 cm6/s
3.3.4 Rekombinasi Permukaan (surface)
• Pada kebanyak devais SK, laju rekombinasi sangat tinggi dekat permukaan, dimana defects dan trap tambahan meningkatan laju rekombinasi
• Konsekuensinya: fluks difusi pembawa minoritas pad permukaan ditentukan oleh proses rekombinasi per-mukaan.
rekom-inasi permukaan dapat dideskripsikan sbb:
Dp∂p/∂x|x=0 = −Sp[pn(x = 0) − pn0]
dimanaDp koefisien difusi hole, pn konsentrasi hole,
pn0 = n2i/ND konsentrasi hole setimbang, x = 0
menyatakan permukaan sampel,
Sp = σpvthpNst
merupaka laju rekombinasi permukaan, dan Nst