Islam begitu gigih membina generasi mudanya agar mampu menyeimbangkan segala aspek kehidupannya. Dimana organ tubuh yang berkembang dan tumbuh harus sesuai dengan fitrahnya yang telah Allah ciptakan. Keseimbangan dalam pertumbuhan jiwa inilah yang akan menghasilkan umat yang kokoh baik secara fisik atau kejiwaannya.
Salah satu fitrah manusia yang telah Allah berikan adalah fitrah berupa dorongan seksual, yang bertujuan agar kehidupan umat terus berlanjut hingga akhir kiamat kelak. Dan Allah juga telah memberikan masa yang khusus, diberikan kepada manusai agar memiliki kemampuan untuk meneruskan keturunan. Masa inilah yang disebut usia dewasa. Usia dimana setiap gerak langkah hidupnya seerta tingkah lakunya mendapatkan catatan tersendiri, dan dihitung sesuai dengan apa yang ia lakukan selama hidupnya.
Maka agar dorongan seksual yang merrupakan fitrah setiap manusia ini dapat berjalan sesuai dengan apa yang Allah kehendaki, tanpa dicampuri dengan
53 pengaruh luar yang menyesatkan, Islam memberikan beberapa langkah pembinaan. Baik berupa perintah untuk melakukan sesuatu yang tujuannya demi kebaikan, atau berupa larangan yang tidak boleh dilakukan.
Berikut ini beberapa kaidah dasar pembinaan anak dalam mengarahkannya untuk selalu berjalan diatas fitrahnya dengan penuh keseimbangan:
A. Etika Meminta Izin
Anak lebih banyak berada di rumah dibandingkan dengan di sekolah atau lingkungan lainnya. Dengan banyaknya kesempatan berada di rumah, mak dengan sifat dasarnya yang cenderung memiliki sifat rasa ingin tahu yang tinggi, yang membuat dia tidak akan pernah betah berdiam diri selama satu sampai dua jam. Sehingga dengan keaktifannya, anak akan cenderung selalu mencari tempat-tempat yang beru baginya.
Namun selaku pendidik yang baik, kita tidak bisa membiarkan saja anak yang belum baligh itu hendak pergi kemana saja ia suka. Ada satu tempat yaitu kamar orang tuanya yang tidak diperkenankan bagi anak untuk memasukinya di sembarang waktu, kecuali dia mendapatkan izin dari penghunintya, seperti waktu sebelum shalat fajar, waktu dzhuhur, dan setelah isya. Sebagaimana digariskan langsung oleh al-Qur’an mengenai aturan ini, yang tujuannya semata-mata agar fitrah anak tersalurkan pada hal-hal yang bermanfaat. 24
☺
⌧
24
Muhammad Nur Abdul Hafidz, Mendidik Anak Bersama Rasulullah, Terjemahan dari
Manhaj Al-Tarbiyyah Al-Nabawiyyah Li Al-Thifl karya Muhammad Nur Abdul Suwaid,(Bandung: Al-Bayan, 1997), Cet. I, h. 253-254.
⌧ ⌧
⌧
⌧
☺
⌧
⌧ ⌧
Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan Pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga 'aurat bagi kamu. tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. an-Nur: 58)
“Dan apabila anak-anakmu Telah sampai umur balig, Maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. an-Nur: 59)
Dalam ayat diatas Allah SWT menjelaskan dasar-dasar pendidikan keluarga, khususnya tentang etika anak kecil (anak dibawah masa adolesen) dalam meminta izin kepada orang tuanya.
Ada tiga keadaan yang mengharuskan anak meminta izin kepada keluarga mereka: pertama, sebelum shalat fajar. Sebab ketika itu biasanya orang-orang masih tidur. Kedua, pada waktu siang (Zhuhur). Sebab, itu orang-orang biasanya menanggalkan pakaian (beristirahat). Ketiga, setelah shalat isya’. Sebab saat itu adalah saatnya tidur dan istirahat.
Meminta izin dalam tiga waktu tersebut mempunyai nilai pendidikan dasar (paedagogis) tentang dasar-dasar etika keluarga. Hikmahnya, apabila
55 anak memasuki kamar orang tuanya, ia tidak akan dikejutkan oleh suatu keadaan yang tidak baik untuk dilihat.
Jika anak-anak sudah menginjak masa dewasa atau masa adolesen, hendaklah para pendidik juga mengajarkan etika mminta izin di dalam tiga wakti itu kepada mereka sebagaimana firman Allah diatas.
Orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan tentang dasar-dasar pendidikan mengetahui secara yakin, bahwa ayat-ayat al-Qur’an diatas secara tegas telah menunjukan bagaimana Islam benar-benar memperhatikan arti malu yang terpuji, tingkah laku social yang baik, etika Islami yang tinggi. Sehingga ketika anak telah menginjak masa pemuda, ia akan menjadi teladan yang hidup dalam kemuliaan akhlak.25
B. Etika Melihat
Persoalan penting lainnya yang harus mendapat perhatian para pendidik adalah membiasakan anak untuk mempraktikkan etika memandang, sejak anak masih berada pada masa tamyiz. Hal ini dimaksudkan agar anak dapat membedakan mana yang halal dan mana yang diharamkan. Dengan begitu, ketika anak mendekati masa baligh (adolesen) dan mencapai masa taklif-nya, ia telah dibekali dengan akhlak yang lurus dan mantap.26
Pandangan mata terhadap lawan jenis secara psikologis bisa mamunculkan dorongan-dorongan seksual. Dan dorongan-dorongan seksual ini senantiasa menuntut untuk dipenuhi, sehingga bagi orang-orang yang tiada iman terkadang mengambil jalan pintas guna memuaskan tuntutan seksualnya yang bergejolak. Ada yang hanya masturbasi atau onani, dan ada pula yang mendatangi para pelacur, dan bahkan ada yang melalui tindakan agressivitas seksual, yakni pemerkosaan. Kasus-kasus semacam itu pada masa sekarang bukan merupakan hal aneh, bahkan dianggap berita sehari-hari. Demikianlah zaman telah drastis berubah. Nilai di dalam masyarakat sudah teramat longgar. Kejahiliyahan pun kukuh mencengkeram umat. Maka manusia kini diselimuti kegelapan yang melumpuhkan seluruh tingkah kehidupannya.
25
Abdullah Nashih Ulwan, Pendiikan Anak Dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Amani, 1995), Cet. I, h. 596-598
26
Abdullah Nashih Ulwan, Pendiikan Anak Dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Amani, 1995), Cet. I, h 598
fikiran pun keruh, selalu diselimuti khayalan bertema seksual hingga konsentrasi tak mampu terfokuskan, dan bila kondisi sudah seperti itu, maka dengan sendirinya gairah untuk beraktifitas yang sehat menjadi menurun.27
Sesungguhnya mata bagi anak merupakan jendela untuk melihat dunia luar di sekitarnya. Apa-apa yang ia lihat dengan matanya akan direkamnya di dalam fikiran dan jiwanya dengan cepat. Dan langsung diterima begitu saja dengan daya ingatnya yang sangat kuat. Maka apabila anak telah terbiasa untuk menahan pandangannya dari pemandangan-pemandangan yang merusak atau aurat orang-orang yang berada di dalam keluarganya dan lingkungan sekitar rumah, maka dengan izin Allah dan pengawasan-Nya niscaya anak akan terbentuk menjadi manusia yang dapat merasakan lezatnya iman di dalam jiwanya. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Abdullah At-Tustari yang saat itu masih berusia kecil, yang telah tertanam dalam jiwanya keimanan yang kuat. Dia selalu berupaya menjaga pandangannya dari hal-hal yang Allah murkai, karena dia memiliki keyakinan bahwa selama hidupnya Allah selalu mengawasi gerak-geriknya. Sehingga setiap malampun dia selalu melantunkan wirid-wirid khusus menjelang tidurnya dengan ucapan, “Allah syahidi.., Allah nadzhari.., Allah ma’i.. (Allah menyaksikan apa yang aku lakukan.., Allah melihat ku.., Allah bersamaku..)”
Demikian pula Rasulullah SAW yang memiliki perhatian besar terhadap perkembangan moral anak, yaitu dengan cara membiasakan mereka untuk menjaga pandangannya dari hal-hal yang tidak Allah ridhai28
Adapun etika memandang yang harus diajarkan dan dibiasakan kepada anak tersebut adalah:
1. Etika Melihat Muhrim
Setiap wanita yang diharamkan bagi laki-laki untuk mengawaniniya, disebut wanita muhrim. Demikian pula setiap laki-laki
27
Ayip Syafruddin, Islam dan Pendidikan Seks Anak, (Solo, CV, Pustaka Mantio: 1992), Cet ke-2, h. 72
28
Muhammad Nur Abdul Hafidz, Mendidik Anak Bersama Rasulullah, Terjemahan dari
Manhaj Al-Tarbiyyah Al-Nabawiyyah Li Al-Thifl karya Muhammad Nur Abdul Suwaid,(Bandung: Al-Bayan, 1997), Cet. I, h 257
57 yang diharamkan bagi wanita untuk kawin dengannya adalah laki-laki muhrim, orang-orang yang termasuk dalam kelompok muhrim itu adalah sebagai berikut:
a) Wanita-wanita muhrim karena pertalian darah
Mereka itu berjumlah tujuh orang seperti yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:
☺
……..
Artinya:
“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudara-saudaramu yang perempuan;….”(Q.S. an-Nisa: 23)
b) Wanita-wanita muhrim karena pertalian darah Mereka berjumlah empat oang:
1) Istri ayah
Sebagaimana firman Allah:
⌧
……
Artinya:
“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang Telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang Telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh)….” (Q.S. an-Nisa: 22)
2) Istri anak
Sebagaimana firman Allah:
“(Dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu)…” (Q.S. an-Nisa: 23)
3) Ibu istri (mertua)
Berdasarkan firman Allah:
……
Artinya:
“ibu-ibu istrimu (mertua)…” (Q.S. an-Nisa: 23)
4) Anak-anak perempuan dari istri Sesuai dengan firman Allah:
⌧
……
Artinya:
“Anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dan istri yang telah kamu campuri, tetpi jika kamu belum bercampur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka kamu tidak berdosa mengawininya…”(Q.S. an-Nisa: 23)
c) Wanita-wanita muhrim karena penyusuan Allah SWT berfirman:
……
Artinya:
“Ibu-ibu yang menyusukan kamu dan saudara perempuan sepersusuan…”(Q.S. an-Nisa: 23)
Sabda Rasulullah SAW:
ا مﺮ ﺎ ﺔ ﺎ ﺮ ا مﺮ
Artnya:
“Saudara sesusu haram untuk dikawini sebagaimana diharamkannya kawin dengan saudarase keturunan.” (HR. Muslim dan Ashhabus Sunan)
59 Seorang laki-laki boleh memandang wanita muhrimnya dari dada keatas dan dibawah lutut, jika syahwatnya atau syahwat wanita itu aman. Jika tidak, maka hukumnya haram demi menghindari hal-hal yang menimbulkan perbuatan dosa.
Atas dasar ini, seorang laki-laki halal memandang bagian tubuh muhrim wanitanya, baik yang biasa tampak maupun tidak. Yaitu: kepala, rambut, leher, dada, telinga, lengan bagian atas, lengan bagian bawah, telapak tangan, betis, sampai ke telapak kaki, wajah dan tetek. Selain itu, seperti perut, punggung, paha hukumnya haram untuk selama-lamanya.29
Yang menjadi dasar semua itu adalah firman Allah:
...
Artinya:
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera-putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka..” (Q.S. an-Nur: 31)
2. Etika melihat Wanita yang Dilamar
Seorang muslim bermaksud menikahi seorang wanita kemudian meminangnya, ia dibolehkan melihat calon istrinya tersebut. Hal itu dimaksudkan agar perkawinannya tidak seperti membeli kucing di dalam karung, sehingga di kemudian hari tidak timbul penyelesaian atau bahkan
29
Abdullah Nashih Ulwan, Pendiikan Anak Dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Amani, 1995), Cet. I, h 598-601
ﺮﻈ أ
ﺎﻬ إ
ﻪ ﺈ
ىﺮ أ
نأ
مدﺆ
ﺎ ﻜ
Artinya:“pandanglah ia (wanita yang dilamar). Sebab, hal itu akan membawa kekekalan bagi kecintaan kalian berdua”. (H.R. Muslim)
Akan tetapi, dalam praktiknya ada beberapa etika yang harus diperhatikan oleh si pelamar, yaitu:
a. Setelah bertekad mengawini seorang wanita, lelaki pelamar hanya dibolehkan melihat wajah dan kedua telapak tangan wanita yang dilamarnya.
b. Melihat boleh dilakukan berkali-kali jika dirasakan perlu, sehingga gambaran yang benar-benar melekat didalam ingatan.
c. Kedua calon pasangan boleh bercakap-cakap
d. Tidak diperbolehkan berjabat tangan wanita yang dilamar. Sebab, sebelum dilangsungkan akad nikah, wanita itu adalah wanita lain (bukan muhrim). Sedangakan hukum berjabat tangan dengan wanita lain adalah haram
e. Kedua calon pasangan tidak dibolehkan bertenmu, kecuali ditemani seorang muhrim wanit yang dilamar. Sebab, Islam mengharamkan berdua-duaan dengan wanita lain.
3. Etika Melihat (Aurat) Istri
Suami dibolehkan memandang segala sesuatu dari istrinya, baik dengan syahwat maupun tidak. Ia telah halal untuk disentuh dan disetubuhi, maka halal pula untuk dilihat seluruh bagi tubuhnya. Sedang untuk tidak melihat aurat masing-masing adalah lebih baik, seperti diriwayatkan oleh Aisyah ra:
لﻮ ر
ﷲا
ﻰ
ﷲا
ﻪ
و
و
ﺮ
و
رأ
ﻪ
Artinya:“Rasulullah SAW telah wafat, namun beliau belum pernah melihat bagian (aurat) tubuhku, dan demikian pula aku belum pernah melihat aurat beliau”
30
Anang Zamroni dan Ma’ruf Asrori, Bimbingan Seks Islami, (Surabaya: Pustaka Anda, 1997), Cet-1, h. 252
61 Adapun dasar yang membolehkan melihat seluruh bagian tubuh istri dan suami adalah hadits riwayat Abu Daud, Tirmidzi, dan an-Nasa’I dari Muawiyyah bin Haidah:
لﻮ رﺎ
ﷲا
,
ﻮ
ﺎ ر
ﻰ ﺄ ﺎ
ﺎﻬ
؟رﺬ ﺎ و
لﺎ
ﻆ إ
ﻚ رﻮ
إ
ﻚ وز
وأ
ﻜ ﺎ
ﻚ
Artinya:Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang boleh kami tampakkan dan apa yang harus kami jaga darinya?” Beliau menjawab, “Peliharalah auratmuu, kecuali terhadap istrimu atau budak-budak yang kamu miliki.”
Allah berfirman:
☺
⌧
Artinya:
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,” (5)
“Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa.” (6)
4. Etika Melihat Wanita Lain
Seorang laki-laki baligh tidak diperbolehkan memandang wanita lain, walaupun tidak dengan syahwat. Lantas, siapakah yang disebut wanita lain dan laki-laki lain itu?
Laki-laki lain adalah laki-laki yang halal bagi seorang wanita untuk kawin dengannya. Seperti: putra pamannya dari ayah, putra bibinya dari ayah, putra pamannya dari ibu, putra bibinya dari ibu, istri saudaranya, istri pamannya dari ayah, istri pamannya dari ibu, saudara perempuan dari istrinya, saudara perempuan dari bibinya dari ayah dan saudara perempuan bibinya dari ibu.
antara wanita jelek dengan cantik.31
Dasar diharamkannya adalah firman Allah SWT:
☺
⌧
☺
☺
⌧
...
Artinya:“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat". (Q.S. an-Nur: 30)
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya....” (Q.S. an-Nur: 31)
5. Etika Lelaki Melihat Sesama Lelaki
Seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lainnya antara pusar sampai lutut, baik laki-laki yang dilihatnya itu kerabat dekat, orang lain, muslim maupun kafir. Rasulullah SAW bersabda:32
31
Abdullah Nashih Ulwan, Pendiikan Anak Dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Amani, 1995), Cet. I, h 602-605
32
Anang Zamroni dan Ma’ruf Asrori, Bimbingan Seks Islami, (Surabaya: Pustaka Anda, 1997), Cet-1, h.262
63
ةأﺮ ا ةرﻮ ﻰ إ ةأﺮ ا و ﺮ ا ةرﻮ ﻰ إ ﺮ ا ﺮﻈ
Artinya:
“Janganlah seorang lelaki melihat aurat lelaki lainnya dan jangan pula seorang wanita melihat aurat wanita lain.”(H.R. Muslim)
6. Etika Wanita Melihat Sesama Wanita
Seorang wanita dilarang memandang bagian tubuh wanita lainnya, antara pusar dan lutut, baik wanita yang dilihatnya itu kerabat ataubukan, muslimah atau kafir. dasarnya adalah hadits yang telah disebutkan diatas.
Hikmah pengharaman ini adalah agar wanita terpelihara dari gejolak birahi karena melihat suatu pemandangan yang merangsang atau menimbulkan fitnah, yang kadangkala rangsangan seksual ini dapat menyebabkan wanita mengadakan hubungan lesbian (hubungan seksual antara wanita dengan wanita).
7. Etika Wanita Kafir Melihat Wanita Muslimah
Wanita muslimah diharamkan membuka bagian-bagian tubuhnya yang dapat menimbulkan fitnah dihadapan seorang wanita kafir, kecuali bagian tubuh yang biasa tampak pada waktu bertugas, seperti dua tangan, wajah, dan dua kaki.
8. Adab Memandang Anak Lelaki yang belum Tumbuh Janggut-nya
Memandang anak lelaki yang belum tumbuh janggutnya (kira-kira usia 10 sampai 15 tahun) adalah dibolehkan, jika untuk suatu keperluan seperti jual-beli, memberli dan menerima, mengobati, mengajar, dan berbagai keperluan lainnya. Namun jika memandangnya dimaksudkan untuk menikmati keindahannya, maka hukumnya adalah haram, karena hal itu akan membangkitkan syahwat dan menimbulkan fitnah.
Dalil pengharaman ini adalah firman Allah SWT:
☺
...
Artinya:
“Kataklanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya…” (Q.S. an-Nur: 30)
yang sedang berjual beli, dan sebagainya. Dalilnya adalah hadits yang ditetapkan oleh shahihain, bahwa Rasulullah SAW menyaksikan orang-orang Habasyah bermain lembing di dalam masjid pada hari raya dan Rasulullah mengahlangi Aisyah ra ikut menyaksikan mereka dari belakang beliau. Rasulullah menghalangi Aisyah dari mereka sampai ia merasa bosan dan pulang. Peristiwa ini terjadi pada tahun ketujuh Hijriyah.
10.Etika Melihat Aurat Anak Kecil
Para fuqaha mengatakan bahwa anak kecil laki-laki maupun wanita yang masih berusia dibawah empat tahun tidak mempunyai aurat jika masih berusia empat tahun kebawah. Jika lebih dari empat tahun, maka auratnya adalah qubul (kemaluan), dubur dan sekitarnya. Tapi jika ia telah mencapai batas syahwat, maka auratnya adalah seperti aurat orang baligh. Kemudian apabila kita membiasakan anak kecil untuk menutup aurat, maka ini adalah lebih utama.
11.Perihal Terpaksa yang Membolehkan Melihat
Sebelumnya telah dijelaskan, bahwa laki-laki tidak boleh melihat weanita lain, meski wanita itu berparas buruk dan tidak menarik, atau pendangan itu tidak disertai syahwat. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:
☺
⌧
...
Artinya:
“Kataklanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya itu memelihara kemaluannya…” (Q.S. an-Nur: 30)
Akan tetapi, ada keadaan-keadaan tertentu yang membolehkan untuk melihat, yaitu sebagaimana terurai dibawah ini:
a. Melihat untuk tujuan melamar
Hal ini telah diuraikan secara panjang lebar dalam membahas Adab Memandang Wanita yang Dilamar
65 b. Melihat untuk tujuan mengajar
a) Ilmu yang dipelajari wanita itu, menurut syara dianggap mengandung kemaslahatan agama dan dunia
b) Sesuai dengan batas-batas kewanitaannya, seperti dasar-dasar merawat orang sakit dan masalah kebidanan
c) Penglihatan itu tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah. d) Pendidikan dan pengajaran tidak dilakukan secara berduaan e) Tidak ada wanita yang mau belajar menggantikan tugas lelaki
untuk memberikan pelajaran c. Melihat untuk tujuan pengobatan
Seorang dokter laki-laki diperbolehkan mengobati wanita dengan syarat-syarat sebagai berikut:
a) Dokter itu seorang yang bertakwa, dapat dipercaya, adil, dan berilmu
b) Jika diperlukan melihat, dokter diperbolehkan membuka anggota tubuh wanita seperlunya saja
c) Jika tidak ada wanita yang mempunyai ilmu keahlian sepadan dengan dokter laki-laki yang mengobatinya
d) Pengobatan harus dihadiri mahram, suami atau orang wanita yang dapat dipercaya, seperti ibu, saudara perempuan atau tetangga wanita
e) Doktter itu bukan orang kafir
d. Melihat untuk tujuan peradilan dan meminta persaksian
Hakim dan saksi diperbolehkan melihat wajah dan kedua telapak tangan wanita, meski merasa takut akan terjadi fitnah. Sebab, dengan melihat akan kebenaran akan tegak dan hilanglah kedzaliman. Melihat didalam keadaan seperti ini, wajahnya boleh dibuka, supaya dapat diketahui bahwa dialah wanita yang dimaksud.33
C. Menghindarkan Anak Dari Rangsangan-rangsangan Seksual
Diantara tanggungjawab terbesar yang dibebankan Islam kepada pendidik adalah menghindarkan anak dari setiap rangsangan-rangsangan
33
Abdullah Nashih Ulwan, Pendiikan Anak Dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Amani, 1995), Cet. I, h. 614-624
sampai masa baligh.
Para sarjana pendidikan sepakat bahwa periode peralihan atau fase pubertas adalah fase kehidupan manusia yang paling berbahaya. Jika pendidik mengerti cara mendidik anak, cara menghindarkannya dari lingkungan yang penuh dengan kerusakan, penyimpangan dan cara mengarahkannya menuju kebaikan, maka biasanya anak akan tumbuh berbudi, berakhlak mulia dan memiliki pendidikan islami yang tinggi.34 Firman Allah dalam surat an-Nur ayat 31:
☺
☺
⌧
...
34Abdullah Nashih Ulwan, Pendiikan Anak Dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Amani, 1995), Cet. I, h. 626
67 Artinya”
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.”(Q.S. an-Nur: 31)
Dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwa pendidik wajib menghindarkan anaknya dari sikap yang dapat membangkitkan birahi dan merangsang seksualnya, agar anak tidak terjerat oleh tali kekejian, jatuh di lembah kehinaan, dan bergelimang di dalam lumpur kerusakan dan penyimpangan. Tanggungjawab pendidik di dalam menghindarkan anak dari rangsangan-rangsangan seksual ini dapat direalisasikan di dalam dua aspek. 1. Tanggungjawab Memelihara Dorongan Intrinsik
Pendidik harus mengikuti dasar-dasar Islam dalam mencegah setiap dorongan yang membangkitkan birahi anak dan merangsang seksualnya.
Masuknya anak yang berada pada usia tamyiz ke kamar orang tuanya pada waktu-waktu istirahat, yaitu sebelum shalat fajar, waktu dzhuhur dan setelah shalat isya tanpa meminta izin terlebih dahulu, termasuk hal-hal yang dapat memberikan rangsangan seksual kepadanya.
Disamping itu, memberikan keleluasaan kepada anak yang berada pada masa peralihan untuk bergaul dengan kerabat wanita atau gadis-gadis tetangganya dengan dalih belajar, juga termasuk hal-hal yang dapat memberikan rangsangan seksual kepadanya. Oleh karena itu, para pendidi jangan sekali-sekali memberikan kebebasan kepada putra putrinya untuk mempererat hubungan dengan anak lelak atau wanita lainnya. Sebab, hubungan-hubungan itu membawa bahaya yang besar bagi akhlak.
Masih banyak lagi rangsangan yang dapat menghancurkan akhlak anak dan melemparkannya kelembah penyimpangan dan hedonisme. Karenanya, pendidik harus menghindarkannya dari anak dengan memberikan arahan yang bersih, bimbingan yang lurus dan kebijaksanaan yang benar. Hendaklah tidak merasa kekurangan metode dan cara untuk memperbaiki anak dan meberinya pendidikan yang mulia.
dapat kita hitung. Kepada pendidik, penyusun suguhkan faktor-faktor terpenting yang dapat memberikan rangsangan seksual kepada anak dan dapat membangkitkan birahinya.
a. Bioskop dan Panggung Sandiwara