BAB V ANALISIS DATA
2. Penerimaan Diri terhadap Kondisi Kanker
Subjek SE pada awalnya sering merasa stres karena sering memikirkan penyakit kanker yang dideritanya, namun di sisi lain subjek memiliki prinsip bahwa penyakit yang dideritanya tersebut bukanlah penyakit yang parah sehingga berpandangan bahwa penyakit yang dideritanya sudah merupakan takdir dari Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga dengan penerimaan diri tersebut, subjek lebih berusaha dan berikhtiyar untuk mendapat kesembuhan.
“Sering, kalau kita lagi sendiri kan gitu mas, itu namanya bilang stres kan...[...]”
“Memang itu namanya kalau kita stres kan gitu mas, karena kepikir
kenapa ya saya jadi begini ya, kan gitu.. Kalau kita sudah ini ya, tapi ya namanya takdir kita sudah dikasih penyakit begini, berarti kita lebih hati-hati”
(SE: 545-548)
“Tapi ya jalan itu kembali lagi Yang Di Atas kan namanya kan mengasih penyakit semua, yang kuasa kan”
(SE: 160-162)
“Ya karena namanya suratan kita dari Allah kasih kita ya, makannya kita kan menerima dengan begitu kan kita berusaha dan berikhtiyar
supaya kita itu sembuh kan gitu”
(SE: 538-540)
“[...] saya pribadi mas, saya ndak pernah menganggap penyakit saya
ini parah, karena semua hidup mati semua Allah yang menentukan, itu
saya satu punya prinsip”
(SE: 611-613)
Subjek R menjelaskan bahwa sempat merasa drop selama proses pengobatan dan sempat tidak ingin melanjutkan pengobatan karena merasa sudah tidak kuat menjalani pengobatan, namun R kembali melanjutkan pengobatan setelah mendapat nasihat dari istri.
“Sempat drop, sempat nggak mau, pernah. Terus dinasehati istri mau. Saya sempat mau berhenti karena nggak kuat”
(R: 257-258)
“Sayapun sudah istilahnya saya udah berusaha semampu saya, sudah
saya sejalur dokter, dokter udah mengatakan kalau nggak ada yaudah,
nah itu semangat lagi gitu lho”
Pada awal didiagnosis kanker, AW sempat tidak dapat menerima keadaan terkena kanker, namun pada akhirnya AW sudah benar-benar dapat menerima keadaannya saat ini karena beranggapan bahwa hidup sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, sehingga AW juga sudah pasrah apabila sewaktu-waktu harus menghadapi kematian. Subjek AW juga tetap merasa bersyukur atas penyakitnya karena saat pertama didiagnosis kanker, AW sudah dipastikan akan mempunyai anak.
“Sudah, waktu itu saya awalnya nggih nggak mau menerima, tapi akhire saya menerima itu setelah kemo...[...]”
(AW: 394-395)
“Iya, saya sudah bener-bener menerima pak...[...] (AW: 411)
“[...] menurut saya termasuk jodoh, rejeki, karo sing maut kan sing kuasa lantaran yo mungkin aku ya wis berusaha untuk ngobati ngene. Yo bener aku wis dijaluk yo wis aku arep piye meneh wong yo ora iso opo-opo pak”
(AW: 422-426)
“Alhamdulillahnya juga saya bersyukur tetepan, alhamdulillah setelah
saya tahu bakal punya anak pas diposisi di kandungan itu tho, kenanya pas itu lho pak, sebelum kenanya itu kan saya was-was punya anak
tho, pingin punya anak nggak terlambat tho pak...[...]”
(AW: 78-82)
Subjek ER memiliki harapan hidup rendah setelah didiagnosa kanker, dimana ER beranggapan bahwa setelah menderita kanker, maka umurnya tidak akan lama dan memiliki sedikit harapan untuk sembuh dari kanker. Pada saat ini ER sudah dapat mengurangi pikiran terkait kanker yang dideritanya, namun saat ini muncul perasaan khawatir apabila penyakitnya muncul kembali.
“Kanker itu kayaknya.. kayaknya ya itu umurnya sedikit lagi, kalau
dari kanker saya ngebayangin wah ini kemungkinan sembuh itu kayaknya sedikit banget gitu loh, jadi saya ngebayanginnya umurnya sedikit lagi gitu”
(ER: 116-120)
“Sekarang rasa itu berkurang banyak ya, ya masih ada kuatir, kalau
sekarang mungkin lebih kuatir, kuatirnya apa.. jangan-jangan nanti ada lagi gitu ya, tapi kalau takut umur berapa lagi itu itu udah udah ya mungkin udah ngelewatin banyak ya mungkin itu berkurang. Kalau
dulu rasanya.. mikirnya umurnya sedikit lagi”
(ER: 111-115) 3. Koping stres
Ketika merasa jenuh dan untuk menghindari munculnya stres, SE mencari kesibukan yang diantaranya yaitu pergi berkunjung ke Jakarta dan Jogja untuk mengunjungi saudara, berlibur bersama teman-temanya, atau berkunjung menjenguk orang-orang dari daerah asal SE yang sedang sakit. SE juga mengikuti kegiatan pengajian selama pengobatan di Jogja untuk mengisi waktu luang saat pengobatan.
“Iya, jenuh saya, ya paling nanti pikirnya itu, stres kan. Jenuh kan, nah alhamdulillah itu makannya saya kalau memang teman saya di Papua dia tahu kalau saya itu pintar cari teman, dengan cari-cari
kesibukan...[...]”
(SE: 566-569)
“Kemarin kan saya habis kemo kelima saya kan ke Jakarta, gitu
menghilangkan stres saya di Jogja, menunggu kemo...[...]”
(SE: 552-553)
“Teman saya di Jogja kan ada dari Papua dia pindah ke Jogja, bawa
jalan-jalan saya, saya pergi ke borobudur, pergi kemana, ada orang Papua yang sakit saya pergi besuk. Yang penting yang satu kumpulkan saja, bu siap nanti saya jemput, ya insyaallah. Kalau ndak begitu kan menghilangkan stres begitu mas, jenuh mas saya, jadi selama saya di Jogja kegiatan saya ikut pengajian di condong catur
situ. Iya saya tinggal di condong catur, saya ikut pengajian karena
saya kalau ndak cari kesibukan gimana mas 21 hari”
(SE: 557-565)
Disaat merasa stres, subjek R biasanya melakukan hobinya yaitu berjalan mengelilingi kota menggunakan gerobak sapi yang dimilikinya, dan ketika tidak ada gerobak untuk melakukan hobinya, subjek memilih untuk sekedar berkunjung ke pasar sapi hanya untuk melihat-lihat sapi karena R merupakan penggemar sapi.
“Saya penggemar sapi mas, gerobakan tau? Gerobak, nah itu saya. Saya lampiaskan dengan itu saya, keluarkan sapi, pasang gerobak buat jalan-jalan”
(R: 244-246)
“Waktu stres, setelah itu kalau memang nggak ada gerobak nggak main, saya mainnya ke pasar sapi, jadi lihat sapi, sudah pulang, tidur”
(R: 251-253)
Saat AW merasa jatuh karena penyakit yang dideritanya, AW lebih memilih untuk memotivasi dirinya dengan pandangan ingin membuat orang sekitar yang AW sayangi menjadi tertawa dan senang sehingga membuat AW semangat menjalani pengobatan.
“Pada saat jatuh, yo ndeloko kepingin wong sing mbok senengi ki ngguyu, pada saat kita jatuh lihatlah dengan orang yang kita sayangi
itu untuk tertawa...[...]”