• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Pendekatan Kontekstual Di Kelas

Dalam dokumen Tugas proposal ptk metode penelitian (Halaman 25-43)

Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut :

Persekolaha n

Pengalaman harian individu

Alam pekerja

1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.

2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik. 3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.

4. Ciptakan masyarakat belajar.

5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran. 6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.

7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara. 6. Asas-Asas Kontekstual

Pembelajaran kontekstual sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki tujuh asas. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Ketujuh asas kontekstual dapat dijelaskan dibawah ini :

1. Konstruktivisme

Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldawin dikembangkan dan diperdalam oleh Jean Pigget menganggap bahwa pengetahuan itu terbentuk bukan hanya dari objek semata, tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang diamatinya. Menurut konstruktivisme, pengetahuan itu memang berasal dari luar, akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh sebab itu pengetahuan terbentuk oleh dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk mengintrepretasi objek tersebut. Kedua faktor tersebut itu sama pentingnya. Dengan demikian pengetahuan itu tidak bersifat statis tetapi bersifat dinamis, tergantung individu yang melihat dan mengkonstrusinya.

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran melalui pendekatan kontekstual pada dasarnya mendorong agar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman sebab pengetahuan hanya akan fungsional manakala dibangun oleh individu. Pengetahuan yang hanya diberikan tidak akan menjadi

pengetahuan yang bermakna. Atas dasar asumsi yang mendasari itulah, maka penerapan asas konstruktivisme dalam pembelajaran melalui CTL, siswa didorong untuk mampu mengkonstruksi pengetahuan sendiri melalui pengalaman nyata.

2. Inkuiri (Menemukan)

Inkuiri merupakan asas kedua dari pembelajaran kontekstual yang artinya, proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis (Wina Sandjaya, 2010:263). Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah menyiapkan sejumlah materi yang dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Belajar pada dasarnya merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis. Melalui proses mental itulah, diharapkan siswa berkembang secara utuh baik intelektual, mental, emosional, maupun pribadinya. Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu: 1. merumuskan masalah, 2. mengajukan hipotesis, 3. mengumpulkan data, 4. Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan, 5. Membuat kesimpulan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Penerapan asas dalam proses pembelajaran kontekstual, dimulai dari adanya kesadaran siswa akan masalah yang jelas yang ingin dipecahkan. Dengan demikian, siswa harus didorong untuk menemukan masalah. Jika masalah telah dipahami dengan batasan-batasan yang jelas, selanjutnya siswa dapat mengajukan hipotesis atau jawaban sementara sesuai dengan rumusan masalah yang diajukan. Hipotesis itulah yang akan menuntun siswa untuk melakukan observasi untuk pengumpulan data. Manakala data telah terkumpul selanjutnya siswa dituntun untuk menguji hipotesis sebagai dasar dalam merumuskan kesimpulan. Asas menemukan seperti yang digambarkan diatas, merupakan asas yang penting dalam pembelajaran kontekstual. Melalui proses berpikir yang sistematis seperti diatas, diharapkan siswa memilki sikap ilmiah, rasional, dan logis, yang kesemuanya itu diperlukan sebagai dasar pembentukan kreativitas.

3. Bertanya (Questioning)

Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab

pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam proses pembelajaran kontekstual, guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing siswa untuk menemukan sendiri. Karena itu peran bertanya sangat penting, sebab melalui pertanyaan-pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya. Menurut Wina Sandjaya (2010:264) dalam suatu pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya berguna untuk :

a. Menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran. b. Membangkitkan motivasi siswa untuk belajar.

c. Merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu. d. Memfokuskan siswa terhadap sesuatu yang diinginkan.

e. Membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu.

Sehingga dapat disimpulakan bahwa dalam setiap tahapan dan proses pembelajaran bertanya hampir selalu digunakan. Olek karena itu, kemampuan guru untuk mengembangkan teknik-teknik bertanya sangat penting.

4. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Konsep masyarakat belajar (learning community) dalam pembelajaran kontekstual menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain. Kerjasama ini dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah. Hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain, antara teman ataupun kelompok yang sudah memberi tahu kepada yang belum tahu, yang pernah memiliki pengalaman membagi pengalamannya pada orang lain.

Dalam kelas pembelajaran kontekstual, penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari bakat dan minatnya. Biarkan dalam kelompoknya mereka saling membelajarkan; yang cepat belajar didorong untuk membantu yang lambat belajar, yang memiliki kemampuan tertentu didorong untuk membantu yang lambat belajar, yang memiliki kemampuan tertentu didorong untuk menularkannya pada orang lain.

5. Pemodelan (Modeling)

Menurut Sandjaya (2010:265) yang dimaksud dengan asas pemodelan adalah “proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa”. Misalnya, guru memberikan contoh bagaimana cara mengoperasikan sebuah alat, atau bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing, guru olahraga memberikan contoh bagaimana cara melempar bola, dan lain sebagainya. Proses pemodelan tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga

guru memanfaatkan siswa yang dianggap memilki kemampuan. Misalkan siswa yang pernah menjadi juara dalam lomba puisi dapat menampilkan keahliannya di depan teman-temannya, dengan demikian siswa dapat dianggap sebagai model. Pemodelan, merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran kontekstual, sebab melalui pemodelan siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoritis-abstrak yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme.

6. Refleksi (Reflection)

Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari dan dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilkinya. Bisa terjadi melalui proses refleksi siswa akan memperbarui pengetahuan yang telah dibentuknya, atau menambah khazanah pengetahuannya Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kontekstual, setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk “merenung” atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya. Biarkan secara bebas siswa menafsirkan pengalamannya sendiri, sehingga ia dapat menyimpulkan tentang pengalamannya belajar.

7. Penilaian Nyata (Authentic Assessment)

Proses pembelajaran konvensional yang sering dilakukan oleh guru pada saat ini, biasanya ditekankan kepada perkembangan aspek intelektual, sehingga alat evaluasi yang digunakan terbatas pada penggunaan tes. Dengan tes dapat diketahui seberapa jauh siswa telah telah menguasi materi pelajaran. Dalam pembelajaran kontekstual, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh perkembangan kemampuan intelektual saja, akan tetapi juga proses belajar melalui penilaian.

Menurut Wina Sanjaya (2010:266) Penilaian nyata (authentic assessment) adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan oleh siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak; apakah pengalaman belajar siswa memilki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa Berdasarkan pendapat yang dikemukakan diatas, maka penulis menerapkan pada penelitian ini untuk mengetahui indikator-indikator penguasaan untuk kompetensi mengenal dan mengidentifikasi komponen elektronika sebagai berikut:

1. Kontruktivisme

Pada tahap ini siswa dituntut untuk dapat membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Sebagai contoh aplikasi dalam penelitian ini adalah :

• Guru memberikan penjelasan mengenai kapasitor dalam kehidupan nyata beserta aplikasinya. Contohnya penggunaan kapasitor untuk menyimpan muatan dan energi, lampu kilat pada kamera memiliki kapasitor yang besar untuk menyimpan energi tabung lampu, kapasitor mendapat muatan dari baterai selama kurang lebih 30 detik. Ketika diperlukan dalam sekejap semua muatan akan keluar dari tabung lampu sehingga lampu kilat menyala.

2. Inquiri

Pada tahap ini siswa dituntut untuk belajar dengan menggunakan keterampilan berfikir kritis dalam proses pembelajaran khususnya pada kompetensi mengenal dan mengidentifikasi komponen elektronika. Aplikasinya adalah sebagai berikut ini :

• Guru memberikan pertanyaan kepada siswa mengenai materi yang akan disampaikan sekarang untuk mengetahui sejauh mana siswa mengetahuinya sebelum materi tersebut disampaikan.

• Siswa memberikan contoh penggunaan kapasitor dalam kehidupan sehari-hari yang pernah dilihatnya.

Pada tahap ini siswa dituntut untuk menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran; membangkitkan motivasi siwa untuk belajar; merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu; memfokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan; menyimpulkan sesuatu. Contoh aplikasinya adalah sebagai berikut:

• Guru memancing siswa agar dapat menemukan sendiri mengenai kapasitor mika • Siswa bertanya mengenai fungsi dari kapasitor mika dan aplikasinya.

• Berdasarkan pertanyaan yang diajukan siswa, guru membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan materi tentang kapasitor mika.

4. Learning community (masyarakat belajar)

Konsep masyarakat belajar dalam kontekstual diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain, kerjasama itu dapat dilakukan dalam berbagai berbentuk kelompok belajar. Contoh aplikasinya adalah sebagai berikut:

• Guru membagi siswa menjadi 10 Kelompok.

• Siswa melaksanakan diskusi kelompok untuk membahas materi kapasitor. • Guru membahas pendapat, informasi, dan masalah dari pengalaman siswa

mengenai kapasitor. 5. Modeling (pemodelan)

Dalam pemodelan siswa dituntut untuk dapat mengingat dan mengaplikasikan peragaan yang telah dicontohkan guru. Contoh aplikasinya adalah sebagi berikut:

• Guru memberikan contoh fungsi dari kapasitor mika, yaitu untuk rangkaian resonasi, filter untuk frekuensi tinggi dan rangkaian yang menggunakan tegangan tinggi. Misalnya: radio pemancar yang menggunakan tabung transistor.

Dalam refleksi siswa dituntut untuk mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya, dan siswa diberikan kebebasan untuk menafsirkan pengalamannya sendiri sehingga siswa dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya. Contoh aplikasinya adalah sebagai berikut:

• Setelah mendengarkan penjelasan dari guru, siswa mengetahui bahwa aplikasi dari kapasitor dapat mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, mereka menjadi tahu bahwa lampu kilat pada kamera dan radio pemancar merupakan aplikasi dari penggunaan kapasitor.

7. Authentic assessment (penilaian yang sebenarnya)

Proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi megenai perkembangan belajar yang dilakukan oleh siswa berupa pemberian evaluasi. Contoh aplikasinya adalah sebagai berikut:

• Pelaksanaan evaluasi setelah kegiatan pembelajaran berakhir untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang telah diberikan.

7. Menyusun Rencana Pembelajaran Berbasis Kontekstual

Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran dan langkah-langkah pembelajaran saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut :

1. Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara Standar Kompetensi, Kompetensi dasar, Materi Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar.

3. Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu

4. Pembutanan skenario tahap demi tahap kegiatan siswa D. Evaluasi Belajar

Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan yang telah tercapai (Suharsimi Arikunto, 2009:19).

1. Subjek Evaluasi

Subjek evaluasi adalah orang yang melakukan pekerjaan evaluasi. Siapa yang dapat disebut sebagai subjek evaluasi untuk setiap tes, ditentukan oleh suatu aturan pembagian tugas atau ketentuan yang berlaku (Suharsimi Arikunto, 2009:19). Contoh: Untuk melaksanakan evaluasi tentang prestasi belajar atau pencapaian, maka subjek evaluasi adalah guru.

2. Sasaran Evaluasi

Sasaran penilaian adalah segala sesuatu yang menjadi titik pusat pengamatan, karena penilai menginginkan informasi tentang sesuatu (Suharsimi Arikunto, (2009:20). Sasaran penilaian unsur-unsurnya meliputi: input, tranformasi, dan output.

3. Prinsip Evaluasi

Terdapat satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi, yaitu triagulasi yang erat kaitannya antara tiga komponen adalah sebagai berikut:

1. tujuan pembelajaran

2. kegiatan pembelajaran atau KBM, dan 3. evaluasi

Triagulasi tersebut dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut:

tujuan

evaluasi KBM

Penjelasan dari bagan triagulasi diatas dalah sebagai berikut: a. Hubungan antara tujuan dengan KBM

Kegiatan belajar mengajar yang dirancang dalam bentuk rencana mengajar disusun oleh guru dengan mengacu pada tujuan yang hendak di capai. Dengan demikian, anak panah menunjukan hubungan antara keduanya mengarah pada tujuan dengan makna KBM mengacu pada tujuan, tetapi juga mengarah dari tujuan ke KBM, menunjukkan langkah dari tujuan dilanjutkan pemikirannya ke KBM.

b. Hubungan antara tujuan dengan evaluasi

Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan telah tercapai. Dengan makna demikian maka anak panah berasal dari evaluasi menuju ke tujuan. Disisi lain, bila dilihat dari langkah dalam menyusun alat evaluasi ia mengacu pada tujuan yang telah dirumuskan.

c. Hubungan antara KBM dan evaluasi

Dalam hal ini evaluasi harus mengacu atau disesuaikan dengan KBM. Contoh: jika kegiatan belajar mengajar dilakukan guru menitik beratkan pada keterampilan, evaluasinya juga harus mengukur keterampilan siswa bukan aspek pengetahuan.

4. Jenis Evaluasi

Menurut fungsinya, evaluasi dibedakan ke dalam empat jenis, yaitu formatif, sumatif, diagnostik, dan evaluasi penempatan. Evaluasi formatif menekankan kepada upaya memperbaiki proses pembelajaran. Evaluasi sumatif lebih menekankan kepada penetapan tingkat keberhasilan belajar setiap siswa yang dijadikan dasar dalam penentuan nilai atau kenaikan nilai siswa. Evaluasi diagnostik menekankan kepada upaya memahami kesulitan siswa dalam belajar, sedangkan evaluasi penempatan menekankan kepada upaya untuk menyelaraskan antara program dan proses pembelajaran dengan karakteristik kemampuan siswa. Menurut caranya dibedakan atas dua jenis yaitu evaluasi kuantitatif dan evaluasi kualitatif. Evaluasi kualitatif biasanya lebih bersifat subjektif dibandingkan dengan evaluasi kuantitatif. Evaluasi kuantitatif biasanya dilakukan apabila guru ingin memberikan nilai akhir

terhadap hasil belajar siswa, sedangkan evaluasi kualitatif dilakukan apabila guru ingin memperbaiki hasil belajar siswanya. Menurut bentuknya dibedakan menjadi tes uraian dan tes objektif. Menurut caranya dibedakan menjadi tes tulisan, tes lisan, dan tes tindakan. Teknik non-test biasanya digunakan untuk menilai proses pembelajaran, alat-alat khusus untuk melaksanakan teknik non-test ini dapat dilakukan melalui pengamatan, wawancara, angket, dan hasil karya ilmiah atau laporan.

5. Tujuan Evaluasi

Tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk mengetahui efektivitas poses belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Indikator keefektifan itu dapat dilihat dari perubahan tingkah laku yang terjadi pada siswa. Perubahan tingkah laku yang terjadi dibandingkan dengan perubahan tingkah laku yang diharapkan sesuai dengan tujuan dan isi program pembelajaran. Oleh karena itu, instrument evaluasi harus dikembangkan dari tujuan dan isi program, sehingga bentuk dan format tes sesuai dengan tujuan dan karakteristik bahan ajar, serta porsinya sesuai dengan keluasan dan kedalaman materi yang diberikan.

6. Fungsi Evaluasi

Adapun fungsi dari evaluasi pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam empat fungsi, yaitu:

1. Fungsi formatif, evaluasi dapat memberiikan umpan balik bagi guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan mengadakan program remedial bagi siswa yang belum menguasai sepenuhnya materi yang dipelajari.

2. Fungsi sumatif, yaitu dapat mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang dipelajari, menentukan angka nilai sebagai bahan keputusan kelulusan, dan laporan perkembangan belajar siswa, serta dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

3. Fungsi diagnostik, yaitu dapat mengetahui latar belakang siswa (psikologis, fisik, dan lingkungan) yang mengalami kesulitan belajar.

4. Fungsi seleksi dan penempatan, yaitu hasil evaluasi dapat dijadikan dasar untuk menyeleksi dan menempatkan siswa sesuai dengan minat dan kemampuannya.

Dalam penilaian pembelajaran kontekstual, siswa mendapat nilai secara individu dan nilai secara berkelompok. Siswa bekerja sama dengan teman-temanya yang dibentuk dalam kelompok. Sehingga siswa dapat saling membantu satu sama lain dalam mempersiapkan diri untuk melaksanakan tes. Kemudian siswa mengerjakan tes secara sendiri-sendiri dan nilai dinilai secara individu.

E. Materi Mata Diklat Elektronika Dasar

Mata Diklat Elektronika Dasar merupakan salah satu mata diklat produktif yang wajib diikuti oleh siswa kelas X program keahlian Teknik Elektronika Di SMKN 1 Bekasi. Materi yang akan disampaikan dalam penelitian ini adalah Kapasitor,

dan uraian materi tersebut sebagai berikut : 1. Pengertian Kapasitor

Kapasitor / kondensator adalah komponen pasif, notasinya dituliskan dengan huruf C berfungsi untuk menyimpan energy listrik dalammuatan listrik, banyaknya muatan lisrik per detik dalam satuan Coulombs (C). Kemampuan kapasitor dalam menyimpan muatan disebut kapasitansi yang satuannya adalah Farad (F), pada umumnya kapasitor yang ada di pasaran memiliki satuan sebagai berikut :

• 1 Farad = 1.000.000 µF (mikro Farad) • 1 µF = 1.000 nF (nano Farad) • 1 nF = 1.000 pF (piko Farad)

Tegangan kerja pada kapasitor AC untuk non polar : 25 Volt ; 50 Volt ; 100 Volt ; 250 Volt ; 500 Volt,...

Tegangan kerja pada kapasitor DC untuk polar : 10 Volt ; 35 Volt ; 50 Volt ; 100 Volt ; 250 Volt.

Fungsi kapasitor dalam dalan suatu rangkaian adalah sebagai berikut : • Sebagai filter atau penyaring

• Sebagai kopling.penghubung antara rangkaian • Sebagai fine tuning

• Penyimpangan arus

2. Identifikasi dan Membaca Nilai

a. Jenis Kapasitor Berdasarkan Polaritasnya • Kapasiator Non Polar

Kapasitor non polar adalah kapasitor yang elektrodanya tanpa memiliki kutup positif (+) maupun kutub negative (

pemasangannya terbalik maka kapasitor tetap bekerja. disimbolkan sebagai berikut :

1 µF = 1.000 nF (nano Farad) 1 nF = 1.000 pF (piko Farad)

Tegangan kerja pada kapasitor AC untuk non polar : 25 Volt ; 50 Volt ; 100 Volt ; 250 Volt ; 500 Volt,...

Tegangan kerja pada kapasitor DC untuk polar : 10 Volt ; 16 Volt ; 25 Volt ; 35 Volt ; 50 Volt ; 100 Volt ; 250 Volt.

Fungsi kapasitor dalam dalan suatu rangkaian adalah sebagai berikut :

 Sebagai filter atau penyaring

 Sebagai kopling.penghubung antara rangkaian

 Sebagai fine tuning

 Penyimpangan arus

 Identifikasi dan Membaca Nilai-Nilai Kapasitor

 Jenis Kapasitor Berdasarkan Polaritasnya

Kapasitor non polar adalah kapasitor yang elektrodanya tanpa memiliki kutup positif (+) maupun kutub negative (-) artinya jika terbalik maka kapasitor tetap bekerja. Kapasitor non polar disimbolkan sebagai berikut :

Gambar 2.4 Simbol Kapasitor Nonpolaritas

Tegangan kerja pada kapasitor AC untuk non polar : 25 Volt ; 50 Volt ; 100 ;16 Volt ; 25 Volt ; Fungsi kapasitor dalam dalan suatu rangkaian adalah sebagai berikut :

Kapasitor non polar adalah kapasitor yang elektrodanya tanpa artinya jika Kapasitor non polar

Berikut ini adalah jenis-jenis kapasitor nonpolar adalah sebagai berikut : 1. Kapasitor Variable (Varco)

Kapasitor variabel adalah kapasitor yang nilai kapasitas-nya dapat diubah-ubah sesuai keinginan. Oleh karena itu kapasitor ini di kelompokan ke dalam kapasitor yang memiliki nilai kapasitas yang tidak tetap.

Gambar 2.5 Kapasitor Variable

Kapasitor ini mempunyai elektroida logam dan lapisan dielektrikum dari polysteryne mylar dan teflon setebal 0,0064 mm. Digunakan untuk koreksi faktor daya. Bentuk asli dari kapasitor mika adalah sebagai berikut :

Gambar 2.6 Kapasitor Mika 3. Kapasitor Keramik

Kapasitor ini menpunyai dielektrikum keramik. Kapasitor ini mempunyai oksida logam dan dielektrikumnya terdiri atas campuran titanium-48 oksida dan oksida lain. Kekuatan dielektrikumnya tinggi dan mempunyai kapasitas besar sekali dalam ukuran kecil.

Gambar 2.7 Kapasitor Keramik • Kapasitor Polar

Kapasitor polar elektrodanya mempunyai dua kutub, yakni kutub positif (+) dan kutub negative (-), apabila kapasitor ini dipasang pada rangkaian elektronika, maka pemasangannya tidak boleh terbalik. Salah satunya contohnya adalah kapasitor elektrolit atau elko dan tantalum. Nilai kapasitas maksimum dan kutub-kutubnya sudah tertera pada bodi komponen tersebut. Contoh gambar kapasitor polar adalah sebagai berikut :

Gambar 2.8 Kapasitor Polar

b. Membaca Nilai-Nilai Kapasitor

Pada kapasitor yang berukuran besar, nilai kapasitansi umumnya ditulis dengan angka yang jelas. Lengkap dengan nilai tegangan maksimum dan polaritasnya. Misalnya pada kapasitor elco dengan jelas tertulis kapasitansinya sebesar 100µF25v yang artinya kapasitor/ kondensator tersebut memiliki nilai kapasitansi 100 µF dengan tegangan kerja maksimal yang diperbolehkan sebesar 25 volt.Kapasitor yang ukuran fisiknya kecil biasanya hanya bertuliskan 2 (dua) atau 3 (tiga) angka saja. Jika hanya ada dua angka, satuannya adalah pF (pico farads). Sebagai contoh, kapasitor yang bertuliskan dua angka 47, maka kapasitansi kapasitor tersebut adalah 47 pF. Jika ada 3 digit, angka pertama dan kedua menunjukkan nilai nominal, sedangkan angka ke-3 adalah faktor pengali. Faktor pengali sesuai dengan angka nominalnya, berturut-turut 1 = 10, 2 = 100, 3 = 1.000, 4 = 10.000, 5 = 100.000 dan seterusnya. Contoh : 104 105 222 104 = 10 x 10.000 = 100.000 pF = 100 nF 105 = 10 x 100.000 = 1.000.000 pF = 1.000 nF = 1 µF 222 = 22 x 100 = 2.200 pF = 2,2 nF atau = 2n2

Untuk kapasitor polyester nilai kapasitansinya bisa diketahui berdasarkan warna seperti pada resistor. Table 2.2 Kode Warna Kapasitor :

Hitam 0 Coklat 1 Merah 2 Orange 3 Kuning 4 Hijau 5 Biru 6 Ungu 7 Abu-Abu 8 50 Putih 9

Contoh Jika kapasitor polyster Sebagai berikut: Coklat Hitam Orange Nilainya

Dalam dokumen Tugas proposal ptk metode penelitian (Halaman 25-43)

Dokumen terkait