• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penentuan Status dan Relasi Kekerabatan Isolek

1.7 Kerangka Teori

1.7.6 Penentuan Status dan Relasi Kekerabatan Isolek

Penentuan status isolek yang diperbandingkan dalam linguistik historis komparatif dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif.

Pendekatan kuantitatif difokuskan pada penggunaan metode leksikostatistik. Metode leksikostatistik merupakan ukuran statistik yang digunakan untuk membedakan tingkat kekerabatan antarbahasa atau antardialek dengan cara membandingkan kosakatanya serta membedakan tingkat kemiripannya (Crowley,1987:190).

Metode leksikostatistik pertama kali digunakan oleh linguis Amerika yang bernama Morris Swadesh pada akhir tahun 1950-an dalam penelitian yang dilakukan terhadap bahasa-bahasa yang digunakan oleh orang-orang Indian (American Indian). Metode leksikostatistik kemudian dilanjutkan tokoh lainnya seperti Sarah Gudschinsky, Joseph Greenberg, dan Isidore

Dyen (Crystal, 1992: 331). Oleh karena berkelimpahan data, Swadesh berpikir untuk mencari metode yang lebih cepat dan praktis dalam menentukan tingkat kekerabatan antara dua bahasa atau lebih. Dari pemikirannya itu lahir metode leksikostatistik, yaitu metode pengelompokan bahasa/dialek yang dilakukan dengan menghitung persentase perangkat kata berkerabat (kognat). Kosakata yang menjadi dasar penghitungan adalah kosakata dasar (basic vocabulary) (Swadesh,1955).

Di samping istilah leksikostatistik dikenal juga istilah lain yaitu glotokronologi (Glottochronology). Pada dasarnya kedua istilah itu sebenarnya memiliki pengertian yang berlainan, sekurang-kurangnya menyangkut sasaran akhir yang akan dicapai. Glotokrologi adalah suatu metode pengelompokan dengan lebih mengutamakan perhitungan waktu (time depth) atau perhitungan usia bahasa-bahasa kerabat (Kridalaksana,2009:73). Dalam hal ini usia bahasa tidak dihitung secara mutlak dalam suatu tahun tertentu, tetapi dihitung secara umum, misalnya mempergunakan satuan ribuan tahun (millennium). Dengan demikian, yang ingin dicapai dalam metode ini adalah kepastian mengenai usia relatif bahasa, yaitu mengenai kapan sebuah bahasa muncul dan kapan bahasa-bahasa itu berpisah satu dari yang lain. Sebaliknya, leksikostatistik merupakan metode pengelompokan bahasa/dialek yang lebih mengutamakan peneropongan kata-kata (leksikon) secara statistik, untuk

kemudian berusaha menetapkan pengelompokan itu berdasarkan persentase kesamaan suatu bahasa/dialek dengan bahasa/dialek lain.

Dalam penerapannya kedua bidang itu dapat dipakai secara bergandengan karena untuk menghitung usia bahasa dengan glotokronologi harus dipergunakan leksikostatistik. Sebaliknya untuk mengadakan pengelompokan bahasa dengan metode leksikostatistik tersirat juga masalah waktu, yang menjadikan landasan bagi pengelompokan itu. Namun dalam penelitian disertasi ini, metode pengelompokan bahasa dilakukan dengan leksikostatistik tanpa glotokronologi, sebagaimana penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh para ahli diakronis seperti Nothofer (1975), Fernandez (1988), Mbete (1990), Danie (1991) dan lain-lain.

Penerapan metode leksikostatistik tidak hanya berguna untuk penelitian isolek yang berstatus bahasa, tetapi juga dapat digunakan dalam penelitian dialektologi untuk pengelompokan beberapa daerah pengamatan sebagai kelompok pemakai dialek atau subdialek tertentu dengan menghitung persentase kekognatan antardaerah pengamatan (Danie,1991). Penentuan status bahasa dari isolek yang diperbandingkan dalam kajian linguistik historis komparatif, sejauh ini biasanya dilakukan serentak dengan upaya penentuan kekerabatan atau pengelompokan. Dalam banyak penelitian bahasa di Indonesia, misalnya Nothofer (1975), Fernandez (1988), Mbete (1990) melakukan penentuan status bahasa dilakukan serempak dengan penentuan hubungan kekerabatan atau pengelompokan bahasa melalui penerapan leksikostatistik.

Leksikostatistik sampai saat ini digunakan untuk tiga tujuan, yakni : 1) sebagai daftar kosakata dasar yang cepat dapat menentukan hubungan kekerabatan bahasa atau dialek, 2) sebagai alat pengelompokan bahasa/dialek yang protobahasa atau prabahasanya belum begitu tua/kuno, 3) sebagai alat atau metode yang dapat dipakai pada tahap awal untuk menetapkan waktu perpisahan antara bahasa-bahasa yang berkerabat. Hasil persentasi yang dicapai berdasarkan kalkulasi leksikostatistik dapat digunakan untuk mengamati hubungan antarbahasa atau antardialek yang disajikan dengan dasar tingkat persentase. Berdasarkan kriteria tertentu yang telah ditetapkan dapat dijelaskan peringkat hubungan antarbahasa/antardialek.

Oleh karena leksikostatistik mendasarkan kajiannya terhadap kosakata dasar, maka leksikostatistik berangkat dari beberapa asumsi seperti yang dikemukakan oleh Dyen (1978); Lehmann (1973); Bynon (1979) dan Keraf (1991), Fernandez (1993;1994) sebagai berikut.

1. Sebagian kosakata suatu bahasa sukar sekali berubah bila dibandingkan dengan bagian yang lain. Kata-kata yang sukar sekali berubah ini disebut dengan kosakata dasar. Kosakata dasar ini merupakan kata-kata yang sangat inti, sekaligus merupakan unsur mati hidupnya suatu bahasa. Oleh karena itu kata-kata untuk hal-hal dalam kehidupan bahasa, khususnya bidang kebudayaan, merupakan unsur yang baru dipinjam akan mengalami kelenyapan

bersama lenyapnya kebudayaan itu. Kosakata dasar bersifat universal.

2. Retensi kosakata dasar adalah tetap sepanjang masa. Ini berarti bahwa sejumlah kosakata dasar dari sebuah bahasa sesudah 1000 tahun akan tetap bertahan dengan persentasi tertentu. Sesudah 1000 tahun berikutnya kata-kata tadi akan bertahan lagi dalam persentasi yang sama pula.

3. Perubahan kosakata dasar pada semua bahasa adalah sama. Pengujian terhadap hal ini telah dilakukan terhadap tiga belas bahasa yang di antaranya memiliki naskah lama tertulis dengan hasil kosakata dasar bertahan sekitar 86,4% sampai 74,4% dalam tiap 1000 tahun, atau dengan angka rata-rata 80,5%.

4. Jika persentasi kosakata sekerabat dua bahasa diketahui, dapat dihitung pula waktu berpisahnya kedua bahasa itu dari bahasa purbanya.

Adapun dalam pemilahan isolek secara kualitatif dalam linguistik historis komparatif, digunakan metode pemahaman timbal balik (mutual inteligibility) yang diajukan oleh Voegelin dan Harris (1951). Menurut metode pemahaman timbal balik, bahwa daerah-daerah pakai isolek dikelompokan dalam dialek sebuah bahasa jika antarpenutur isolek yang berbeda itu masih terjadi pemahaman timbal balik antara satu sama lain ketika bertutur dengan menggunakan isoleknya masing-masing. Hasil

perhitungan leksikostatistik tersebut disepadankan dengan bukti-bukti kualitatif berupa kesamaan fonologi ataupun leksikal untuk menguatkan pengelompokan.

Pendekatan kuantitatif oleh beberapa sarjana dianggap sebagai pendekatan yang lebih saksama untuk pengelompokan bahasa sekerabat (Dyen,1978:50). Metodenya dipandang sederhana dapat diikhtisarkan sebagai berikut. Pendekatan ini menggunakan alat utama berupa daftar Swadesh (dua ratus kosakata dasar baku) untuk penelusuran padanan perangkat kognat bahasa yang diteliti. Setelah daftar diisi, persentase kognat ditetapkan dengan mengandalkan pemahaman tentang hukum perubahan bunyi yang teratur antarbahasa tersebut. Garis silsilah kekerabatan atau pohon kekerabatan (family tree) yang dihasilkan pendekatan kuantitatif menggambarkan kekerabatan yang lebih erat atau tidak antarbahasa/antardialek sekerabat dalam usaha pengelompokan bahasa/dialek tersebut (Dyen,1975:52).

Dengan segala kemudahan yang ditawarkan metode leksikostatistik ini tidak lepas dari berbagai kritik, baik kritik yang cenderung menekankan segi praktis maupun segi teoritis. Kritik yang menekankan aspek praktis seperti tampak pada kutipan berikut ini.

This technique of lexicostatistics has not been without its critics however. We have already hinted at a number of practical problems associated with the method. Firstly, there is the problem of deciding on which particular sets of words we should treat as being „core‟ vocabulary. Secondly, there is the problem of distinguishing between genuine cognates and borrowings in languages which we do not know the full history of (Crowley, 1987: 203).

Di samping itu, penggunaan kosakata dasar tidak sebagai cara pendahuluan di dalam penelitian, tetapi dianggap sebagai cara utama yang menggantikan teknik penentuan tingkat kekerabatan yang sebelumnya sudah dikenal tentu dianggap sangat kontroversial (periksa Bynon, 1979: 271). Adapun kritik yang bersifat teoretis antara lain dialamatkan pada validitas teori yang hanya diuji pada bahasa-bahasa Indo-Eropa yang memiliki bukti peninggalan tertulis (Crowley, 1987: 203), sehingga Bergsland dan Vogt bahkan sampai memberikan kritiknya yang tajam dengan menyatakan, “in principle, the lexicostatistical method is also unreliable for determining the subgrouping of cognate languages and dialects” (dalam Blust, 1981: 4).

Walaupun, penerapan metode ini dalam pengelompokan terhadap bahasa-bahasa khususnya bahasa-bahasa Austronesia tentang kesimpulan yang dicapai ditemui beberapa kelemahan misalnya persentase kemiripan kata kerabat bahasa-bahasa nusantara rata-rata 30-40%, tidak seperti kemiripan kata-kata dasar dalam bahasa-bahasa Eropa berkisar 60-70%, penerapan metode leksikostatistik dilakukan dengan beberapa pertimbangan yaitu selain karena belum ditemukan adanya metode lain yang bersifat kuantitatif dalam penentuan tingkat kekerabatan bahasa, bahwa tinggi rendahnya angka persentase yang ditunjukkan berdasarkan perhitungan leksikostatistik paling tidak dapat mengantarkan kita pada suatu kesimpulan bahwa suatu bahasa/dialek tertentu memiliki tingkat

hubungan yang relatif erat dibandingkan dengan lainnya (ditandai adanya persentase yang tinggi itu), dan sebaliknya.

Gambaran mengenai kekerabatan antarbahasa yang dicapai berdasarkan perhitungan persentase leksikostatistik ini dapat diuji secara lebih saksama dan mendalam melalui pengamatan terhadap ciri-ciri inovasi bersama (Dyen, 1978:51). Dengan berpedoman pada gambaran pohon kekerabatan bahasa/dialek sebagai hipotesis kerja selanjutnya rekonstruksi prabahasa dapat dilakukan.

Selanjutnya keterkaitan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dapat dipahami dengan baik apabila kita memahami bahwa setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan (Creswell,2014:22). Dalam linguistik historis komparatif, pendekatan kuantitatif mempunyai kelebihan dapat sekaligus menangani data dalam jumlah yang banyak, tetapi tidak mampu menjelaskan kekognatan kosakata yang dibandingkan karena tidak menelusuri kesejarahan kosakata tersebut. Sementara itu, pendekatan kualitatif mempunyai kelebihan dalam hal kecermatan dan ketajaman di dalam analisisnya karena sampai pada penelusuran sejarah kosakata isolek yang diperbandingkan. Adapun kelemahannya, pendekatan ini umumnya hanya dilakukan terhadap data yang jumlahnya terbatas (Pawley and Malcolm,1993:428). Oleh karena itu, paduan evidensi kuantitatif dan kualitatif merupakan bukti yang akurat untuk menjelaskan status dan relasi kekerabatan suatu isolek.

Sama halnya dengan penetuan status isolek, penentuan relasi kekerabatan antarbahasa ditinjau pula dari dua pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif penentuan relasi kekerabatan dilakukan dengan metode leksikostatistik. Penerapan leksikostatistik ditempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1) mengumpulkan kosakata dasar isolek yang berkerabat, dalam hal ini ketiga isolek dan dua bahasa yang terdapat pada tiga wilayah yang menjadi daerah pengamatan, 2) menetapkan dan menghitung pasangan mana yang merupakan kata kerabat, 3) menghubungkan hasil penghitungan yang berupa persentasi kekerabatan dengan kategori kekerabatan.

Hasil persentasi yang dicapai berdasarkan kalkulasi leksikostatistik dapat digunakan untuk mengamati hubungan antarbahasa/dialek yang disajikan dengan dasar tingkat persentasi. Berdasarkan kriteria tertentu yang telah ditetapkan dapat dijelaskan peringkat hubungan antarbahasa/dialek. Kriteria itu dapat menggambarkan relasi antarbahasa/dialek yang dibandingkan. Hubungan kekerabatan antarbahasa/dialek dapat dihitung dengan rumus :

Jumlah kata kerabat

X 100 % Jumlah glos yang dibandingkan

Hasil perhitungan tersebut kemudian dicocokkan dengan klasifikasi dalam leksikostatistik yang dikemukakan oleh Swadesh (1952), yaitu :

Tabel 1.2 :

Hubungan Kategori Kekerabatan dengan Persentasi Kekerabatan Kategori Kekerabatan Persentasi Kekerabatan (%) Bahasa (language) Keluarga (family) Rumpun (stock) Mikrofilum Mesofilum Makrofilum 100 – 81 81 - 36 36 – 12 12 - 4 4 - 1 1 -kurang dari 1% Penghitungan dilakukan dengan berpedoman pada hal-hal berikut ini. a) Mengeluarkan glos yang tidak diperhitungkan dalam penetapan kata

kerabat. Glos yang tidak diperhitungkan adalah kata-kata kosong dan kata-kata pinjaman.

b) Menetapkan kata berkerabat, yang dapat berupa korespondensi dan variasi

c) Membuat persentasi kata berkerabat. Pada tahap ini dilakukan penghitungan terhadap jumlah kata dasar yang dapat diperbandingkan pada langkah a) dan jumlah kata yang berkerabat yang dijumpai dari hasil penentuan kata berkerabat (langkah b) tersebut. Selanjutnya jumlah kata berkerabat dibagi jumlah kada dasar yang diperbandingkan dan dikali seratus persen sehingga diperoleh persentasi jumlah kata berkerabat.

d) Setelah penghitungan persentasi kata berkerabat dilakukan dan diketahui persentasi kekerabatannya, lalu persentasi itu dihubungkan dengan kategori tingkat kekerabatan bahasa untuk

menentukan hubungan kekerabatannya apakah sebagai satu bahasa, keluarga bahasa, rumpun bahasa, mikrofilum,mesofilum, atau makrofilum.

e) Selanjutnya, merumuskan diagram pohon yang menggambarkan silsilah kekerabatan isolek-isolek yang diperbandingkan tersebut. Bahasa-bahasa yang pada fase tertentu memiliki sejarah yang sama sebagai satu keluarga atau subkeluarga bahasa berada dalam satu simpai.

Secara kualitatif, penentuan hubungan kekerabatan dalam linguistik historis komparatif dilakukan dengan melihat inovasi bersama sebagai bukti pemisah kelompok yang diperoleh dengan melihat refleks protobahasa pada bahasa-bahasa yang dibandingkan. Dalam Fernandez (1996:22) dijelaskan bahwa istilah inovasi berarti pembaharuan, yaitu perubahan yang memperlihatkan penyimpangan dari kaidah perubahan yang lazim berlaku. Refleks protobahasa pada bahasa-bahasa yang diperbandingkan lazimnya dapat diamati dalam korespondensi bunyi berdasarkan padanan perangkat kognat.

Landasan komparatif terhadap persoalan relasi diakronis BKM, BKB dan BKP, yang pada intinya dapat dibuktikan melalui analisis unsur-unsur warisan dari prabahasa pada lokasi persebaran bahasa Bakumpai (Fernandez,1996; Hock,1988). Prabahasa pada tingkat dialek sebenarnya bukanlah wujud nyata bahasa, melainkan suatu bangunan bahasa yang dirakit secara teoritis hipotesis (Mbete,1990). Prabahasa ini merupakan

suatu rakitan teoritis yang dirancang dengan cara merangkaikan sistem bahasa-bahasa/dialek-dialek yang memiliki hubungan kesejarahan, melalui rumusan kaidah-kaidah secara sangat sederhana (Bynon,1979; Jeffers,1979), dan dirakit kembali sebagai gambaran tentang masa lalu dari suatu bahasa. Rakitan prabahasa merupakan prototipe bahasa pada dialek-dialek yang memiliki pertalian historis (Haas,1966; Fernandez,1996). Dengan munculnya ciri-ciri warisan yang sama pada dialek-dialek yang berkerabat, keeratan hubungan keterasalan dialek-dialek tersebut dapat ditemukan dan sistem prabahasanya dapat ditelusuri (Mbete,1990:22).

Upaya pengelompokan bahasa-bahasa/dialek-dialek berkerabat berarti suatu upaya menempatkan bahasa-bahasa/dialek-dialek tersebut agar jelas struktur kekerabatannya. Dengan demikian, kejelasan kedudukan suatu bahasa/dialek yang lainnya dapat ditetapkan. Adapun rekonstruksi prabahasa dari sekelompok dialek yang diasumsikan berkerabat selain merupakan upaya pengelompokan dialek juga memperjelas hubungan kekerabatan dan pertalian keseasalan dialek-dialek tersebut, terutama dari sisi kesepadanan (korespondensi) fonologis pada kosakata yang maknanya berkaitan. Suatu pengelompokan bahasa yang mempunyai relasi sejarah dapat memanfaatkan konsep-konsep pengelompokan genetis dalam kajian linguistik historis komparatif untuk menjelaskan relasi diakronis bahasa-bahasa (juga dialek-dialek) yang mungkin dapat diidentifikasi dalam bahasa-bahasa atau dialek.

Asumsi dasar hipotesis ini adalah jika hubungan antara dialek yang diperbandingkan erat karena berasal dari satu prabahasa, dan hubungan di antara bahasa itu dapat dijelaskan dalam suatu silsilah kekerabatan (family tree), maka gambaran itu dapat mencerminkan urutan perkembangan bahasa di masa kini yang mengalami perkembangan historis dari bahasa sebelumnya secara berurutan (Durasid,1990:16). Dengan demikian, prabahasa sebagai suatu sistem yang diabstraksikan dari wujud dialek berkerabat merupakan pantulan kesejarahan karena dialek itu pernah mengalami perkembangan yang sama sebagai bahasa tunggal (Birbaun,1977:20).

Setidaknya terdapat dua pijakan hipotesis dalam merekonstruksi prabahasa, yaitu hipotesis keterhubungan dan hipotesis keteraturan (Jeffers dan Lehiste,1979:17; Hock,1988). Hipotesis yang pertama memiliki ciri kemiripan dan kesamaan wujud kebahasaan. Salah satu kemiripan bentuk yang diandalkan adalah kemiripan bentuk dan makna kata-kata. Kata-kata yang memiliki kemiripan atau kesamaan bentuk dan makna ini biasa disebut kosakata seasal (cognate set). Kata-kata ini bukan sebagai pinjaman, bukan juga sebagai kebetulan atau kecendrungan semesta, melainkan sebagai warisan dari bahasa awal yang sama. Hipotesis yang kedua, hipotesis keteraturan, berwujud perubahan bunyi yang bersistem dan teratur yang ditemukan pada bahasa tersebut. Dengan kata lain, perubahan bunyi yang teratur pada kosakata dari suatu dialek merupakan ciri-ciri keterwarisan dari sistem fonologi dan leksikal prabahasanya.

Dalam pengelompokan kekerabatan bahasa Bakumpai dan penelusuran daerah relik dan inovasi perolehan bukti-bukti analisis pada kedua bidang fonologi dan leksikal diperlukan baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Prosedur metode komparatif yang bersifat kuantitatif ditempuh mengawali tahap rekonstruksi prabahasa dengan menerapkan metode komparatif yang bersifat kualitatif. Bukti-bukti yang bersifat kuantitatif ditetapkan berdasarkan penghitungan leksikostatistik yang lazim digunakan sebagai teknik kuantifikasi persentase yang dapat menetapkan kedekatan antarbahasa/antardialek.

Dalam makalahnya Darmadi (2004:1) mengungkapkan bahwa hakikat pendekatan kuantitatif adalah menggunakan cara kerja perhitungan statistik dengan metode yang disebut leksikostatistik bertujuan untuk menentukan tingkat kekerabatan antara dua bahasa atau lebih; apakah merupakan sekelompok bahasa sekerabat, apakah merupakan sekelompok dialek dari suatu bahasa.

Penelusuran bukti kualitatif dengan metode rekonstruksi merupakan upaya lanjutan dalam penemuan bukti-bukti yang menjelaskan klasifikasi bahasa yang diperbandingkan. Untuk menemukan bukti-bukti yang dapat menjelaskan peringkat hubungan antarbahasa secara kualitatif itu dikembangkan metode untuk penemuan inovasi disebut sebagai metode inovasi atau metode pembaharuan (Keraf,1984:115). Adapun retensi bersama tidak dapat menjelaskan perkembangan bahasa yang terdapat

pada suatu bahasa karena retensi pada umumnya bersifat paralel dan tidak menjelaskan perkembangan bahasa yang terjadi pada bahasa tersebut.

Sehubungan dengan hal itu, jika unsur-unsur inovasi yang dialami oleh isolek Bakumpai merupakan unsur yang sama sekali baru, dan tidak memiliki hubungan dengan bahasa Dayak Ngaju, maka hasil inovasi ini merupakan bukti bahwa isolek Bakumpai merupakan isolek yang terpisah dengan bahasa lainnya meskipun masih termasuk dalam keluarga bahasa yang sama (hal ini juga berlaku pada dialek). Sebaliknya pula, jika salah satu bahasa/dialek dari dua bahasa/dialek lainnya memiliki unsur-unsur inovasi yang memungkinkan terpisahnya salah satu bahasa/dialek itu secara tegas maka terdapat kemungkinan bahwa kedua bahasa/dialek tersebut salah satunya terpisah sebagai bahasa/dialek yang memiliki perkembangan sejarah yang berbeda dengan bahasa/dialek lainnya.

Terkait dengan ini Bynon berpendapat bahwa :

In general term, the larger the number of such unshared changes, the less closely related will be the two systems. Closeness of the relatedness can therefore be seen to depend on the number of rules held in common (1979:64)

Dengan demikian, semakin banyak kaidah perubahan yang ditemukan secara kualitatif semakin kuat pula bukti-bukti keeratan hubungan antara bahasa dan dialek-dialek tersebut. Bukti-bukti kualitatif ini diperoleh setelah dilakukan rekonstruksi fonologis (Mbete,1990:29). Mbete menambahkan bentuk-bentuk yang inovatif itu dapat diperbandingkan pula

dengan bentuk-bentuk dari bahasa atau kelompok bahasa di luar kelompok itu, sebagai penegasan bahwa bahasa yang diperbandingkan bukan dari kelompok yang sama. Jika terdapat pertentangan antara bukti-bukti kuantitatif dan kualitatif, kalangan para sarjana cenderung lebih mengutamakan bukti kualitatif. Seperti pendapat Blust (1981) bukti-bukti kualitatif tampaknya menjadi dasar yang lebih terpercaya bagi penentuan pengelompokan. Apabila terdapat bukti-bukti kuantitatif yang sejalan dengan bukti kualitatif maka hasil yang diperoleh melalui pendekatan kuantitatif dapat menjadi hipotesis yang sah bagi pendekatan kualitatif. Oleh karena itu para peneliti cenderung menerapkan pendekatan kuantitatif sebelum pendekatan kualitatif seperti yang dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya yakni Dyen (1978), Hudson (1967), Nothofer (1975) ; Adelaar (1985) ; Fernandez (1996) ; Durasid (1990) ; Mbete (1990).

Apabila penentuan kekerabatan dan pengelompokan bahasa telah mampu dideteksi, dan melalui perekonstruksian bahasa purba juga telah terlihat bentuk-bentuk yang menjadi asal dari bentuk-bentuk dalam bahasa yang telah dikelompokkan itu, maka penelusuran tanah asal dan arah persebaran (migrasi) bahasa selanjutnya dapat dilakukan.

Dokumen terkait